Malam itu rumah kami sepi sekali. Bude Tita dan kedua kakakku sudah pulang sore tadi, Mbak Sri sudah masuk ke kamarnya, dan Nabila akhirnya tertidur setelah menyusu terakhir jam sebelas.
Aku pikir aku akan langsung tidur karena badanku benar – benar remuk. Tapi ternyata tidak. Jam dua pagi aku terbangun karena mendengar Nabila menggeliat, dan begitu aku duduk, ada tangan yang menahan bahuku.
“Biar mas aja” Ucap Mas Pras. Ternyata ia belum tidur sama sekali.
Ia menggendong anak kami, menepuk – nepuk punggungnya sampai Nabila kembali tenang, lalu meletakkannya lagi di box. Setelah itu ia duduk di tepi tempat tidur, membelakangiku, dan lama sekali tidak berkata apa – apa.
“Mas?” Panggilku.
“Non, mas boleh nanya sesuatu?”
“Nanya apa?”
Ia berbalik. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, aku bisa melihat matanya merah.
“Kamu sebenernya udah berapa lama kayak gini?”
Aku tidak menjawab.
“Non, tadi dokter bilang kamu kurang tidur terus – terusan. Berarti bukan cuma hari ini. Berarti udah lama” Ucapnya. “Kenapa kamu nggak bilang sama mas?”
Dan di situlah semuanya tumpah. Aku tidak berencana menangis, sungguh, tapi tangisan itu datang begitu saja seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
“Aku takut mas”
“Takut apa?”
“Takut kalau aku ngeluh, aku jadi ibu yang jelek” Ucapku sambil menyeka mataku dengan punggung tangan. “Semua orang bilang punya anak itu anugerah. Aku juga ngerasa gitu. Tapi aku capek mas. Aku capek banget. Terus aku ngerasa bersalah karena capek”
Mas Pras menggeser duduknya mendekat.
“Terus ada satu lagi yang lebih jelek” Ucapku lagi, dan aku hampir tidak berani mengucapkannya. “Mas, aku ini cemburu sama anak aku sendiri”
Ia terdiam.
“Kamu tiap pulang, yang kamu panggil Nabila. Kamu tidur, yang kamu peluk Nabila. Kamu tanya Nabila rewel apa enggak, tapi kamu nggak pernah tanya aku hari ini gimana” Ucapku sambil terisak. “Aku tau ini konyol banget mas. Dia bayi. Dia anakku sendiri. Tapi aku kangen sama kamu, dan aku nggak tau harus ngomong gimana”
Setelah itu yang terjadi adalah suamiku menarikku ke dalam pelukannya dan tidak melepaskannya cukup lama. Aku bisa merasakan dadanya naik turun tidak beraturan.
“Non, maafin mas” Ucapnya. “Kamu tau nggak kenapa mas kayak gitu?”
Aku menggeleng di dalam pelukannya.
“Karena mas ngerasa bersalah” Ucapnya. “Waktu kamu lahiran, mas nggak ada di dalam. Mas nggak nemenin kamu. Waktu Laras nyelakain kamu, mas juga nggak ada. Waktu ibu marah – marah sama kamu berbulan – bulan, mas cuma bisa diam. Mas ngerasa mas ini suami yang gagal, non”
“Mas…”
“Jadi mas pikir, ya udah, minimal mas ngurus Nabila supaya kamu bisa istirahat. Mas pikir kalau mas pegang Nabila terus, kamu jadi bisa napas” Ucapnya, dan suaranya benar – benar pecah di kalimat itu. “Mas nggak tau kalau ternyata yang kamu butuhin itu ditanyain kabarnya”
Aku melepas pelukanku sebentar, lalu menatapnya. Ada satu pertanyaan yang aku simpan sejak hari aku melahirkan, pertanyaan yang tidak pernah berani aku tanyakan karena aku takut jawabannya menyakitkan.
“Mas, boleh aku nanya satu hal?”
“Nanya apa?”
“Waktu aku lahiran” Ucapku pelan. “Kenapa nggak ada satupun yang nemenin aku di dalem? Aku udah minta ke suster, aku bilang panggilin suami saya. Tapi kamu nggak dateng”
Wajah Mas Pras langsung berubah. Ia menunduk, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Non, mas dilarang masuk”
“Dilarang gimana?”
“Kamu masuk lewat IGD malem – malem, terus pembukaannya udah lengkap. Rumah sakitnya waktu itu lagi ada aturan, kalau pasien masuk lewat IGD terus langsung persalinan, pendamping nggak boleh masuk sebelum administrasinya kelar” Ucapnya. “Mas ngurus itu di lantai bawah. Mas ribut sama petugasnya, non. Mas sampai hampir digebukin satpam”
Aku terdiam.
“Pas mas balik ke atas, kamu udah selesai. Sudah pingsan. Terus susternya bilang, pak, istrinya kelelahan, biarkan istirahat” Ucapnya. “Mas berdiri di depan pintu itu, non. Mas denger suara kamu teriak dari dalem, dan mas nggak bisa ngapa – ngapain”
Ia mengangkat wajahnya, dan matanya benar – benar merah.
“Jadi tiap kali mas liat Nabila, yang mas inget bukan cuma anak mas lahir” Ucapnya. “Yang mas inget adalah mas nggak ada waktu kamu paling butuh mas. Mas malu, non”
Aku memeluk laki – laki itu, dan malam itu kami berdua sama – sama menangis di kamar yang lampunya cuma satu.
Aku menangis lebih keras lagi, dan lucunya kami berdua akhirnya sama – sama tertawa di tengah tangisan itu, karena ternyata selama berminggu – minggu kami berdua sedang menyayangi satu sama lain dengan cara yang salah sasaran.
Malam itu kami membuat kesepakatan, dan aku menuliskannya di ponselku supaya tidak ada yang lupa.
Pertama, kalau Mas Pras sedang di rumah, jam sepuluh malam sampai jam dua pagi adalah gilirannya. Aku tidur, dan apapun yang terjadi ia tidak boleh membangunkanku kecuali Nabila harus menyusu.
Kedua, aku tidak boleh lagi menjawab baik – baik saja kalau sebenarnya aku tidak baik – baik saja. Ia bilang ia lebih takut kepada istri yang diam daripada istri yang marah.
Ketiga, seminggu sekali kami harus keluar berdua saja walaupun hanya satu jam, walaupun cuma makan bakso di depan komplek, dan Nabila boleh dititipkan kepada Mbak Sri.
Keempat, ini yang paling ia tekankan, setiap kali ia pulang terbang, orang pertama yang ia sapa adalah aku.
Besok paginya, kertas berisi empat kesepakatan itu benar – benar ia tulis ulang dengan tangan, lalu ia tempel di pintu kulkas memakai magnet berbentuk pesawat yang dulu ia beli entah di bandara mana.
“Mas, ini serius ditempel di kulkas?” Tanyaku.
“Iya dong. Biar mas nggak lupa, biar kamu juga nggak lupa” Jawabnya. “Kalau mas melanggar, kamu tunjuk aja kertasnya, nggak usah ngomong”
Dan ternyata benda itu terpakai. Dua minggu kemudian, saat ia pulang terbang dan hampir memanggil nama Nabila duluan dari depan pintu, aku hanya berdiri di dekat kulkas sambil menunjuk kertas tersebut dengan jari telunjuk, dan laki – laki itu langsung tertawa lalu berbalik memelukku duluan.
Mbak Sri juga ikut kami libatkan. Ia diminta menggeser jam kerjanya, jadi ia datang lebih siang dan pulang lebih sore, supaya ada satu orang dewasa lagi di rumah pada jam – jam ketika aku paling sering kewalahan.
“Kok gitu mas? Kasihan Nabila” Ucapku sambil tertawa.
“Nabila nanti punya suami sendiri” Jawabnya asal, dan aku memukul lengannya karena kalimat itu benar – benar tidak masuk akal untuk bayi berusia dua bulan.
Malam itu aku tidur dari jam tiga sampai jam tujuh pagi tanpa terbangun sama sekali, karena setiap kali Nabila bersuara, ada orang lain yang bangun duluan.
Dan ketika aku bangun, hal pertama yang aku lihat adalah suamiku duduk di kursi dekat jendela dengan Nabila di dadanya, keduanya tertidur, dengan mulut yang sama – sama terbuka sedikit.
Aku memotret mereka diam – diam, dan foto itu sampai sekarang masih menjadi wallpaper ponselku.
Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak Nabila lahir, aku sarapan dalam keadaan duduk dengan dua tangan bebas. Mas Pras yang memasak, dan hasilnya adalah telur dadar yang gosong di satu sisi dan mentah di sisi yang lain.
“Mas, ini telurnya masih bunyi” Ucapku sambil menusuk – nusuknya dengan garpu.
“Namanya juga setengah matang”
“Setengahnya ini gosong, mas”
“Ya berarti seimbang” Jawabnya asal, dan aku tertawa sampai Mbak Sri keluar dari dapur untuk melihat ada apa.
Siang harinya Mbak Sri datang lebih pagi dari biasanya sambil membawa bungkusan.
“Bu, ini saya bikinin jamu. Kata simbok saya, ibu abis lahiran itu harus minum ini” Ucapnya sambil menyodorkan botol berisi cairan kuning yang baunya sudah membuatku mundur setengah langkah.
“Mbak, ini pahit ya?”
“Pahit banget bu” Jawabnya jujur, dan aku tetap meminumnya sampai habis sambil menutup mata, karena wanita itu berdiri di depanku dengan tangan bersedekap sampai gelasnya benar – benar kosong.
Siang harinya aku menelepon Caca, dan aku menceritakan semuanya, termasuk bagian di mana aku bilang cemburu kepada anakku sendiri.
“Nan” Ucap Caca setelah aku selesai bercerita. “Lo tau nggak, temen gue juga gitu abis lahiran. Dia sampai nangis tiap sore, terus dia nggak tau kenapa. Kata dokternya itu ada namanya”
“Namanya apa?”
“Baby blues, kalau nggak salah. Ibu abis lahiran banyak yang kena. Bukan karena lo jahat, tapi karena badan lo lagi dipaksa banget” Ucapnya. “Makanya lo jangan sok kuat. Lo bukan robot”
Malam itu aku menceritakan istilah tersebut kepada Mas Pras, dan besoknya, tanpa aku minta, suamiku sudah membuat janji kontrol tambahan untukku ke dokter kandungan, bukan untuk Nabila, tapi untuk aku sendiri.