Hello, Mas Co-pilot
******
Terpaksa hidupnya harus seperti ini bukan tentang kehilangan karena kematian tapi kehilangan separuh dalam dirinya. Terpaksa ia harus melihat dari kejauhan tentang senyum, serta tawa yang begitu lepas dari bibir manisnya. Bibir itu pernah mengucap kata terindah yang selalu ia ingat hingga saat ini. Membuka kacamata hitamnya lalu menatap ke arah perempuan yang sedang asyik memberi setangkai bunga mawar pada pelanggannya.
“Kamu harus jadi pilot ya atau apapun deh yang penting masih berbau penerbangan. Biar aku makin cinta sama kamu.”
“Berarti kalau aku jadi pekerja biasa kamu nggak cinta dong?”
“Bukan gitu... Aku tetap cinta kok. Cuman, kamu 'kan ganteng, putih, tinggi, pintar bahasa. Pantasnya jadi pilot.”
“Emang kamu mau ditinggal-tinggal sama aku, Ra?”
“Kalau itu yang terbaik aku siap kok.”
“Demi kamu deh, setelah lulus sekolah langsung masuk sekolah penerbangan.”
“Jangan demi aku. Tapi demi papa sama Mama.”
Ia merasa gemas. Benar ucapannya segala sesuatu pasti tidak ingin disangkut-pautkan. Ia berjanji dalam hatinya ini semua demi orang tua dan perempuan yang ada didepannya. Ia mengambil tali rambut lalu perlahan membantu mengikat rambutnya yang halus. Menjadi kebiasaan yang dilakukan dirinya agar rambut itu tidak mengenai wajah cantiknya.
Rayhan Shakeer, pria berusia dua puluh lima tahun. Seketika ia sadar dari lamunannya, bayangan itu kembali muncul memenuhi otaknya. Rayhan menunduk mencoba mengambil nafas lalu perlahan dihembuskan berharap kenangan itu hilang. Ia tidak ingin mengingat saat ini. Ia terluka dengan keadaan.
Rayhan memandangi seragam pilot yang menempel, dalam hatinya terucap andai dia tahu bahwa ucapan dan harapan beberapa tahun yang lalu sudah Rayhan wujudkan meski ia harus rela saat itu dia tidak hadir dihari kelulusannya.
“Ray...”
Panggilan seseorang membuat Rayhan menoleh. Seorang perempuan paru baya menenteng rantang berwarna putih ditangannya. Rayhan menyapa dan menyalami tangan perempuan paru baya itu.
“Kenapa nggak kesana?” tanyanya
“Belum waktunya Bu. Biarkan Ratahan melihatnya dari kejauhan.”
“Maafkan Maura ya, Ray...”
“Itu bukan salah Maura Bu.” Jawab Rayhan sembari tersenyum dihadapan ibu.
Ibu berpamitan. Katanya, dia akan mengantar makanan untuk gadis yang masih sibuk dengan aktivitasnya. Ibu mengatakan maaf kesekian kalinya karena tidak bisa berbuat banyak untuk Rayhan. Ibu hanya mendoakan semua kembali seperti dulu, bersama-sama menyalurkan kebahagiaan dari keduanya.
Cukup waktu Rayhan untuk memandanginya ia memutuskan pulang. Dalam hatinya tidak berhenti berharap agar semua ini segera terlewati.
****
Tangan kecil Maura Kasih masih fokus mengikat bunga Mawar merah, putih dan pink. Sudah dibungkus dengan rapi, ia pun segera mendekati pembeli yang dari tadi sudah menunggu diujung sana. Tiga tangkai Mawar itu diberikan pada seseorang yang sedang menggendong anaknya.
“Jadi berapa?” Tanyanya
“75000, pak.”
Pria itu memberikan satu lembar uang kertas berwarna merah. Dan Maura menerima lalu segera meninggalkan pembeli mengambil uang untuk kembalian.
“Terima kasih pak, selamat datang kembali.”
“Sama-sama..”
“Oh ya, pak, kalau boleh tahu adik kecil ini umur berapa dan namanya siapa?” tanya Maura to the point. Maura merasa gemas dengan adik kecil yang fokus memakan sesuatu ini. Sedari tadi asyik dengan makanan ditangannya tidak ada suara atau rengekan selagi papanya bertanya-tanya tentang bunga.
“Namanya Denisa Pranaja. Panggil saja Nisa.” Jawabnya
“Nama yang cantik seperti orangnya.” Puji Maura
“Kecantikan Nisa menurun dari ibunya.”
Maura tersenyum. Meminta izin agar Maura bisa menyentuh pipi chubby, setelah diizinkan ia menyentuh pipi gadis kecil bernama Denisa ini. Andai Maura tidak takut ingin. Sekali ia meminta izin untuk menciumnya.
“Bunganya buat mama, ya?” tanya Maura
Gadis kecil itu mengangguk.
“Selamat hari ibu ya pak, bilangin sama ibunya adik Denisa.” Ucap Maura. Kebetulan hari ini adalah hari ibu, sedari pagi toko bunganya cukup ramai. Pembeli bunga mendadak membeludak, bahkan stok bunga mawar di toko mereka hampir saja habis terjual.
“Terima kasih...”
“Jangan lupa datang lagi, ya pak!” Ucap Maura. Sebelum pembeli itu keluar dari tokonya. Dan dibalas dengan mengatakan pasti akan datang kembali. Selain toko bunganya lengkap dengan berbagai macam bunga, harganya juga murah.
Sepeninggalan pembeli Maura masuk dan duduk. Disaat ia sedang berdiam seperti ini pasti ia akan merasakan denyutan nyeri pada kepalanya. Maura memijatnya berharap rasa ini segera hilang. Terkadang rasa sakit ini tidak bisa Maura tahan hingga membuat Maura terpaksa harus menangis hingga membuat panik semua orang. Kali ini denyutan itu masih biasa, hanya sekilas datang dan pergi secepat kilat.
“Kenapa, Ra?” tanya mbak Nadia, bos tempat Maura bekerja.
“Nggak apa-apa mbak.”
“Nih...”
Mbak Nadia menyodorkan tiket pesawat dihadapan Maura. Maura mengambilnya lalu membaca dengan baik-baik. Tujuan JKT-MDC yaitu; Jakarta-Manado.
“Kita liburan akhir tahun. Sekali-kali kita liburan biar nggak pening.” Ucap mbak Nadia
“Ke Manado?”
“Iya, Ra. Bunaken, kita liburan kesana.”
“Serius mbak?”
Mbak Nadia mengangguk. Dia tidak bohong bahkan ini sudah ia rencanakan sejak tahun lalu tapi karena tahun lalu ada kendala pada Maura membuat mbak Nadia mengundurkan rencana membawa Maura liburan.
“Akhirnyaaaaaaa....” Maura memeluk tiket pesawat itu. Akhirnya ia akan liburan, senang sekali rasanya. Setidaknya dengan berlibur membantu Maura untuk mengingat kembali sesuatu yang hilang selama ini.
****