1 Januari...
Pergantian tahun berakhir tadi malam tepat pukul 00:00 dan pagi hari yang cerah ini sudah menjadi tahun baru yang harus disambut dengan hati yang cerah juga. Kesedihan dan semua yang terjadi di tahun sebelumnya sudah saatnya untuk ditutup rapat-rapat. Harapan dan tujuan mulai diraih diawal tahun ini. Harapan Maura masih sama yaitu; selalu sehat dan bahagia, mengingat semua memori yang hilang beberapa tahun ini.
Maura menikmati pagi terakhir di Bunaken. Sekitar Lima hari dirinya ada disini menikmati air laut, mencium aroma khas dari sini serta suara deburan ombak yang menjadi pelengkap yang sungguh indah. Kita memang patut mensyukuri sejenak karya Tuhan yang begitu menakjubkan. Maura masih mengingat jelas saat ia diajak diving oleh mbak Nadia namun sayangnya Maura hanya sebentar karena ia terlalu takut untuk menikmati.
Kata ibunya, Maura ada sedikit trauma dengan air laut dan air kolam renang. Menurut ceritanya ibunya, Maura pernah berenang di salah satu tempat yang kebetulan ada patung berupa Buaya yang mulutnya sedang terbuka, tiba-tiba saat Maura mulai menceburkan tubuhnya Maura merasa bahwa saat itu ia sedang dimakan oleh Buaya. Buru-buru Maura langsung kembali ke daratan dengan wajah ketakutan dan nafas yang tak beraturan. Dari situ Maura tidak mau lagi berenang ditempat itu dan mulai takut selain air di bak mandi.
Lima hari yang indah tanpa beban dalam dirinya. Meski Maura harus menyesali kedatangannya kesini sama sekali tidak bisa menemukan sesuatu yang hilang. Jangankan untuk ketemu mengingat saja sudah membuat kepala Maura sakit. Maura memutuskan selama Lima hari ia harus lebih santai jangan terlalu memaksakan takut itu semua akan menjadi luka baru untuk Maura.
Tangan Maura asyik berselancar diponsel miliknya membuka aplikasi i********: barunya. Memposting foto dirinya saat berada dipinggiran laut dengan tangan memegang kayu. Tangan Maura menuliskan kata untuk dijadikan caption mata foto tersebut.
Tempat indah yang selalu terlupakan. J
@Jelita80 : Cie yang lagi liburan jangan lupa oleh-oleh buat aku, ibu, bapak. Awas aja!!!
@DesiPut : Happy Holiday, Ra❤
Dan masih banyak lagi komentar dari teman-teman Maura yang lain termasuk mas Oka salah satu Barista di kafe langganan Maura saat membeli kopi. Kopi ditempat sana sangat enak selain kopinya yang wangi, kopi di kafe mas Oka sangat kental dan rasa yang khas. Saat Maura sedang asyik tiba-tiba ia dikagetkan dengan notifikasi. Yang ini beda, Maura memandang username itu padahal i********: Rania diprivate dan hanya teman-teman yang kenal saja yang bisa melihat postingan dirinya.
@Ray.Shkr menyukai foto anda...
Maura tidak mempedulikan mungkin itu akun yang hanya kebetulan lewat saja. Maura mematikan ponselnya dan bangkit kembali ke hotel. Ia harus bersiap-siap untuk pulang pagi memandangi langit sudah puas bahkan sangat puas dan rasanya ingin terus berada disini. Ditempat paling nyaman selain rumah.
“Ra, abis dari mana?” tanya mbak Nadia tepat ketika Maura sampai di hotel tempat mereka menginap.
Mbak Nadia menatap penampilan Maura yang masih menggunakan baju tidur serta sandal jepit yang mereka beli waktu itu. Kaki Maura sempat sakit membuat mbak Nadia tidak tega dan akhirnya menyuruh Maura mengganti dengan sandal yang mbak Nadia beli meminta bantuin pada petugas hotel.
“Lihat sunrise mbak. Bagus banget, pertama kali dalam hidup Maura lihat sunrise dengan dekat.” Jawab Maura. Sehabis salat Subuh, Maura sengaja keluar dari hotel tanpa izin mbak Nadia. Tiga tega apalagi melihatit mbak Nadia yang nyenyak dalam tidurnya.
“Pantesan. Mbak telepon kamu lewat w******p nggak diangkat.”
“Aku matikan Internet. Maaf ya mbak.” Ucap Maura tidak enak
“Santai aja, Ra. Yang penting kamu baik-baik aja.”
Mbak Nadia menggandeng Rania kembali masuk ke dalam hotel mereka akan siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Hari ini liburan mereka selesai dan besok akan kembali bekerja seperti biasa. Lima hari mengajak Maura liburan rasanya kurang sekali ia ingin membawa Maura lebih lama lagi menikmati alam luar yang indah ini.
Mbak Nadia melirik ke arah Maura yang kini menjadi berubah, tidak ada lagi Maura yang ceria seperti dulu. Maura yang kini hanyalah Maura yang lebih banyak diam atau bahkan sering melamun.
****
Mata Maura masih menikmati orang-orang yang berjalan melakukan aktivitas sendiri dibandara Manado. Begitu berat rasanya meninggalkan liburan tapi apalah daya kenyataan ia harus kembali bekerja. Bertemu lagi dengan bunga-bunga di toko mbak Nadia, Maura yakin bunga-bunga yang ditinggalkan merindukan sentuhan tangan Maura saat merawat mereka.
“Ra, lihat deh itu pilot ganteng banget ya.” Ucap mbak Nadia. Jarinya menunjuk pada pria berbadan tegap dengan seragam pilot serta menggeret koper dan topi yang dipegang disamping mereka.
Maura menatap tanpa berkedip. Pilot. Keindahan yang hakiki wajib kaum hawa nikmati. Mereka terlihat begitu serius berbicara sesekali senyum terbit dari bibir masing-masing.
“Ingat seseorang nggak, Ra?” tanya mbak Nadia
“Nggak mbak. Keluarga, teman Maura mana ada yang jadi pilot.” Jawab Maura
Mbak Nadia meringis. Ia salah bertanya pada Maura.
Pengumuman tentang keberangkatan pesawat mereka, mereka langsung bangkit dan perlahan mengantri untuk melakukan pemeriksaan sebelum masuk ke dalam pesawat.
“Ra, kita nggak satu tempat. Kemarin pas mbak pesan tiket pesawat penuh tinggal dua tempat tapi beda kursi. Tenang aja kursi kita nggak jauh cuman depan-belakang.” Jelas mbak Nadia.
“Iya mbak nggak apa-apa.” Bisa pulang saja sudah sangat bersyukur buat Maura. Maura tahu bagaimana penuhnya transportas darat maupun udara i setelah dan sebelum pergantian tahun.
Maura melihat tiketnya mencari tahu dimana tempat duduknya. Setelah tahu, perlahan ia mencari tempat duduk miliknya. Ternyata benar tempat duduk Maura dan Nadia tidak terlalu berjauhan masih bisa saling memperhatikan. Ternyata Rania duduk dengan seorang pria, Maura sedikit tidak nyaman tapi apa boleh buat ini tidak bisa diganti.
Sebelum duduk Maura menaruh tas berisi beberapa pakaian yang ia bawah karena di koper kecil miliknya sudah tidak muat lagi karena terisi oleh-oleh yang Maura beli untuk adik dan kedua orangtuanya. Maura menaruh tas ke bagasi didalam pesawat dengan hati-hati ia takut mengenai pria yang kebetulan duduk dipinggir sedangkan Maura dekat jendela.
Maura terpaksa harus berjinjit karena tinggi badan yang tidak cukup. Dengan hati-hati ia memasukan tas ke dalam bagasi namun belum sempat masuk tiba-tiba seluruh pakaian Maura keluar berhamburan hingga mengenai pria yang duduk bersamanya.
“Ya ampun!!” Pekik Maura. Maura panik segera mengambil satu helai baju miliknya yang mengenai kepala pria itu.
“Aduh.... Maaf-maaf...” Ucap Rania tidak enak.
Seluruh mata penumpang sontak mengarah ke Maura untung saja pramugari datang dan membantu Rania. Rania segera menyimpan baju-bajunya kembali ke dalam tas semua baju berhamburan mengenai badan pria itu. Hanya sehelai baju mengenai kepalanya. Ternyata resleting tas Rania tidak tertutup dengan sempurna. Maura tidak memperhatikan sebelumnya.
“Mas, aku minta maaf. Nggak sengaja.” Ucap Maura tidak enak sembari menunduk. Pramugari tadi juga sudah membantu Maura menaruh tasnya ke dalam bagasi yang terletak diatas tempat duduk penumpang.
“Ya tidak apa-apa. Silakan kamu duduk.”
Maura menuruti. Untung tas itu tidak ada pakaian dalam kalau ada 'kan bahaya. Dan yang lebih untungnya pria ini tidak memarahi Rania. Awalnya Rania ingin berbalik lalu mengucap maaf lagi tapi ternyata pandangan mereka bertemu.
Keduanya nampak berhenti. Saling melempar pandangan, pandangan rindu bagi pria dan pandangan biasa bagi Maura. Maura segera berbalik lagi tidak enak diperhatikan lama-lama.
“Lain kali hati-hati.” Ucapnya.
*Iya, mas. Aku memang cereboh.”
Pria itu tersenyum sekilas. Dari dulu memang cereboh dan ternyata tidak berubah.
Pengumuman kedua tentang penumpang harus bersiap-siap, memakai sabuk pengaman mereka. Sebentar lagi pesawat mereka akan take off membawa mereka pulang ke tempat masing-masing.
“Ray, kok ada disini?”
Suara bisikan spontan membuat Rayhan menoleh sebentar.
“Mbak Nadia?”
“Aku baru pulang dari Bunaken mengajak Rania liburan.” Jelas mbak Nadia
“Aku juga mbak.”
“Kok nggak ketemu? Kamu nggak terbang, Ray?”
“Kebetulan dapat libur pas malam pergantian tahun.”
Mereka berbicara dengan suara pelan. Takut terdengar oleh Maura. Ketidaksengajaan yang manis. Bertemu Maura dipesawat bahkan satu tempat duduk yang sama. Rayhan merasa nyaman ketika Maura duduk didekat jendela.
Obrolan mereka terputus karena pramugari kembali menegur mereka. Mereka harus kembali ke tempat duduk masing-masing tidak lama lagi pesawat akan benar-benar lepas landas.
Saat pesawat berhasil lepas-landas dan berada di awan biru. Rayhan tidak tidur rasanya Rayhan lebih memilih memperhatikan setiap gerak-gerik yang Maura lakukan. Rayhan benar-benar tidak menyangka Maura masih tetap sama yaitu; memakai minyak kayu putih, Maura memang suka mabuk kendaraan baik darat atau apapun jadi tak heran jika Rania tidak bisa lepas dari minyak kayu putih.
“Dari mana?” tanya Rayhan
“Mas tanya aku?”
Rayhan mengangguk.
“Dari Bunaken. Liburan mas...”
“Mas, aku minta maaf untuk yang tadi ya.... Nggak sengaja.” Ucap Maura lagi
“Iya-iya santai aja.”
Maura bersyukur. Dan kini bisa bernafas lega. Sudah memakai minyak kayu putih, Maura menyandarkan kepalanya, membuka selimut dan mulai memejamkan mata agar tidak merasakan pusing karena kebiasaan mabuk transportasi ala Maura.
Dengkuran halus sudah terdengar oleh Rayhan. Rayhan menoleh kebelakang sebentar ternyata mbak Nadia juga sudah tertidur. Kenapa mereka berdua gampang sekali tertidur.
Melihat Muara yang tertidur tidak nyaman dilihat, perlahan tangan Rayhan mengalihkan kepala Maura dibahunya. Rayhan dapat merasakan wangi rambut Maura yang khas dan tidak tergantikan.
Rayhan menutup matanya. Percayalah dengan keadaan seperti ini saja sudah membuat kerinduan Rayhan terbayarkan.
*****