Jangankan untuk tidur, memejamkan mata saja rasanya Rayhan tidak bisa melakukan. Rayhan masih setia memandangi Maura tanpa henti suara hati mengatakan inilah saat yang tepat untuk Rayhan memandangi, menumpahkan seluruh kerinduan yang ada meski terbatas. Berdekatan dan sering mengusap pipi Maura membuat Rayhan merasa puas untuk menyampaikan rindunya. Maura masih baik-baik saja seperti biasanya tidak ada luka fisik yang terlihat dan Rayhan masih bernafas lega akan itu.
Pemberitahuan bahwa pesawat mereka sebentar lagi akan landing membuat Rayhan perlahan menggerakkan kepala Maura agar menjauh dari bahunya, ia tidak mau Maura akan terkejut dengan posisi tidurnya. Setelah berhasil Rayhan membangunkan Maura.
“Bab—”
“Hey, bangun ...” ralat panggilan Rayhan. Hampir saja ia mengatakan panggilan dulu untuk Maura.
“Sudah sampai?” tanyanya dengan suara serak. Detik kemudian Maura menguap dilanjutkan mengucek matanya. Pemandangan yang indah bagi Rayhan dengan begini Maura akan terlihat seperti anak-anak dan Rayhan menyukainya.
“Iya, sebentar lagi landing sempurna.”
Maura mengangguk paham. Mulai bersiap-siap dan melipat kembali selimut miliknya lebih baik begini bangun saat sudah landing daripada harus drama mabok di dalam pesawat. Dan benar saja tidak lama kemudian pemberitahuan kembali terdengar ini adalah pemberitahuan terakhir karena mereka mengatakan selamat tinggal dan jangan lupa menaiki maskapai mereka lagi.
“Biar aku bantu,” kata Rayhan
“Nggak usah mas,” tolak Rania. Tidak enak rasanya jika terus dibantu.
“Tidak apa-apa nanti malah jatuh lagi.” Ucap Rayhan
Dan terpaksa Maura mengiyakan walaupun iya sangat malu dibantu orang yang tidak kenal. Lagi-lagi Maura mengucapkan terima kasih karena sudah membantu. Maura kira pria itu segera menjauh dari Maura tapi ternyata pria yang Maura tidak kenal ini malah mengekori dirinya keluar dari pesawat.
“Biar aku antar kalian.” Ucap Rayhan
“Bol—”
“Nggak perlu mas, mas sudah membantu banyak. Kami naik taksi saja.” Sela Maura sebelum mbak Nadia melanjutkan ucapannya.
“Mbak, jangan sembarangan mengiyakan ajakan orang yang tidak dikenal.” Bisik Maura pada Mbak Nadia
Sedangkan Rayhan hanya memperhatikan Maura meski ia tidak tahu kata apa yang Maura bisikan pada Mbak Nadia. Rayhan menunggu jawaban Maura untuk ajakan kali ini.
“Dia baik Ran,”
“Mbak kata siapa?”
“Jadi gimana?” suara Rayhan membuat keduanya memutuskan obrolan dan langsung menoleh ke arah Rayhan.
“Iya, ayo,” kata Mbak Nadia. Langsung menarik tangan Maura untuk mengikuti Rayhan lagian ada tumpangan gratis tidak boleh ditolak. Lumayan irit ongkos juga.
Setelah mengambil bagasi mereka keluar dari area bandara lagi-lagi Rayhan membantu membawa koper milik Maura kalau Mbak Nadia sengaja membawa sendiri karena takut merepotkan Rayhan.
Sembari berjalan mata Rayhan tak lepas dari pandangan Maura, Rayhan tahu apa yang sedang Maura bicarakan pada Mbak Nadia meski hanya berbisik-bisik. Bibirnya begitu kaku andai Maura mengetahui yang sebenarnya pasti tidak akan menolak dan membicarakan dirinya. Rayhan mengikuti alur cerita yang sedang dibuat oleh Tuhan. Dekat namun harus tidak bisa digenggam dengan erat.
“Silakan masuk ...” Rayhan membuka pintu mobilnya. Mbak Nadia sudah meminta agar Maura duduk didepan tapi ditolak oleh Maura. Rayhan mengerti akan itu.
Tangannya tidak sengaja saling bertautan ketika ingin membuka pintu mobil agar sedikit lebar. Masih hangat, masih sama persis seperti waktu itu. Hanya sentuhan tangan saja mampu membuat Rayhan merasakan debaran pada jantungnya. Suara hatinya selalu berkata peluklah perempuan didepanmu dan katakan bahwa hati dan perasaan masih sama untuk kamu yang sejenak melupakan Rayhan.
Andai takdir berteman baik dengannya mungkin tidak ada cerita pilu seperti sekarang, kehadiran yang tidak diinginkan hanya dianggap Rayhan adalah orang asing yang beberapa jam lalu bertemu. Rayhan benci dengan takdirnya.
Mobil Rayhan keluar dari bandara untuk mengantar keduanya. Kali ini Rayhan terpaksa harus membungkam mulutnya rapat-rapat melupakan sejenak kata-kata yang ingin dilontarkan meski ia selalu menginginkan suara Maura memenuhi mobilnya. Ingin mengobrol dengan Mbak Nadia lebih banyak tapi Mbak Nadia sama seperti Rayhan memilih bungkam dan mengasingkan Rayhan. Aroma minyak kayu putih kembali terasa pada indera penciuman. Rayhan selalu menyukai aroma khas ini.
“Mas, tahu rumahku?”
Akhirnya setelah beberapa menit diam. Perempuan itu membuka suaranya.
“Ya, tahu.” Jawab Rayhan matanya masih fokus menyetir mobil.
“Darimana?” tanyanya heran. Maura merasa bahwa ia belum memberitahu alamat rumah.
“Tadi Mbak yang memberitahu,” Sela Mbak Nadia cepat tidak membiarkan Maura bertanya lebih lanjut.
Tidak ada lagi pertanyaan dari Muara membuat Rayhan bernafas lega berterima kasih pada Mbak Nadia yang turut membantu memberi jawaban pada Maura. Sepanjang perjalanan Rayhan menjadi pendengar tatkala Maura begitu antusias menceritakan tentang keindahan laut Bunaken. Sayang sekali ternyata Rayhan yang sama sedang berada di Bunaken tidak bertemu dengan Maura. Padahal ia datang ke Bunaken juga untuk menenangkan pikirannya.
Disela-sela perjalanan dan kebetulan mobil berhenti karena lampu merah Rayhan sempat mengintip dari kaca kecil, memandang wajah Maura lebih jelas, senyum yang sama ketika bercerita dan tak lupa disertai gerakan tangan seperti pemandu wisata.
“Mudah-mudahan bisa ke Bunaken lagi sama ibu, bapak, Jelita, Mbak Nadia biar bisa makan Tinutuan lagi. Rasanya enak banget apalagi dimakan pakai ikan asin.” Ucap Maura. Pikirannya kembali ke Bunaken padahal baru kali pertama Maura datang kesana tapi ia sudah senang dengan makanan khas kota Manado salah satunya Tinutuan atau yang biasa disebut bubur Manado.
“Semangat kerjanya biar bisa liburan sama keluarga.” Sahut Mbak Nadia
“Iya, Mbak. Pokoknya tahun depan harus kesana dan itu akan menjadi target Maura, Mbak.”
“Semangat .... Semangat ....” Mbak Nadia menyemangati Maura. Selain menjadi pendengar diam-diam Mbak Nadia juga terus memperhatikan ke arah Rayhan, ia tahu jika Rayhan juga sering memperhatikan ke arah Maura.
“Nanti kamu ke Bunaken sama aku, Ra. Ajak semua keluarga kamu ...” Gumam Rayhan dalam hati.
Mobil mereka sampai tepat dirumah Maura. Rayhan segera turun dan diikuti oleh Mbak Nadia juga, sembari menunggu mereka turun Rayhan membantu menurunkan semua barang Maura yang cukup banyak.
“Terima kasih mas, sudah mengantar Maura ...” ucap Maura
“Sama-sama Ra, aku boleh panggil nama kamu 'kan?”
“Iya boleh,” Gerakan tangan Muara dengan cepat mengambil sesuatu ditas besar miliknya. Mengeluarkan sesuatu dari dalam sana lalu diberikan pada Rayhan.
Rayhan belum menerima karena ia bingung kenapa Maura memberinya ini.
“Karena mas sudah baik banget sama Muara, anggap aja ini tanda balas budi. Nggak apa-apa kalau dikasih ke orang lain karena nggak suka.”
Maura memberi Rayhan kaos yang bertulisan I love Manado. Rayhan langsung menerimanya, tidak mungkin ia menolak. Bahkan Rayhan senang Maura memberi sesuatu.
“Terima kasih, Ra.” Ucap Rayhan
“Iya, kebetulan Maura beli banyak. Maura masuk dulu, maaf ...” Maura tersenyum sekilas lalu beranjak meninggalkan Rayhan yang masih diam disana dengan tangan yang menggenggam kaos.
Kaos ini akan Rayhan simpan sebaik mungkin dan tidak akan membiarkan satu orangpun menyentuhnya.
“Ray, kenapa nggak mau terbuka aja sama Maura?” suara Mbak Nadia membuat Rayhan langsung menoleh.
“Belum saatnya Mbak. Aku tidak mau Maura memikirkan tentang kita untuk kondisi seperti ini. Biarkan ini terjadi, perlahan aku akan masuk ke dalam kehidupannya lagi.” Jawab Rayhan
*****