Jelita
Mas, kata ibu sama bapak kenapa nggak mampir?
Rayhan membaca pesan dari Jelita, adik Maura. Segera membalas mengatakan maaf karena ia tidak menyapa mereka lebih dulu karena Rayhan pikir didepan Maura ia menunda pamitnya dan pasti ibu, bapak Maura paham tentang ini. Rayhan menyibakkan selimut pagi yang sedikit dingin karena tadi malam hujan dan sisa cuaca dingin masih terasa hingga pagi harinya. Jelita mengirim pesan kemarin sore dan baru dibaca pagi, semenjak tidak ada komunikasi dengan Maura hidup Rayhan tidak lagi tergantung dengan gadget ia lebih banyak mencari kegiatan positif agar bayangan Maura tidak selalu mengisi kepalanya.
Rayhan tersenyum ketika jelita mengirim foto Maura yang sedang menikmati sarapan pagi sepertinya Maura sudah siap untuk bekerja terlihat perempuan itu sudah berpakaian rapi.
Kangen. Pengen meluk dia.
Rayhan membalas pesan Jelita. Memang benar nyatanya jika Rayhan sangat merindukan, merindukan tawa khas Maura, rindu Maura mengatakan cinta pada Rayhan tanpa malu. Dan satu hal yang membuat Rayhan rindu yaitu; ia rindu ketika membuka mata ada Maura disampingnya.
“Mas, Ray! Bisa diam nggak sih,”
“Maura lagi sibuk buat teh tarik buat kamu.”
“Mas Ray .... Ayo dong liburan .... Kalau kamu terbang terus kita nggak ada waktu buat berdua.”
Sayangnya Rayhan belum sempat membawa Maura pergi liburan karena jadwal Rayhan yang padat saat itu. Rayhan menyesal dan sekarang ia harus menerima penyesalan karena untuk mengajak Maura saat ini hanya harapan yang sulit dikabulkan. Terkabul seandainya ada mukjizat yang datang pada Rayhan. Rayhan memutuskan untuk segera keluar dari kamarnya karena teriakan Melati, adiknya menganggu gendang telinga Rayhan.
*BERISIK. MAU MANDI DULU ...” Balas Rayhan tak kalah nyaring
Hari ini Rayhan akan kembali bekerja seperti biasanya setelah cukup ia menghabiskan waktu libur. Untuk pertama kalinya selama Rayhan bekerja sebagai Co-pilot mendapatkan jatah libur bertepatan dengan pergantian tahun. Itu hal yang sangat langka Rayhan sangat bersyukur setidaknya pergantian tahun ia habiskan berlibur ke Bunaken dan Bali untuk melakukan diving dan lainnya sembari sejenak melupakan kehidupan yang terlalu berat untuknya. Sayangnya saat di Bunaken ia tidak bisa bertemu Maura padahal Maura ada disana bersama mbak Nadia.
Beberapa jam sudah Rayhan lalui, koper dan penampilan sudah terlihat rapi dan siap untuk melakukan penerbangan hari ini. Rayhan berkaca diri gagah sekali ternyata dirinya pantas saja dulu Maura jatuh cinta pada Rayhan dengan cepat. Mengingat itu tiba-tiba senyum Rayhan mengembang dibibirnya. Rayhan memaki topi pilot menambahkan kadar ketampanannya. Tatapan Rayhan jatuh pada dasi, Rayhan langsung teringat salah satu pilot seniornya yang bernama Abid Pranaja, katanya sang istri selalu memasangkan dasi untuknya padahal bisa tapi ia lakukan agar terlihat romantis saja. Terkadang Rayhan merasa iri dengan kehidupan pilot Abid dan istrinya keduanya sudah bahagia apalagi dikarunia dua anak yang begitu lucu dan lumayan dekat dengan Rayhan.
Sebelum benar-benar keluar Rayhan sempat memandangi semua foto Maura yang ada dikamarnya hanya ada satu foto Rayhan itu pun foto saat Rayhan baru lulus sekolah penerbangan. Selebihnya hanya foto Maura dan foto berdua. Rayhan mengecek ponselnya kembali Jelita mengirim pesan lagi untuk Rayhan.
Mau ke rumah nggak, mas? Ditanyain ibu.
Rayhan membalas.
Kayaknya nggak. Maura sudah berangkat?
Tidak lama kemudian Jelita membalaskan dan mengatakan bahwa Maura sudah berangkat dari tadi. Rayhan menutup ponsel kembali dan ia menggeret kopernya keluar dan ikut bergabung bersama mama dan papa, Melati untuk menikmati sarapan paginya.
“Mas galau kamar sudah dibersinkan?”
“Sudah lah .... Emangnya kamu!” Sahut Rayhan
“Dih gitu amat ...” Melati mengambil roti yang disiapkan oleh mamanya. Perbedaan umur membuat keduanya terkadang selalu saling beradu argumen membuat papa dan mamanya terkadang pusing melihat keduanya anaknya ini.
“Kalau kalian ribut biasanya Maura yang jadi pawang.” Celetuk mama Rayhan
“Jangan bahas kak Maura didepan mas galau, entar dia nangis.” Sahut Melati tak mau kalah.
Papa melerai ketiganya. Menyuruh agar segera menghabiskan sarapan mereka. Seperti biasa papa juga menasehati Rayhan sebelum melakukan penerbangan. Memberi semangat dan tetap fokus jangan membawa masalah apapun dan tentang Maura kedalam pekerjaan. Tentu saja Rayhan mengatakan jika ia akan bekerja dengan fokus.
Rayhan pamit dari orang tuanya. Rayhan tidak menghabiskan banyak sarapan paginya sekarang sarapan pagi, makan atau apapun terasa hambar dilidahnya.
“Kamu hati-hati ya nak,” ucap mama Rayhan
“Iya mah, tenang aja ..”
Melati meminta agar Rayhan mengantarnya tapi ditolak oleh Rayhan karena tidak searah. Lagipula Melati sudah biasa membawa motor sendiri.
“Mas ih .... Pelit banget. Anterin dong ..”
“Manja banget sih kamu. Biasanya juga berangkat sama Jelita.”
“Lagi males nyetir.” Jawab melati
“Ya suruh Jelita nyetir. Sudah ah, mau pergi.” Pamit Rayhan. Tak lupa mengacak puncak kepala Melati seperti biasanya membuat melati kesal karena itu akan membuat jilbab Melati berantakan.
****
Pada akhirnya disinilah tempat Rayhan sebelum ia pergi ke bandara, mampir ke tempat kerja Maura hanya memastikan bahwa Maura sudah ada disini. Memulai pekerjaan dan tidak ada yang mengkhawatirkan tentang Maura. Rayhan bisa bernafas lega sekarang. Rayhan mendekati jika dulu ia memandang cukup dari kejauhan kini ia mencoba mendekati Rania.
“Pagi ...” sapa Rayhan
Maura yang sedang menata bunga terkejut dengan kedatangan pria di tokonya. Ini masih terlalu pagi ternyata sudah ada pembeli, langka sekali rasanya.
“Ada yang bisa dibantu? Mau cari bunga apa? Disini ada banyak bunga-bunga yang cantik salah satunya bunga import yang baru datang beberapa hari ini. Bisa dipilih silakan, pak ...” ucap Maura.
Pak? Rayhan merasa jadi terlalu tua padahal ia belum memasuki umur 30 tahun. Dan ternyata Maura tidak mengingat dirinya padahal baru kemarin mereka bertemu.
“Kamu tidak ingat aku?” tanya Rayhan
Maura menggeleng. Berharap pembeli yang satu ini segera memilih bunga apa yang ingin dibeli lalu segera pergi dari toko bunganya.
“Padahal .... Baru kemarin kita ketemu,”
“Jadi bapak mau bunga yang mana?” tanya Maura mengalihkan pembicaraan pria didepannya ini.
“Oh, bunga Mawar merah yang ini. Satu tangkai aja.”
Maura langsung mengangguk cepat. Tangannya langsung mengambil bunga Mawar permintaan pembeli dan langsung memberikan satu tangkai bunga Mawar. Tak lupa Muara juga menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh pembeli.
“Tunggu sebentar ...” Maura berbalik karena memakai uang seratus ribu terpaksa Maura harus mengambil kembalian terlebih dahulu.
“Terima kasih pak, selamat datang kembali ...” ucap Maura sembari tersenyum sama seperti perlakuan pada pembeli lainnya.
“Bunganya buat kamu aja .... Terima kasih ya,”
Rania semakin terkejut ketika pria itu tiba-tiba memberi bunga Mawar yang baru saja dibeli untuk dirinya. Dan pergi begitu saja. Sangat aneh, padahal Rania tidak ingat siapa pria tadi. Ingin mengejar namun sayangnya pria itu dan mobilnya sudah menjauh dari toko bunga Maura.
“Ra, kenapa?” tanya Mbak Nadia mendekati Maura
“Ini Mbak ada pembeli bunga, malah bunganya dikasih ke Maura aneh banget ..” Maura menunjukan bunga itu didepan Mbak Nadia
“Ya sudah terima aja .... Pria tadi itu yang menolong kita waktu pulang dari Bunaken Ra, ingat nggak?”
Maura diam sejenak. Mengingat-ingat peristiwa kemarin. Ya beginilah Maura tidak begitu memperhatikan orang membuat Maura selalu tidak sadar jika orang itu sudah berbuat baik atau lainnya pada Maura.
“Rania nggak ingat muka dia waktu itu. Ya sudahlah Mbak jangan dibahas .... Maura balikin lagi bunganya anggap saja orang tadi sedang beramal.”
“Jangan dibalikin Ra, simpan aja. Kan bunganya buat kamu dan sudah dibeli.”
“Tapi Mbak ... Maura nggak ken—”
“Sudah simpan aja Ra, buat koleksi.” Sela Mbak Nadia.
Dan terpaksa Muara menuruti permintaan Mbak Nadia untuk membawa pulang Mawar pemberian orang asing. Sebelum Maura menyimpan, ia sempat mencium wangi pada Mawar berwarna merah ini.
*****