Gadis berusia dua puluh empat tahun terus mengayuh sepedanya untuk pulang melepas penat yang ada tadi ia menyempatkan menyicip makanan pinggir jalan favoritnya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan untuk pulang toko bunganya hanya pukul lima sore saja dikarenakan Mbak Nadia yang memiliki keluarga dan biasanya jam sore pembeli mulai perlahan semakin sepi. Maura menikmati sorenya dengan sepeda serta senja didepan mata, sayangnya tidak bisa selalu dipandang karena ia harus fokus mengayuh sepedanya sampai pulang. Senandung irama keluar dari bibir mungil Maura, lagu Kembali Pulang menjadi favorit Maura Minggu ini, liriknya yang dalam menjadi salah satu alasan Maura ingin selalu mendengarnya.
Cobaan hidup yang terlalu berat untuk Maura harusnya ia bisa hidup seperti khalayak pada umumnya, tapi ia berbeda, Maura seperti bayi yang baru dilahirkan yang tidak mengerti apa-apa. Maura berhenti sejenak setiap sendiri ia selalu berpikir kemana-mana padahal ibu dan bapak selalu berpesan agar Maura tetap positif dan tidak boleh banyak pikiran. Namun apa daya setiap sendiri Maura selalu merasakan kesedihan.
Tiiiinnnnnn .....
Tiiiinnnnnn .....
Maura spontan menjatuhkan sepedanya, Maura terduduk dengan tangan langsung menutupi kedua telinganya. Ketakutan melanda Maura. Suara itu, suara yang menakutkan bagi Muara. Maura menggeleng, suara klakson panjangnya masih terngiang dikepala Maura. Maura butuh jelita, Maura butuh ibu atau bapak untuk membantu Maura, memberi dekapan hangat agar Maura tidak setakut ini.
Tiiiinnnnnn ....
“TIDAAKK!!” Maura spontan menjerit. Orang yang sedang berlalu-lalang langsung mendekati Maura. Ada seorang perempuan langsung bertanya pada Maura.
“Tolong .... Bawa Maura pulang .... Tolong ...” Maura terus meracau.
Sedangkan yang lain mengintrogasi supir mobil, bertanya ada apa sebenarnya sehingga membuat gadis bernama Maura seperti ketakutan.
“Saya tidak melukai pak, dia jalan terlalu menengah. Saya spontan membunyikan klakson saya.” Jelasnya
Dua orang pria paru baya itu mengangguk paham. Dan mendekati Maura yang masih menutup kedua telinga dengan raut wajah yang ketakutan.
“Neng .... Neng ...” ibu paru baya itu menggoyangkan badan Muara. Tapi tidak ada respon dari Maura. Hanya terus menggelengkan kepala sehingga membuat beberapa orang merasa kebingungan.
Sedangkan Maura perlahan ia menetralkan nafasnya dan perlahan menjauhkan tangan dari telinga. Menyakinkan diri sendiri jika ini akan baik-baik saja tidak perlu takut karena Maura tidak sendiri.
“Terima kasih Bu, pak,” ucap Maura tidak enak
“Kamu baik-baik aja?”
Maura mengangguk.
“Mau kami antar pulang?” tanya ibu itu
Dan tidak lama kemudian pemilik mobil turun dan mendekati Muara, meminta maaf meski tidak tahu siapa yang salah disini. Menawarkan untuk mengantar Muara pulang tapi lagi-lagi ditolak sama seperti tawaran ibu tadi.
Merasa lebih baik, Maura langsung pergi dari sana. Segera pulang lebih baik. Maura menuntun sepedanya jarak toko bunga tidak terlalu jauh dari kawasan rumahnya. Maura mempercepat langkahnya. Sesudahnya sampai dirumah Maura langsung memarkirkan sepedanya lalu lari masuk ke dalam mencari ibunya dan langsung memeluknya.
“kenapa, Ra?” tanya ibu Maura. Sedikit panik karena Maura pulang dalam keadaan menangis.
“Maura .... Maura kenapa selalu takut sama klakson mobil dan motor Bu, kenapa? Maura kenapa sebenarnya Bu?” tanya Maura sembari terisak. Kesedihan begitu Maura rasakan bukan hanya sekali ini ia seperti ini berkali-kali dan ibunya tidak pernah menjawab pertanyaan Maura yang ini.
“Tenang ya .... Kamu nggak apa-apa. Mungkin kamu kaget jadi takut,” jelas ibu
“Hiks .... Ibu .... Maura takut.”
Ibu mengusap punggung Maura. Andai Maura mau dan menuruti ucapan Rayhan, ibu, bapak untuk tidak bekerja pasti akan aman tapi sayang Maura tidak setuju dengan alasan akan bosan jika terus berada didalam rumah. Padahal ini demi kebaikan Maura, ibu takut bukan hanya ini Maura akan menangis tapi ada banyak hal diluar sana yang ibu yakini akan membuat Maura menangis.
“Kak Ra, kenapa?” Tanya Jelita. Gadis berusia 21 tahun itu mendekati Maura yang masih memeluk ibunya.
“Biasa ....” jawab ibu
Seakan tahun Jelita mengangguk paham. Mendekati Maura dan ikut memberi kejutan pada kakaknya. Diam dalam pelukan hangat ibunya membuat Maura tidak ingin melepaskan terlalu cepat kekuatan Maura saat ini hanyalah sebuah pelukan. Lagi dan lagi ibunya tidak menjawab pertanyaan Maura, selama ini Maura hidup dipenuhi dengan tanda tanya yang besar. Maura benci dengan kehidupan yang selalu melukai dirinya.
***
Ruangan kokpit diisi oleh dua orang pria yang satu pilot dan yang satu Co-Pilot keduanya masih fokus memperhatikan setiap tombol atau lainnya untuk memastikan perjalanan mereka masih aman terkendali. Dikelilingi warna biru seperti menjadi pelengkap perjalanannya, awan biru yang indah objek yang patut mereka nikmati selama perjalanan. Menghabiskan waktu di udara adalah risiko yang mereka terima. Meski rindu pada seseorang namun ia tahan karena ini adalah keputusan yang mereka ambil.
“Jangan dipandangi terus fotonya,”
Teguran dari pilot Abid membuat Rayhan sadar dan langsung menoleh, sembari tersenyum dihadapan Abid.
“Biasa kapt lagi rindu.”
“Ketemu kalau rindu ...”
“Sering ketemu tapi ya gitu ...” sahut Rayhan
“Sabar .... Cinta itu butuh perjuangan. Jangan berhenti berjuang, itulah yang namanya cinta itu buta. Cinta nggak punya mata tapi kita buta mengejar cinta itu kembali.”
Rayhan mengangguk setuju. Dulu, ia selalu bercerita tentang asmaranya pada pilot Abid. Terkadang memberi nasehat yang benar-benar bijak, kadang suka menggodanya saat ia belum bersama Maura, katanya jangan terlalu lama sendiri nanti mendapatkan jodoh perempuan tak terlihat. Sepertinya ucapan pilot ada benarnya ia merasakan saat ini. Bedanya ia bisa melihat namun seperti tidak bisa memiliki.
“Terima kasih, kapt,”
“Sabar pasti kalian bersatu lagi.”
Rayhan menanggapi dengan anggukan kecil. Ia yakin suatu saat Maura akan mengingat tentang dirinya lagi, mengingat semua kenangan indah yang mereka buat meski sangat singkat. Setiap dirinya melakukan penerbangan beginilah Rayhan, memasang foto Maura didekat tombol kokpit seakan menjadi sesuatu yang harus ia lakukan. Memandangi Maura lewat foto membuat Rayhan kembali menjadi pria yang kuat, merasa bahwa Maura ada disamping Rayhan menemani setiap perjalanan yang dilakukan oleh Rayhan.
Diam-diam Rayhan tersenyum ketika memandangi foto Maura, ah, perempuan itu yang berhasil membuat hidupnya seperti tertantang. Tanpa sadar Maura seperti memberi tantangan untuk Rayhan, menguji bagaimana cinta dan perasaan terhadap Maura. Andai bisa ditolak, Rayhan akan menolak karena tanpa diuji Tuhan dan seluruh alam semesta ini mengetahui bagaimana cinta Rayhan terhadap Maura.
“Mas, aku cantik nggak?” tanya Maura. Saat itu mereka ingin pergi menghadiri pernikahan teman Rayhan sesama pilot juga.
Rayhan mendekati Maura lalu membawa badan Maura menghadapi ke arah dirinya. Lalu memandangi tanpa kedip, detik kemudian jarinya bergerak menghapus lipstik pada bibir Maura.
“Kok dihapus?” tanya Maura heran
“Warna bibir asli mu itu sudah sedikit kemerahan, jangan pakai lipstik. Terlalu menor.” Jawab Rayhan. Langsung membuat Maura cemberut. Padahal kan dia ingin terlihat dan nilai orang lain kalau Maura sangat cantik dan cocok menjadi pendamping Rayhan.
“Jangan bilang mau dipuji orang lain?” tebak Rayhan
“Iya,” jawab Maura
“Sayang .... Cukup aku saja yang memujimu jangan yang lain.”
“Posesif deh.” Maura mencubit hidung Rayhan. Sontak membuat Rayhan mengerang kesakitan. Meski Rayhan sangat posesif pada Maura tapi Maura selalu suka dan terasa selalu diperhatikan.
“Cepat dihapus,” pinta Rayhan
“Iya ... Iya ..” Maura menjauhkan badannya dari Rayhan langsung kembali ke arah meja rias dan menghapus lipstik sesuai permintaan Rayhan. Meski berat tapi Maura tidak bisa menolak.
“I love you ...” Rayhan memeluk Maura dari belakang. Lalu mencium pipi Maura membuat Maura tertawa dan menyuruh agar Rayhan segera melepaskan diri. Mereka akan pergi tidak ada waktu untuk bermesraan dan menjawab ucapan cinta Rayhan.
Rayhan tersadar dari lamunan ketika pilot Abid menepuk bahunya. Mengatakan bahwa mereka sebentar akan landing, Rayhan bersiap-siap. Landing adalah satu hal yang menyenangkan bagi Rayhan. Bukan hanya ia berhasil mengantar penumpang tapi ia bisa mencari kabar Maura hari ini. Maura adalah energi untuk Rayhan.
*****
Melanjutkan perjalanan ke kota tujuan tapi ada satu sedikit waktu untuk Rayhan membuka ponselnya, landing tadi hanya sebentar karena mereka harus melanjutkan perjalanan berikutnya. Rayhan menyempatkan waktu membaca pesan yang dikirim oleh Jelita.
Mas, tadi kak Ra nangis lagi. Gara-gara ada yang bunyinya klakson panjang dijalan raya.
Jari Rayhan dengan cepat membalas mengatakan bagaimana bisa itu terjadi, Jelita kemana dan kenapa membiarkan Maura pulang sendiri? Bukankah selama ini Rayhan selalu meminta bantuan Mbak Nadia untuk mengajak pulang bersama. Lalu kenapa sekarang membiarkan Maura pulang sendiri. Sudah tahu itu tidak aman bagi Maura.
Rayhan memang selalu menyuruh jelita untuk memberikan informasi apapun tentang Maura pada Rayhan, sekecil apapun itu. Hanya Jelita yang sekarang Rayhan andalkan karena Jelita orang terdekat disekitar Maura.
Mas tenang aja. Kak Ra sekarang baik-baik aja, sekarang lagi main ponsel. Kata Mbak Nadia tadi, sudah menawarkan kak Ra buat pulang bareng dan tidak perlu membawa sepeda lagi untuk ke toko biar Mbak Nadia jemput tapi ditolak sama kak Ra, tahu sendiri kak Ra orangnya gimana. Mas jangan terlalu dipikirkan hati-hati kerjanya. Ingat, kak Ra baik-baik aja. Ada Jejel semua aman.
Rayhan menghembuskan nafas panjangnya. Ya begitulah Maura selalu menolak hal apapun yang diberikan oleh orang-orang. Rasanya Rayhan benar-benar ingin membuang sepeda Maura agar Maura tidak menolak lagi diantar dan dijemput oleh orang. Ia memang merasa lega ketika Jelita mengatakan Maura sudah tidak apa-apa lagi.
Terima kasih banyak Jel, mas selalu mencintainya sampai kapan pun.
Dan tidak lama kemudian Jelita membalas pesan Rayhan.
Dalam hati kak Ra yang paling dalam, kak Ra juga pasti mencintai mas sampai kapan pun. Kata ibu sama bapak jangan terlalu memikirkan kak Ra saat melakukan penerbangan.
Rayhan membalas dan mengatakan ia selalu fokus dalam bekerja mengingat profesi pekerjaan Rayhan sangat berat apalagi berkaitan dengan nyawa manusia. Rayhan mengakhiri pesan dengan Jelita. Beralih mencari kontak Maura, ia pandangi ada keraguan yang muncul dibenak Rayhan. Rayhan ingin menghubungi tapi ragu, kenapa ia selalu ragu berkaitan dengan Maura. Bukankah ia sedang proses mendekati Maura lagi? Lalu kenapa ingin mengirim pesan saja harus seragu ini. Dengan tangan gemetar akhirnya Rayhan mengetik pesan untuk dikirim ke Maura.
Hey ...
Rayhan harap Maura tidak membalas karena saat ini Rayhan malah berubah menyesal telah mengirim pesan pada Muara. Tapi ternyata harapan itu tidak dikabulkan karena Maura membalas dengan cepat.
Siapa?
Bukan berhenti malah Rayhan membalas lagi.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Ini siapa? Mendapatkan nomor ku dari mana?
Dari tutup botol air mineral.
Mana mungkin. Ini siapa? Jangan ganggu Maura, jika tidak ada hal yang penting.
Jangan galak-galak nanti cantiknya hilang.
Aneh.
I Miss you, Ra.
Aku nggak kenal kamu. Jangan hubungi Maura lagi.
Memangnya kenapa? Aku ingin kenal kamu.
Kenalan saja sama tutup botol air mineral.
Detik itu tawa Rayhan pecah. Keraguan itu menghilang digantikan bahagia tak terhingga untuk Rayhan. Rayhan tidak membalas lagi, biarkan semua ini berjalan seperti biasanya. Rayhan tidak mau terburu-buru mendekati Maura karena Rayhan takut Maura akan semakin jauh darinya.
****