Rayhan menunduk tepat didepan seorang dokter, baru saja ia mendengarkan penjelasan tentang keadaan Maura. Selama pengobatan ternyata belum bisa berdampak baik bagi Maura. Obat-obatan yang Maura minum tidak membantu sama sekali mengingat semua yang telah terjadi. Rayhan ingin marah pada dokter didepannya lalu selama 6 bulan belakangan ini dokter mengobati apa saja. Rayhan merasa tidak terima jika seperti ini lebih baik ia menyuruh ibu dan bapak Maura stop untuk memeriksa kesehatan Rania disini. Harus berapa lama lagi ia menunggu, berapa lama lagi ia hidup tanpa Maura? Semakin lama Rayhan semakin tidak sanggup, kesendirian saat ini benar-benar membuatnya tidak terarah mencoba mengalihkan tentang Maura pada hal lain tapi Rayhan tidak bisa. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan pikiran Rayhan dipenuhi tentang Maura Kasih.
“Lalu apa yang harus saya lakukan dok?” Rayhan menetralkan kondisinya. Ia tidak boleh terlalu emosi. Emosinya terlalu bahaya karena bisa menyakiti orang lain.
Sepulang dari penerbangan seperti biasa Rayhan mengunjungi salah satu rumah sakit. Hanya memastikan kondisi Maura dan setelah mendapat kabar yang masih sama seperti bulan kemarin membuat Rayhan kehilangan semangat. Ucapan dokter lagi-lagi menyuruh dirinya untuk menunggu. Rayhan sudah bosan waktu 6 bulan bukanlah waktu yang sebentar.
“Anda hanya perlu masuk kehidupan Maura sebagai orang baru. Setelah Maura nyaman dengan anda coba ceritakan sedikit demi sedikit tentang Maura dan anda. Ini tidak mudah tapi saya yakin anda bisa. Obat bukan salah satu jawaban yang tepat untuk mengembalikan ingatan Maura. Anda suaminya ..” Jelas dokter
Pernikahan. Satu kata yang dulu dibayangkan Rayhan hanyalah kebahagiaan yang akan selalu menghampiri mereka namun nyatanya tidak. Pernikahan mereka baru berjalan satu tahun lima bulan dan selama itu Rayhan tidak menikmati apa itu pernikahan. Baru beberapa bulan mereka menjalani kehidupan rumah tangga cobaan menerpa dirinya mengharuskan Rayhan pasrah dan tidak perlu melawan takdir. Selama kenal hingga memutuskan menikah memang tidak ada masalah berat yang mereka hadapi, perjalanan cinta mereka mulus sekali. Namun setelah menikah seakan semua dendam untuk Rayhan sehingga Rayhan harus menerima keadaan Maura setelah kecelakaan yang dialami Maura. Maura mengalami amnesia tidak mengingat siapapun termasuk rayhan— suaminya.
Maura ingat ibu dan bapak setelah dijelaskan oleh keduanya. Sedangkan Rayhan benar-benar dilupakan oleh Maura. Menyakitkan, hati Rayhan benar-benar remuk. Lebih baik ia ditinggalkan dalam keadaan ingat daripada ditinggalkan dalam keadaan Maura lupa siapa dirinya. Terpaksa Rayhan mengikuti saran dokter untuk masuk kedunia Maura sebagai orang baru. Kalau Rayhan mengatakan langsung tentu Maura akan mengalami shock berat, Rayhan tidak mau itu terjadi.
“Kami mengerti perasaan anda .... Saya harap anda lebih kuat menghadapi ini semua, kami yakin anda bisa. Teruslah berdoa semoga Tuhan memberikan mukjizat pada Maura untuk mengingat semua tanpa anda berusaha.” Ucap dokter.
Setiap malam, setiap 5 waktu dalam salat Rayhan selalu berharap Tuhan adil padanya. Mengembalikan Maura dalam pelukannya. Agar Rayhan tidak perlu menyiksa dirinya.
“Iya dok. Terima kasih .... Kalau gitu saya permisi.” Pamit Rayhan
Setelah pamit dari dokter Rayhan langsung keluar dari kawasan rumah sakit. Hari ini akan mengunjungi rumah Maura, dijam seperti ini Rayhan yakin Maura tidak ada dirumahnya. Setidaknya Maura tidak curiga dengan Rayhan dalam waktu dekat ini.
Kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan akhirnya Rayhan sampai, Rayhan langsung turun dan menemui ibu Maura yang sedang sibuk aktivitas. Sepertinya kedatangan Rayhan akan sedikit menganggu ibu Maura. Ibu Maura menyambut Rayhan. Dan Rayhan mengatakan permintaan maafnya karena beberapa hari yang lalu pulang tanpa pamit.
Keadaan rumah masih sama, sama seperti sebelum Rayhan memindahkan Maura ke rumahnya. Masih ada foto-foto Maura dan Jelita. Dulu, ada foto pernikahan mereka tapi Rayhan meminta pada ibu Maura untuk mencopot. Menunggu waktu itu tiba baru dipasang kembali.
“Ibu apa kabar?” tanya Rayhan sembari menyalami ibu Maura.
“Ibu baik nak ... Akhirnya kamu kesini lagi. Sayangnya bapak belum pulang.”
“Nggak apa-apa Bu. Bagaimana perkembangan Maura Bu?” Tanya Rayhan
“Masih sama nak,” jawab ibu tidak enak.
Ibu belum bisa berbuat banyak. Hanya bisa menunggu Maura mengingat sendiri karena ibu tidak sanggup yang akhirnya ia sendiri tak bisa menahan air mata ketika melihat kondisi anak sulungnya.
“Maafkan ibu, nak Ray ... Ibu tidak tahu harus memulai darimana. Ibu tidak sanggup ... Jujur ibu tidak sanggup.”
Rayhan yang mengerti langsung mengusap bahu ibu, ia jadi merasa bersalah ucapannya seperti menyinggung ibu. “Tidak apa-apa Bu.” Ucap Rayhan menenangkan ibu.
“Kenapa tidak langsung saja kamu bertemu Maura, Ray? Kamu ceritakan. Jujur.”
“Aku ingin Bu .... Tapi aku ragu.” Jawab Rayhan
Rayhan menarik nafas panjangnya. Rasa sakit bertambah, ingin memutar waktu, membatalkan semua yang telah terjadi. Namun rasanya itu hanyalah ilusi belaka. Suara langkah kaki membuat keduanya menoleh.
Baik Rayhan, ibu dan perempuan didepannya sama-sama terkejut. Maura datang dan Rayhan belum pulang. Keduanya belum membuka suara sama-sama memandang hingga suara ibu menyadarkan keduanya.
“Hai ...” sapa Rayhan
Maura kebingungan. Ia mengenali siapa laki-laki ini. Laki-laki yang pernah bertemu di pesawat dan pernah mengantar dirinya pulang. Kenapa ada dirumahnya dan ada apa?
“Ra, sini duduk ...” suruh ibu
“Kamu tenang saja ... Aku kesini mau pesan makanan.” Ucap Rayhan. Untuk saja ibu Maura memiliki rumah makan dan memesan makanan bisa dijadikan alasan agar Maura tidak curiga.
“Oh gitu ....”
Dan diangguki oleh keduanya. Maura berjalan ke arah ibunya bukan untuk duduk melainkan hanya menyalami lalu pamit untuk ke kamarnya.
Rayhan hanya bisa diam ditempat. Masih tetap tak dianggap. Rasanya Rayhan ingin bangkit dan ikut ke kamarnya, memeluk perempuan itu menumpahkan rasa rindu pada istri cantiknya. Ya Tuhan .... Ini semua benar-benar membuat Rayhan tersiksa. Maura Munjul dari kamar masih dengan kondisi yang sama seperti tadi tapi bagi Rayhan penampilan seperti ini saja terlihat sangat cantik. Maura tidak hanya cantik wajahnya tapi hatinya juga. Mata yang sendu, tinggi badan sebahu Rayhan, serta lesung pipi menjadi pelengkap. Rayhan sangat menyukai lesung pipi Maura. Perbedaan umur mereka tidak jauh Rayhan berusia dua puluh delapan sedangkan Maura berusia dua puluh empat tahun.
Maura mendekat ke arah Rayhan lalu duduk disamping ibunya.
“Mas, mau pesan katering ibu?” tanyanya
“Baru bertanya. Kalau cocok akan aku hubungi kembali.” Jawab Rayhan
Maura mengangguk-angguk.
“Kok tahu ibu jualan?” tanya Maura lagi. Benar kata Mbak Nadia jika pria yang pernah mengantar dirinya adalah pria baik. Di butik mbak Nadia menjelaskan dan Maura akhirnya ingat. Pria didepannya pernah terkena tasnya untung tidak sampai terluka.
“Hm ... Kebetulan waktu itu bertanya pada adikmu.”
“Oh, si Jejel yang memberitahu ...”
“Mungkin.”
“Iya namanya Jelita, adik Maura.”
“Oh ya ...”
Rayhan suka. Berbicara saling berlawanan tidak ada kecanggungan diantara keduanya, Maura mengeluarkan sifat aslinya. Selalu memberikan suasana obrolan menjadi menghangat. Ibu sudah menjauh dari sana alasannya ada pekerjaan yang belum selesai diberesi.
“Ra ...”
“Mas, kenapa ngasih bunga ke aku?” tanya Maura penasaran
“Kamu sudah ingat?”
Maura mengangguk. Hening suasana diruang tamu Maura. Diam-diam Maura melirik ke arah pria didepannya.
Semakin mereka berdekatan semakin Rayhan kehilangan kendali. Akhirnya Rayhan memilih pamit. Rayhan mendekati Maura. Entah dorongan darimana Rayhan dengan lancangnya menarik kepala Maura lalu mencium kening Maura. Rayhan tahu Maura terkejut, Rayhan tidak peduli, yang diinginkan Rayhan sudah tercapai. Ia merindukan Maura, sangat merindukan. Bahkan Maura tidak tahu saat ini Rayhan terlihat pria lemah karena mengeluarkan air dari sudut matanya. Rayhan merasa sulit menghindar dari Maura. Rayhan belum ada niat melepaskan hingga ada dorongan keras membuat Rayhan menjauh dan tiba-tiba pipi Rayhan merasakan sakit
. Maura menampar Rayhan.
****