Maura menatap tajam kearah pria didepannya. Hanya ada kemarahan yang sekarang ia masih menanganinya. Siapa laki-laki ini kenapa lancang sekali melakukan hal tadi, mereka baru kenal saat dipesawat dan hari ini mereka bertemu. Maura melayangkan lagi tangannya untuk menampar tapi tangannya ditahan. Pandangan mata keduanya saling bertemu.
“Ra, hal apa yang paling kamu benci?”
“Saat laki-laki menyakiti wanita itu hal yang paling aku benci.”
“Ada lagi?”
“Ada, aku tidak suka laki-laki yang hobi merokok.” Jawab Maura
“Kenapa?”
“Karena rokok itu bahaya, aku tidak suka bau asap rokok.” Jawab Maura lagi
“Untungnya aku bukan seorang perokok, Ra ...”
“Ya, aku memang beruntung mengenalmu ...” ucap Maura sembari tersenyum.
Maura langsung menggeleng. Bayangan apalagi yang memenuhi pikirannya ini. Maura memilih mengabaikan mencoba menarik pergelangan tangan yang ditahan namun usahanya sia-sia tangan Maura ditahan dengan erat.
“Aku punya alasan kenapa menciummu ...”
“Lepas!” Pinta Maura
Pria didepannya ini malah mengabaikan Maura membuat Maura benar-benar dibuat kesal.
“Lepas!!” pinta Maura
“Nggak Ra, kamu dengarkan penjelaskan aku dulu.”
Maura menggeleng. Tangan satu Maura yang belum dicekal akhirnya melepaskan tangan Rayhan dengan kasar. Saat ingin dicekal lagi Maura menepis terus menerus.
“Apa yang kamu lakukan barusan, pelecehan terhadap wanita! Harusnya aku menamparmu lagi hingga pipimu itu terluka.” Ucap Maura. Sorot mata Maura memperlihatkan kebencian pada Rayhan mulai hari ini. Setelah mengucapkan kata itu Maura langsung beranjak pergi sengaja menyenggol bahu Rayhan, tinggi badan keduanya tidak jauh berbeda. Maura langsung ke dalam kamarnya, selama ia hidup tidak ada satupun laki-laki yang berani mencium keningnya tapi laki-laki itu sudah kurang ajar padanya. Mereka bukan terikat, kenal baru beberapa hari saja.
“Kurang ajar .... Kurang ajar ...” Maki Maura. Didalam kamarnya Maura mencari sesuatu agar bisa meluapkan rasa kesalnya. Matanya tertuju pada boneka Sapi Maura langsung mengambilnya dan berbalik membuka pintu kamarnya. Dan melemparkan boneka Sapi itu hingga mengenai tubuh Rayhan dan membuat Rayhan terkejut.
“Dasar pria m***m!” teriak Maura sebelum Maura benar-benar kembali ke dalam kamarnya.
Sedangkan Rayhan malah memegang boneka Sapi itu. Ternyata Maura masih menyimpan boneka yang Rayhan beli dua hari sebelum mereka melakukan pingitan menjelang pernikahan. Rayhan membeli boneka ini sebagai ganti jika Maura merindukan dirinya bisa memeluk boneka Sapi ini karena Rayhan sempat memeluk boneka Sapi sebelum diberikan pada Maura. Kemarahan Maura justru tidak membuat Rayhan takut melainkan Rayhan senang karena Rayhan menyukai saat Maura marah pada dirinya.
“Ra ... Kita nggak bisa ketemu dulu.”
“Iya aku tahu.”
Rayhan tidak tega meninggalkan Maura ingin rasanya Rayhan mempercepat hari bahagianya agar antara Rayhan dan Maura tidak lagi berjauhan. Ini semua karena ulah kedua orang tua mereka menyuruh Rayhan dan Maura melakukan pingitan alasannya agar saat ijab qobul mendatang Rayhan ada kerinduan diantara keduanya dan tidak bosan. Padahal Rayhan tidak pernah bosan pada Maura. Bagaimana bisa Rayhan bosan dengan perempuan yang berhasil menaklukkan hatinya.
“Ish, kenapa harus pingitan sih,”
“Sabar .... Cuman satu doang.” Ucap Rayhan.
“Itu lama mas .... Kalau aku kangen gimana?” tanya Maura menampilkan wajah sedihnya.
“Masih bisa teleponan sayang ...”
“Bosan. Aku pengennya ketemu,”
Rayhan mengacak rambut Maura gemas. Hanya seminggu dan Rayhan merasakan hal yang sama seperti Maura rasakan. Tapi tidak ada pilihan lain selain menuruti adat-istiadat dari orang tuanya. Rayhan yakin 7 hari tanpa Maura pasti bisa dan tidak akan tersiksa. Rayhan memeluk boneka Sapi yang baru saja dibeli. Lalu memberikan pada Maura.
“Kamu simpan ya, biar kalau kangen kamu bisa peluk boneka ini.” Ucap Rayhan.
Mau tidak mau akhirnya Maura menerima. Dan malam itu adalah malam perpisahan bagi keduanya. Meski berat tapi mereka harus menghadapi, setelah sah mereka akan sama-sama memuaskan diri untuk mencurahkan rasa rindu mereka.
Tapi nyatanya satu Minggu telah terlewat ternyata Rayhan tersiksa karena orang tua mereka juga merampas ponsel dan saat Rayhan mencuri-curi waktu menjemput Maura dirumah tanpa sepengetahuan orang tua Maura tapi ternyata malah ketahuan dan saat itu Rayhan tidak berani lagi datang ke rumah Maura. Maura dipingit tidak boleh keluar satu Minggu hanya keluar dengan orang tua mereka saja. Menyebalkan!.
Semua itu telah terlewat oleh keduanya akad selesai mereka saling menumpahkam rasa rindu mereka. Berbagi cinta dan bahagia karena sama-sama bisa memiliki dan tidak akan terpisahkan kecuali Tuhan yang meminta.
Rayhan terus memegang boneka itu. Semua hal yang indah berlalu begitu saja Rayhan bahkan membahagiakan Maura seutuhnya. Tapi ciuman singkat dikenang Maura membuat Rayhan merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Rayhan beruntung masih bisa mengecup kening istrinya meski berakhir seperti ini.
“Ray, kamu nggak apa-apa?” Tanya ibu mendekati Rayhan. Ia yang sedang membereskan sesuatu didapur mendadak panik ketika mendengar keributan.
“Ya ampun Ray .... Pipimu merah. Maura menampar mu?” Tanya ibu
“Tenang Bu ... Ini salahku. Aku tidak sengaja mencium kening Maura, maaf ...” jelas Rayhan tidak enak
“Kamu tidak perlu minta maaf nak, kamu tidak salah. Kamu suaminya wajar jika mencium kening istrinya. Ibu obati pipimu ya, merah sekali. Pasti Maura sangat keras menamparmu.” Ucap ibu. Namun sayangnya itu ditolak oleh Rayhan. Rayhan tidak sakit, tamparan dari Maura tidak terasa apa-apa. Hanya sedikit perih tapi itu tidak lama dan saat ini rasa perih itu sudah menghilang.
“Aku pulang ya Bu,”
“Tapi nak—”
“Rayhan baik-baik aja Bu.” Rayhan mengusap bahu ibu Maura. Ia tahu mertuanya ini sangat khawatir dengan dirinya tapi percayalah Rayhan memang baik-baik saja.
Sebelum pamit Rayhan menyempatkan waktu untuk mendekati kamar Maura berniat untuk ikut pamitan juga. Rayhan berdiri didepan kamar Maura ada keraguan untuk mengetuk pintu tapi akhirnya Rayhan mengetuk pintu.
“Siapa?” tanya dari dalam
“Aku Ra,”
“Pulang sana!”
Rayhan terkekeh dari luar.
“Oke, maaf ya soal tadi.”
Tapi tidak jawab oleh Maura. Sebelum benar-benar pulang Rayhan mengucapkan sedikit kata. “Aku pulang istriku .... Semoga kamu cepat mengingatku.” Ucap Rayhan
“Hey, Ra ...” sapa Rayhan kembali. Tapi sayangnya Maura kembali menutup pintu itu dengan kasar, Rayhan tahu pasti Maura mengira bahwa dirinya sudah pergi. Rayhan mendengar gumaman dari dalam kamar Maura. Rayhan harus pulang agar kemarahan Maura bisa mereda.
*****
Tok .... Tok .... Tok ...
“Siapa?”
“Ibu, Ra,”
Maura langsung bangun ketika mendengar suara ibunya. Maura masih kesal ditambah kejadian yang tadi, ia kira pria itu benar-benar pergi ternyata masih ada didepan kamarnya.
“Ibu masuk boleh?” tanya ibu
Maura mengangguk. Mempersilakan ibu masuk dan duduk diranjang kasurnya. Ibu Maura mengambil tangan anaknya lalu digenggam dengan erat.
“Tadi kenapa?” tanya ibu
Tiba-tiba Maura langsung memeluk ibunya. Lalu menangis membuat ibu langsung mengusap punggung putri sulungnya.
“Maafkan Maura ya Bu .... Maura nggak bisa jaga diri.”
“Kenapa Ra? Coba cerita sama ibu,” ibu melepaskan pelukan Maura. Mengusap air mata Maura. Menatap kedua mata Maura yang memerah.
“Tadi .... Laki-laki yang tadi sudah kurang ajar sama Maura, dia cium kening Maura Bu .... Kita baru kenal. Dan Maura merasa dilecehkan.” Jujur Maura
“Ra—”
“Maura nampar dia, ibu pernah bilang kalau ada yang kurang ajar Maura harus nampar atau memukul.”
“Iya ibu tahu .... Ra ... Jangan nampar laki-laki tadi ya. Kasian, tadi pipinya yang sangat merah pasti sakit.” Ucap ibu
“Biarin aja Bu, Maura marah sama dia karena nggak sopan. Maura bukan-bukan siapa-siapa dia.”
“Iya-iya. Ibu paham ... Ibu maafkan, ibu dan bapak mengerti perasaan kamu dan tidak akan marah karena kejadian tadi. Lain kali hati-hati dan jangan main tangan.” Ucap ibunya
“Iya Bu .... Tapi Maura ke—”
“Sudah-sudah lupakan ya ... Ini bunganya dari siapa?” tanya ibu. Tangannya mengambil setangkai bunga mawar yang tergeletak di atas kasur.
“Dari orang tadi. Dia itu aneh, datang ke tempat Maura membeli bunga tapi bunganya buat Maura. Dasar aneh ..” jawab Maura
Senyum ibui terbit. Andai saja Maura tahu jika Rayhan adalah orang spesial dalam hidup Maura pasti akan senang menerima bunga pemberian Rayhan.
“Maafkan Maura ya Bu ... Maura tidak bisa menjaga diri.”
“Iya Ra ...” ibu tersenyum dihadapan Maura.
Maura bersyukur ibu tidak marah karena ulah keteledorannya. Maura tersenyum dihadapan ibu dan bersamaan dengan itu suara ponsel Maura berbunyi dan buru-buru Maura meraih ponsel didekat mawar itu. Ada pesan masuk dari nomor yang Maura tidak dikenal seperti biasanya.
Hey Ra ...
Maaf soal tadi, aku tahu salah. Mencium keningmu tanpa permisi tapi kamu harus percaya satu kecupan hangat mampu membuatku sebahagia sekarang. Terima kasih Ra jangan marah nanti cantiknya hilang.
Ray.
Maura langsung menaruh kembali ponselnya tidak ada niatan sama sekali membalas. Ia tahu siapa yang mengirim pesan itu, pria kurang ajar tadi. Meski Maura penasaran ingin bertanya mendapatkan nomor dirinya dari mana tapi Maura urungkan karena ia masih marah pada pria kurang ajar tadi. Dua hari ini Maura selalu mendapat pesan dari nomor baru. Membuat Maura ingin sekali mengganti nomor teleponnya agar tidak diganggu oleh orang tidak Maura kenal.
****