Maura mencium punggung tangan laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya dibarengi sang suami mengecup kening Maura dengan waktu yang agak lama, kecupan itu terlepas ketika kedua orang mereka memperingati untuk segera melepaskan kecupan. Bahagia dan hari itu saksi dimana hari sakral itu dilaksankan dimana keduanya saling bahagia tanpa ada sedikit pun tekanan bagi mereka.
“Terima kasih atas perjuanganmu hingga hari ini mas .... Terima kasih karena aku yang kamu pilih.” Ucap Maura menatap kedua mata suaminya.
“Aku yang terima kasih padamu ....”
Maura mengangguk dan satu detik kemudian Maura tidak bisa membendung perasan bahagia hingga air mata memenuhi pelupuk matanya yang indah. Maura merasakan ada gerakan tangan menghapus air mata Maura yang tak terbendung.
“Janji padaku Ra untuk selalu mencintaiku ...” ucapnya
“Aku janji. Sampai kapan pun untuk selalu mencinta kamu, menemani kamu, menunggu kamu dirumah.”
Ah rasanya bahagia sekali mendengar ucapan manis dari Maura sehingga sang suami menghadiahi puluhan kecupan diseluruh wajah Maura. Beruntungnya ia bisa bersanding dengan perempuan yang mencintainya, perempuan pertama yang membua kehidupan lebih berwarna.
Tubuh Maura bergetar, keringat dingin memenuhi wajahnya, Maura terus menggeleng tanpa henti. Maura membuka matanya dan langsung bangun, menghembuskan nafasnya yang sempat tercekat. Menutup wajah dengan kedua tangannya lalu menunduk untuk menetralkan semua. Maura baru saja bermimpi tentang pernikahan, spontan mata Maura melihat ke arah jarinya yang ternyata kosong tidak ada cincin pernikahan disana. Maura menghembuskan nafas lega itu semua hanya mimpi. Iya mimpi ditengah malam bersamaan dengan itu tangan Maura mengambil segelas air putih didekat meja lalu meminumnya untuk menenangkan semuanya. Setelah itu Maura mengambil ponsel yang dari tadi sore tidak ia sentuh ada beberapa pesan masuk dan Maura membaca satu-persatu.
Selamat tidur Ra.
Mimpilah dengan indah dan esok ada satu harapan yaitu kamu mengingat tentang kenangan manis.
Nomor itu lagi. Kenapa Maura merasa seperti diteror oleh nomor tidak dikenal ini, Maura segera menghapus pesan itu dengan cepat beralih kepesan lainnya. Maura tidak bisa tidur lagi jika sudah terbangun akhirnya Maura memilih keluar dari kamarnya ia teringat tadi siang ada yang mengirim donat untuk dirinya— ibu bilang donat itu dari seseorang yang ibu sendiri tidak tahu karena dikirim oleh seorang kurir.
“Mbak, ngapain?”
Suara Jelita membuat Maura berhenti mencari sesuatu didalam kulkas sana. Anak ini kenapa membuat Maura jantungan. Sudah ini tengah malam datang hanya menggangetkan Maura saja.
“Makan. Kamu kenapa bangun?” tanya Maura
“Kebangun gara-gara tidur sore-sore.”
“Dasar kebo!” ejek Maura
“Ih ... Si nyebelin.” Balas Jelita lalu mendekati Maura yang kembali sibuk membuka kulkas.
“Nyari makanan Mulu padahal sudah tengah malam.” Ujar Jelita.
Maura yang sudah berhasil menemukan donat itu akhirnya menutup kembali kulkas, memakan donat tepat didepan Jelita membuat Jelita kesal.
“Nggak ngaruh.”
“Bye ... Bye diet ...” Maura menunjukan donat itu lagi tepat didepan mata Jelita membuat Jelita langsung menepis kesal. Makanya ini tidak mengerti sekali dengan Jelita yang kini sedang mati-matian untuk diet. Memang tidak terlalu gemuk tapi namanya perempuan pasti tidak akan puas.
Cekrek ..
Maura yang tengah asyik memakan donat tiba-tiba berhenti mengunyah karena suara dari ponsel Jelita. Maura menatap Jelita dengan tatapan tajam kode agar Jelita seger memberi alasan kenapa memfoto dirinya diam-diam.
“Ups ...!” Jelita menutup mulut dengan kedua telapak tangan, ia lupa mematikan suara kamera dari ponselnya padahal ia berniat diam-diam untuk memfoto kakaknya lalu dikirim ke Rayhan.
“Hapus!”
“Nggak.”
“Jel .... Hapus dong, pasti poseku jelek.”
“Cantik tau.” Jawab Jelita. Ia berhasil mengirim foto Maura pada Rayhan setelah berhasi Jeliita kembali menyimpan ponsel miliknya.
“Jejel hapus dong ....”
Bukannya menghapus Jelita malah menjulurkan lidah laku langsung kabur masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Jelita jelekkkkkkk ....!!!” Maura mulai kesal hingga ia tidak sengaja berteriak padahal ini sudah tengah malam tapi kedua saudara kandung ini malah menganggu waktu tidur ibu dan bapaknya.
****
Benar apa yang dikatakan beberapa temannya di setiap kali mereka sedang berbicara disela-sela kesibukan dalam penerbangan. Sebelum semuanya dimulai biasanya— Rayhan selalu ikut mengobrol dengan teman-teman termasuk menjadi pendengar apa yang sedang mereka sampaikan apalagi bersama Abid salah satu pilot dimaskapainya pasti Rayhan sangat betah menjadi pendengar karena selalu menceritakan kesenangan keluarga seperti menceritakan tentang anak mereka yang cukup aktif itu.
Ada perasaan iri dan Rayhan rasa ini, adalah suatu kewajaran mengingat dirinya sendiri belum bisa menikmati dan bisa menceritakan tentang kehidupannya. Sekarang saja ia sendiri seperti saat muda dimana tidak ada ikatan dengan siapapun— sejujurnya Rayhan ingin menyalahkan takdir yang sedang Tuhan berikan padanya.
Kamar yang berantakan, lemari baju berantakan semua keadaan kamar Rayhan tidak seperti saat pertama kali mereka menikah dan satu bulan setelah pernikahan keadaan dalam kamarnya beda. Rayhan rindu dengan istrinya, rindu akan suara lantang ketika Rayhan tidak mendengar instruksi. Maura akan merasa kesal dengan Rayhan yang susah sekali disiplin. Maura hanya minta lemari baju harus tertata rapi bukan karena Maura malas tapi Rayhan harus belajar hidup saling melengkapi. Tapi sayangnya semua itu belum Rayhan lakukan— Rayhan selalu menjadi biang kerok dengan jeadaan kamar yang berantakan belum lagi Rayhan selalu lupa menaruh name tag atau barang yang berkaitan dengan pekerjaan Rayhan sebagai co-piloti.
“Ra .... Kalau kamu ada disini pasti bakalan marah keadaan kamar aku yang gini.” Gimana Rayhan tangannya tak lepas menaruh sesuatu dikopernya untuk ia bawa bekerja.
“Ra ... Maura ...”
“BANG KATA MAMA BANGUN ....!” Suara teriakan adiknya begitu jelas memenuhi gendang telinga Rayhan dengan cepat Rayhan melangkah kearah pintu keluar untuk mengatakan jika Rayhan sudah bangun sejak tadi.
“Berisik amat.”
“Bangun jangan molor aja, hari ini ada penerbangan. Oh iya kata Jejel buka WhatsApp.” Ucap Melati. Setelah mengucapkan, Melati meninggalkan Rayhan begitu saja.
Buru-buru Rayhan berbalik dan dengan cepat tangannya meraih ponsel lalu membuka w******p dan senyum Rayhan langsung mengembang, Rayhan duduk dipinggiran ranjang tangannya menyentuh layar ponsel dan memperbesar layar ponsel itu.
“Ra ... Kenapa kamu lucu sekali,” ujar Rayhan. Jelita mengirim foto Maura yang tengah asyik memakan sesuatu dan Jelita mengatakan bahwa Maura makan donat pemberian Rayhan tengah malam. Rayhan membalas agar Jelita selalu memberi kabar pada Rayhan apapun yang berkaitan dengan Maura.
Sarapan pagi sudah, pamit dengan kedua orang tuanya juga sudah. Pagi ini Rayhan memilih lebih pagi keluar dari rumahnya seperti biasa ia akan mampir dulu ke toko bunga milik Nadia. Rayhan bersyukur Nadia selalu memberi akses agar Rayhan bisa datang ke toko bunga hanya untuk menemui Maura sebelum Rayhan pergi terbang untuk beberapa hari.
“Pagi ...” sapa Rayhan dan Rayhan tahu Maura terkejut dengan kedatangan Rayhan pagi ini. Rayhan terus memunculkan senyum manisnya didepan Maura yang tengah sibuk mengeluarkan bunga satu-satu.
“Boleh aku bantu?”
“Tidak usah. Mau beli bunga kalau mau jam sembilan kesini lagi ka—”
“Cuman mau ketemu kamu.” Sela Rayhan
Maura mengabaikan Rayhan karena ia benar-benar sedang sibuk memindahkan bunga-bunga yang sempat disimpan didalam jika toko mereka tutup.
“Ja—”
“Jangan protes aku bantu kamu.” Sela Rayhan lagi. Dengan sigap ia membantu Maura memindahkan bunga yang cukup banyak. Pelan-pelan namun pasti pagi ini rasanya Rayhan semakin semangat ketika Maura tidak memprotes dirinya atau bahkan mengusir dirinya. Kedatangan Rayhan kesini tak lain ingin meminta maaf tentang dirinya yang lancang mencium kening Maura.
Bunga itu sudah tertata rapi berkat bantuan Rayhan tak lupa Rayhan juga mendengar dan sangat senang ketika Maura mengucapkan terima kasih padanya.
“Ra?”
“Ya,” hanya menyahut tapi mata Maura tidak melirik ke arah Rayhan masih fokus memotong daun pada pot bunga itu ada beberapa daun yang berubah warna.
“Sudah lama kerja disini?”
“Baru dua bulan. Mau pesan bunga atau apa, mas?” tanya Maura. Tangannya berhenti bekerja berbalik menatap Rayhan.
“Nggak sebenarnya cuman mau min—”
“Minta maaf karena tidak sopan mencium keningku? Mas ini memang nggak punya etika, itu termasuk pelecehan mas!”
“Serang aku minta maaf nggak sengaja Ra, sumpah.” Ucap menampilkan jari V dihadapan Maura.
“Aku minta maaf ya Ra .... Janji nggak akan diulang.” Ucap Rayhan memastikan. Padahal kalau sampai terjadi lagi gampang kok Rayhan akan meminta maaf lagi.
“Iya.” Jawab Maura.
Rayhan menjauh dari Maura sebentar lalu meraih setangkai mawar berwarna putih lalu diberikan pada Maura.
“Untuk kamu, Ra, sebagai tanda maaf ...” ucap Rayhan
“Aku bakalan bayar kok, terima dong ..”
Dengan ragu Maura menerimanya dan bersamaan dengan itu Rayhan juga mengeluarkan satu lembar uang kertas dengan nominal 50 ribu pada Maura. Maura menahan Rayhan untuk tunggu sebentar karena uang ini ada sisi tapi sayangnya Rayhan sudah pamit dari sana.
Maura mengenggam mawar, mencium mawar putih itu. Kenapa ia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya?
****