“Om Yeye ....”
Panggilan khas suara anak kecil menyadarkan Rayhan dan langsung berbalik antena ia tahu siapa pemiliknya. Rayhan tersenyum dan langsung melebarkan tangan mengkode agar gadis kecil itu segera memeluk Rayhan. Dan gadis kecil bernama Denisa Pranaja langsung memeluk Rayhan erat.
“Denisa apa kabar?”
“Baik.” Jawabannya.
Denisa Pranaja putri dari Abid Pranaja yang kini berusia 5 tahun— Rayhan sangat dengan Denisa dan anak laki-laki dari pilot Abid itu semua berawal karena Rayhan sering mengajak mereka bermain dan membawa ke rumah mereka bermain bersama Maura juga. Abid dan Bea mengizinkan dan Rayhan benar kok o-benar berterima kasih pada mereka— Abid selalu bilang pada Rayhan anggap saja kehadiran Denisa memancing Rayhan agar segera memiliki keturunan juga.
“Hai mbak ...” Pelukan Rayhan terlepas beralih menggandeng tangan kecil Denisa. Tampak sekali jika Denisa sangat senang seperti merindukan Rayhan yang beberapa bulan ini jarang bertemu Denisa. Rayhan menyapa Bea— istri Abid.
“Hay juga Ray ... Denisa kangen banget sama kamu. Minggu kemarin dia nangis minta ke ayahnya buat nganter ke rumah kamu cuman kamu 'kan sedang sibuk jadi ayahnya janji hari Senin kalau ayahnya pulang Denisa ikut jemput biar ketemu om Yeye.” Jelas Bea
Rayhan merespon dengan ucapan kata maaf lalu berjongkok dihadapan Denisa memegang pundak kecil, panggilan kesayangannya adalah om Yeye— penggilan dari kecil yang sampai sekarang sulit dirubah.
“Denisa nyari om?” tanya Rayhan
“Iya. Denisa mau es krim waktu itu, om ...”
“Es krim strawberry?”
Denisa mengangguk dengan polos. “Tapi sama Tante Rara.” Ucapnya
Membuat Rayhan spontan mengangguk juga. “Kalau om Yeye ada waktu nanti ajak Denisa kesana ya sama Tante Rara juga.” Ucap Rayhan memberi pengertian. Sebelumnya Bea sudah memperingati Denisa agar tidak meminta es krim pada Rayhan— Rayhan malah menyetujui akan membawa Denisa ketika ia dan Maura sudah bersama tentu tidak saat ini.
Obrolan mereka tidak lama karena mereka juga harus pergi meski ada Denisa tidak rela berpisah dengan Rayhan— Rayhan memberi pengertian jika sesegera mungkin akan mengajak Denisa jalan-jalan lagi dan Denisa percaya. Rayhan memandangi mereka dari tempat semula, gandengan tangan antara Abid dan Bea, Denisa yang digendong dan memakai topi pilot diatas kepalanya lalu mereka bercanda ditengah-tengah perjalanan mereka, sayangnya Alandra tidak ikut dengan mereka. Rayhan menarik nafas harusnya dia juga seperti itu memiliki seorang anak meski masih berhubungan bulan dan Maura yang ada disamping Rayhan, menjemput bersama anak mereka ketika Rayhan baru pulang.
“Aku mencintamu Ra .... Aku janji membuatmu jatuh cinta lagi.” Gumam Rayhan sebelum ia benar-benar pergi untuk pulang setelah melakukan penerbangan 4 hari.
****
Maura memandang sebuah foto di halaman sosial media. Pria dengan seragam pilot yang menempel sukses membuat Maura benar-benar dibuat terkejut. Maura sedang mengecek salah akun yang selama ini selalu menyukai halaman i********: Maura, Maura tidak percaya ini pasti hanya sebuah foto bukan sebenarnya.
“Masa iya dia pilot,” gumam Maura. Matanya tak lepas memandang satu persatu foto yang hanya 10 foto. Tidak ada foto wanita dan terakhir post foto satu hari yang lalu itu pun foto senja yang Maura tahu diambil dari dalam pesawat. Maura terpukau dengan hasil foto ini diam-diam Maura menyimpannya untuk Maura jadikan wallpaper ponselnya.
Maura langsung menyembunyikan ponsel tepat saat Jelita tiba-tiba menoleh ke arah Maura padahal tadi— gadis itu fokus dengan ponsel juga.
“Hayo ngintip siapa?”
“Apaan?”
“Ngintip orang ganteng.” Jawab Maura lalu bangkit dan meninggalkan Jelita begitu saja.
“Kenalan sama cowok?” Jelita ikut bangkit juga
“Kepo banget sih!” sahut Maura. Maura ingin masuk ke dalam namun Jelita menahannya. Maura kesal dan menyesal menjawab tadi karena adiknya pasti akan bertanya lebih lanjut.
“Bunga Mawar di kamar dari siapa?”
Tuh kan. Rasanya Maura menyesal punya adik, berharap ibu kembali memasukan Jelita ke dalam perut.
“Dari fans.” Jawab Maura
“Mas Rayhan ya?”
Maura mengernyit bagaimana bisa adiknya tahu tentang Rayhan.
“Aku tahu mas Rayhan, dia yang nganter kakak waktu pulang dari Bunaken.”
“Aku kira kamu lupa.” Maura berjalan ke arah kamarnya dan menepis tangan Jelita setelah berhasil Maura langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan ikuti oleh Jelita.
“Kak, mas Rayhan ganteng ya?” Jelita mencoba memancing kakaknya kali saja ada ingatan yang tiba-tiba kembali.
“Apaan si—”
Maura menghentikan ucapannya ketika nada dering diponselnya menyuruh agar Maura segera mengangkatnya bertepatan dengan itu Jelita juga ikut heboh dan membuat Maura benar-benar kesal. Yang menelepon adalah Rayhan laki-laki yang baru saja akan dibicarakan oleh mereka.
“De, jangan berisik ih!”
“Iya-iya. Cepat diangkat kasian tuh mas Ray nungguin.” Jelita paham dan tidak ingin menganggu akhirnya Jelita memilih keluar dari kamar Maura.
Dengan ragu Maura mengangkat telepon dari Rayhan lalu menempelkan ponsel ditelinga. Belum berbicara karena Maura merasa gugup.
“Ra ....” panggil Rayhan dari sana
“Kok diam?”
“Iya ..” jawab Maura akhirnya meski ia masih gugup
“Mawarnya belum layu 'kan?”
Spontan Maura menggeleng sebagai jawaban tentu Rayhan tidak akan tahu. Maura mengigit bibirnya kenapa bibirnya mendadak bungkam. Dua hari yang lalu Rayhan mengirimkan pesan pada Maura jika bunga Mawar yang diberikan Rayhan harus simpan baik-baik bahkan Rayhan menyuruh Maura mencari botol plastik lalu diisi air sedikit saja dan mawar ditaruh disana agar tidak layu dengan cepat.
“Tidak nyaman ya, aku telepon?”
“Bukan.”
“Masih sibuk?”
“Nggak mas.”
Maura hanya menjawab singkat entah kenapa setiap berinteraksi dengan Rayhan— Maura selalu gugup.
“Aku baru saja landing ...”
“Landing? Dari mana?”
“Ada pekerjaan keluar kota.”
“Besok dinner mau, Ra?”
“Ha?”
“Besok malam aku ajak kamu dinner. Mau ya,”
Maura tidak langsung menjawab. Maura bimbang dengan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Pria yang berkenalan sekilas dari pesawat lalu tiba-tiba memberi Maura bunga 2 kali sekarang mengajak Maura dinner.
“Gimana Ra?”
“O ... K—”
“Nggak perlu dilanjut. Aku sudah tahu jawabanmu.”
Ternyata sambungan telepon terputus dan Rayhan sudah berpamitan dengan Maura padahal Maura belum selesai berbicara. Maura menghembuskan nafas— Rayhan adalah laki-laki yang beberapa hari ini selalu menganggu pikiran Maura. Mungkin besok Maura memang harus pergi sembari memastikan langsung dan bertanya langsung jika Rayhan adalah seorang pilot— benar seperti yang Maura lihat di i********: Rayhan.
****