“Kak, baik-baik aja 'kan?”
Bukannya menjawab Maura kembali memuntahkan sesuatu dari perutnya. Ada yang tidak beres dari Maura, tidak biasanya muntah-muntah seperti ini lalu berlanjut membuat Maura mendadak melemas. Jelita memijat tengkuk Muara membantu agar kakaknya tidak kembali memuntahkan sesuatu kasihan sekali dari tadi belum berakhir juga hingga terlihat wajah Maura mulai memucat.
“Ra .... Masih mual?” tanya ibu
Maura hanya mengangguk dengan kondisi lemas. Jangankan untuk menjawab melalui suara berjalan saja rasanya lemas sekali.
“Ya Allah Ra .... Sebenarnya kamu kenapa,” ibu mulai panik ketika Maura kembali muntah padahal hanya cairan putih saja tidak ada sesuatu.
Jelita membantu Maura berjalan untuk kembali ke kamar Maura sudah lebih baik hanya saja sebagian tubuhnya mendadak lemas dan detik kemudian Jelita, ibu berteriak. Maura tak sadarkan diri.
“Bu, kak Ra pingsan,” Jelita panik bahkan keduanya sama-sama terjatuh karena Jelita tidak mampu mempertahankan badan Maura.
“Di rumah nggak ada siapa-siapa, ini gimana Jel ...”
“Ibu telepon mas Ray,” Jelita memberikan ponsel pada ibu— untungnya sebelum ibu mulai panggilan pada Rayhan ternyata ada suara ketukan keras dan itu pasti Rayhan.
Ibu segera membuka pintu dan benar tebakannya Rayhan sudah datang untung sekali Rayhan masih ada didarat entah apa jadinya kalau Rayhan ada di udara tidak akan lagi penolong cepat. Bapak Maura masih bekerja dan belum pulang.
“Kita bawa Maura ke rumah sakit Bu,”
Ibu mengangguk. Mempersilakan Rayhan untuk masuk lalu membopong Maura.
Gerakan cepat yang Rayhan butuhkan, Maura terbujur lemas disana wajah yang memucat membuat Rayhan merasa sedih. Kenapa lagi Maura, muntah-muntah lalu sekarang pingsan ada apa sebenarnya yang Rayhan tidak tahu tentang kesehatan Maura apakah ada luka dalam bekas kecelakaan sehingga Maura seperti ini.
“Kamu harus bisa bertahan Ra, demi aku ...” ucap Rayhan sebelum turun membopong Maura untuk ke UGD. Untung saja jarak rumah sakit tidak terlalu jauh sehingga memudahkan Rayhan untuk segera membawa Maura kesini.
Selama menanganan dokter UGD Rayhan setia disamping Maura ada beberapa mengecekan dan Rayhan sempat bertanya apakah Rayhan suaminya tentu ia menjawab iya. Rayhan benar-benar khawatir.
“Hanya kelelahan. Efek hamil muda kalau bisa mas harus bisa mengontrol kegiatan istrinya.”
Semua yang mendengar penjelasan dokter mendadak diam, terkejut tentu saja. Terutama Jelita yang ternyata kali ini benar menebak.
“Istri saya hamil?” tanya Rayhan memastikan.
“Iya mas, selamat ya ...”
Rayhan mengangguk. Lalu mengatakan sekaligus bertanya apa ini bisa sedangkan Rayhan dan Maura sudah 6 bulan berpisah. Rayhan jujur sebelum ini terjadi mereka memang dalam proses program anak tanpa menunda-nunda. Dokter menjelaskan proses kehamilan bisa terjadi kapan saja tidak mesti hari pertama melakukan langsung membuahi.
Sebulan umur pernikahan mereka yang paling semangat adalah Maura, Rayhan masih ingat 2x dalam sebulan Maura sudah mengecek padahal hasilnya masih negatif Rayhan sudah memperingati agar tidak terlalu tergesa-gesa. Hingga sehari sebelum Maura kecelakaan terakhir kali Maura mengecek kehamilan lewat testpack dan hasilnya sama negatif.
Dokter merekomendasikan untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu USG ada salah satu dokter kandungan yang kebetulan memilki waktu luang untuk memeriksa keadaan Maura sekarang. Dokter UGD meyakini bahwa apa yang ia katakan benar jika Maura hamil.
Rayhan terdiam ditempat dan juga ibu, Jelita, tampilan dilayar USG membuat mereka terkejut. Bagaimana tidak semua ini tidak direncanakan datang secepat kilat..
“Umur janin baru 4 Minggu. Masih kecil sekali ...” jelas dokter bernama Delia
“4 Minggu itu artinya 4 bulan dok?” tanya Rayhan
“Bukan mas ... 4 Minggu itu satu bulan.”
Rayhan mengangguk. Ada perasaan gembira didalam hatinya yang paling dalam. Bukankah ini yang sedang mereka tunggu— memilki keturunan tapi ada kesedihan mendalam karena calon bayi mereka datang diwaktu yang tidak tepat.
“Hamil muda rentan sekali mengalami keguguran saya berharap mas jangan memporsir ibu Maura. Cukupi buah dan sayuran.” Jelas dokter Delia.
Hari ini terpaksa Maura harus dirawat karena kekurangan cairan pada tubuh. Satu bulan usia kandungan Maura berarti saat Maura ada di apartemen Rayhanh— isterinya sudah hamil. Rayhan kembali lalai memberikan perhatian pada Maura.
“Ray .... Bagaimana kita memberitahu Maura tentang ini?”
“Pelan saja Bu, mungkin ini waktunya kita terbuka pada Maura. Aku suaminya tidak bisa terus-terusan berbohong.” Jawab Rayhan
Ibu setuju jika cara mereka untuk pelan-pelan memberitahu Maura tentang semuanya gagal mungkin ini jalan mereka untuk jujur. Ibu senang sebentar lagi memilki cucu, semua bahagia tapi belum tentu Maura bahagia.
“Lebih baik ibu pulang istirahat biar Rayhan yang kaga Maura.”
“Lebih baik kamu Ray .... Besok kamu terbang kalau disini terus kamu bisa kelelahan.”
“Tidak apa-apa Bu .... Sore saya pulang, kita gantian ya ...”
Mau tidak mau ibu menuruti mungkin Rayhan perlu waktu berdua apalagi kabar bahagia versi mereka baru saja didengar.
“Kamu harus menjaga diri Ray, kalau lapar segera cari makan jangan ditunda ibu tidak mau kalian berdua sakit.”
“Iya Bu ...”
“Kamu tidak suka Ray dengan kabar kehamilan Maura?” tanya ibu. Sedari tadi dokter Delia menjelaskan Rayhan seperti lihat lesu sekali.
“Tentu saja suka Bu .... Ini kabar yang sangat bahagia,” jawab Rayhan
“Ibu paham waktunya tidak pas bagimu dan kita semua tapi percayalah bayi didalam kandungan Maura bukan sebuah masalah.”
“Tidak bu. Dia sama sekali tidak bersalah.”
Ibu tersenyum penuh syukur. Menantunya memang baik sekali dan Maura memang tidak salah pilih.
Selepas ibu pulang Rayhan berjaga disamping Maura yang belum sadarkan diri, mengenggam tangan Maura bahkan untuk menyentuh perut Maura rasanya begitu kaku sekali tapi Rayhan paksa ia ingin menyentuh perut yang kini terisi calon bayi mereka. Ucapan syukur tidak berhenti Rayhan ucapakan pada Tuhan meski kehadiran bayi ini belum Rayhan harapkan karena memang waktu belum tepat tapi terkadang Tuhan berkehendak lain atas rencana Rayhan. Pada akhirnya Rayhan harus bisa menerima, mempersiapkan diri didepan Maura bahwa ia yang telah menghamili Maura, dialah bagian dari hidup Maura. Rayhan hanya takut Maura tidak akan percaya itu semua.
“Hai baby ... Baik-baik diperut mama. Jangan merepotkan mama kalau ngidam kasih tahu aku ya, besok aku harus pergi meninggalkan kalian ... Bantu mama untuk kuat nak,” ucap Rayhan mengusap-usap perut Maura yang masih terlihat datar. Untung menggumamkan kata mama rasanya Rayhan seperti belum pantas.
Rayhan memesan beberapa barang-barang keperluan Maura dan buah-buahan yang sarankan oleh dokter Delia agar besok ketika ia pergi terbang tidak terlalu khawatir karena semua ada. Rayhan menyuruh agar barang itu dikirim ke rumah Maura terlebih dahulu baru nanti dibawa kesini.
“Ray ....”
Rayhan yang tengah sibuk dengan ponselnya mendadak berhenti ketika ada suara memanggil namanya.
“Ra .... Sudah bangun?”
Maura mengangguk lemah.
“Aku kenapa?”
“Pingsan lagi Ra .... Ada keluhan Ra?”
“Aku menyusahkan kamu lagi ya, Ray, maaf ...”
“Ra .... Nggak perlu minta maaf. Everything gonna be okay ... Yang penting sekarang baik-baik saja.”
Badan Maura masih lemas yang teringat terakhir ia muntah-muntah entah saat itu dirumah atau bersama Rayhan— Maura tidak ingat sama sekali. Maura tidak tahu akhir-akhir ini seluruh badan mendadak berubah menjadi lemah sekali seperti orang berpenyakitan padahal dua bulan yang lalu ketika ia berkonsultasi dengan dokter keadaan atau bekas Maura kecelakaan sudah perlahan membaik. Ini benar-benar aneh.
“Jangan sakit Ra .... Besok aku terbang nanti khawatir,”
“Besok kamu terbang?”
“Iya Ra ...” Rayhan semakin mendekat ke Maura bahkan naik duduk di atas ranjang Maura.
“Berapa hari?”
“5 Hari untuk kali ini.” Jawab Maura
“Kok lama?”
“Memangnya kenapa kalau lama, kangen ya sama aku?”
“Nggak kok.” Sahut Maura. Memalingkan pendangannya agar tak bertatapan dengan Rayhan. Kenapa Maura sedikit tidak rela ditinggal Rayhan padahal hubungan mereka masih teman apalagi Maura belum menjawab. Toh, Rayhan tidak memaksa juga.
“Ray ... Aku minta tolong sebelum kamu terbang boleh?” tanya Maura tiba-tiba
“Boleh Ra ... Ada apa,”
Maura tampak berpikir sejenak. Ada keraguan untuk mengatakan satu hal ini karena ini datang secara tiba-tiba sekali Maura saja tidak mengerti kenapa memandang pohon lewat jendela kamar inap Maura pikiran Maura langsung berpikir kesana.
“Ra ...” panggil Rayhan
“Aku mau mangga sama rujak buah ...” cicit Maura
Rayhan tersenyum. Apa bayi mereka mendengar ucapan Rayhan tadi sehingga sebelum Rayhan berangkat Maura meminta Rayhan membelikan sesuatu yang bisa disebut Maura mengalami ngidam.
“Kalau nggak ma—”
“Aku meluncur sekarang, tunggu ya Ra ...” Rayhan mengusap puncak kepala Maura lalu segera mencari permintaan Maura. Ngidam pertama Maura bisa Rayhan wujudkan.
Jadi begini rasanya diminta isteri yang lagi ngidam.
****