Memperhatikan Maura secara dekat baru hari ini setelah perpisahan mereka beberapa bulan ini, kerinduan tentu saja masih tetap tertanam direlung hati Rayhan— dalam kondisi hamil saat ini itu menambah Rayhan untuk memperhatikan Maura lebih lagi termasuk ketersediaan apapun agar Maura dan calon bayi mereka sehat. Pertama kali dalam kebersamaan mereka melihat langsung bagaimana Maura memakan semua yang baru saja Rayhan beli sangat lahap bahkan Rayhan menatap tanpa berkedip. Bukan Maura seperti biasa memakan mangga muda disertai sambal yang menurut Rayhan sangat pedas. Awalnya Rayhan tidak ingin mengabulkan permintaan Maura tentang meminta jumlah cabe untuk membuat sambel tersebut— bayangkan saja meminta 10 cabe agar terasa pedasnya. Rayhan langsung melarang hanya mengatakan iya pada Maura tapi Rayhan hanya meminta 5 cabe saja itu saja sudah sangat membuat lidah panas.
“Ra ... Sudah ya, jangan terlalu makan pedas.” Pinta Rayhan. Rujak dan mangga muda sudah ditambah menginginkan baso pedas juga semua serba pedas ini bahaya untuk Maura jika dibiarkan begitu saja. Tapi Rayhan tidak menyalahkan juga mungkin itu permintaan anak mereka.
“Mas mau?” tawar Maura
“Nggak Ra,”
Bukan Maura jika menurut begitu saja. Maura sudah menyodorkan mangga muda dengan sambal kearah Rayhan. “Ini enak banget. Makan mangga muda nggak akan bikin seorang pilot sakit mas.” Ucap Maura.
“Aku tidak suka pedas, Ra,”
Wajah Maura berubah murung Rayhan tidak tega melihatnya dan akhirnya ia memakan mangga muda yang sangat asam dan pedas sekali.
“Enak 'kan mas?”
Rayhan mengangguk sebagai jawaban sembari menahan rasa asam dan pedas secara bersamaan. Demi apapun kalau bukan demi anaknya Rayhan tidak akan menuruti Maura sudah.
“Akhirnya habis juga .... Basonya buat nanti aja Maura kenyang.” Ucap Maura
“Nggak usah dimakan Ra, tidak baik jika terus memakan pedas.”
“Tapi Maura pengin.” Jawab Maura
Rayhan menghembuskan nafas pelan. Rayhan harus mencari cara agar Maura tidak perlu memakan baso ini. Rayhan tidak rela anaknya diberi asupan makanan tidak bergizi seperti ini. Rayhan memberikan Maura pengertian dengan mengatakan terlalu memakan pedas bisa menyebabkan lambung kita jadi bermasalah jadi ada baiknya Maura memakan nasi dan sayur saja yang baru saja Rayhan belikan.
“Mas sayur itu tidak enak hambar.”
“Ya Ra, tapi makan pedas juga tidak baik untuk kesehatan.”
Maura memberengut. Rayhan tidak paham jika Maura benar-benar mengungkap makanan itu bahkan bukan hanya itu malah isi otak kepala Muar tiba-tiba menginginkan makan kebab tapi Maura urungkan karena tidak enak menyuruh Rayhan.
Rasa mual yang Maura rasakan tadi pagi sudah berlangsung membaik kini kondisi tubuh perlahan membaik hanya saja diganti dengan bayangan makanan atau hal lain seperti tidak biasanya. Kata Rayhan, dirinya masuk rumah sakit gara-gara terlalu kelelahan bekerja dan sering melupakan makan. Memang benar Maura bukan tipikal orang yang suka dan mengingat tentang makan hanya baru-baru ini saja itupun ketika ia bangun dari pingsannya.
“Ra, aku hanya bisa menunggumu sampai sore.”
“Nggak sampai malam?”
“Maaf .... Nanti setelah aku terbang kesini lagi, janji deh.”
Maura mengangguk.
“Mamaku nanti kesini.”
“Kan aku nggak kenal ...” jawab Maura
“Aku yang kenalin kamu ke dia,”
“Jadi selama ini mas cerita tentangku?”
Rayhan mengangguk dan tersenyum. Mendapat telepon secara bertubi-tubi dari mama Rayhan dan terpaksa Rayhan mengiyakan permintaan mama bertemu Maura hari ini dengan alasan sangat khawatir keadaan menantunya. Setelah diberitahu bahwa Maura hamil respon mama begitu bahagia bahkan menyuruh Rayhan cepat-cepat berbicara jujur pada Maura tapi sayangnya Rayhan memilih hari lain untuk mengatakan sebenarnya pada Maura.
“Tentang aku pernah menginap di apartemen juga?”
“Nggak sayang .... Masa iya soal itu aku bicara dengan mama. Hanya saja aku mengenalkan kekasihku pada mama.” Jelas Rayhan
Pipi Maura memerah mendengar kata-kata Rayhan barusan. Mengingat apartemen Maura jadi teringat tentang mereka. Saat itu Maura bukan lagi gadis baik-baik melainkan gadis murahan yang rela memberikan apapun untuk Rayhan hanya dengan mendengar kata-kata manis dari bibir Rayhan
Harusnya Maura marah tapi sayangnya tidak bisa karena mereka melakukan sama-sama sadar. Tidak ada penyesalan yang Maura rasakan seperti ada yang kembali setelah lama hilang.
“Mas, pulang malam aja ya,” pinta Maura
“Kenapa?”
“Mama mas mau kesini aku malu ...”
“Mama nggak galak, dia senang sekali ketika aku memiliki wanita.” Jawab Rayhan.
“Aku mohon ....”
Melihat tatapan penuh permohonan Maura membuat Rayhan tidak tega sebenarnya tadi ia hanya mencoba Maura tentu Rayhan akan pulang bersama mamanya sekaligus melihat langsung interaksi mama dan Maura takut mama salah bicara.
Tok .... Tok ... Tok ...
Rayhan meninggalkan Maura sebentar ada suara ketukan dan hampir saja Rayhan terkejut melihat siapa yang datang. Padahal memberitahu Rayhan bahwa sore akan datang.
“Jadi gara-gara anak mama yang ini Maura masuk rumah sakit.”
“Katanya sore kesini?” Rayhan mengabaikan ucapan mama barusan memilih bertanya.
“Nggak jadi. Mama khawatir sama menantu mama. Kamu itu benar-benar ya Ray tidak bisa menahan diri.”
“Aku pria mam wajarlah lagian aku dan Maura suami-isteri.” Jawab Rayhan.
“Mama paham soal itu tapi keadaan Ray berbeda, seperti ini hanya akan membuat beban pada Maura.”
“Padahal ini bisa jadi jalan buat aku sama Maura kembali mam.”
“Ya ... Ya ... Ya terserah kamu saja. Mama masuk dulu ketemu menantu mama.”
“Hati-hati mam jangan sampai asal bicara.”
“Tidak janji.” Sahut mama Rayhan
“Mam .... Aku mohon ...”
“Iya Ray, iya,” sahut mama Rayhan lagi. Ini memang bukan kesalahan ikatan mereka sudah saling terikat melalui pernikahan tapi saat ini Maura bukanlah seperti yang lain memahami kondisi antara Rayhan dan Maura— semua berbeda bukan berarti mama Rayhan tidak senang menyambut cucu pertama mereka hanya saja sedikit menyayangkan sikap Rayhan yang terlalu terburu-buru.
Bisakah menunda atau melakukan cara lain agar tidak hamil saat ini, biarkan Maura nyaman dengan pendekatan Rayhan itu jauh lebih baik. Jika tahu bahwa Maura hamil pasti perempuan itu beranggapan hamil diluar pernikahan— itu beban terberat Maura dan belum tentu bisa menerima Rayhan kembali.
Itulah kekhawatiran mama saat ini.
Maura yang sedang memakan sisa-sisa rujak yang belum habis mendadak berhenti, kedua mata mereka saling lempar pandangan. Perempuan paru baya datang ke kamar inap Maura— wajahnya tidak begitu asing Maura seperti pernah melihat tapi entah dimana. Perempuan paru baya yang diyakini mama Rayhan melemparkan senyum pada Maura lalu mendekati Maura.
“Saya mama Rayhan, kamu pasti Maura?” tanyanya
“Iya Tante ...” jawab Maura canggung. Maura nervous berhadapan dengan mama Rayhan ini pertama kali dan rasanya sedikit malu. Maura tidak tahu harusemulai pembicaraan darimana sampai tangan mama Rayhan tiba-tiba mengusap puncak kepala Maura penuh sayang.
“Mama senang sekali akhirnya bertemu dengan perempuan milik Rayhan. Kamu tahu nggak, kamu itu perempuan pertama yang berhasil masuk kedalam hidup Rayhan.” Ucap mama
Maura hanya melempar senyum lagi. Ia benar-benar canggung untuk membalas ucapan mama Rayhan karena bukan terima kasih yang harus dilontarkan sebagai jawaban.
“Salam kenal ya ...”
“Iya Tante ...” hanya itu akhirnya jawaban yang keluar dari bibir mungil Maura.
Terpaksa tangan mama Rayhan hanya bisa mengusap puncak kepala Maura ingin sekali mengusap perut datar Maura menyapa cucu mereka dan mungkin mama Rayhan kini sedang menahan agar tidak mengeluarkan air mata didepan Maura.
Ada bahagia yang tersirat— bukan hanya tentang calon cucunya. Tapi sikap Rayhan terhadap tidak pernah berubah isi ruangan ini penuh dengan beberapaa makanan itu pasti karena Maura ngidam terlihat pasti ada sisa setengah mangga muda.
***