Menunggu Rayhan yang belum selesai melakukan panggilan telepon — Maura mencari sesuatu didalam tas yang tidak terlihat sampai sekarang. Seingat Maura ia sudah memasukan didalam tas yang ia lapisi dengan tisu. Maura tetap mencari hingga suara Rayhan terdengar diteling Maura— Maura segera menutup tasnya. Padahal ia ingin berbicara pada Rayhan sembari membawa bukti tapi kenapa bukti itu mendadak hilang.
Kalau seperti ini apa Rayhan percaya hanya dengan sebuah foto. Tentu tidak mudah pasti Rayhan berpikir ini hanyalah rekayasa Maura.
“Ra cari apa?” tanya Rayhan. Rayhan menetralkan kondisnya agar tidak gugup ketika berhadapan dan jujur dengan Maura. Rayhan akan mengajak Maura ke apartemen tidak mungkin mereka berbicara didalam mobil.
“Mencari lipstik. Seingatku ada didalam tas tapi ternyata lupa membawa.”
Rayhan mengernyitkan dahi padahal bibir Maura sudah dipoles apalagi yang kurang. Rayhan menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya.
“Jangan pakai lipstik terlalu banyak. Begini saja sudah cukup.”
“Iya mas.”
“Aku mencintaimu Ra ....” ucap Rayhan
Maura tidak menjawab. Mengalihkan pandangan matanya— ucapan cinta Rayhan mampu membuat hatinya berdebar. Momen saling menatap hanya sebentar karena rasa mual menyerang perut Maura karena pewangi didalam mobil Rayhan.
“Maaf, boleh dicopot pewangi mobil ini mas? Lama-lama membuat aku mual.” Ucap Maura sedikit tidak enak. Maura menatap Rayhan tak percaya langsung mengambil tanpa berpikir panjang. Setelah berhasil Maura mengelus perutnya dengan gerakan pelan agar Rayhan tidak curiga.
Rasa kopi didalam mobil yang dulu menjadi favorit mereka kini berubah karena hamil muda menjadi mual mencium aroma ini. Disela-sela perjalanan mereka Rayhan melirik Maura mengusap perutnya yang datar namun berisi. Rayhan ingin sekali mengulurkan tangannya untuk membantu ia tahu Maura sedang menutupi semua agar Rayhan tidak curiga kenapa Maura mengusap perut.
Rayhan menyukai momen ini dimana calon bayi mereka mulai diperhatikan oleh Maura ada keuntungan dengan Maura lebih cepat mengetahui setidaknya aktivitas Maura tidak sepadat dulu dan ceroboh dalam melakukan banyak hal. Rayhan akan membawa Maura ke apartemen miliknya.
Hari ini perasaan Rayhan campur aduk ada senang, sedih, takut. Sedih karena Rayhan takut Maura akan meninggalkan dirinya dan tidak menerima jika Rayhan yang membuat Maura hamil.
“Mas, berhenti sebentar ya, mau Batagor itu.” Pinta Maura menunjuk salah satu penjual bergrobrak.
“Kamu mau itu? Oke, tunggu sebentar.”
Nampaknya Maura ngidam kembali dan kedua kaki Rayhan melihat Maura ngidam— calon bayi mereka begitu mengerti keadaan. Menginginkan sesuatu disaat ayah ada disampingnya.
Menyantap dengan lahap membuat Rayhan tak henti tersenyum melihat Maura— benar kata kapten Abid perempuan hamil bisa membuat kita bahagia hanya melihat tingkah mereka.
“Buka mulutnya mas,” Maura menyodorkan sendok berisi Batagor kedepan Rayhan.
“Terima kasih ...” Ucap Rayhan
Dan diangguki oleh Maura— Maura melihat Rayhan selalu memandangi tanpa berkedip hanya membuat Maura salah tingkah saja.
Tidak terasa mereka sampai di apartemen Rayhan selama perjalanan keduanya terlihat baik-baik saja seakan tidak terjadi masalah— Rayhan yang sempat tegang kini perlahan menjadi lebih baik tidak ada Maura yang menghakimi dirinya atau marah-marah setelah bertemu. Diajak ke apartemen Maura mau Rayhan bersyukur dan ketika berbicara nanti Maura masih sama seperti ini.
Apartemen ini, otak Maura berputar pada malam dimana ia menginap disini, sofa itu membuat kenangan untuk dirinya.
“Duduk Ra ...” Rayhan mulai mempersilakan.
Tidak ada yang berubah seperti yang dikatakan Rayhan jika laki-laki itu tidak tinggal disini apartemen ini kosong, keadaan didalam masih sama seperti dua bulan lalu— sepertinya Rayhan tidak pernah kesini. Maura meneguk satu gelas air putih yang diberikan oleh Rayhan kebetulan tenggorokan Maura kering akibat makan Batagor tadi.
Rayhan duduk disamping Maura.
“Aku mau bicara Ra ....”
“Aku juga mas.” Balas Maura
Debaran jantung Rayhan semakin kencang harusnya Maura tidak perlu membalas dengan mengatakan ingin bicara juga.
“Kamu dul—”
“Aku hamil.” Sela Maura tidak sabar. Sedari tadi ia menahan, Maura menunduk tidak berani menatap Rayhan. Mengambil nafas dalam-dalam.
“Aku hanya ingin mengatakan itu selebihnya kalau mas mau meninggalkanku tidak pa-pa. Aku tahu hamil diluar nikah sangat memalukan.” Ucap Maura. Perlahan memberanikan diri mendongak.
“Hanya ada bukti foto. Aku kira testpack sudah dibawa ternyata masih tertinggal.” Maura munjukan foto testpack dihadapan Rayhan.
“Aku lebih dulu tahu tentang itu Ra.”
“Bagaimana bisa?!”
Rayhan tersenyum lalu mengenggam tangan Maura. “Kamu muntah lalu pingsan dan dokter UGD menduga kamu hamil ternyata itu benar didalam perut kamu ada bayiku.” Ucap Rayhan
“Dan kenapa tidak jujur dari awal?”
“Aku takut kamu shock.”
Maura menarik nafasnya dalam-dalam.
“Kamu tidak perlu khawatir tentang baby, aku akan menjaganya. Aku tahu ini adalah aib untuk keluarga dan karir mas Rayhan. Aku nggak akan menyalahkan siapapun karena kita melakukannya dengan sadar.” Ucap Maura.
“Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu Ra?”
“Karena itu kenyataannya aku cuman aib buat kedua keluarga.”
Rayhan menarik Maura ke dalam pelukannya, mengusap punggung Maura. Maura memang tidak menangis tapi ucapan Maura tentang aib seperti jarum yang menusuk jantung Rayhan. Menyakitkan.
“Apa yang aku katakan tolong believe me, Ra .... Karena apa yang kamu ucapakan tadi itu salah.”
Maura berusaha melepaskan pelukan Rayhan tapi Rayhan menahan dengan erat.
“Ra .... You my wife and i’m your husband.”
“Bohong!”
“Ra .... Kamu amnesia tentu tidak akan ingat.”
Maura benar-benar melepaskan pelukan Rayhan lalu menatap Rayhan tajam.
“Jangan karena aku hamil lalu kamu pura-pura mengatakan bahwa kamu adalah suamiku. Tidak ada bukti, cobalah katakan dengan jujur mas ....” tegas Maura.
“Aku memiliki banyak bukti tentang kita.” Rayhan mencari foto pernikahan mereka diponselnya lalu menunjukan pada Maura.
Maura terkejut meski wajah perempuan dengan wajah yang sudah di make up tentu dirinya, Maura ingat tentang dirinya. Lagi, Rayhan menunjukan foto mereka berdua dimana Maura mencium pipi Rayhan dan memeluk dari belakang— posisi Rayhan yang sedang duduk.
“Cukup bukti ini Ra?”
Maura diam.
“Ada buku menikah kita.”
Maura memejamkan mata mencari kebenaran lewat otaknya barangkali ada sedikit kenangan bersama Rayhan yang hadir secara tiba-tiba.
Ada rasa lega. Terkadang Tuhan memiliki ribuan cara untuk mendorong kita berkata jujur tapi terkadang kita bermain dengan rasa takut sehingga akhirnya didahului oleh kejujuran dari orang lain.
“Ra .... Kamu ingat foto ini? Satu hari sebelum kamu meninggalkan aku dan satu hari dimana kamu bersedih karena hasil testpack negatif. Kamu menginginkan bayi agar hidupmu ramai ketika aku pergi terbang.” Cerita Rayhan sembari memperhatikan Maura yang sedang memijat kepala.
“Jangan terlalu dipaksakan mengingat aku tahu itu sulit.” Ucap Rayhan lagi.
Rayhan tidak mendapatkan respon dari Maura— perempuan terus mengalihkan pandangan dari Rayhan. Tidak ada kemarahan dari Maura perempuan itu menjawab, berbicara dengan nada biasa-biasa saja. Rayhan bersyukur Maura mengerti keadaan jika tidak Rayhan akan semakin berat.
“Buku menikah itu asli atau tid—”
“Asli Ra, kamu bisa tanya ibu.” Jawab Rayhan menyela pertanyaan Maura.
Maura tidak bisa marah, semua terlalu mengejutkan baginya. Antara percaya dan ragu kenapa semua ini hadir didalam hidupnya yang sunyi. Dari kabar kehamilan dan fakta bahwa Rayhan adalah suaminya. Jika ini mimpi tolong bangunkan dari ini semua.
“Kamu mau melihat buku nikah kita?”
“Aku mau pulang.”
Maura mungkin masih shock mendengar semuanya. Rayhan mengiyakan setidaknya ini sudah memperjelas semuanya dan pikiran negatif yang Maura ucapakan tadi benar-benar salah.
*******
Sampai di rumahnya Maura tanpa mengatakan satu kata pun saat keluar dari mobil Rayhan. Bungkam sampai ia bertemu dengan orang tua hanya menyalami dan mengatakan jika dirinya sudah pulang.
Tok .... Tok ... Tok ...
“Ini ibu .... Boleh ibu masuk?”
Suara ibu membuat Maura langsung bangkit padahal ia masih ingin sendiri.
“Iya Bu.”
Tiba-tiba saat mereka sudah duduk diranjang Maura— ibu langsung memeluk Maura erat. Perempuan paru baya terisak padahal Maura sedari tadi tidak menangis karena ia menyadari ini adalah kesalahannya.
“Maafkan ibu yang membohongimu ...” Ucap ibu
“Ibu nggak salah.” Balas Muara
“Kamu sudah tahu semuanya Ra?”
Maura mengangguk. Memaksakan untuk senyum agar ibu tidak khawatir.
“Maaf ....”
“Ibu nggak salah, maaf Maura tidak bisa menjaga diri.” Ucap Maura menunduk.
“Jaga cucu ibu baik-baik ya, dan kasihan Rayhan banyak sekali perjuangan dia untuk kamu Ra ...”
“Bu, apa benar dia suamiku?”
Ibu mengangguk. Tiba-tiba ibu mengeluarkan kotak berwarna hitam menyuruh agar Maura membukanya.
Tangan Maura perlahan membuka isi kotak betapa terkejutnya ternyata isi didalam kotak itu adalah foto USG. Bayinya masih kecil sekali belum berbentuk Maura tidak bisa menahan rasa haru, baru sekarang ia mengeluarkan air mata. Maura membaca secarik kertas didalam kotak tersebut.
Aku mencintai kalian. -Rayhan-
Maura menutup kotak itu kembali. Dan menaruh kotak di atas meja dekat ranjang Maura.
“Bu, aku ingin ke rumah nenek dikampung.”
“Tapi Ra ....”
“Maura mohon Bu .... Maura ingin mendinginkan suasana hati. Boleh ya,” Maura memohon
“Tapi ibu ikut.”
“Boleh, asal ibu jangan mengatakan kepergian kita pada Rayhan.” Pinta Maura.
Untuk kali ini ibu mengiyakan terpenting ia bisa ikut dengan Maura sembari menjaga keduanya. Ibu tahu kejujuran ini berat untuk Maura.
****