“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau ber—”
Klik
Rayhan mematikan panggilan teleponnya. Terhitung sudah 3 hari Maura tidak bisa dihubungi dari mengirim pesan yang tidak dibaca sampai menghubungi berkali-kali— bukan hanya Maura yang tidak aktif tapi ibu Maura juga. Rayhan bingung ada apa sebenarnya beberapa hari setelah pertemuan mereka Rayhan tidak menganggu Maura mencoba memahami kondisi Maura yang mungkin masih shock mendengar kejujuran yang Rayhan katakan. Jujur, Rayhan rindu dengan keduanya ingin bertanya tapi bagaimana tentang kondisi keduanya— apakah masih merasakan mual-mual seperti Rayhan melihat beberapa kali saat bersama Maura.
Sesaat Rayhan kembali menelpon jawaban masih sama hanya operator yang terdengar dari telinga Rayhan. Rayhan merasa serba salah kalau hanya berdiam diri ingin mencari kabar Maura tapi dari keluarga Maura tidak ada jawaban— Rayhan ingin datang tapi ia yakin Maura masih belum mau bertemu.
Ini berat bagi Maura dimana orang yang selama ini dekat— berawal dari duduk satu kursi dipesawat dan pria yang selalu memberikan bunga ternyata adalah suaminya. Rayhan memahami tidak mudah untuk Maura percaya.
“Kok melamun?”
Teguran dari mama membuat Rayhan tersadar dari lamunan.
“Sudah dapat kabar dari Maura?” tanyanya.
Rayhan menggeleng lesu. Mama menepuk punggung Rayhan dengan sayang lalu merangkulnya.
“Datang ke rumah dong Ray masa diam saja.”
“Aku takut Maura masih tidak mau menerimaku ma ....” jawab Rayhan
“Ray .... Mama paham perasaanmu tapi ada baiknya kamu datang pelan-pelan mendekati meski terus ditolak. Kamu paham kan kalau cinta itu diperjuangkan?”
Rayhan mengangguk.
“Kunjungi Maura ya, kalau kamu diam Maura juga akan diam dan susah untuk mengembalikan ingatannya. Ingat Ray .... Didunia ini semua orang tidak ingin melupakan dan dilupakan.” Ucap mama. Mama diberitahu oleh Rayhan bahwa Maura dan Rayhan sudah saling jujur berawal tentang kehamilan hingga pengakuan Rayhan. Memang senang karena selama ini hanya itu yang ia tunggu— kasihan Rayhan setiap malam selalu sedih, tatapan mata yang sering sekali kosong dan gampang melamun.
“Berangkat gih ....” suruh mama
“Iya ma, terima kasih banyak nasehatnya.” Rayhan memeluk mamanya sebentar— mama selalu menjadi tempat ternyaman untuk Rayhan.
Rayhan sudah meminta Melati membantu menghubungi Jelita dan bertanya mengenai Maura tapi Jelita sama tidak menjawab pesan yang dikirim Melati padahal ponsel aktif. Sepertinya Rayhan memang harus kesana memastikan sendiri— Rayhan tidak bisa membayangkan ketika Maura merasakan mual-mual sendiri hanya ditemani ibu, belum lagi barangkali menginginkan sesuatu.
Ucapan mama berhasil membuat Rayhan bangkit mengunjungi rumah mertuanya. Keadaan rumah sepi sekali bapak sepertinya pulang dari kerja padahal ini sudah jam 5 sore. Sayup-sayup Rayhan melihat seorang pria paru baya menaiki sepeda mendekati Rayhan. Ah, ternyata itu bapak sepertinya baru pulang dari olahraga bapak memakai pakaian olahraga seperti biasanya.
“Ray?” panggilnya.
Rayhan menyapa balik dan menyalami.
“Maura ada pak?”
Bapak tidak langsung menjawab melainkan menyuruh Rayhan masuk dan duduk. Bapak akan mandi sebentar lalu mereka berbicara. Rayhan tidak duduk melainkan masuk ke dalam kamar Maura— kamar berukuran tidak terlalu besar yang selalu Rayhan rindukan. Tidak ada Maura disana, keadaan ranjang sangat rapi itu artinya Maura sedang pergi.
Rayhan berbaring sebentar, memejamkan mata menikmati sisa-sisa aroma Maura disini.
“Ray .... Ray ...” panggilan dari bapak membuat Rayhan langsung bangkit. Ternyata bapak sudah selesai mandi.
“Maaf pak tidak sopan masuk ke kamar Maura.” Ucap Rayhan tidak enak.
“Ray .... Ray, kamu ini kenapa minta maaf, kamar Maura kan kamar kamu juga.” Ucap bapak.
Rayhan tersenyum simpul lalu duduk didepan bapak.
“Maura kemana pak?” tanya Rayhan mengulangi pertanyaan awal.
“Ke kampung halaman ibu.”
Rayhan terkejut. Kenapa tidak mengabari dirinya.
“Maura melarang kita semua memberitahumu— Maura ingin menenangkan diri. Maafkan kami Ray ...”
Pantas mereka bungkam. Rayhan tidak marah ia memahami kondisi yang ada.
“Datanglah ke Bandung, kalau bisa tunggu dua hari mendatang ya. Agar Maura tidak terlalu terkejut.”
“Iya pak. Setelah Rayhan selesai melakukan pekerjaan langsung ke Bandung dan akan landing disana.”
Bapak tersenyum simpul. Ingin membantu kesana tapi disisi lain bayangan wajah Maura yang memohon agar tidak memberitahu tentang ini masih jelas meski pada akhirnya bapak juga tidak bisa melihat Rayhan berjalan tanpa arah mencari Maura.
****
Menikmati udara perkampungan letak rumah jauh dari kerumunan, suara bising sepeda motor dan lainnya yang Maura dengar hanya ada suara kicauan burung dan beberapa suara motor tapi tidak seramai ibu kota. Maura mengusap perutnya yang masih datar ia harus benar-benar menjaga kandungannya, bayi ini tidak bersalah yang salah adalah dirinya. Malam itu harusnya Maura menolak bukan malah mengiyakan ajakan Rayhan.
Maura merasa sedih beberapa Minggu yang lalu tidak merasakan ada bayi sehingga ia melakukan aktivitas yang berat.
“Ra ....” panggil ibu
“Ya, Bu?”
Ibu melambaikan tangan menyuruh Maura duduk disebelah ibu. Ditempat ini Maura menemukan ketenangan yang luar biasa.
Maura mendekati ibu lalu spontan memeluk ibu dari samping sembari duduk.
“Gimana betah disini?”
Maura mengangguk.
“Ngidam nggak?”
“Sedikit. Maura tahan aja Bu ...” Karena makanan enak berada agak jauh dari rumah mereka.
“Jangan dong. Maura mau apa biar nanti ibu beli?”
“Mau makanan pedas.”
“Kalau ada Rayhan pasti tidak boleh.” Ucap ibu
“Bu, jangan bahas Rayhan terus.”
“Harus Ra. Bentar ya ibu telepon Arman dulu suruh membelikan makanan pedas.”
Arman adalah adik ibu yang belum menikah dan masih kerja disalah satu pabrik. Maura menarik nafas perihal tentang Rayhan memang Maura belum mencari tahu karena Maura ingin tenang sebentar sebelum ada kejujuran yang menyakitkan didengar.
“Ibu masih ingat sekali ketika kamu dinyatakan hilang ingatan oleh dokter— Rayhan pingsan Ra.”
Maura diam tidak merespon.
“Itu jelas sekali. Rayhan tidak terima ketika dilupakan olehmu. Memang benar bukan hanya Rayhan yang dilupakan tapi ibu juga.” Jelas ibu
“Ibu cuman mau bilang sama kamu kalau perjuangan Rayhan mendapatkan kamu tidak mudah Ra.” Ucap ibu lagi.
Maura tetap diam hanya menyimak setiap perkataan yang keluar dari mulut ibu— Maura tahu ibunya tidak pernah berbohong. Dulu, seingat Maura ketika pertama kali ibu bagaikan orang asing tiba-tiba ibu memberikan bukti bahwa ibu memang ibu kandung Maura.
Dua hari ini ibu sering memberitahu tentang Rayhan dan lupa ingatan yang dialami Maura. Maura tidak lupa dengan dirinya tapi orang lain, sekilas kenangan yang pernah ada tidak bisa Maura ingat. Perlahan Maura mencoba mencari tahu tapi belum berhasil hingga detik ini.
Untuk saat ini Maura belum siap bertemu Rayhan tapi Maura merindukan Rayhan.
Maura mengusap perutnya kembali, bayi mereka sehat tidak ada gangguan apa-apa. Dokter hanya menyarankan Maura lebih banyak istirahat karena kehamilan trimester pertama rentan keguguran. Disinilah Maura bias istirahat tanpa gangguan siapapun meski ia bosan karena tidak ada aktifitas.
Maura belum mengaktifkan ponselnya karena Maura ingin benar-benar tenang. Maura tidak bekerja lagi atas permintaan ibu.
“Bu, punya baju mas Rayhan?” tanya Maura takut-takut. Mau bagaimana lagi entah kenapa Maura merindukan aroma Rayhan.
“Ada dong. Waktu kalian baru menikah, honeymoon kalian kesini. Malah kamu yang minta baju Rayhan ditinggal disini beberapa setel barangkali kesini lagi.” Jelas ibu. Membawa Maura masuk lalu memberikan kemeja berwarna biru pada Maura. Maura langsung pamit ingi istirahat kembali.
Bukan istirahat sebenarnya hanya berbaring lalu memeluk baju Rayhan dengan penuh sayang.
“Maaf ...” Gumam Maura. Memejamkan mata menikmati sisa aroma Rayhan yang barangkali tertinggal.
****