Ini namanya gengsi. Rindu tapi menghindar.
Rayhan membaca pesan dari mama mertua yang mengirimkan gambar Maura sedang tertidur sembari memeluk sesuatu. Rayhan bertanya Maura memeluk apa— jawaban ibu membuat Rayhan tercengang— baju milik Rayhan yang dipeluk, kata ibu di rumah Bandung ada beberapa helai pakaian Rayhan dan Maura yang sengaja ditinggal karena permintaan Maura waktu mereka melakukan honeymoon. Inilah alasan kenapa Rayhan sangat mencintai Maura tidak pernah menuntut Rayhan apapun.
Rayhan ingin menghubungi ibu namun tidak dijawab oleh ibu hanya mengirim pesan kembali bahwa ibu akan menghubungi Rayhan jika kondisi sudah memungkinkan. Rayhan menuruti— mendapatkan foto Maura dalam keadaan baik-baik sJ sudah membuat Rayhan lega.
Nanti ibu telepon kamu kalau Maura pergi bersama Arman.
Mau pergi kemana Bu?
Beli makanan pedas.
Naik?
Mobilnya Arman. Sama ibu juga Ray ...
Syukurlah Rayhan kira Maura akan berangkat sendiri tentu Rayhan akan mengatakan pada ibu jangan mengizinkan Maura pergi tanpa pengawasan. Seperti biasa Rayhan selalu mengaktifkan ponsel ketika pesawat mereka landing disalah satu bandara Indonesia— kebiasaan Rayhan sama seperti kapten Abid memfokuskan pekerjaan yang cukup berat ini meski bisa saja mereka bermain ponsel sepuasnya. Bagi Rayhan ponsel hanya penting ketika Maura menghubunginya.
“Tumben senyum?” tanya kapten Abid penasaran. Semenjak Maura di vonis hilang ikatan Abid jarang melihat Rayhan atau berbicara hangat dengan teman-temannya seperti dulu.
“Ibu mengirim foto Maura sedang memeluk baju saya kapt.”
“Kangen tuh.”
“Iya. Tapi menghindar terus.” Jawab Rayhan
“Biasanya bawaan bayi. Ibu hamil mood gampang berubah dulu Bea juga gitu.”
“Gitu ya kapt, kira-kira sampai berapa lama?” tanya Rayhan
“Tergantung. Bea dulu sampai mau lahiran baru reda.”
“Kok lama?”
“Iya. Kamu konsultasi dengan dokter kandungan biar paham.” Ucap Abid
9 Bulan atau menunggu lahiran baru sikap Maura tidak labil— lama sekali masa iya Rayhan harus menunggu lagi ia sudah bosan selama satu tahun lebih ini menunggu kalau ditambah Rayhan bisa gila selama 9 bulan tidak mau bertemu dengannya.
“Gaya banget Konsultasi kehamilan sama kapten Abid kayak diingat isteri saja.”
Obrolan keduanya berhenti Rayhan menoleh ke arah perempuan bernama Filipi— Filipi memang tidak berubah masih sama selalu menganggap Rayhan musuh mungkin karena dulu Rayhan sangat jail.
“Mulutmu kotor amat.” Sindir Rayhan
“Emang kenyataannya gitu kan?”
“Kalian berdua ribut ribu terus. Sudah sana Fi kerja lagi atau melakukan aktivitas sebelum kita kembali take off.” Suruh Abid merai keduanya agar tidak terjadi pertengkaran selanjutnya.
“Habis terbang jadi ke Bandung?” Tanya Abid
“Iya. Mau menyusul Maura— saya khawatir dengan keduanya. Ibu sudah tidak muda lagi tidak mungkin saya terus merepotkan beliau.” Jawab rayhan
“Kalau ditolak jangan menyerah. Saya pernah ada diposisimu.”
“Tidak akan kapt.” Jawab Rayhan dengan penuh keyakinannya. Ini hanyalah persoalan waktu untuk membuat hubungan mereka seperti dulu.
*****
“Ra .... Udah dong jangan makan pedas terus.”
“Enak tahu mas.” Jawab Maura
Arman menemani Maura keliling daerah sini mencari makanan pedas demi keponakannya ia rela meninggalkan pabrik— Maura jarang kesini dan Arman jarang ke Jakarta karena kesibukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.
“Ngeri lihatnya Ra ....” Arman menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihat. Terhitung dua hari Maura memakan pedas dengan alasan ngidam.
“Ra .... Ra anakmu jadi apa ini dikasih makan pedes terus. Perutmu terbuat dari apa sih?”
“Karet. Aku baca di internet wajar ibu hamil suka ini dan itu.” Jawab Maura.
“Tapi nggak boleh berlebihan.”
Ibu hanya diam karena berbicara juga percuma yang paling ampuh untuk menghentikan Maura makan pedas adalah Rayhan— perjuangan Arman ibu yakin sia-sia.
“Terutama pedas. Nggak baik nanti lambung kena.”
Maura hanya mengangguk menuruti ucapan Arman. Hari ini dan kemarin puas sekali berkeliling Bandung mencari makanan khas dan lainnya ditemani Arman. Hampir semua sudah Maura coba Maura yakin bayinya juga puas semua permintaan telah dituruti.
Arman hanya mengantar mereka didepan gang atas permintaan Maura— Maura merasa bersalah dua hari ini telah merepotkan pamannya. Meski Arman mengatakan tidak pa-pa tapi tetap saja Muara tahu diri.
Berjalan beriringan dengan ibu mengandeng tangan ibu lalu sebelah tangan mengusap-usap perut Maura yang belum membesar— Muara tidak sabar anaknya segera lahir.
“Kapan mau pulang, Ra?”
“Nanti Bu. Belum siap ketemu Rayhan.” Jawab Maura.
“Kayaknya Rayhan rindu bayi dan kamu.”
Maura mengigit bibir bawahnya— sama hal dengan Maura tidak bisa dipungkiri bahwa Maura rindu Rayhan juga.
“Pulang yuk ....” ajak ibu
“Dua hari lagi ya Bu,”
Ibu mengangguk. Mengusap punggung tangan Maura dengan sayang.
“Mbak Nadia kirim pesan katanya mau melihatmu, ibu bilang nanti kalau sudah pulang dikabari. Tidak mengaktifkan ponsel ya, Ra?”
“Maura mau tenang Bu .....”
Ibu mengerti. Pantas Rayhan bertanya kenapa Maura tidak membalas, mengangkat pesan dan teleponnya.
Langkah kaki mereka membawa ke rumah mereka— hampir saja pandangan mata Maura tak lepas dari penglihatan memastikan jika itu benar. Maura tidak berhenti melainkan menambah kecepatan langkah dan meninggalkan ibu begitu saja. Maura berlari suara ibu begitu lantang memperingati Maura.
Tubuh hampir terjatuh karena terlalu bersemangat untung ada tangan yang sigap menghentikan Maura tidak terjatuh. Maura spontan memeluk mengabaikan ibu yang bingung atas sikapnya.
“Hati-hati jangan ceroboh kasihan baby.”
“Iya, maaf .... Kangen ...” cicit Maura
Tubuhnya tak menolak. Pikiran negatif dibuang begitu saja ia kira akan ada penolakan bahkan Maura enggan bertemu tapi dugaan itu salah Maura menghampiri lalu memeluknya.
“Hati-hati kondisi ibu hamil berubah-ubah. Bayi kalian tidak rela orang tuanya berpisah, ibu masuk dulu ya Ray ...” ucap ibu. Didengar juga oleh Rania dan diangguki oleh Rayhan.
Rayhan datang ke tempat ini mendapat petunjuk dari ayah, jika ayah mengatakan dua hari baru bisa kesini Rayhan terlewat 3 hari dan hari ke 4 ia baru bisa datang.
Rayhan mengecup puncak kepala Maura sebentar lalu beralih mengusap punggung Maura. Pelukan itu belum terlepas padahal Rayhan takut jika terlalu lama berpelukan bayi mereka tidak nyaman.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rayhan
“Baik. Baru landing ya?” Maura berbalik tanya. Ego yang bertahan beberapa hari ini luluh ketika rasa rindu tak tertahankan dengan kehadiran Rayhan didepannya.
“Iya. Langsung kesini.” Jawab Rayhan. Melepaskan pelukan keduanya lalu mencium kening Maura sebentar lalu turun mengusap perut datar Maura. Menyapa bayi mereka.
“Hai ...” sapa Rayhan.
Hati Maura menghangat, perutnya nyaman ketika Rayhan mengusap dengan lembut— laki-laki itu tidak mencium perutnya membuat Maura sedikit kecewa. Jika mengutarakan pada Rayhan— Maura malu.
“Kenapa harus menghindar?” tanya Rayhan. Membawa Maura duduk di sofa.
Maura tidak langsung menjawab kalau boleh jujur saat ini Maura hanya ingin didekat Rayhan entah itu memeluk atau tiduran didada Rayhan, diajak keluar oleh Rayhan jalan-jalan atau melakukan hal lain berdua.
“Masih muntah-muntah?” tanya Rayhan
Maura memposisikan kepala di bahu Rayhan. “Masih. Tapi bisa ditahan-tahan.”
“Kok ditahan?”
“Males bolak-balik WC.”
“Pulang ke Jakarta yuk,” ajak Rayhan
“Belum mau. Enak disini.”
“Mama dan papaku ingin bertemu menantu kesayangan mereka yang sekarang perlahan sudah ingat.” Ucap Rayhan
“Memang kamu benar suamiku?”
“Iyalah. Kalau bukan tidak ada calon anak kita disini.” Jawab Rayhan mengelus perut Maura yang datar.
Persetan dengan ego yang tidak ingin bertemu, mengabaikan Rayhan begitu saja. Maura tidak peduli sekarang kemauan calon bayi mereka mengalahkan segalanya.
****