Rayhan memakai bajunya kembali sedangkan Maura masih tidur dengan balutan selimut tipis, Rayhan harus bangkit menemui ibu karena sejak ia datang sama sekali belum berkomunikasi dan menyapa ibu semua waktu itu di ambil oleh Maura. Rayhan butuh penjelasan kenapa Maura bisa pergi ke sini pada ibu— Rayhan bertanya Maura selalu tidak dijawab. Sebelum beranjak Rayhan mendekati Maura lalu mengecup singkat dahinya.
“Mau kemana?” tanya Maura. Lengan Rayhan di tahan saat Rayhan akan turun dari ranjang.
“Ketemu ibu dulu sekalian mandi badan lengket banget.” Jawab Rayhan
Perlahan Maura melepaskan tangan dari Rayhan membiarkan Rayhan pergi.
“Aku tidur dulu, capek.”
“Suruh siapa bangun?”
Maura melempar pukulan pada lengan Rayhan— Maura hanya berbicara bukan memberitahu. Sejak kedatangan Rayhan lalu mereka mengobrol di ruang tamu obrolan yang benar tidak penting hanya membahas tentang bayi mereka, ngidam mereka dan yang terakhir nama untuk anak mereka padahal Rayhan menginginkan lain yaitu bertanya lebih lanjut tapi sayang Maura bersikap menghindar terus-menerus.
Rayhan bersyukur kedatangan dirinya tidak membuat Maura marah atau akan ada drama diantara mereka jika sikap Maura yang enggan terbuka maka perlahan Rayhan akan mencari tahu atau membuat Maura terbuka dengan dirinya.
Rayhan tidak akan tenang meski Maura bisa dibilang sudah menerima dirinya. Rayhan takut Maura akan meninggalkan dirinya lagi.
“Bu,” Panggil Rayhan— ibu sedang sibuk didapur membuat sesuatu ternyata hari sudah pagi lagi entah berapa lama mereka di kamar tanpa ada gangguan dan tanpa keluar ini semua karena Maura yang memancing Rayhan. Akibatnya Rayhan meninggalkan semuanya. Wanita hamil memang unik. Rayhan juga telah selesai mandi.
“Sudah bangun Ray?”
“Iya, ibu bikin apa? Maaf ya baru keluar ...” ucap Rayhan tidak enak
“Tidak pa-pa. Ibu tidak mau menganggu pengantin baru.” Jawab ibu dibarengi candaan ringan.
“Ibu bisa saja. Pengantin lama kita Bu ....”
“Sama saja. Bagaimana keadaanmu nak?”
“Baik Bu. Rayhan kesini atas petunjuk bapak, harusnya kemarin tapi Rayhan masih di udara.”
“Iya, bapak memberitahu ibu juga. Maaf ya ibu mengabaikanmu tidak bermaksud menyembunyikan Maura tapi kamu paham bagaimana sikap Maura. Padahal dia sendiri yang menjauhimu.” Ujar ibu
“Dia lagi hamil Bu .... Jadi suasana hati berubah-ubah.”
Ibu mengangguk setuju. Tapi tetap saja ia merasa tindakan Maura ini keterlaluan karena meninggalkan Rayhan dan menyusahkan Rayhan.
“Maafkan Maura ya Ray kalau belum bisa jadi isteri yang baik.” Ucap ibu
Rayhan mengusap bahu ibu, “Saat Rayhan memutuskan untuk menikahi Maura itu artinya Rayhan siap akan konsekuensinya Bu .... Apapun itu,” jawab Rayhan
“Ibu benar-benar beruntung memiliki menantu sepertimu Ray ....”
“Rayhan yang beruntung memiliki kalian.” Balas Rayhan
Ibu menceritakan dengan detail kenapa Maura bisa memutuskan untuk kesini tentu jawaban tidak jauh dari menghindari Rayhan, awalnya Maura tidak ingin bertemu Rayhan bahkan saat ibu menceritakan tentang Rayhan— Maura selalu mengatakan tidak ingin mendengar tentang Rayhan tapi semua itu berubah ketika Rayhan datang, sikap Maura langsung berubah drastis.
“Ibu sangat terkejut bahkan ingin memarahi Maura karena ceroboh, bisa-bisanya berlari dalam keadaan hamil.”
“Isteriku memang ceroboh dari dulu Bu ...”
“Betul kalau saja jempol kaki tidak menempel sudah dipastikan hilang. Kamu mau kopi Ray?” tanya ibu
Rayhan terkekeh dengan jawaban ibu barusan.
“Biar Rayhan buat sendiri Bu,”
“Tidak pa-pa sekalian ibu buat teh. Sekalian ya ...”
“Baiklah. Terima kasih Bu ....”
“Tidak perlu segan Ray,”
Mereka terhanyut dalam pembicaraan sehingga tidak sadar jika Maura mendengar pembicaraan mereka barusan.
***
Maura yang awalnya ingin mandi karena seluruh badan terasa lengket mendadak berhenti tepat ketika telinga mendengar percakapan diantara ibu dan Rayhan, ternyata ini memang sebuah kenyataan bahwa Rayhan memang benar suaminya meski perasaan Maura merasa ragu tapi ucapan ibu dan Rayhan barusan seakan menyadarkan Maura. Maura kembali duduk disisi ranjang lalu memegang kepala, menjambak rambut dengan pelan berharap memori dulu bisa kembali terngiang meski sedikit.
Maura memejamkan mata, mengusap matanya dengan kasar karena sama sekali ia tidak merasakan ada hal yang tiba-tiba ingat. Maura kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, mengusap-usap perut semenjak Rayhan datang ia tidak lagi merasakan ingin memuntahkan kembali isi perutnya, terasa nyaman sekali apalagi tadi malam, rasanya masih jelas ingat di otak Maura.
Maura mengkhianati diri sendiri, awal janji semua ia ingkari hanya karena Rayhan datang. Padah niat Muara ingin menjauh sampai waktu yang sudah benar-benar siap untuk bertemu. Tapi nyatanya semua itu salah Rayhan seperti pelengkap hidup Maura yang terasa hilang kehadiran Rayhan adalah obat untuk Maura.
“Mandi sayang ...”
Maura membuka mata. Ia terkejut ketika suara Rayhan jelas sekali ditelinga Maura.
“Mandi terus cari sarapan, ibu ke tempat mas Arman.”
“Sama siapa?”
“Sendiri. Nggak mau diantar.” Jawab Rayhan. Rayhan bangkit untuk membereskan ranjang mereka yang berantakan. Maura sempat melarang sayangnya tidak Rayhan dengar, pekerjaan ini kalau Maura bisa ingat sudah sering Rayhan dilakukan.
“Mas sudah sarapan?”
“Belum. Ayo mandi dulu ...” suruh Rayhan lagi
“Iya-iya. Mas .... Aku ingin bertanya.”
Rayhan duduk disamping Maura.
“Akan aku jawab.”
“Sebelum aku berangkat kesini ada foto pria berbaju pilot, tunggu ....” Maura bangkit mengambil sesuatu didalam tasnya. Lalu memberikan pada Rayhan.
“Ini aku pas lulus sekolah penerbangan.” Jawab Rayhan.
“Yang ini maksudnya apa?” Maura menunjukkan kata S&K.
“Shakeer dan Kasih. Nama panjang kita,” jelas Rayhan
“Yang benar?”
“Iya. Aku berani menjamin dan bersumpah kalau kamu mau.”
Maura tersenyum. “Tidak perlu.” Ucap Maura. Maura merasa lega dan ternyata dugaan waktu itu benar jika ini Rayhan meski Maura tidak terlalu yakin.
“Ya sudah sana mandi, aku tunggu di ruang tamu.”
“Oke. Tapi .... Cium dulu perutku, dari baru ketemu mau dicium perutnya tapi malu.” Cicit Maura. Gara-gara ingin perutnya dicium Rayhan sampai kebawa mimpi jadi pagi ini ia langsung meminta sendiri karena Rayhan tidak peka.
Tawa Rayhan menggema di ruangan ini. Maura mencebikkan bibirnya disuruh cium malah tertawa.
“Kenapa kamu lucu banget sayang ....” Rayhan menatap kedua manik mata Maura.
“Mau atau tidak?”
“Mau dong ....” Sembari memberi kecupan ringan Rayhan mengabadikan juga lewat kamera ponsel karena kejadian ini langka apalagi Maura sendiri yang menyuruh.
“Love you ...” Ucap Rayhan. Sayangnya Maura tidak membalas hanya mengusap pipi Rayhan. Rayhan tidak mempermasalahkan Maura tidak menjawab cinta Rayhan karena ia yakin membalas tidak perlu mengucapkan.
****
“Banyak banget larangan ibu hamil ...” keluh Maura. Rayhan menyebalkan— pria itu membuat list tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan Maura dan ditambah membeli kursi roda nantinya ketika Maura sudah di Jakarta padahal Maura tidak sakit atau lumpuh alasan Rayhan satu agar Maura tidak kelelahan.
“Mas hapus dong list yang nggak boleh makan pedas. Hambar ....”
“Boleh tapi hanya satu cabe.”
“Tidak terasa pedasnya.”
“Nurut dong Ra untuk beberapa bulan ini ...” pinta Rayhan
“Iya-iya.” Dengus Maura. Tapi kalau tidak ada Rayhan— Maura bisa diam-diam membeli, memakan pedas tanpa orang lain tahu.
“Papa kamu pelit ...” Gerutu Maura sembari mengusap-usap perutnya. Mereka baru saja selesai menikmati sarapan pagi.
“Mau sehat atau sakit?”
“Sehatlah ...” sahut Maura
“Turuti apa kata suamimu.”
Maura sedikit takut ucapan Rayhan tidak seperti biasanya. Rayhan membuat list ini dan sikap yang berubah karena melihat sendiri bagaimana Maura menyukai makanan pedas. Rayhan hanya ingin menjaga keduanya, pedas tidak baik untuk kesehatan. Menikmati bubur ayam dengan sambal yang banyak membuat Rayhan marah dan memesan kembali bubur ayam yang baru tanpa pedas.
“Jangan galak-galak ....” bisik Maura
Rayhan menoleh. Melihat Maura yang menunduk tapi tangan melingkar ke tangan Rayhan.
“Kalau tidak galak kamu suka sembrono.”
“Maaf namanya juga lagi hamil ....”
“Hamil bukan alasan Ra ...”
Maura menghembuskan nafasnya rasanya berbicara dengan Rayhan saat ini Maura selalu salah di mata Rayhan.
*****