Maura melepas lengannya dari lengan Rayhan. Pelan saja, tapi Maura melihat bahu Rayhan turun.
“Kalau aku salah terus,” kata Maura, matanya mulai berkaca-kaca, “sekalian bilang semua yang kamu sembunyikan.”
Rayhan menaruh sendoknya. Di meja plastik warung itu, semangkuk bubur ayam yang baru, tanpa sambal setitik pun, mengepulkan uap yang sia-sia. Tukang bubur di balik gerobak pura-pura sibuk mengelap gelas, padahal gelas itu sudah dilap tiga kali.
“Aku nggak menyembunyikan—”
“Mas.” Maura menggeleng. “Aku sudah percaya kita menikah. Tadi kamu mau bersumpah, dan aku bilang tidak perlu. Itu bukan basa-basi. Tapi aku mau tahu semuanya, bukan sepotong-sepotong yang kamu keluarkan kalau aku sudah mendesak.”
Rayhan menarik napas panjang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku, membuka galeri, menggeser layar beberapa kali, lalu menyodorkannya ke depan Maura dengan dua tangan.
“Ini buku nikah kita. Yang asli disimpan bapak.” Ia berhenti sebentar. “Dan ini videonya. Kamu boleh berhenti kapan saja.”
“Aku tahu caranya berhenti,” sahut Maura, tapi suaranya tidak setajam yang ia niatkan.
Ia menekan tombol putar. Di layar kecil itu bapak duduk berhadapan dengan Rayhan, saling berjabat tangan, mengucapkan ijab dengan suara yang bergetar di ujung kalimat. Rayhan menjawab dalam satu tarikan napas. Penghulu mengangguk, para saksi berseru, dan seorang perempuan berkebaya putih sederhana membungkuk untuk mencium tangan lelaki itu, lama sekali, seperti tidak mau melepasnya.
Maura memperhatikan perempuan itu. Ia tidak ingat apa pun. Tidak bunyi mikrofon yang berdenging, tidak wangi melati, tidak tahu tangan siapa yang gemetar. Tetapi air matanya jatuh juga ke pipi, menetes ke kaca ponsel.
“Dia bahagia sekali,” bisiknya. “Aku nggak kenal dia, tapi dia bahagia sekali.”
Rayhan tidak berani menjawab. Ia mengambil selembar tisu dari kotak di meja dan menaruhnya dekat tangan Maura, tidak menyentuhnya.
“Bapak menangis,” kata Maura sambil menunjuk layar. “Bapak itu orang yang nggak pernah menangis. Waktu Jelita jatuh dari sepeda sampai bibirnya sobek pun bapak cuma bilang ‘ayo ke klinik’.”
“Setelah itu bapak bilang sama aku, kalau sampai kamu menangis gara-gara aku, beliau yang akan menjemputku ke bandara.” Rayhan tersenyum tipis. “Aku percaya.”
Maura mengusap pipi dengan punggung tangan, mengabaikan tisu itu, lalu mengangkat wajah.
“Sekarang bilang. Apa yang kamu sembunyikan.”
“Tiga hal yang paling berat.” Suara Rayhan rendah dan datar, tanpa satu pun kata pembelaan. “Pertama, aku mencium keningmu waktu kamu belum tahu siapa aku. Lalu di mobil, aku mencuri cium pipimu dan mendesakmu ke sisi pintu. Kamu tidak pernah mengizinkan itu. Aku salah.”
Maura diam. Jemarinya meremas ujung bajunya, kebiasaan lama yang tidak ia sadari.
“Kedua, nomor asing itu. Aku berpura-pura jadi orang yang baru kenal, dan aku menyuruh Jelita memotretmu diam-diam. Kamu berhak tahu dari awal, bukan diikuti pelan-pelan tanpa kamu sadari.”
“Ketiga?”
Rayhan menatap meja sebentar, lalu menatap Maura. “Malam itu. Kamu menyebut dirimu hina, kamu bilang itu aib, dan aku diam saja, padahal aku tahu kita suami-istri. Apa pun yang terjadi malam itu terjadi waktu kamu belum tahu aku suamimu. Itu tanggung jawabku, bukan aibmu. Aku tidak akan memakai kata ‘kamu setuju’ sebagai pembelaan, karena kamu setuju pada laki-laki yang kamu kira orang lain.”
Warung itu mendadak sunyi, atau mungkin hanya telinga Maura yang berdenging. Di ujung jalan sebuah motor lewat dengan knalpot meraung, dan Maura mengerjap.
Sudah berapa hari kalimat itu menekan dadanya? Hina, aib, murahan. Ia mengulang tiga kata itu dalam kepala setiap kali menutup mata, dan baru sekarang seseorang mengambilnya dari tangannya dan meletakkannya di tempat lain.
“Ada lagi?” tanyanya, nyaris tak terdengar.
“Susu ibu hamil tanpa label, aku yang minta ibu memberikannya. Dan nada bicaraku tadi pagi.” Rayhan menelan ludah. “‘Turuti apa kata suamimu.’ Kalimat itu aku tarik. Aku boleh mengingatkan, aku boleh bertanya. Aku tidak boleh menyuruh.”
Maura menunduk lama menatap mangkuk bubur. Ia mengaduknya sekali, tak satu sendok pun ia makan.
“Aku marah,” katanya akhirnya. “Tapi bukan pada bayinya. Bayi ini nggak salah apa-apa. Aku marah pada caramu, Mas. Kamu bikin semua keputusan buat aku, seolah aku boneka yang bisa dipindah-pindah.”
“Iya.”
“Jangan cuma ‘iya’.”
“Kamu benar,” ujar Rayhan. “Dan aku minta maaf. Bukan supaya kamu berhenti marah. Kamu boleh marah selama kamu perlu.”
“Kenapa kamu diam selama itu?” tanya Maura. “Dokter cuma bilang masuk pelan-pelan, bukan bilang bohong.”
“Karena aku takut.” Rayhan tidak mengalihkan mata. “Setiap hari aku berpikir, kalau kubilang aku suamimu, kamu akan lari dan tidak pernah kembali. Itu alasan, bukan pembenaran. Yang kamu butuhkan waktu itu orang yang jujur, dan aku memilih jadi orang yang nyaman buat diriku sendiri.”
Kalimat itu terlalu terang untuk dijawab dengan cepat, jadi Maura membiarkannya menggantung di antara mereka, di atas mangkuk bubur yang makin dingin.
Maura menghela napas. Ada sesuatu di dadanya yang longgar sedikit, tetapi ia belum mau mengakuinya.
****
Mereka berjalan pelan menyusuri gang kecil di belakang warung. Ayam-ayam kampung mengais di bawah pagar bambu, dan matahari pagi Bandung belum panas benar. Maura berjalan di sisi kiri Rayhan, menyisakan jarak satu langkah di antara mereka.
“Aku punya dua aturan,” katanya tanpa menoleh.
“Aku dengar.”
“Pertama, tidak ada lagi rahasia. Apa pun. Kecil, besar, memalukan, aku mau tahu dari kamu, bukan dari Jelita, bukan dari ibu.”
“Setuju.”
“Kedua.” Maura berhenti melangkah. “Tanya dulu sebelum menyentuh atau melarang. Dan kalau aku bilang tidak, artinya tidak. Bukan ‘nanti juga mau’.”
Rayhan ikut berhenti. Ia tidak mendekat. Tangannya yang tadi setengah terulur ia masukkan ke saku celana.
“Setuju. Dua-duanya. Dan kalau aku lupa, ingatkan aku, Ra. Aku lebih suka diingatkan daripada kamu diam-diam menjauh.”
Maura menatapnya, mencari sesuatu di wajah itu, entah apa. Sebuah bohong kecil, mungkin. Ia tidak menemukannya. Yang ada hanya mata merah karena kurang tidur dan rahang yang menegang.
“Satu lagi,” katanya. “Kecelakaan itu. Aku mau jawaban utuh. Siapa saja yang tahu waktu itu, dan kamu di mana. Semuanya.”
Rayhan membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menggaruk tengkuk, kebiasaan lamanya kalau gugup. Maura memperhatikan gerakan itu dengan perasaan aneh bahwa ia pernah melihatnya ribuan kali.
“Aku akan jawab,” kata Rayhan. “Tapi bukan sambil berdiri di gang. Kamu masih lemas, dan ceritanya bukan yang enak didengar. Kamu pantas mendengarnya dengan duduk. Boleh?”
Kata terakhir itu membuat sudut bibir Maura terangkat, kecil sekali. Rayhan bertanya. Ia tidak memutuskan.
“Boleh,” sahut Maura. “Tapi bukan di sini.”
“Di mana?”
Maura memandang ke ujung gang, ke rumah Mas Arman, tempat kemeja biru Rayhan masih tergulung di dasar tasnya, tempat ia bersembunyi berhari-hari seperti anak kecil yang kabur dari rumah. Tiba-tiba semuanya terasa sesak. Bukan karena Rayhan. Karena dirinya sendiri.
“Aku mau pulang,” ucap Maura. “Hari ini juga. Dan kamu yang menyetir.”
“Hari ini?” Rayhan tidak bisa menyembunyikan kagetnya. “Ra, aku ke sini sebagai pilot yang mendarat di Bandung, bukan bawa mobil. Aku belum punya—”
“Kamu co-pilot. Kamu pasti bisa menemukan caranya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan, dan baru setelah terucap Maura sadar apa yang ia katakan. Rayhan menatapnya dan tidak berani bergerak.
“Iya,” kata Rayhan pelan. “Aku cari caranya.”