Berkemas ternyata cuma butuh dua puluh menit, dan Maura tidak tahu apakah itu menyedihkan atau melegakan. Dua potong baju, satu mukena, minyak kayu putih, ponsel yang baterainya tinggal sedikit, dan kemeja biru milik Rayhan yang ia peluk berhari-hari, kini dilipat rapi di atas tumpukan paling atas.
Mas Arman berdiri di ambang pintu kamar tamu sambil menggaruk kepala. Maura mencium tangannya dan berterima kasih karena sudah memberinya sudut untuk bersembunyi. Arman hanya menepuk bahunya dan berpesan agar Maura jangan lupa makan, lalu menyalami Rayhan lebih lama dari biasanya, seolah ada yang ingin ia titipkan tetapi tak berani diucapkan.
Ibu baru kembali dari warung di ujung gang, tempat ia membeli bekal untuk di jalan, dan langkahnya berhenti begitu melihat Maura menjinjing kemeja biru itu keluar dari kamar. Ibu menutup mulut dengan punggung tangan. Matanya langsung basah.
“Kenapa Ibu nangis?” tanya Maura panik.
“Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma ingat kamu pulang bawa kemeja itu pertama kali, kamu bilang bau sabun Ray enak.” Ibu mengusap mata dan tertawa kecil. “Sudah, jangan dipikirkan. Ibu ikut pulang, ya.”
“Ibu ikut Maura?”
“Ibu nggak mau kamu duduk di mobil tanpa Ibu.”
Rayhan sendiri berangkat ke bandara dengan ojek daring, kembali satu jam kemudian dengan mobil sewaan kecil berwarna putih yang bersih dan wangi pengharum jeruk. Ia membuka pintu depan untuk Maura, tidak menyentuh bahunya, hanya menunggu sampai Maura duduk dan berkata, “Sudah.”
“Sabuk pengamannya?”
“Aku bisa sendiri, Mas.”
“Baik.” Rayhan menyalakan mesin, lalu menambahkan, “Kalau ada yang bikin nggak enak, bilang. Mau berhenti sepuluh kali pun nggak masalah.”
“Sepuluh kali itu kita sampai Jakarta besok pagi.”
“Berarti besok pagi.”
Mobil melaju keluar dari gang, melewati warung bubur tadi, lalu masuk ke jalan besar menuju gerbang tol. Ibu duduk di kursi belakang dengan tas di pangkuan. Rayhan menyetir pelan, sangat pelan, sampai sebuah angkot di belakang mereka membunyikan klakson pendek dan menyalip dengan wajah jengkel.
“Mas, kamu boleh ngebut sedikit.”
“Aku lebih suka sampai belakangan daripada ngebut dengan kamu di sampingku,” sahut Rayhan.
Maura tidak membalas. Di dalam tol, perutnya mulai bergejolak. Bau jeruk yang tadi menyenangkan mendadak menusuk, dan ia membuka botol minyak kayu putih, menghirupnya dalam-dalam. Rayhan menurunkan kaca setengah tanpa disuruh.
“Terlalu dingin?”
“Pas.”
Hamparan sawah dan bukit hijau lewat di balik jendela. Ibu mulai bercerita soal harga cabai, soal tetangga yang baru melahirkan, soal apa pun yang tak berkaitan dengan hal berat, dan Maura tahu ibu sengaja. Mereka bertiga membiarkan kebohongan kecil yang baik itu.
“Ray, kamu sebenarnya libur sampai kapan?” tanya ibu dari belakang.
“Sampai Sabtu, Bu. Minggu subuh sudah harus terbang lagi.”
“Capek dong. Baru mendarat, langsung naik mobil, nyetir lagi.”
“Capeknya beda, Bu,” kata Rayhan sambil melirik spion. “Kalau ini, capek yang Rayhan mau.”
Maura pura sibuk dengan botol minyak kayu putih. Telinganya panas.
Lalu truk itu muncul dari lajur kanan.
Klaksonnya panjang, memekakkan, seperti raungan yang tak punya ujung. Maura belum sempat berpikir. Kedua tangannya sudah menutup telinga, tubuhnya menekuk ke depan, napasnya putus-putus. Dari tenggorokannya keluar bunyi yang tidak pernah ingin ia dengar dari dirinya sendiri.
“Ra!”
Rayhan menyalakan lampu sein, memindahkan mobil dua lajur dengan satu gerakan tenang, lalu masuk ke jalur rest area. Mesin ia matikan. Ia tidak langsung menyentuh Maura. Ia membuka kedua telapak tangannya di atas paha, dengan jarak yang jelas, lalu menunggu.
“Ra, aku di sini. Truknya sudah lewat. Kamu nggak perlu apa-apa. Kalau mau aku diam saja, aku diam.”
Maura gemetar sampai giginya beradu. Di kursi belakang ibu menepuk-nepuk punggungnya, bergumam, “Istighfar, Nak, tarik napas, pelan-pelan.” Beberapa detik yang rasanya satu jam berlalu. Lalu Maura menoleh, mata sembap, dan mengangguk.
Rayhan membuka lengannya. Maura masuk ke dalamnya, menyembunyikan wajah di dada seragam kusut yang masih ia pakai sejak datang. Rayhan memeluknya tanpa mengeratkan, tangan satunya menopang kepala Maura seperti menahan sesuatu yang sangat rapuh. Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Ibu turun dari mobil dan berdiri membelakangi mereka, memandangi deretan truk yang diparkir. Pundaknya naik turun.
Entah berapa lama mereka diam begitu. Ketika napas Maura sudah teratur, ia berbicara tanpa mengangkat kepala.
“Aku mau jawabanku sekarang.”
“Di sini?”
“Di sini. Aku nggak mau menunggu sampai rumah dan ketakutan lagi.” Maura mengangkat wajah. “Kecelakaannya. Dari awal.”
Rayhan menatap ibu di luar jendela. Ibu menoleh dan menggerakkan dagu pelan: katakan saja.
“Taksimu bertabrakan dengan truk di sebuah perempatan di Jakarta,” ujar Rayhan. Suaranya hati-hati, memilih tiap kata. “Sopirnya tidak selamat. Kamu dibawa ke rumah sakit dan dirawat beberapa hari tanpa sadar. Aku sedang di udara waktu itu. Aku baru tahu setelah mendarat dan menyalakan ponsel.”
“Kamu di udara,” ulang Maura.
“Iya.”
“Dan kamu nggak tahu apa-apa.”
“Sampai roda pesawat menyentuh landasan. Ada dua puluh tujuh panggilan tak terjawab di layar.” Rayhan menunduk. “Aku berlari dari terminal ke rumah sakit masih berseragam. Aku tidak ingat bagaimana caranya sampai.”
Maura menyentuh perutnya. Tangannya dingin.
Dua puluh tujuh panggilan. Ia mencoba membayangkan layar ponsel itu, nama istrinya berulang-ulang, dan Rayhan di kokpit yang tidak bisa melakukan apa pun selain menerbangkan pesawatnya sampai turun. Ia tidak ingat kecelakaan itu. Tetapi ia bisa membayangkan lelaki ini berlari di koridor rumah sakit, dan itu cukup untuk membuat tenggorokannya sakit.
“Sopirnya... punya keluarga?”
“Nanti kuceritakan yang kutahu, bila kamu mau. Hari ini cukup sampai di sini.”
Itu lagi-lagi bukan perintah. Maura sadar Rayhan sedang berjalan hati-hati di antara dua kewajiban: berkata jujur dan menjaganya agar tak roboh. Ia mengangguk.
“Oke. Hari ini cukup.”
Ibu kembali ke mobil sambil membawa tiga botol air mineral dari warung dekat situ. Rayhan membuka satu dan menyerahkannya ke Maura. Maura hampir tersenyum. Tutup botolnya masih rapat dan utuh.
Mobil kembali ke jalan. Kali ini setiap klakson dari kejauhan membuat bahu Maura menegang, tapi tangan Rayhan terulur di atas konsol, dan Maura menaruh tangannya di sana sendiri, sampai pintu keluar tol Jakarta.
****
Menjelang senja, mobil itu masuk ke jalan kecil menuju rumah ibu. Pagar besi hijau, pohon belimbing di pojok, lampu teras yang baru dinyalakan.
Bapak berdiri di teras, bersarung, tangan di pinggang. Ia tampak tenang seperti biasa, tapi matanya memeriksa Maura dari ujung kepala sampai kaki sebelum menyapa siapa pun.
“Sudah makan?” tanya bapak, itu saja.
“Sudah, Pak. Bubur,” jawab Maura.
“Bagus.” Bapak mengalihkan pandang ke Rayhan dan menepuk lengannya sekali. “Kamu menyetir sendiri sampai sini?”
“Iya, Pak.”
“Hmm.” Bapak mendengus puas, lalu tiba-tiba bicara agak keras ke arah pintu. “Ada orang di belakang bapak yang punya urusan, tapi malu keluar.”
Dari belakang punggung bapak terdengar cicit kecil, seperti tikus kena jepit. Seseorang berdiri persis di sana, bersembunyi dengan seluruh tubuhnya, sampai hanya satu mata dan seujung rambut yang kelihatan.
Jelita.