Rayhan tidak ikut masuk. Di pagar ia menyerahkan tas Maura kepada bapak, menyalami bapak dan ibu, lalu menatap Maura dengan sorot yang bertanya tanpa kata.
“Pulanglah ke rumah orang tuamu,” kata Maura. “Kamu belum tidur dari kemarin. Mobil sewaannya juga harus dikembalikan.”
“Itu permintaan, atau perintah?”
Maura hampir tertawa. “Permintaan. Aku yang minta.”
“Kalau begitu aku turuti.” Rayhan tersenyum kecil, melirik ke teras, ke arah satu mata yang masih mengintip dari balik punggung bapak. “Semoga selamat, Jelita.”
Dari balik bapak terdengar suara tercekik. Mobil putih kecil itu berbelok dan hilang di ujung jalan, lampu belakangnya merah sebentar lalu lenyap.
Maura naik ke teras. Ia berhenti tepat di depan bapak, yang sekarang bergeser ke samping tanpa berkata apa-apa. Jelita berdiri sendirian di tengah teras. Kedua tangannya memegang ponsel di depan dada.
“Kak Ra....”
“Jel.”
“Aku udah mau bilang dari dulu, beneran. Tiap malam aku mikir ‘besok aku bilang’, terus besoknya Mas Ray telepon, terus aku nggak tega, terus—” Jelita menarik napas gemetar dan menyodorkan ponselnya. “Nih. Baca aja. Semuanya ada. Aku nggak hapus satu pun.”
Maura menerimanya. Layar sudah terbuka di sebuah percakapan panjang bernama Mas Ray. Ia duduk di bangku rotan di teras, bapak dan ibu mendekat dalam diam, dan ia menggulir ke atas sampai pesan paling awal.
Jelita
Kak Ra makan donat dua. Katanya lapar tapi nggak mau bilang.
Mas Ray
Terima kasih, De. Jangan sampai dia tahu.
Jelita
Kak Ra naik sepeda sendiri lagi. Aku ikutin dari belakang.
Jelita
Tadi ada klakson panjang di perempatan. Kak Ra jongkok di pinggir jalan sambil nutup kuping. Aku samperin. Dia bilang cuma pusing. Mas, aku takut.
Mas Ray
Aku datang sekarang. Kamu temani dia sampai aku sampai.
Jelita
Ada Jejel. Semua aman.
Kalimat terakhir itu muncul berkali-kali, tiap malam, seperti doa sebelum tidur. Maura mengusap layar dengan ibu jarinya. Ada rasa jengkel yang naik dari perut, panas. Tapi di bawahnya, lebih dalam, ada hal lain yang membuatnya sulit bernapas. Ada seseorang yang menghitung tiap langkahnya dari jauh. Bukan untuk mengurungnya, melainkan karena tidak sanggup tidak tahu.
Ia membaca lagi, lebih lambat. Ada pesan dari hari-hari sebelum ia tahu apa pun, tentang Maura yang membeli rujak mangga, tentang Maura yang tertawa pada pelanggan toko sampai matanya menyipit. Rayhan membalas sebagian dengan satu kata, sebagian lain hanya dengan tanda jempol. Jelita tidak pernah menulis hal yang buruk. Itu yang paling menyakitkan: semuanya penuh sayang.
Di tengah gulungan itu ada satu pesan yang membuatnya berhenti. Tanggalnya jauh sebelum ia tahu apa pun.
Mas Ray
De, kalau nanti dia ingat dan membenciku, jangan salahkan dia. Itu bagianku untuk ditanggung.
Jelita
Mas jangan ngomong gitu.
Maura membaca baris itu dua kali dan tidak menemukan satu kalimat pun yang menyalahkannya. Anehnya itu lebih berat daripada kalau ada.
“Kamu mengikutiku,” katanya pelan.
“Iya, Kak.”
“Kamu memotretku tanpa bilang.”
“Iya.”
“Itu bukan hal yang boleh dilakukan, Jel. Meski alasannya baik.” Maura menyerahkan ponsel itu kembali. “Dengar aku. Kamu boleh cerita ke Mas Ray tentang aku, kalau aku tahu dan setuju. Aku bukan melarang kamu sayang sama kami. Tapi nggak ada lagi foto diam-diam. Nggak ada lagi ‘ada Jejel, semua aman’ di belakang punggungku. Paham?”
Wajah Jelita meleleh. Bukan menangis diam, tapi menangis sepenuhnya, bahu terguncang, hidung memerah, dengan suara yang membuat ibu ikut menarik napas.
“Maaf, Kak. Maaf....”
“Sini.”
Jelita menubruknya. Maura memeluk adiknya yang lebih tinggi darinya setengah kepala itu, merasakan rambut Jelita basah di lehernya, dan seketika sadar bahwa adiknya juga ketakutan selama berminggu-minggu tanpa ada yang menanyakan.
Ibu muncul dari dalam membawa selembar handuk kecil dan menyodorkannya ke hidung Jelita tanpa komentar. Jelita membuangnya dengan bunyi yang tidak sopan, dan bapak, yang sejak tadi berdiri di dekat tiang teras, terbatuk-batuk untuk menutupi tawanya.
“Kak Ra nggak marah lagi?” bisik Jelita.
“Marah. Tapi kamu yang kupeluk,” sahut Maura. “Itu beda.”
****
Malam itu mereka makan di meja makan kecil dengan lauk sisa siang, tapi bapak menaruh sesuatu di tengah meja sebelum menyendok nasi: sebuah map plastik berwarna biru tua, dan di sampingnya album tebal bersampul krem.
“Buku nikah yang asli,” kata bapak. “Dan foto akad. Ibu yang pilihkan ukurannya.”
Maura meletakkan sendoknya. Ia membuka buku nikah itu perlahan. Fotonya sendiri, tanggal yang tidak ia ingat, tanda tangan bapak yang kaku. Di sebelahnya, tanda tangan Rayhan, huruf-huruf tegak dan rapi seperti orang yang menulis laporan penerbangan.
“Dia datang meminta restu dengan tangan dingin,” cerita bapak sambil mengunyah. “Sampai Bapak pura-pura batuk supaya dia nggak sadar Bapak lihat. Duduknya tegak, jawabnya terbata. Tapi waktu Bapak tanya, ‘Kamu sanggup ditinggal-tinggal pekerjaanmu?’, dia diam lama, lalu bilang, ‘Saya sanggup pulang, Pak. Setiap kali.’”
“Dan dia sanggup?” tanya Maura.
“Delapan puluh persen,” jawab bapak sambil menyendok sambal. “Dua puluh persennya Bapak lihat sendiri minggu ini, waktu dia berdiri di teras kita dengan tangan menggantung. Orang yang berani menunggu selama itu pasti tahu jalan pulang.”
Ibu mendengus. “Delapan puluh persen itu karangan Bapak.”
“Karangan yang bagus.”
Ibu mengusap sudut mata. Maura menunduk menatap fotonya sendiri di halaman buku itu, perempuan yang tersenyum malu-malu di sebelah nama Rayhan Shakeer.
“Pak,” kata Maura, hampir tidak terdengar. “Yang Maura takutkan itu... waktu di apartemen. Maura pikir Maura sudah melakukan sesuatu yang hina. Maura kira—”
“Kamu sah, Nak.” Bapak meletakkan sendoknya. Suaranya tetap datar, tetapi matanya tidak. “Kamu istri sah anak itu. Bapak sendiri yang menikahkan kalian. Tidak ada yang hina di sini. Tidak satu pun.”
Maura menggigit bibir. Ibu mengulurkan tangan lewat meja dan menggenggam jemarinya.
“Ibu juga harus bilang sesuatu,” kata ibu lirih. “Susu ibu hamil yang tanpa label itu... Ibu yang kasih, atas permintaan Ray. Ibu tahu itu salah. Tapi Ibu takut kamu menolak kalau tahu itu dari dia.”
“Jadi semua orang di rumah ini tahu.” Maura menatap berkeliling: bapak, ibu, Jelita yang matanya masih bengkak. “Semuanya. Dan kalian semua diam.”
Tidak ada yang menyangkal.
“Kalian menyayangiku,” ucap Maura pelan, “dengan cara yang menyakitkan.”
Ibu menutup wajah dengan kedua tangan. Maura bangkit dari kursi, memutari meja, dan memeluk ibu dari samping, mencium puncak kepalanya yang beraroma minyak rambut dan bawang goreng. Bapak berdeham dan pura-pura mencari kerupuk.
Sesudah piring dicuci, Jelita menyelinap ke kamar Maura membawa bantal sendiri tanpa diundang, dan Maura membiarkannya. Mereka berbaring berdampingan menatap langit-langit yang sama seperti waktu kecil.
“Kak, boleh nanya satu hal?”
“Satu.”
“Mas Ray itu orangnya... gimana, menurut Kak Ra? Sekarang?”
Maura berpikir lama. “Dia nggak seperti yang kukira. Kupikir dia akan memaksa. Ternyata dia menunggu.”
“Terus Kak Ra suka?”
“Jel.”
“Kan nanya doang.”
“Kak, besok aku boleh bantu Kakak pilih baju? Bantu beneran, nggak ngintip.”
“Boleh. Lewat depan, bukan lewat semak-semak.”
“Jejel nggak pernah lewat semak-semak.”
“Jel.”
“Sekali doang.”
Maura memiringkan badan memunggungi adiknya, menahan senyum yang bodoh. Sekitar pukul sembilan, ponselnya bergetar di atas kasur.
Rayhan
Aku sudah sampai. Boleh kutelepon besok pagi?
Maura menatap pesan itu lama. Aku sudah sampai. Kabar yang hanya sedikit, tetapi cukup untuk menurunkan pundaknya satu senti. Ia mengetik satu kata.
Boleh.
Titik tiga muncul di layar, hilang, muncul lagi. Balasan Rayhan datang satu baris.
Besok pagi mama mau menelepon kamu sendiri.
Maura menatap layar. Jarinya membeku di atas huruf. Mama. Perempuan yang dulu ia panggil Tante itu. Perutnya mendadak kosong lagi, dan kali ini bukan karena mual.