Ponsel itu berdering pukul tujuh lewat sedikit, ketika Maura sedang berjongkok di depan lemari, memilih mana di antara tiga blus yang paling tidak kusut. Nama di layar membuat tangannya berhenti. Mama.
Ia menatapnya sampai deringnya hampir mati, lalu menjawab dengan suara yang lebih tinggi dari biasa. “Halo, Tan—” Maura menggigit lidahnya sendiri. “Halo, selamat pagi.”
“Pagi, Nak. Kamu sudah sarapan?” Suara di seberang hangat dan sedikit parau, seperti orang yang menahan sesuatu sejak semalam. “Mama nggak lama, nggak mau mengganggu. Mama cuma mau tanya, malam ini kamu mau makan di rumah? Mama masak semur. Rayhan bilang kamu suka, dulu.”
“Dulu,” ulang Maura.
“Maksud Mama, kalau mau. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa, Mama ngerti.”
Maura menatap tiga blus di lantai. Kalau ia menolak, perempuan itu tetap akan mengerti, dan justru karena itu ia tidak sanggup menolak.
“Mau,” jawab Maura. “Maura datang.”
Ada jeda yang terlalu panjang di seberang sana, lalu napas yang bergetar. “Alhamdulillah. Rayhan akan jemput jam lima. Jangan telat makan siang, ya.”
Sambungan terputus. Maura menjatuhkan diri duduk di lantai, memegang ponsel dengan dua tangan.
“Siapa?” tanya Jelita dari ambang pintu, rambutnya mencuat ke segala arah.
“Mama.”
“Mama kita?”
“Mamanya Mas Rayhan.” Maura menatap adiknya panik. “Jel, aku harus pakai apa?”
Dua puluh menit berikutnya, kamar itu kacau. Jelita menarik semua baju keluar, ibu masuk membawa setrika dan kotak jarum, bapak lewat di depan pintu dua kali dengan alasan mencari kacamata yang sebenarnya ada di kepalanya. Akhirnya mereka memilih gamis krem sederhana yang masih longgar di perut, dan Jelita menjepit rambut Maura ke belakang dengan jepit kupu-kupu hasil sitaan.
“Kamu cantik,” kata ibu, memperbaiki kerah. “Seperti dulu.”
“Dulu aku nggak tahu seperti apa dulu itu, Bu.”
“Ya seperti ini.” Ibu tersenyum. “Cuma lebih gugup.”
Rayhan datang tepat pukul lima dengan mobil sewaan yang sama, kini sudah dicuci. Ia turun dan menutup pintu pelan, berdiri di samping mobil. Ia mengenakan kemeja putih bersih, rambut basah disisir, wajah segar tapi tegang. Maura keluar dari rumah, menuruni teras, dan di tengah halaman Rayhan membuka mulut, menutupnya lagi, lalu berkata, “Boleh salaman?” Seperti dua orang yang baru dikenalkan, dan memang begitu rasanya.
Maura memandang tangan itu. Lalu ia melangkah satu langkah dan menaruh tangannya sendiri di atasnya.
“Terima kasih,” kata Rayhan, nyaris tak terdengar.
“Jangan senyum begitu. Aku cuma takut jatuh.”
“Aku tahu.” Tapi ia terus tersenyum.
Di dalam mobil Maura meremas-remas tali tasnya sepanjang jalan. Rayhan menyetir dengan satu tangan di kemudi, tangan lain di paha, tidak mencoba mengambil apa pun.
“Mama bukan orang yang menakutkan,” katanya setelah dua lampu merah.
“Aku tahu. Justru itu.” Maura menatap jendela. “Kalau dia galak, aku bisa takut saja. Tapi dia pasti sedih tiap kali aku salah panggil, dan itu lebih berat.”
“Dia nggak akan menghitung salahmu.”
“Kamu yang bilang begitu, tapi kamu bukan Mama.”
“Betul,” Rayhan mengakui. “Tapi aku anaknya. Dan aku jamin, dari tadi pagi Mama sudah dua kali mengganti taplak meja.”
Maura menahan tawa dan kalah. Ketegangan di bahunya turun sedikit.
****
Rumah mama berwarna putih dengan taman kecil di depan, dan sebelum Maura sempat mengetuk, pintunya sudah terbuka. Mama berdiri di sana memakai daster bunga-bunga dengan celemek, tangannya masih ada bumbu, matanya sudah merah.
“Masuk, Nak,” kata mama. “Masuk, masuk.”
“Terima kasih, Tan—” Lagi. Maura berhenti, wajahnya langsung panas. “Maaf.”
Mama tidak menjawab. Ia mengelap tangannya pelan di celemek, berjalan mendekat, lalu berkata dengan suara yang sangat tenang, “Dulu kamu manggil Mama. Boleh dicoba lagi. Pelan-pelan saja. Kalau belum bisa, nggak apa-apa.”
Maura merasa seluruh ruangan menunggu. Rayhan di belakangnya tidak bergerak, dan dari ruang makan terdengar bunyi sendok berhenti.
“Ma...” Maura menelan ludah. “Ma-ma.”
Mama memejamkan mata. Bahunya yang tegak tiba-tiba turun, dan air matanya meluncur tanpa suara. Ia menarik Maura ke pelukan, erat tapi hati-hati, dan menepuk punggungnya berkali-kali seperti menenangkan anak kecil.
“Pintar,” bisik mama. “Pintar sekali.”
“Mam, aku juga mau dipeluk,” kata Rayhan dari belakang.
“Kamu mah tiap hari,” sahut mama sambil tertawa dalam tangisnya, tangan satunya melambai tanpa menoleh.
Papa muncul dari ruang tengah. Tubuhnya tinggi dan agak bungkuk, kacamata baca bertengger di ujung hidung, koran terlipat di tangan. Ia menatap Maura beberapa detik, lalu mengulurkan tangan seperti seorang tamu resmi.
“Selamat datang kembali, Maura.”
Maura menyalami dan mencium tangannya. “Terima kasih, Pa.”
Papa mengerjap sekali. “Papa, ya? Bagus.” Itu saja, tapi ia berbalik terlalu cepat dan pura-pura mencari sesuatu di meja.
Melati turun dari tangga dengan jilbab setengah terpasang. “Kak Maura!” Ia memeluk Maura dan langsung mundur menatap kakaknya. “Mas, kenapa mukamu kayak lulus ujian? Mas galau sudah nggak galau, ya?”
“Melati.”
“Mas galau!” Melati tertawa cekikikan sambil kabur ke dapur.
Di ruang tamu, di dinding tengah, tergantung foto berbingkai besar. Maura berhenti di depannya. Dua orang berdiri berdampingan, perempuan berkebaya putih gading, lelaki dengan jas dan senyum yang terlalu lebar untuk disebut gugup. Mata perempuan itu bersinar.
Maura menatapnya lama.
“Aku cantik sekali ya,” katanya.
Ia sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar. Kalimat itu terdengar seperti pujian untuk perempuan lain, tetapi juga bukan.
Mama tertawa. Melati tertawa. Rayhan tertawa paling keras. Lalu tawa itu surut, dan hening yang canggung turun di ruangan itu karena semua orang sadar kalimat itu diucapkan oleh orang yang tidak ingat pernah menjadi perempuan di foto tersebut.
“Kamu memang cantik,” ujar papa akhirnya dari balik koran. “Rumah ini kamu yang menata dulu. Tirai, sofa, foto itu. Papa cuma disuruh angkat-angkat.”
“Aku yang menata?”
“Kamu dan selera hijau daunmu.” Papa mengangguk ke arah tirai. Maura baru sadar semua warna di ruang tamu itu memang hijau: hijau muda, hijau lumut, hijau zaitun. Ia memandangnya dengan perasaan aneh seperti sedang membaca tulisan tangan sendiri di buku orang lain.
Mereka duduk di meja panjang, dan papa yang pertama membuka mulut sesudah doa makan. “Rayhan, terbang lagi kapan?”
“Minggu subuh, Pa.”
“Hmm.” Papa menyuap nasi dengan sangat tenang. “Jadi sampai Sabtu kamu masih di darat. Pas buat belajar mengantar istri ke dokter.”
Rayhan menatap piringnya. Maura menangkap tatapan sekilas dari mama ke papa, seakan ada percakapan di antara mereka yang tidak butuh kata-kata. Ia tidak menanyakannya.
Semur daging mengepul di tengah meja, bersama tahu goreng, sayur bening, dan semangkuk kecil sambal merah menyala. Maura menatap sambal itu seperti menatap kekasih lama.
Mama dengan tenang menyendok sambal itu sebesar ujung sendok dan menaruhnya di piring Maura. “Seujung ini saja, ya. Dokter bilang boleh sedikit.”
“Ma,” Rayhan menegakkan badan. “Itu pedas banget.”
“Itu cuma seujung.”
“Seujung Mama itu pernah bikin Melati menangis.”
“Melati menangis karena kalah main kartu,” sahut Melati dari seberang meja.
“Mama membela Maura,” kata mama tegas sambil menaruh nasi di piring Rayhan. “Kamu makan semur saja. Kalau mau komentar soal sambal, tunggu kamu yang hamil.”
Papa tersedak. Melati tertawa sampai menyembunyikan wajah di serbet. Maura menunduk menahan tawa, dan sejak tiba di rumah ini baru sekarang ia merasa bahunya tidak lagi terangkat.
Sebelum pulang, mama menyelinap menarik lengan Maura ke dapur sementara Rayhan berpamitan pada papa di teras. Ia mendekatkan bibir ke telinga Maura.
“Kamar kalian,” bisik mama, “Mama biarkan seperti terakhir kali kamu pergi. Nggak Mama pindahkan apa-apa. Kapan pun kamu mau lihat, pintunya nggak dikunci.”