Pintu kamar itu tidak dikunci. Mama sudah bilang begitu, dan Maura sudah mengulangi kalimat itu di kepalanya semalaman, tapi ketika ia berdiri di depannya sore ini, kenop kuningan yang dingin terasa seperti sesuatu yang bisa menggigit.
Tadi, di ruang tamu, Melati sudah menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng sambil bertanya tiga kali apakah Maura mau melihat kamar. Pertanyaan keempat dibungkam oleh tatapan mama. Maura menghabiskan dua pisang goreng sebagai alasan menunda, sampai Rayhan berdiri dan berkata, “Kapan pun kamu siap. Aku tunggu di tangga.”
Dan sekarang di sinilah ia, di lantai atas, dengan jantung berdetak lebih cepat daripada saat ia berlari di Bandung. Rayhan berdiri satu langkah di belakangnya, tangan terkatup di depan perut. Di lantai bawah terdengar bunyi panci beradu, mama sengaja membuat kesibukan agar tidak ada yang merasa diperhatikan.
“Boleh aku buka?” tanya Rayhan.
Maura menoleh. “Kamu tanya dulu?”
“Itu aturan kedua. Lagi pula ini kamarmu juga.” Rayhan mengusap tengkuk. “Tapi aku mau kamu yang menentukan kapan. Kita bisa turun lagi dan makan kue Melati. Aku nggak keberatan.”
“Buka saja.” Maura menarik napas. “Sebelum aku berubah pikiran.”
Rayhan memutar kenop dan mendorong pintunya pelan.
Yang pertama menyambut Maura adalah dinding. Hampir seluruh dinding sebelah kiri tertutup foto dirinya: Maura tertawa sambil menyiram bunga, Maura menunduk mengikat buket, Maura bersepeda dengan topi jerami miring di kepala. Sebagian foto itu diambil dari jauh, dengan sudut yang terlalu rendah untuk dibilang sengaja. Dan Maura tahu, tanpa perlu bertanya, bahwa sebagian di antaranya adalah hasil kerja Jelita.
“Ini,” katanya pelan.
“Aku bisa menurunkannya kalau kamu merasa nggak nyaman.”
“Berapa banyak yang diambil diam-diam?”
Rayhan menatap dinding itu dengan jujur. “Yang di sebelah kiri, sepuluh. Sisanya sebelum aku tahu kamu berhak menolak. Kamu mau aku menurunkan yang sepuluh itu hari ini?”
Maura mengamati foto-foto itu satu per satu. Setelah beberapa menit ia menunjuk tiga foto di sudut paling atas, yang paling kabur. “Turunkan yang itu. Sisanya... nanti. Aku masih memikirkan.”
“Baik.” Rayhan segera mengambil kursi, melepas tiga foto itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam amplop cokelat di laci tanpa banyak bicara.
Di tengah ruangan ada ranjang besar dengan seprai biru muda, rapi sekali. Dua bantal bersandar di kepala ranjang, bersisian, tanpa boneka sapi atau apa pun. Maura menatap bantal sebelah kanan lebih lama, entah kenapa. Mungkin karena lekuknya masih tersisa samar, seperti ada yang baru pergi.
“Itu bantalmu,” kata Rayhan seolah membaca pikirannya. “Aku nggak pernah memindahkannya.”
Di rak paling tinggi ada kaos putih yang terlipat rapi, bergambar pantai dan huruf-huruf tebal: I love Manado. Maura merasakan wajahnya menghangat.
“Itu kaos yang kuberikan di bandara.”
“Aku simpan sampai sekarang.”
“Kamu nggak pernah pakai?”
“Sekali,” kata Rayhan. “Dan nyaris menangis di depan cermin, jadi aku taruh lagi.”
Maura tertawa kecil lalu cepat-cepat menutup mulutnya. Di meja samping ranjang, di atas piring kaca kecil, tergeletak cincin perak polos. Ia mengambilnya tanpa bertanya, dan hanya setelah memegangnya ia sadar harus bertanya.
“Boleh?”
“Tentu.”
Cincin itu dingin dan lebih berat dari kelihatannya. Di dalamnya terukir dua huruf yang sudah memudar: M dan R. Maura teringat kotak kecil di rumah ibu, tempat ia menemukan kalung berikut cincin lain yang lebih mungil, yang ia simpan tanpa berani memakainya.
“Cincin yang di kotakku,” katanya. “Pasangannya ini.”
“Iya.”
“Kenapa kamu tanggalkan?”
“Saat kecelakaan itu terjadi, aku sedang terbang. Cincinnya tertinggal di piring ini karena aku nggak boleh memakainya di kokpit.” Rayhan menunduk. “Setelah itu aku nggak sanggup memakainya sendirian.”
Maura meletakkan cincin itu kembali ke piring. Pelan, seakan khawatir ada yang terbangun.
****
Tanpa sadar, Maura berjalan ke lemari besar di sudut kamar dan membukanya.
Kemeja-kemeja Rayhan berjejer, sebagian tergantung kusut, sebagian menggumpal di lantai lemari karena rak tak muat lagi. Kemeja putih bercampur biru dan abu-abu seperti salad yang diaduk asal. Maura mengerutkan kening.
“Ini berantakan sekali.”
“Aku tahu. Aku orangnya malas.”
“Memalukan, Mas. Seorang kapten mana pun akan menangis kalau lihat ini.”
“Aku co-pilot.”
“Kalau begitu cuma setengah menangis.”
Ia mulai menarik kemeja, menepuk, melipat. Ia tidak berpikir. Putih ke kiri, biru ke tengah, abu-abu ke kanan, yang kerahnya sudah aus diletakkan di bawah. Kancing-kancing disejajarkan, lengan dilipat ke dalam. Tangannya bergerak cepat dan sangat yakin, sementara kepalanya sibuk mengomel pada tumpukan baju.
Baru setelah beberapa menit Maura sadar ruangan itu sunyi.
Rayhan berdiri di belakangnya, tidak bergerak, wajahnya pucat dengan cara yang aneh. Matanya terpaku pada tangan Maura.
“Kenapa?” Maura meletakkan kemeja terakhir. “Aku merusak sesuatu?”
“Nggak.” Suara Rayhan serak. “Itu persis urutanmu. Putih, biru, abu-abu. Setiap kali aku pulang, kamu menata ulang begitu, dan aku selalu merusaknya dua hari kemudian.”
Maura menatap tangannya sendiri. Jari-jari yang masih memegang lengan kemeja itu mulai gemetar.
“Aku nggak ingat,” bisiknya. “Sungguh. Aku nggak ingat pernah melakukan ini.”
“Aku tahu.”
“Tapi tanganku... tanganku tahu.”
“Iya.” Rayhan akhirnya tersenyum, mata berkaca. “Tanganmu ingat, Ra. Walaupun kepalamu belum.”
Ketukan pelan terdengar di pintu. Mama berdiri di sana membawa nampan berisi dua gelas air jahe. Ia melihat lemari yang terbuka, kemeja yang tersusun menurut warna, lalu Maura yang masih memegang satu hanger. Wajahnya tidak berubah, tapi nampan di tangannya bergetar halus hingga gelas-gelas berdenting.
“Mama taruh di sini saja,” kata mama cepat, meletakkan nampan di meja, dan keluar secepat ia datang. Dari tangga terdengar bunyi hidung disedot.
“Mama menangis,” bisik Maura.
“Mama selalu menangis kalau ada yang memberi bukti. Kalau tidak, ia nonton sinetron.” Rayhan mengusap wajah. “Jangan dibawa ke hati.”
Mereka berdiri berhadapan di antara lemari dan ranjang. Maura menggenggam kemeja itu di dada. Ia ingin bertanya apakah hal-hal seperti ini akan terus datang tanpa diundang, apakah suatu hari ia akan menemukan dirinya sendiri di sudut-sudut yang tidak ia kenal. Tetapi yang ia ucapkan hanya:
“Aku belum siap tidur di sini.”
“Aku mengerti.”
“Selama kamu terbang, aku tetap di rumah ibu. Aku akan datang kalau mau, dan Mama boleh tahu aku pulang. Tapi aku belum bisa tinggal.”
“Maura.” Rayhan memanggil namanya penuh, pertama kali hari itu. “Itu hakmu. Aku tidak akan membujuk. Aku hanya minta satu hal: kalau suatu hari kamu berubah pikiran, katakan saja, jam berapa pun.”
“Jam tiga pagi?”
“Aku datang jam tiga pagi.”
Sebelum turun, Maura sempat memandang kamar itu sekali lagi dari ambang pintu. Dua bantal, foto-foto, kaos yang terlipat di rak paling tinggi. Lalu ia menutup pintunya sendiri, perlahan, tanpa menguncinya.
Menjelang magrib Rayhan mengantarnya pulang. Di dalam mobil mereka nyaris tidak bicara. Hanya sesekali Rayhan bertanya apakah AC terlalu dingin, dan Maura menjawab tidak, dan keduanya tahu bukan itu yang sebenarnya ingin dibicarakan. Di gerbang rumah ibu, bohlam teras berkedip sebelum menyala, dan ia menurunkan Maura di bawahnya, tidak ikut keluar dari mobil.
“Aku terbang subuh,” katanya dari balik jendela.
Maura sudah membuka mulut untuk bilang hati-hati. Yang keluar justru kalimat lain, cepat, seakan didorong oleh sesuatu di balik tulang rusuknya.
“Kabari kalau landing.”
Keduanya sama-sama terkejut. Rayhan menahan napas, lalu perlahan mengangguk.
“Aku kabari,” katanya. “Janji.”