Ruang tunggu klinik itu berbau antiseptik dan buah apel dari pengharum ruangan, dan Maura duduk di kursi plastik paling ujung, menekan-nekan ibu jarinya satu per satu dengan telunjuk, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak ada habisnya. Di sebelahnya Rayhan duduk dengan punggung lurus, membaca poster tentang gizi ibu hamil untuk kali ketiga.
“Kamu bisa baca yang lain,” bisik Maura. “Majalah itu ada.”
“Majalahnya soal tren perabot. Aku nggak punya perabot.”
“Kamu punya apartemen.”
“Aku punya dua kamar, satu terkunci.” Rayhan melirik poster lagi. “Ra, di sini tertulis janin umur delapan minggu sebesar buah stroberi.”
“Aku bisa baca.”
“Stroberi, Ra. Kita punya stroberi.”
Maura menahan senyum dan mengalihkan wajah ke jendela. “Mas, berhenti. Aku nanti nangis di ruang tunggu.”
“Boleh nangis.”
“Tidak boleh. Nanti perawat salah paham.”
Nama Maura dipanggil beberapa saat kemudian. Mereka berdiri hampir bersamaan, dan di ambang pintu ruang periksa Rayhan berhenti, menatap Maura dengan mata bertanya. Maura mengangguk kecil. Rayhan baru melangkah setelahnya.
Dokter Delia sudah menunggu di balik meja kayu, perempuan setengah baya berkacamata bulat dengan rambut disanggul rendah dan wajah yang tampak sedang menimbang sepuluh hal sekaligus. Ia menyalami Maura, lalu Rayhan, dan sempat menatap Rayhan agak lama.
“Pak Rayhan, kita belum pernah bicara sejak Anda bilang ‘program anak’ di ruang UGD itu. Hari ini saya yang mengatur tempat duduk. Duduk di situ, di sebelah ibunya, bukan di belakang.”
“Baik, Dokter.”
Maura berbaring di ranjang periksa. Layar kecil di samping menyala, gambar kelabu bergerak-gerak seperti air keruh. Dokter Delia menempelkan alat, menggeser pelan, dan menunjuk titik kecil berdenyut cepat di tengah layar.
“Nah. Dengar.”
Bunyi itu muncul pelan-pelan dari pengeras suara. Cepat sekali, seperti kepakan sayap burung kecil di dalam kotak kaca. Maura tidak sempat mengontrol dirinya. Air matanya meluncur ke pelipis, membasahi rambut, dan tangannya terulur ke samping, mencari. Ia tidak perlu melihat. Telapak tangan Rayhan sudah ada di sana, terbuka, menunggu, dan Maura menggenggamnya kuat-kuat.
Rayhan tidak bersuara. Ia hanya memandang layar, rahangnya bergetar, dan air mata jatuh satu-satu di punggung tangan Maura tanpa ia sadari.
“Delapan minggu lewat sedikit,” kata Dokter Delia lembut. “Detaknya bagus, ukurannya sesuai. Ibu dan bayinya sehat.”
“Sehat,” ulang Maura, seakan perlu mendengarnya sekali lagi.
“Sehat.”
Mereka membiarkan bunyi itu mengisi ruangan beberapa detik lagi. Lalu Maura menyeka wajahnya, duduk dengan bantuan Rayhan yang bertanya dulu lewat satu isyarat tangan, dan menarik napas.
“Dokter, saya mau tanya sesuatu yang agak sulit.”
“Silakan.”
“Soal hitungan minggu. Usia ini dihitung dari kapan? Dan... dan malam itu.” Maura memaksa dirinya menatap mata dokter. “Saya perlu tahu apakah itu ada hubungannya.”
Dokter Delia melepas kacamata, melipatnya, dan menaruhnya di meja. Ia tidak terburu-buru menjawab.
“Saya akan jawab sejujur ilmu saya,” katanya. “Usia kandungan dihitung dari hari pertama haid terakhir, bukan dari hari pembuahan. Jadi angka yang saya sebut itu perkiraan umum. Saya tidak akan menebak malam mana yang jadi sebabnya. Saya dokter, bukan penjaga kalender. Yang bisa saya pastikan hanya dua: ibu sehat, janin sehat. Sisanya bukan wilayah saya.”
Maura menunduk. Ia sudah menduga jawabannya, tetapi mendengarnya diucapkan keras-keras tetap membuat dadanya sesak.
Rayhan bergerak di kursinya. Maura bisa merasakan ia menarik napas.
“Boleh saya jawab bagian saya, Dokter?” katanya. Lalu, menoleh pada Maura, “Ra, boleh?”
“Silakan.”
“Aku sempat mengira malam itu,” kata Rayhan, tegas, tanpa menghindar. “Aku nggak mau berpura-pura nggak tahu. Dan kalaupun benar, yang bersalah aku, karena kamu belum tahu siapa aku. Bukan kamu. Aku tidak mau kita menghitung mundur tiap malam seperti orang menghitung utang. Itu bagianku. Kamu nggak perlu menanggungnya.”
Ruang periksa hening. Dokter Delia mengangkat satu alis kecil, seakan baru saja mendengar jawaban yang jarang ia dapat dari suami mana pun.
Maura menatap tangannya yang masih digenggam Rayhan. Ia sudah memikirkan hal ini berkali-kali, di kasur, di kamar mandi, di sepanjang jalan tol. Setiap kali, ia berakhir dengan perasaan seperti orang yang mencoba menghitung bintang.
“Aku juga memikirkannya,” akunya pelan. “Tiap hari. Tapi hari ini aku nggak mau memikirkannya. Hari ini aku mau mendengar detak itu saja.”
“Itu keputusan yang sehat,” komentar Dokter Delia. “Silakan.”
Ia membiarkan hening itu lewat sebentar, lalu mengambil bolpoin. “Sekarang soal makan. Ada yang ingin ditanyakan?”
Rayhan segera merogoh saku kemeja dan mengeluarkan selembar kertas lipat. Maura mengerang pelan. Kertas itu daftar larangan dari Bandung, kini bertambah dua baris dengan huruf yang tegak-tegak.
“Dokter, ini daftar saya. Saya mau pastikan semuanya benar.”
Dokter Delia membaca. Alisnya naik pelan, lalu turun. Ia mengambil bolpoin dan mencoret satu baris dengan satu garis lurus yang tegas. “Pedas dilarang? Tidak. Boleh. Satu sendok kecil per hari, kalau lambungnya kuat. Kalau perih, berhenti. Ini bukan bom.”
“Tapi, Dokter—”
“Pak Rayhan, daftar ini bagus untuk sembilan puluh persen. Yang satu baris ini terlalu keras.” Ia mengembalikan kertas itu. “Dan sebaiknya jangan dipajang di kulkas.”
Maura menunduk. Bahunya berguncang. Ia tertawa tanpa suara, wajah disembunyikan di kerah baju.
****
Setengah jam kemudian, setelah vitamin dan jadwal kontrol berikutnya dicatat, Maura menyinggung soal pekerjaan.
“Dokter, saya ingin bekerja lagi. Toko bunga. Setengah hari saja.”
Dokter Delia menimbang sambil menulis. “Ibu merasa kuat?”
“Saya merasa bosan.”
“Itu alasan yang jujur.” Delia mencoret sesuatu. “Boleh, setengah hari. Syaratnya: duduk bila lelah, jangan berdiri lebih dari satu jam berturut-turut, jangan mengangkat beban, dan jangan naik sepeda. Titik.”
“Tambah satu, Dokter,” sela Rayhan, “jangan terlalu dekat dengan bunga yang ada serbuk sarinya, dan jangan—”
“Pak Rayhan.”
“Ya, Dokter?”
“Syarat tambahan itu saya potong.” Dokter Delia tidak mengangkat kepala. “Yang menjaga diri adalah ibunya, bukan Anda. Anda cukup mengingatkan kalau ibunya lupa.”
Rayhan menutup mulut, mengangguk patuh, bahunya turun sedikit. Maura menggigit bibir sampai ujungnya sakit supaya tidak tertawa.
Mereka keluar bersama resep vitamin, jadwal kontrol berikutnya, dan selembar foto hitam putih sebesar telapak tangan. Di lorong Rayhan berjalan agak lambat. Ia menyimpan foto itu di saku dalam jaket, dekat dada.
“Kamu mau fotonya?” tanya Maura.
“Boleh aku simpan dulu? Nanti kamu simpan juga satu. Dokter bilang bisa dicetak dua.”
“Boleh,” kata Maura. “Tapi jangan dipasang di dinding kamarmu.”
“Kenapa?”
“Dinding itu sudah penuh.”
Rayhan tertawa kecil, malu, dan memegang saku jaketnya sekali lagi sebelum membuka pintu keluar.
Di parkiran, matahari sudah tinggi. Rayhan membukakan pintu mobil, lalu berdiri di sampingnya tanpa menyentuh apa pun, menunggu Maura duduk dan memasang sabuk.
Maura menatapnya dari balik kaca.
“Ray, kamu lucu,” katanya.
Rayhan terdiam dengan tangan masih di pintu.
Maura mengulang pelan, sengaja. “Ray.” Ia menelan ludah. “Boleh kupanggil begitu sesekali? Kalau lagi nggak kesal.”
Rayhan menunduk, dan Maura melihat sesuatu bergerak di wajahnya, antara tertawa dan menangis, lalu bertahan di antara keduanya.
“Panggil apa saja,” katanya serak, “asal kamu yang manggil.”