Dua hari setelah ia memanggil “Ray” di parkiran klinik, Maura masih saja tersenyum sendiri tiap mengingatnya. Toko bunga itu berbau tanah basah dan mawar yang baru dipotong, dan begitu Maura melangkah masuk dengan Jelita di belakangnya, ia sadar hidungnya tidak mual. Sama sekali tidak. Ia berdiri di ambang pintu, memejamkan mata, dan menghirup dalam-dalam, seolah baru keluar dari ruang pengap setelah berhari-hari.
“Kak, jangan dihirup begitu, nanti mabuk,” bisik Jelita.
“Diam, Jel. Aku lagi menikmati.”
Mbak Nadia muncul dari balik rak berisi pot-pot kecil, melambaikan sesuatu yang tersampir di tangannya. Celemek hijau tua, bertuliskan nama toko dengan huruf sambung putih yang sudah memudar, dan pada pinggangnya ada noda tinta yang Maura tidak ingat dari mana asalnya.
“Punyamu,” kata Nadia. “Mbak nggak cuci. Mbak takut baunya hilang.”
Maura menerimanya dan memasang tali di belakang punggung. Celemek itu pas, seperti baju yang diam-diam sudah menunggu.
Dokter Delia hanya mengizinkan setengah hari, dan Nadia menerjemahkannya dengan tegas: tiga jam, dengan kursi tinggi di balik meja kerja, segelas air putih yang diganti tiap setengah jam, dan dua anak magang yang diminta tidak mengajak Maura bicara terlalu banyak. Dua anak itu, laki-laki kurus dan perempuan berkuncir dua, berdiri berjajar menatap Maura dengan mata membulat, seperti sedang melihat selebritas dari kampung sendiri.
“Kak Maura,” kata si kuncir dua gugup, “aku sering lihat buket buatan Kakak di etalase. Katanya dulu Kakak yang bikin semua bunga ulang tahun di komplek ini.”
“Masa?”
“Iya! Yang paling laris itu yang ada lili putih sama daun eukaliptus.”
Maura tersenyum canggung. “Aku lupa, tapi aku coba, ya.”
Ia duduk di kursi tinggi, menarik gunting dari wadah, dan menatap tumpukan bunga di depannya. Mawar, lili, eukaliptus, baby’s breath. Tangannya terulur dan, tanpa ia sadari, mulai bekerja. Ia memotong batang miring, membuang daun bawah, menyusun yang paling tinggi di tengah, menaruh lili di sisi kanan sedikit lebih rendah. Jemarinya tahu kapan harus memutar buket seperempat putaran, kapan harus berhenti, kapan menambah satu helai daun lagi untuk keseimbangan. Ia bahkan tidak mendengar Nadia mendekat, sampai bayangannya jatuh di atas meja.
“Itu,” kata Nadia pelan. “Itu buket andalanmu, Ra. Yang paling laku. Kamu nggak pernah ngajarin siapa pun cara menyusunnya karena katamu ‘nanti rasanya hilang’.”
Maura menurunkan tangannya perlahan. Buket di atas meja itu lebih indah dari yang ia bayangkan. Lili putih menyembul anggun di antara hijau pucat eukaliptus, dan titik-titik baby’s breath membuatnya tampak seperti taburan salju.
“Aku nggak mikir,” gumam Maura.
“Nggak perlu,” kata Nadia. “Tanganmu yang mikir.”
“Terus aku harus ngapain, Mbak? Kalau tanganku lebih tahu dari aku?”
“Biarkan saja. Lama-lama kepalamu nyusul.” Nadia mengusap lengannya cepat, kikuk, lalu pura-pura sibuk menghitung stok pita. “Atau nggak nyusul juga nggak apa-apa. Buketnya tetap cantik.”
Si kuncir dua tiba-tiba mengangkat tangan seperti murid di kelas. “Kak, boleh diajarin? Yang tadi, gimana bikin lilinya miring?”
Maura hendak menolak karena kebiasaan lama, kata Nadia ia tak pernah mengajarkan siapa pun. Tetapi gadis itu menatapnya dengan mata begitu serius.
“Pegang yang ini,” katanya akhirnya, menyodorkan setangkai lili. “Jangan dari atas, dari bawah. Terus miringkan sedikit, jangan dipaksa. Bunga itu nggak suka dipaksa.”
“Oh, jadi bunga juga punya hak menolak,” celetuk si laki-laki kurus.
“Semua yang hidup punya,” sahut Maura, tanpa berpikir, dan baru kemudian merasakan kalimat itu menyentuh sesuatu dalam dirinya sendiri.
Sudah dua kali dalam seminggu, pikir Maura. Tangan yang ingat kemeja. Tangan yang ingat buket. Ia menatap jari-jarinya sendiri dengan rasa heran dan sedikit takut, tetapi yang dominan ternyata bukan takut. Ia merasa seperti penumpang yang akhirnya menemukan kursi miliknya setelah berjam-jam berdiri di lorong.
Menjelang pukul sebelas, lonceng pintu berbunyi, dan seorang kurir menyerahkan bungkusan: dua gelas teh jahe hangat dalam kantong kertas, satu dari kafe Mas Oka dan satu lagi dari entah siapa, dengan stiker kecil di tutupnya bergambar bunga matahari dan tulisan tangan Jelita yang miring. Minum pelan-pelan. Jangan lupa duduk. Aku bukan mata-mata, aku adik.
Maura menyesap teh dari gelas Mas Oka, sambil memandang toko yang ramai kecil-kecilan: pembeli yang memilih mawar, Nadia yang tertawa di dekat kasir, anak magang yang berusaha menghitung kembalian sambil menahan napas. Ia merasa utuh. Hanya sesaat. Tetapi sesaat itu cukup untuk ia simpan.
****
Pukul sebelas lewat lima belas, ia mendengar lonceng pintu lagi dan tanpa menoleh sudah tahu siapa yang datang, karena Jelita, yang sedang menyapu di dekat rak, tiba-tiba berubah menjadi patung.
Rayhan berdiri di depan etalase dengan kemeja santai dan celana panjang, tanpa seragam dan tanpa tas. Ia menyapa Nadia dengan anggukan, melirik Maura sekilas, lalu berjalan ke deretan mawar merah dan memilih satu tangkai dengan cermat, memutar-mutarnya di bawah lampu seperti pembeli yang sangat memahami pekerjaannya.
Maura menyandarkan dagu ke tangan. “Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya mau beli satu tangkai.” Rayhan menaruh mawar itu di meja kasir tempat Maura duduk. “Yang merah.”
“Untuk siapa?”
“Untuk perempuan yang kerja di toko ini.”
Maura menahan senyum. “Satu tangkai harganya lima belas ribu.”
“Saya punya uang pas.” Rayhan merogoh dompet dan mengeluarkan lima belas ribu rupiah dalam bentuk satu lembar sepuluh ribu dan lima lembar seribu, lalu menyusunnya di meja satu per satu dengan sangat serius. “Saya khawatir tidak ada kembalian.”
“Pak, ini lelucon.”
“Saya tidak pernah bercanda soal uang pas.”
Nadia, yang sedang pura-pura menata pot, sudah terguncang. Jelita menutup mulut dengan gagang sapu. Dua anak magang saling berpandangan, tidak mengerti, tetapi ikut tertawa.
Maura mengambil mawar itu, membungkusnya dengan kertas cokelat dan pita satin tipis. Sebelum menyerahkannya, ia menyelipkan kartu kecil di antara kelopak dan batang, tulisan tangannya sendiri, rapi: Terima kasih sudah mau mulai dari awal lagi.
Rayhan menerima mawar itu dengan dua tangan. Ia membaca kartunya, dan wajahnya berubah, lalu ia menunduk lama.
“Ini lebih mahal dari lima belas ribu,” katanya pelan.
“Biar saja. Aku diskon untuk pelanggan pertama.”
“Bukan pelanggan pertama,” kata Rayhan. “Aku sudah pernah beli satu tangkai. Kamu tahu itu.”
“Aku tahu. Waktu itu kamu pura-pura nggak kenal dan aku pura-pura nggak curiga.” Maura mengangkat bahu. “Sekarang kita sama-sama tahu. Jadi aku nggak perlu pura-pura apa-apa.”
“Itu lebih baik?”
“Lebih ringan.”
Rayhan tertawa, serak. Ia menyimpan mawar itu dengan hati-hati, menggenggam pita seperti menggenggam sesuatu yang bisa terbang. Lalu ia mendekat sedikit ke meja kasir, merendahkan suara.
“Ra, Mama menelepon tadi pagi. Beliau minta kamu menginap di rumah akhir pekan ini. Rumah kita... maksudku, rumah Mama dan Papa. Mama bilang pintu kamar nggak dikunci, kasurnya sudah dijemur, Melati sudah janji nggak berisik.” Ia menarik napas. “Kamu boleh bilang tidak. Sungguh. Mama sudah janji nggak akan merajuk.”
Maura memandang wajah Rayhan, kartu kecil di pitanya, dan celemek hijau di dadanya sendiri yang berbau tanah dan bunga. Ia memikirkan kamar dengan dinding foto, dua bantal, lemari yang kemejanya sudah tersusun menurut warna. Ia memikirkan tangan yang ingat dan kepala yang belum.
“Aku pikir-pikir sampai sore,” katanya.