Jawabannya sudah ia kirim Jumat sore, lewat pesan satu kata yang diketik, dihapus, lalu diketik lagi sampai tiga kali: Ya. Balasan Rayhan hanya satu kata juga, Siap, sesudah tanda mengetik yang muncul dan lenyap dua kali.
Karena itu, Sabtu siang, pagar rumah mama sudah terbuka lebar sebelum taksi daring itu berhenti sepenuhnya. Maura turun sambil mengempit boneka Sapi di bawah lengan kiri dan menyeret koper kecil dengan tangan kanan, dan belum sempat ia menutup pintu mobil, sesosok berjilbab abu-abu menyerbu dari teras.
“Kak Maura! Datang beneran!”
Melati memeluknya erat-erat, lalu mundur setengah langkah karena menyadari perut Maura. Ia menatap perut itu seperti menatap kue ulang tahun yang belum boleh dipotong. “Maaf. Aku peluk pelan-pelan lagi, ya.”
“Peluk saja, Mel. Dia nggak kaca.”
“Dia?”
“Kata Mas Rayhan, kita belum tahu jenis kelaminnya. Aku cuma lagi kepingin bilang ‘dia’.”
Jelita turun dari kursi belakang dengan tas ransel dan kantong plastik berisi keripik. Melati menyambutnya dengan tos tanpa suara, seperti dua atlet yang sudah hafal giliran. Dari ambang pintu mama berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Ia memakai daster batik yang pasti dipilih dengan teliti, dan Maura bisa melihat ia sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berlari.
“Ma-ma,” kata Maura.
“Iya, Nak.”
“Aku bawa Sapi.”
“Lihat, Mama lihat.” Suara mama sedikit pecah. “Sapinya boleh tidur di kamar, kok. Nggak usah izin.”
Rayhan muncul dari balik pintu, bersandar di kusen dengan kaos polos dan wajah yang jelas-jelas sudah menunggu di situ sejak tadi. Ia tidak melangkah mendekat. Ia hanya mengambil koper dari tangan Maura dengan gerakan lambat, seolah memberi waktu bagi Maura untuk berkata tidak.
“Jawabanmu datang jam lima kemarin,” katanya. “Satu kata. Aku baca lima kali.”
“Kalau kutulis panjang, kamu bakal baca lima belas kali.”
Jawaban itu memang hanya satu kata: Ya. Maura menulisnya Jumat sore, di bangku toko, sesudah menatap celemeknya yang tergantung di paku dan menyadari bahwa ia sudah menghabiskan tiga jam tanpa sekali pun mencemaskan dirinya sendiri. Keputusan sebesar itu ternyata hanya butuh satu kata dan satu tarikan napas.
Mama menggandeng lengan Maura masuk. “Makan dulu. Ada semur. Mama buat tidak pedas, tapi sambalnya Mama taruh di piring kecil. Seujung sendok.”
“Ma, aku nggak sebegitu rakus.”
“Kata Rayhan kamu kemarin minta sambal tiga sendok di warung.”
Maura menoleh tajam. Rayhan langsung memandangi langit-langit.
Papa sudah duduk di kepala meja makan dengan koran terlipat di sisi piring. Ia mengangkat wajah ketika Maura masuk, mengangguk satu kali, dan berkata, “Duduk, Nak.” Maura mengangguk lalu menyapa, “Pa,” dan kata sependek itu terdengar masih canggung di lidahnya sendiri. Papa tidak mengomentarinya. Ia hanya menggeser piring sambal kecil itu lebih dekat ke sisi Maura, seujung sendok, persis seperti yang dijanjikan.
“Terima kasih, Pa.”
“Habiskan nasinya dulu,” kata papa. “Sambal itu hadiah, bukan lauk.”
Melati menahan tawa sampai sendoknya berdenting. Di bawah meja Jelita menendang kaki Maura pelan, kode yang artinya: rumah ini menyenangkan, kan? Maura membalas tendangan itu. Semur mama manis dan lembut, dagingnya jatuh begitu disentuh sendok, dan untuk sesaat Maura lupa bahwa ia datang sebagai tamu yang sedang diuji.
****
Menjelang pukul sebelas, rumah itu akhirnya sepi. Jelita dan Melati menggelar kasur lipat di kamar Melati dan terdengar tertawa tertahan sampai papa berdeham dari bawah. Maura berdiri di tengah kamar di lantai atas dengan Sapi di tangan.
Kamar itu masih seperti yang ia lihat beberapa hari lalu, hanya lebih hangat: ranjang besar bersprei biru muda, dua bantal, lemari yang pintunya dihias gantungan kunci pesawat kecil. Di dinding, foto-foto yang tersisa menggantung di antara bekas lubang paku tempat tiga foto kabur dulu dipasang. Maura menghindari menatapnya terlalu lama. Ia belum siap menjadi pengunjung di pameran tentang dirinya sendiri.
Satu foto di dekat jendela ia lihat juga akhirnya. Maura sedang tertawa dengan mulut penuh es krim di tepi pantai, rambutnya tertiup angin ke segala arah, dan di belakangnya, buram, ada sosok laki-laki berkaus abu-abu yang tampak sedang berusaha memotret tetapi lebih sibuk memandang. Maura tersenyum sendiri sebelum sempat mencegah. Perempuan di foto itu kelihatan seperti orang yang tidak pernah takut klakson.
Rayhan menaruh koper di dekat lemari, lalu berdiri dengan jarak yang cukup lebar.
“Ra, aku tidur di sofa bawah. Atau di kamar Melati sama Jelita, kalau mereka mau tukar. Nggak masalah.”
“Mas.”
“Atau di lantai, juga bisa. Sofanya empuk, aku sudah coba.”
“Mas.” Maura mengangkat tangan. Ia menarik napas dan merasa seperti anak kecil yang sedang berlatih pidato. “Tempo ini aku yang atur, kan? Kita sudah sepakat begitu.”
“Iya.”
“Aku mau tidur saja. Cuma tidur. Ranjang ini besar, kita tinggal tahu batasnya.” Ia melirik sisi kiri ranjang. “Kamu di situ. Aku di sini. Kalau aku bilang tidak, ya tidak.”
Rayhan diam sebentar. Dari ekspresinya, Maura bisa menebak ia sedang menyusun beberapa kalimat panjang yang akhirnya ia buang semua.
“Oke,” katanya. “Tidur saja.”
Mereka berbaring dengan jarak selebar satu bantal guling yang Maura letakkan di tengah tanpa komentar. Maura menaruh Sapi di atas bantalnya sendiri, miring, dengan wajah menghadap ke langit-langit. Rayhan melihatnya. Maura melihat Rayhan melihatnya. Rayhan menarik napas untuk bicara, lalu memejamkan mata dan berkata ke dalam gelap, “Selamat malam, Ra.”
“Selamat malam, Mas.”
Lampu padam. Maura mendengar napas Rayhan yang sengaja diatur pelan, napas orang yang berusaha tidak mengganggu, dan entah kenapa itu justru membuatnya terjaga lebih lama. Di luar, jangkrik bersahutan. Bantal Sapi berbau kapas dan sedikit debu kamar lamanya.
Ia tidur juga akhirnya.
****
Maura terbangun dengan mulut terbuka tanpa suara.
Dalam mimpinya ada bau jeruk, ada jalan yang melaju terlalu cepat, dan sebuah bunyi panjang yang tidak berhenti-henti. Ia duduk di ranjang dengan tangan mencengkeram selimut, jantungnya memukul rusuk. Kamar itu gelap. Sapi tergeletak di lantai, entah bagaimana jatuh.
Di sampingnya, Rayhan sudah duduk. Ia tidak menyalakan lampu besar, hanya lampu tidur kecil di meja, dan tangannya tetap di atas selimut, tidak mendekat.
“Ra. Kamu di kamar. Di rumah Mama. Itu mimpi.” Suaranya serak dan sangat rendah. “Boleh aku pegang tanganmu?”
Maura mengangguk. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Rayhan membiarkan jarinya diam di bawah jari Maura sampai genggaman itu menutup sendiri, baru ia balas menggenggam.
“Napas dulu,” katanya. “Empat hitungan. Aku temani.”
Mereka menghitung bersama, pelan, sampai dada Maura berhenti naik-turun seperti ombak kecil. Rayhan memungut Sapi dari lantai dan menyodorkannya tanpa bicara. Maura menerimanya, memeluknya, dan baru sadar betapa konyolnya ia: perempuan dua puluh empat tahun, hamil, memeluk boneka sapi di tengah malam. Anehnya, ia tidak malu.
“Maaf, membangunkanmu.”
“Aku nggak tidur. Dari tadi cuma pura-pura.”
“Kenapa?”
“Soalnya kalau aku tidur nyenyak, nanti aku nggak dengar kalau kamu butuh.”
Maura menunduk. Matanya, yang sudah terbiasa dengan gelap, menangkap bayangan rak di dinding seberang: deretan buku bersampul tua, beberapa cokelat, satu biru, satu hitam, berjajar rapat seperti barisan prajurit kecil. Ia pernah melihat rak itu sepintas pada kunjungan pertama. Malam ini punggung buku-buku itu tampak lebih jelas.
“Itu apa?”
Rayhan menoleh, dan ia tidak langsung menjawab. “Buku harianku. Enam.”
“Isinya?”
“Ceritaku. Tentang kamu, banyak. Tentang aku, lebih banyak, dan sebagian memalukan.” Ia berhenti sebentar. “Kalau kamu mau, kapan saja. Bukan bukti, hanya cerita. Kamu nggak harus membacanya buat membuktikan apa pun padaku.”
Maura menatap rak itu lama. Jawabannya tidak datang malam ini, dan Rayhan rupanya sudah tahu, karena ia tidak menunggu.
“Tidurlah lagi,” kata Rayhan. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.”
Maura merebahkan diri kembali dengan Sapi di pelukan. Rayhan melepas genggamannya pelan-pelan, jari demi jari, dan menaruh tangannya di sisi guling. Ketika Maura menoleh sekali lagi, mata Rayhan masih terbuka, menjaga.
Ketika Maura nyaris terlelap, ia mendengar bisikan itu, pelan sekali, nyaris menjadi bagian dari mimpi.
“Ra, besok pagi ada kejutan di garasi. Jangan marah dulu, ya. Janji?”
“Kejutan apa?”
“Besok. Janji dulu.”
“Aku nggak janji,” gumam Maura, setengah tidur.
Rayhan terkekeh tanpa suara. “Itu jawaban yang jujur.”