Sarapan di rumah mama riuh, karena tiap orang bicara pada saat yang sama. Papa membaca koran dengan sendok tergantung di udara. Mama menyendokkan nasi dan telur dadar ke piring Maura sebelum Maura sempat bilang cukup. Melati menghabiskan roti selainya sambil mengetik sesuatu di ponsel, dan Jelita, yang tidur nyenyak sampai nyaris siang, baru muncul dengan rambut seperti sarang burung dan langsung mengambil kerupuk.
Maura menaruh seujung sendok sambal di pinggir piringnya, menatapnya sebentar, lalu memakannya dengan khidmat.
“Enak?” bisik Rayhan di sebelahnya.
“Surga.”
“Itu seujung sendok.”
“Surga seujung sendok.”
Rayhan mengangkat dua tangan tanda menyerah, tetapi sudut bibirnya naik. Sejak semalam ia berjalan sambil sesekali menepuk saku jaketnya, seakan memastikan sesuatu masih ada di sana. Maura menyadarinya sejak ia membuka mata dan mendapati Rayhan sudah rapi, duduk di tepi ranjang, mengatakan, “Aku nggak pura-pura tidur lagi, sumpah. Aku bangun betulan.”
Selesai makan, Rayhan berdiri dan berdeham. “Ra, kejutannya. Di garasi. Ayo.”
“Jangan marah dulu,” sambung Jelita dari balik kerupuknya, dan Maura mendengar nada puas di suaranya. Satu-satunya cara Jelita bisa tahu isi kejutan itu adalah Rayhan sudah bercerita kepadanya, dan itu berarti kejutannya cukup besar untuk dibagi.
Mereka berjalan ke garasi bersama, rombongan kecil: Maura di depan, Rayhan di sisinya, lalu Melati dan Jelita menempel di belakang, dan papa yang terakhir dengan koran masih di tangan, pura-pura tidak ikut.
Di sebelah mobil papa, bersandar rapi pada dinding, berdiri sebuah kursi roda. Baru, mengilap, dengan bantalan biru muda dan sepasang pegangan karet di belakang. Pita merah kecil sudah diikat di salah satu sandarannya.
Maura berhenti. Ia melihat kursi roda itu, melihat pita, lalu melihat Rayhan, yang sedang menatap lantai dengan bibir terkatup rapat.
“Mas.”
“Ra, aku bisa jelaskan.”
“Itu kursi roda.”
“Iya. Untuk, eh, kalau kamu capek. Di bandara, di mal, atau waktu kontrol. Dokter Delia bilang jangan berdiri lama dan aku, aku pesan waktu di Bandung, waktu kamu bilang—”
“Waktu aku bilang larangan kamu banyak banget.”
“Waktu itu, ya.”
Maura membuka mulut untuk bicara dengan nada yang serius. Yang keluar dari mulutnya adalah tawa. Bukan tawa kecil. Tawa yang membuatnya menunduk memegang perut, lalu menegakkan badan, lalu menunduk lagi. Melati ikut terbahak. Jelita menepuk-nepuk bahu Rayhan. Papa, tanpa berkata apa-apa, melangkah maju, meletakkan korannya di sandaran kursi roda itu, dan menggesernya sedikit sampai koran itu berdiri tegak.
“Pas,” kata papa. “Penahan koran.”
“Pa!” protes Rayhan.
“Dia tidak keberatan.”
Maura tertawa sampai ujung matanya basah. Ketika akhirnya ia bisa bernapas lagi, ia menyeka pipi dan melihat Rayhan benar-benar terluka sedikit, bukan oleh tawanya, melainkan oleh sesuatu di baliknya.
“Mas, ayo duduk.”
Mereka duduk di undakan teras samping, di bawah pohon belimbing wuluh yang daunnya menetes embun. Maura menaruh tangan di pangkuan.
“Kenapa kursi roda?”
Rayhan diam cukup lama. “Waktu kamu pingsan sebelum ke UGD itu,” katanya akhirnya, “kakiku gemetar. Bukan karena apa-apa. Karena aku sadar, kalau kamu jatuh dan aku nggak ada di dekatmu, aku nggak bisa apa-apa. Kursi roda itu... aku ingin ada sesuatu yang bisa kupakai untuk menjagamu, selain tanganku sendiri.”
“Kamu takut.”
“Takut sekali.” Ia menarik napas. “Dan aku tahu itu bukan alasan buat memerintah. Aku sudah janji.”
Maura memandang taman kecil di depan mereka. Sebuah burung gereja melompat di antara pot, mematuk sesuatu, melompat lagi. “Aku mau ngomong sesuatu, dan aku mau kamu dengar semuanya dulu.”
“Dengar.”
“Boleh kamu mengingatkan jam makanku. Boleh kamu bertanya apakah aku capek, kapan pun. Itu aku mau.” Maura menekan satu jarinya di lutut. “Tapi kalau aku bilang tidak, sama kursi itu, sama jalan kaki, sama apa pun, kamu berhenti. Nggak pakai penjelasan. Aku nggak perlu punya alasan yang bagus. Itu hakku, bukan jatah yang bisa habis.”
“Bukan kuota,” ulang Rayhan.
“Bukan kuota.”
Rayhan mengusap wajahnya dengan dua tangan. “Aku bakal salah lagi, Ra. Mungkin besok.”
“Pasti.” Maura tersenyum. “Tapi kalau kamu salah dan kamu berhenti waktu kuingatkan, itu masih jauh lebih baik dari Rayhan di rumah sakit.”
“Kursi rodanya?”
“Simpan di garasi. Siapa tahu nanti aku betul-betul perlu.” Ia menahan tawa lagi. “Atau Papa perlu penahan koran cadangan.”
Sebelum mereka masuk, Jelita merebut kesempatan. “Kak, coba duduk sekali. Cuma buat tahu rasanya.”
Maura menimbang, melirik Rayhan, yang sengaja memandang pohon belimbing dan tidak berkata apa-apa. Itu jawaban yang tepat. Maura duduk. Jelita mendorongnya sekali keliling halaman dengan kecepatan yang jelas-jelas ia kira kecepatan balap, sementara Melati bertepuk tangan dan Maura berpegangan pada pegangan karet sambil berseru, “Jel, pelan! Aku bawa penumpang!”
Rayhan menyaksikan dari undakan, tangan di mulut, bahunya berguncang.
****
Lewat tengah hari dapur mama berbau bawang goreng dan kunyit. Maura duduk di kursi tinggi dekat meja kerja, mengupas kentang, tugas yang mama berikan setelah mengamati bahwa Maura tidak boleh berdiri terlalu lama dan juga tidak akan tahan kalau hanya dibiarkan duduk.
“Kak Maura,” kata Melati, bersandar di pintu lemari es, “tadi pagi Mas Ray latihan pidato di depan cermin kamar mandi. Aku dengar. Panjang banget.”
“Latihan apa?”
“Katanya, ‘Ra, aku tahu seharusnya aku bertanya dulu.’ Terus tiga kali ulang. Terus dia nyebut kata ‘daftar larangan’ sekali, kayak lagi sidang.”
“Melati,” tegur mama tanpa menoleh dari wajan. “Sudah. Itu rahasia dia.”
“Bukan rahasia, itu bocor.”
Jelita, yang sedang mengiris tomat dengan gerakan sangat hati-hati supaya tidak disuruh mengerjakan hal lain, terkikik. “Mas Ray tuh kalau gugup, bahasanya jadi baku banget, Kak. Dulu waktu ngomong sama Bapak juga begitu.”
“Dulu kapan?” tanya Maura.
Jelita membeku. Pisaunya berhenti. Mama berhenti mengaduk. Dapur yang tadi gaduh mendadak hanya berisi bunyi minyak mendesis.
Maura meletakkan kentang. “Jel, nggak apa-apa. Aku nggak akan marah kalau ada ‘dulu’. Hanya... jangan pura-pura ‘dulu’ itu nggak ada.”
“Maaf, Kak.”
“Lanjut saja. Beritanya soal apa?”
Dapur kembali bergerak. Jelita bercerita tentang Rayhan yang bicara pada bapak seperti membacakan berita pukul tujuh, dengan nada hati-hati, dan Maura mendengarkan sambil mengupas kentang seolah-olah itu cerita yang sangat penting, dan memang begitu, karena itu cerita tentang seseorang yang peduli padanya dengan caranya sendiri.
Papa muncul di ambang dapur ketika kentang terakhir terkupas. Ia tidak masuk. Ia berdiri di sana, memegang gelas teh, dan menunggu sampai mama dan para gadis sibuk lagi.
“Maura.”
“Ya, Pa?”
“Satu nasihat. Cuma satu.” Papa menyesap tehnya. “Rayhan itu tenang di langit dan kacau di darat. Di atas sana dia bisa menimbang cuaca, bahan bakar, dan perintah menara tanpa gemetar. Di sini, kalau urusannya kamu, dia kehilangan semua kecakapannya.”
Maura memandangnya.
“Jadi jangan heran,” lanjut papa. “Dan jangan terlalu cepat kasihan. Sabar saja. Dia belajar.”
Kata-kata itu meluncur masuk ke dada Maura dengan tenang, seperti kunci yang cocok pada lubang yang sudah lama ia cari. Ia hanya sempat berkata, “Terima kasih, Pa,” sebelum papa berbalik pergi, secepat dan sehening ia datang.
****
Sore itu, ketika langit mulai kuning dan tinggal mereka berdua di teras belakang dengan dua gelas air jahe yang sudah suam-suam kuku, Maura memutar gelasnya di tangan.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku mau ambil barang-barangku di apartemen. Baju, buku, kalau ada. Aku nggak mau terus-terusan pinjam Melati.”
Rayhan menoleh cepat, lalu menahan wajahnya supaya tidak terlalu cerah. “Kapan? Aku antar.”
“Kamu ada jadwal?”
Ia menghitung di kepala, jelas-jelas tanpa perlu menghitung. “Rabu aku libur.”