Kunci apartemen itu tergantung di ujung jari Rayhan, berayun pelan, dan Rayhan tidak memasukkannya ke lubang. Ia berdiri di depan pintu lantai tujuh dengan tangan terulur setengah, seperti sedang menawarkan sesuatu yang bukan miliknya.
“Kamu mau buka sendiri?” tanyanya.
Maura menatap kunci itu. “Ini rumahku juga, kan?”
“Rumah kita.”
“Berarti aku boleh buka.” Maura mengambil kunci dari telapaknya, menyentuh logamnya yang dingin, dan memasukkannya. Kunci berputar tanpa tersangkut. Bahkan itu terasa terlalu mudah, seolah lubang kunci itu juga mengenalnya.
Hari Rabu, seperti janji Rayhan. Tiga hari sesudah kursi roda di garasi, tiga hari penuh Maura memikirkan apa yang akan ia lihat, dan ternyata isi kepalanya jauh lebih seram daripada isi ruangan. Apartemen itu terang. Tirai krem terbuka setengah, sofa abu-abu dengan selimut terlipat di sandarannya, dan di meja kecil di sudut ada pot kaktus yang agak miring. Bau debu tipis, bau kopi lama. Maura pernah di sini. Dua kali, dalam keadaan yang tidak ingin ia ingat dengan jelas.
“Terakhir kali aku di sini,” katanya, “aku sedang marah dan ketakutan.”
“Aku tahu.”
“Sekarang aku cuma gugup.”
“Itu kemajuan?”
“Sedikit.”
Rayhan menutup pintu perlahan dan menunggu di dekat rak sepatu, tangan di saku, sementara Maura berjalan satu langkah demi satu langkah ke tengah ruangan. Ada dua pintu di lorong pendek di sisi kanan. Pintu pertama terbuka, memperlihatkan ranjang besar. Pintu kedua tertutup rapat, dengan gagang yang sudah sedikit kusam karena jarang disentuh.
“Itu?” tanya Maura.
“Itu.” Rayhan mendekat, tetap menjaga jarak. “Kamar kedua. Kita kunci sebelum kecelakaan. Janjinya, nggak ada yang buka sampai anak kita lahir. Kita bilang begitu karena... kamu mau semuanya pas, katamu. Cat, lemari, tempat tidur kecil, semuanya dari nol, satu hari saja, biar nggak ada yang setengah-setengah.”
“Aku bilang begitu?”
“Kamu bilang, ‘Aku nggak mau kasih lihat setengah-setengah pada dia.’” Rayhan tersenyum samar. “Dan aku bilang oke.”
Maura menyentuh gagang pintu itu. Logamnya dingin dan sedikit bergetar, entah memang bergetar atau tangannya yang gemetar. Ia memikirkan apa yang ada di balik sana: cat yang dipilih perempuan yang tidak ia ingat, dengan harapan yang sudah ia tinggalkan di dalam sebuah ruangan terkunci.
“Kita jaga janji itu,” katanya.
“Kamu yakin?”
“Yakin.” Maura menurunkan tangannya. “Aku nggak mau buka dengan cara begini. Kalau suatu hari kita buka, kita buka bersama. Berdua. Bertiga.”
Rayhan berdeham, lama, seperti sedang membersihkan sesuatu yang tidak ada di tenggorokannya.
****
Mereka berpindah ke ruang tengah, dan di meja dekat jendela, di antara pot kaktus dan setumpuk majalah penerbangan, ada bingkai foto yang membuat Maura berhenti melangkah.
Ia pernah memegang bingkai itu, dulu, dan mengira perempuan di dalamnya adalah Melati. Ternyata bukan. Itu foto dirinya, dari belakang, berdiri di ujung sebuah dermaga kayu dengan rambut dikuncir miring, dan sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Lengan berbalut kemeja putih dengan strip emas di bahunya.
Wajah Maura tidak kelihatan, tetapi bahunya terlihat sangat santai. Bahu perempuan yang sedang dipeluk dan tahu itu tidak akan dilepas.
“Siapa yang foto?”
“Kapten Abid. Dia bilang kita terlalu lama berdiri di situ dan dia kasihan sama kakinya sendiri.”
Maura mengangkat bingkai itu, menimangnya, lalu tertawa. Tawa yang pahit dan pendek. “Mas, aku cemburu.”
“Pada siapa?”
“Pada diriku sendiri.” Ia meletakkan foto itu kembali, lurus. “Dia kelihatan bahagia banget. Dan aku nggak tahu apa yang dia pikirkan. Aku bahkan nggak tahu dia pakai parfum apa.”
“Lavender. Tapi kamu sering lupa pakai.”
“Lavender.”
“Iya.”
Maura memejamkan mata sebentar, menarik napas, seperti mencoba mencium wangi itu dari udara. Tidak ada. Ia membuka mata dan tersenyum lemah. “Oke. Satu fakta. Aku suka lavender kadang-kadang.”
“Satu fakta bagus.”
“Jangan jadikan itu ujian, Mas.”
“Bukan ujian,” kata Rayhan cepat. “Itu hadiah.”
Ia sengaja tidak menambah apa-apa lagi, dan Maura, yang mengamati wajahnya, diam-diam menghargai itu lebih dari seribu penjelasan.
****
Lemari di kamar utama terbagi dua dengan sangat adil. Sisi kiri penuh kemeja putih dan seragam yang digantung rapi, sisi kanan berisi gaun-gaun, kardigan, dan sebuah syal rajut yang jelas dibuat orang yang baru belajar merajut. Maura menarik syal itu keluar dan memutar-mutarnya. Salah satu ujungnya lebih lebar dari yang lain.
“Itu hasil karyaku?”
“Itu hasil tiga minggu karyamu. Kamu bilang untuk aku, tapi kamu memakainya duluan.”
“Karena jelek?”
“Karena hangat.” Rayhan bersandar di kusen pintu, sama sekali tidak berani melangkah masuk ke kamar sebelum ditanya. “Aku disuruh jujur waktu itu. Kujawab, bagus. Kamu tahu aku bohong dan kamu pakai juga.”
Maura menahan senyum dan memasukkan syal itu ke tas yang terbuka di lantai. Ia membuka laci di bawahnya dan menemukan tumpukan kaos yang terlipat tegak seperti buku di rak, cara melipat yang jelas bukan caranya sekarang. Tangannya tahu, pikir Maura, tetapi ia sendiri tidak.
“Mas, masuklah. Kamu berdiri di situ seperti penjaga museum.”
“Boleh?”
“Ini kamarmu.”
“Ini kamar kita,” ulang Rayhan, dan akhirnya melangkah. Ia duduk di tepi ranjang yang rapi, di sisi kiri, dan tidak menyentuh apa-apa, hanya memandangi lantai dengan wajah orang yang baru pulang setelah terbang berjam-jam.
Sesudah itu mereka mengisi dua tas besar dengan baju, sebuah buku resep, dan sebotol minyak kayu putih yang ternyata tersembunyi di laci dapur. Maura menenteng botol itu seperti harta karun. Ketika ia melangkah ke dapur untuk mengambil gelas air, matanya jatuh pada pintu lemari es.
Magnet pesawat kecil, merah dan putih, menjepit selembar kertas kuning bertuliskan tangan miring dan cepat. Maura mengenali hurufnya sebelum membaca isinya. Huruf-huruf itu miring ke kanan seperti orang yang berlari. Seperti tulisannya sendiri.
Hello, Mas Co-pilot! Nasi goreng di kotak biru. Kabari kalau landing. -M
Maura membaca sekali. Dua kali. Tangannya terangkat tanpa sadar dan berhenti satu senti dari kertas itu. Di belakangnya, Rayhan tidak bergerak. Maura menoleh dan mendapati ia berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang berkedip terlalu cepat.
“Aku yang tulis,” kata Maura.
“Iya.”
“Sudah lama?”
“Aku nggak mau mencabutnya. Kertasnya menguning, jadi aku laminasi. Yang itu tetap kertas aslinya, tulisan kamu.” Rayhan menelan ludah. “Kamu menulisnya waktu aku mau terbang. Aku mau cerita soal asal-usul kalimatnya, tapi...”
“Nanti.”
“Iya.”
Asing, pikir Maura. Dan akrab. Dua hal itu datang sekaligus, seperti dua orang yang bertamu bersamaan ke satu rumah dan harus berbagi satu kursi.
Ia mengalihkan pandang karena tidak ingin menangis di dapur, dan melihat laci meja kecil di samping lemari es yang terbuka sedikit. Di dalamnya sebuah kantong plastik bening, dan di dalam plastik itu ponsel dengan layar retak melintang seperti sarang laba-laba.
Rayhan mengikuti arah matanya. Ia tidak mengambil kantong itu, hanya menunjuk dengan dagu.
“Itu ponselmu yang lama. Yang waktu kecelakaan.”
“Masih bisa nyala?”
“Mati total. Tapi kata tukang servis, datanya aman.” Rayhan menatap kantong plastik itu, bukan Maura. “Isinya semua tentang kamu. Pesan-pesanmu, foto-fotomu, apa saja yang kamu simpan. Aku belum pernah menyalakannya tanpa kamu.”
Maura memandang plastik itu lama. Rasa ingin tahunya menarik seperti arus bawah, tetapi ada hal lain yang menahan: gambaran dirinya yang duduk sendirian di sofa, membaca pesan-pesan orang lain yang ternyata ditulis oleh tangannya sendiri.
“Kalau kubaca sekarang,” katanya perlahan, “aku cuma pembaca Maura yang lain. Pembaca yang kebetulan punya namanya.”
“Aku ngerti.”
“Nanti, ya?”
“Nanti,” kata Rayhan. Ia menutup laci pelan, seperti menidurkan sesuatu. “Kapan saja kamu siap.”