“Garamnya jangan dari awal, Nak. Masukkan sesudah santannya mendidih, nanti pecah.”
Mama berdiri di sisi kompor dengan sendok kayu terangkat seperti tongkat dirigen, dan Maura, di sisi lain, memegang panci kecil berisi bumbu semur yang sudah mengeluarkan aroma pala dan cengkeh. Dapur itu sore-sore selalu paling hangat, apalagi hari Minggu, ketika semua orang di rumah sengaja menghindarinya supaya tidak dijadikan asisten. Rayhan masih terbang dan baru pulang malam nanti. Melati sedang mengerjakan sesuatu di kamar. Jelita sudah pulang ke rumah ibu sejak pagi sambil membawa sekotak semur titipan mama.
Maura mencicipi kuah dengan ujung sendok. “Kurang asin, Ma.”
“Ambil garam, di toples sana.”
Deretan toples kaca tanpa label berbaris di rak atas, semuanya bening, semuanya berisi serbuk putih. Maura menjulurkan tangan dan mengambil toples kedua dari kanan tanpa menoleh. Ia mengambil sejumput, menaburkannya, mengaduk, baru menyadari dapur sudah sunyi.
Mama berdiri kaku. Sendok kayu di tangannya berhenti di udara.
“Ma?”
“Kamu tadi ambil dari mana?”
“Dari toples itu.” Maura menunjuk. “Kedua dari kanan. Ma, kenapa? Salah? Itu bukan garam?”
“Itu garam.” Suara mama pelan sekali. “Toples-toples itu tidak ada label. Kalau tamu datang, mereka selalu salah ambil gula. Dan kamu... kamu ambil yang betul tanpa melihat.”
Maura menatap toples itu, lalu tangannya sendiri. Jantungnya mulai berdebar, bukan karena takut, tetapi karena sensasi ganjil seperti ketika mengunyah makanan yang rasanya tidak ia kenal namun sudah ia kenal. “Aku nggak tahu kenapa aku bisa tahu, Ma. Aku nggak mikir.”
“Dulu kamu yang menyusun urutannya.” Mama meletakkan sendok kayu dan mengusap tangannya di celemek. “Garam, gula, tepung, gula merah, kopi. Kamu bilang, orang yang memasak itu tangannya harus tahu, bukan matanya. Kamu pasang sendiri toples-toples itu waktu pertama kali Mama biarkan kamu masak di sini.”
“Maaf, Ma.”
“Jangan minta maaf.”
“Tapi kelihatannya Mama sedih.”
“Mama senang,” kata mama, dan matanya menunjukkan kebalikannya. Ia menarik sebuah kursi dan duduk, lebih berat dari biasanya. “Nak, Mama mau cerita sesuatu. Bukan buat menekan kamu. Sungguh. Kalau kamu nggak mau dengar, bilang saja, kita lanjut masak.”
Maura mematikan api kecil, menarik kursi sendiri, dan duduk di depan mama. “Cerita saja.”
“Waktu kamu di rumah sakit, Rayhan baru mendarat. Dia datang berseragam, tas pun belum diletakkan. Dia tidur di lantai lorong, tepat di depan pintu kamarmu, pakai jaket seragam sebagai bantal. Mama bawakan nasi, dia bilang sebentar lagi. Mama bawakan roti, sebentar lagi. Tiga hari dia hampir tidak makan.” Mama menarik napas. “Mama tidak cerita ini supaya kamu kasihan. Mama cerita supaya kamu tahu: dia bukan keras kepala. Dia cuma tidak tahu harus berbuat apa dengan rasa takutnya.”
Maura menggenggam ujung roknya. Di kepalanya muncul gambar yang tidak pernah ia lihat: lorong putih, bau antiseptik, seorang laki-laki berseragam pilot yang meringkuk di lantai dingin. Gambar itu begitu jelas hingga tenggorokannya sesak.
“Ma, aku nggak bisa jadi Maura yang ditunggu itu,” katanya parau. “Aku sudah berusaha. Aku nggak ingat apa-apa. Aku merasa seperti penipu yang pakai nama orang.”
“Nak.”
“Setiap kali dia melihatku seperti itu, seperti menunggu aku... jadi dia lagi. Aku capek, Ma. Aku mau, tapi aku nggak bisa.”
“Dengar Mama.” Mama meraih kedua tangan Maura, menggenggamnya di atas meja. “Tidak ada yang minta kamu jadi dia. Rayhan tidak minta. Mama tidak minta. Mama hanya senang kamu ada di dapur ini, mengambil garam dari toples yang betul.”
Air mata Maura jatuh duluan sebelum ia sempat menahannya. Ia berdiri, tidak kuat duduk, dan berpaling ke arah kompor, menangis dengan bahu bergetar di depan panci semur yang mulai mendidih. Mama menyusul, memeluknya dari samping, dan Maura membenamkan wajah di bahu perempuan yang beberapa minggu lalu masih ia panggil Tante.
“Kuah semurnya nanti gosong,” bisik Maura di sela isak.
“Biar gosong. Semur bisa diulang.”
Mereka berdiri begitu cukup lama. Ketika tangis Maura mereda, mama mengusap pipinya dengan ujung celemek, kebiasaan yang jelas sudah ia bawa sejak anak-anaknya masih kecil.
“Nak, Mama mau bilang satu hal lagi, dan kamu boleh menolak. Kamar kamu dan Rayhan di atas itu terbuka. Kapan saja kamu mau tinggal di situ, bukan cuma akhir pekan, Mama senang. Kalau Rayhan terbang, kamu ditemani Mama, Melati, Papa. Kalau kamu mau ke rumah ibu, tinggal bilang, Mama antar.”
Maura menyeka hidungnya. Ia memikirkan rumah ibu, kamar kecil dengan jendela yang menghadap jemuran, bau masakan dari dapur belakang, ibu yang menatapnya seolah ia masih anak enam tahun. Ia memikirkan kamar di lantai atas yang punya dua bantal dan tidak pernah memaksanya.
“Ma. Selama Mas Ray terbang, aku tinggal di sini. Kalau dia di darat, kami lihat nanti. Rumah ibu aku kunjungi tiap akhir pekan. Dan kalau aku mau menyendiri, aku pulang ke sana.”
“Itu keputusan yang bagus.”
“Mama nggak kecewa?”
“Mama senang sampai takut dibangunkan dari mimpi.”
Pintu dapur terbuka, dan Melati masuk membawa baki berisi dua gelas jus jambu. “Aku dengar semua dari lorong,” katanya blak-blakan, menaruh baki dan menepuk punggung Maura dua kali dengan kikuk. “Jus jambu. Jambu itu bagus buat yang habis nangis. Katanya.”
“Kata siapa?”
“Kata aku. Tadi baru.”
Maura tertawa sambil menghapus sisa air matanya.
Sebelum magrib ia menelepon ibu dari beranda belakang, dan bercerita pelan-pelan tentang keputusannya. Ibu diam begitu lama sampai Maura mengira sinyalnya putus.
“Bu?”
“Ibu di sini,” kata ibu akhirnya, suaranya basah. “Kamu sudah besar ya, Ra. Ibu cuma minta satu: akhir pekan pulang. Ibu mau lihat kamu makan.”
“Bu, aku makan banyak di sini.”
“Makanan Mama Rayhan atau makanan Ibu?”
“Dua-duanya.”
“Itu jawaban yang pintar,” kata ibu, dan Maura bisa mendengar ia tersenyum.
****
Menjelang pukul tujuh, ketika semur sudah selesai dan papa sudah mengambil dua porsi, bunyi mesin mobil terdengar dari pekarangan. Maura sedang di ruang tengah menata piring ketika pintu depan terbuka, dan Rayhan masuk dengan seragam kusut, tas pilot di pundak, dan kotak kue di tangan.
“Lebih cepat dari jadwal,” katanya, menghela napas. “Kapten Abid bilang pulang saja, jangan dibuat-buat sibuk.”
Maura meletakkan piring terakhir. Ia menatap Rayhan sebentar dengan kepala miring, lalu mengangkat satu tangan kecil.
“Ray, sini!”
Rayhan membeku di ambang pintu. Di belakangnya Melati, yang kebetulan lewat, langsung berhenti dan pura-pura mengurus sepatu. Rayhan menurunkan tas dengan perlahan, seolah takut suara tas akan membuyarkan apa pun yang baru ia dengar. Ia berjalan menghampiri dan tersenyum seperti anak kecil yang baru menang undian.
“Aku bawa kue,” katanya. “Brownies. Tanpa kopi.”
“Ray.”
“Ya?”
“Kamu mengendus.”
Rayhan memang sedang mengendus, kening berkerut, hidungnya bergerak-gerak halus. Ia menunduk sedikit ke arah Maura, lalu menegakkan tubuh dengan sorot mata seorang detektif yang baru menemukan petunjuk.
“Ra, kamu makan sambal.”
“Seujung sendok.”
“Bau ini bukan seujung sendok.”
“Seujung sendok, sebanyak tiga kali.”
“Kamu menambah sendiri?”
Maura memandang ke samping, ke arah rak kecil di dinding, ke langit-langit, ke mana saja kecuali ke mata Rayhan. “Kuahnya kurang pedas.”
Dari dapur, suara mama terdengar jelas, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Itu Mama yang kasih, Ray! Anak Mama minta.”
Rayhan menoleh ke arah dapur, kembali ke Maura, lalu menaruh kotak brownies di meja dengan gerakan sangat hati-hati, tangan terangkat di sisi tubuh. “Aku nggak komplain. Aku cuma, aku cuma mau tahu rasanya.”
“Rasanya?”
“Rasanya jadi suami yang kalah oleh Mama sendiri.”
Maura tertawa terbahak-bahak, dan untuk sesaat ruang tengah itu penuh oleh suara orang-orang yang pura-pura tidak mendengar.