Pesanan siang itu datang dari seorang ibu berkerudung biru yang berdiri di depan etalase dengan ponsel di tangan dan wajah gugup. Ia ingin buket untuk acara lamaran anak lelakinya, sesuatu yang manis, katanya, tapi tidak norak, dan yang tidak membuat calon besan merasa dilangkahi.
“Lili putih dengan sedikit peach,” kata Maura tanpa berpikir, dan ibu itu menghela napas lega seolah baru diberi kunci ruangan rahasia. Ia memilih pita satin gading, mengikatnya dua lilitan, dan menyelipkan sehelai daun eukaliptus. Tangannya bekerja dengan tenang, tetapi kepalanya sudah pindah entah ke mana.
Sesudah ibu itu pergi, Maura duduk diam dengan gunting di pangkuan.
“Mbak Nadia.”
“Hm?” Nadia sedang menghitung kembalian di kasir.
“Mbak tahu nggak, dulu Mas Rayhan melamarku bagaimana?”
Gerakan Nadia berhenti. Ia meletakkan uang receh, menyilangkan tangan di meja, dan menatap Maura dengan ekspresi yang hampir seperti ingin berkata sesuatu, lalu berubah pikiran.
“Mbak nggak ada di situ, Ra. Mbak cuma dengar dari kamu, dan kamu ceritanya rame, tapi mbak nggak hafal detailnya.” Ia mengambil napas. “Dan menurut mbak, itu bukan cerita yang bagus dengar dari orang lain. Tanya sendiri sama yang ada di situ.”
Maura mengusap pegangan gunting dengan ibu jari. Empat hari sejak malam brownies, Rayhan sibuk dengan jadwal terbang yang dipadatkan, dan sejak itu mereka lebih sering bertukar pesan singkat daripada bicara. Ia sadar ia kangen mendengar suaranya.
“Iya,” katanya pelan. “Nanti kutanya.”
****
Bau jeruk itu datang lagi.
Dalam mimpinya jeruk itu bukan buah, melainkan wangi pengharum di dasbor sebuah taksi yang melaju terlalu cepat, manis dan menusuk, bercampur bunyi klakson yang tidak berhenti-henti. Lalu terang. Lalu panas. Maura terbangun dengan napas tersangkut di tenggorokan dan punggung basah, dan sebelum matanya sempat menyesuaikan diri dengan gelap, lampu tidur kecil di meja sudah menyala redup.
Rayhan duduk di sisi ranjangnya sendiri, tubuh condong, dua tangan di atas lutut. Ia tidak mendekat.
Ia tidak mengulang kalimat apa pun. Ia hanya menaruh segelas air di meja kecil, tepat di dekat tangan Maura, lalu bertanya pelan, “Boleh aku duduk lebih dekat?”
Maura mengangguk. Rayhan bergeser selebar bantal guling, lalu berhenti, menunggu. Maura sendiri yang mengulurkan tangan, menarik lengan bajunya, dan menyandarkan kepala ke bahunya yang hangat dan berbau sabun. Ia tidak menangis. Ia hanya diam, merasakan dada Rayhan naik turun dengan tenang.
“Jeruk,” bisiknya akhirnya. “Selalu ada bau jeruk.”
“Pengharum mobil?”
“Aku nggak tahu. Mungkin.” Maura memejamkan mata. “Mas, aku nggak mau mikirin itu. Bisa nggak kamu cerita sesuatu? Apa saja. Yang bukan kecelakaan.”
Rayhan berpikir. Maura bisa merasakan bahunya mengeras dan melunak lagi saat ia mencari-cari cerita yang aman. “Cerita apa?”
“Lamaran.”
“Lamaran?”
“Lamaranku. Kamu pasti datang melamar. Orang nggak bisa jadi suami kalau nggak melamar.” Ia membuka satu matanya. “Atau kamu menculik aku?”
“Nggak menculik.” Rayhan terkekeh, tertahan. “Oke. Tapi janji nggak menertawakan.”
“Janji.”
“Aku pinjam jas Papa.”
Maura menunggu. Rayhan tidak melanjutkan, seolah kalimat itu sudah cukup untuk menjelaskan seluruh tragedinya.
“Mas.”
“Jas Papa itu kebesaran. Bahunya sampai ke siku, lengannya menutupi tanganku. Aku datang ke rumah ibu naik taksi daring karena takut mobilku kotor kena debu. Ibumu membuka pintu dan melihatku berdiri di teras dengan jas yang kelihatan seperti dipinjam dari raksasa. Ibu diam tiga detik. Lalu dia bilang, ‘Ray, kamu sakit?’”
Maura menutup mulut dengan tangan. “Kamu bilang apa?”
“Aku bilang, ‘Tidak, Bu, saya cuma ingin tampil rapi.’ Lalu lengan jasnya turun lagi sampai menutupi jariku.”
Tawa Maura pecah, pelan dulu lalu makin keras, dan ia harus menutup mulut dengan bantal supaya tidak membangunkan seisi rumah. Rayhan, di sampingnya, ikut bergetar. Dari kamar sebelah terdengar sayup-sayup ketukan di dinding, Melati yang protes, dan keduanya malah makin parah.
“Lalu bapak?” tanya Maura di sela napas.
“Bapak duduk di ruang tamu, sedikit pun tidak tersenyum. Waktu aku selesai bicara, dia bilang, ‘Sebelum saya jawab, Ray, tolong mengaji dulu. Satu surat pendek saja.’”
“Bapak bilang begitu?”
“Aku sudah latihan, Ra. Seminggu. Tapi waktu itu suaraku pecah di ayat kedua dan aku mengulang ayat pertama.” Rayhan memejamkan mata, jelas masih mengingat rasa malunya. “Ibu mengintip dari dapur. Aku lihat dia menutup mulut dengan serbet. Aku kira dia menangis, ternyata dia menahan tawa.”
“Dan aku?”
“Kamu di kamar. Jelita yang bilang, kamu mengintip dari lubang kunci dan lututmu gemetar.”
“Karena apa?”
“Katanya karena kamu takut aku ditolak.” Rayhan berhenti. “Kata Jelita lagi, waktu aku mengaji kamu menempelkan telinga ke pintu dan menghitung kesalahanku. Skornya tiga.”
“Tiga kesalahan?”
“Tiga kali Bapak menahan senyum. Aku belum cerita bagian paling parah.”
“Ada yang lebih parah?”
“Aku mau menyebut nama lengkap ibumu waktu minta izin. Itu sopan, kata Mama. Ternyata yang keluar dari mulutku nama ibuku sendiri.”
Maura menjerit tertahan di bantal. Ia memukul-mukul pelan lengan Rayhan sambil tertawa tanpa suara, dan Rayhan tidak menghindar. Ia hanya tersenyum, memandangi kepala Maura yang gemetar di bahunya, wajah seseorang yang sedang melihat sesuatu yang dulu ia kira sudah hilang.
“Lalu bapak jawab apa?”
“Bapak bilang, ‘Itu nama ibu kamu, Ray. Tapi saya ngerti maksudnya.’ Lalu dia mengangguk. Aku nggak tahu itu persetujuan atau belas kasihan.”
“Mungkin dua-duanya.”
“Mungkin.”
Tawa mereka perlahan reda dan kamar kembali sunyi. Lampu tidur membuat bayangan lembut di dinding, pada foto-foto yang masih menggantung di sana. Maura memandang satu foto di dekat jendela, seorang perempuan dengan mulut penuh es krim, dan senyumnya perlahan hilang.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku ingin menjadi perempuan itu lagi.”
Rayhan tidak bergerak.
“Yang berdiri di teras ngintip dari lubang kunci. Yang lututnya gemetar karena takut kamu ditolak.” Suara Maura mengecil. “Aku suka dia. Dari ceritamu aku bisa suka dia. Tapi aku nggak tahu caranya jadi dia. Aku bahkan nggak tahu dari mana mulai.”
Rayhan diam cukup lama sampai Maura mengira ia tidak tahu harus berkata apa. Lalu ia menggeser pundaknya sedikit supaya Maura bisa bersandar lebih nyaman.
“Kamu nggak perlu jadi dia,” katanya, suaranya serak. “Dia ada, dia nyata, dan aku mencintainya. Tapi yang duduk di sini sekarang juga kamu. Perempuan yang nggak tahu caranya, tapi tetap mau ngerti.” Ia menelan ludah. “Aku mau kenal kamu yang ini. Mulai dari nol. Dengan pelan.”
Maura menunggu hatinya bereaksi, tetapi yang datang justru kantuk yang hangat dan berat. Mimpi jeruk itu sudah jauh. Ia menarik napas panjang dan menyadari sesuatu yang sederhana: seluruh ceritanya sejak tadi, tentang jas dan lengan kebesaran dan nama yang salah, tidak satu pun menyebut kata “dulu” dengan nada menuntut. Rayhan sedang belajar. Ia menghitung kata-katanya.
“Mas.”
“Iya?”
“Ajak aku melihat tempat kerjamu.”
Rayhan menoleh pelan, dan di bawah lampu redup Maura melihat matanya melebar, takut salah menangkap. “Bandara?”
“Bandara, kokpit, atau apa saja yang kamu lihat tiap hari. Aku mau lihat dunia yang kamu pilih.” Maura menatap langit-langit. “Selama ini aku cuma lihat kamu di rumah, dan di rumah sakit. Aku mau lihat kamu di tempat kamu paling kamu.”
“Kokpit nggak boleh sembarang orang.”
“Kalau begitu, apa pun yang boleh.”
Rayhan tertawa, kecil dan basah. “Aku tanya Kapten Abid dulu. Dia pasti punya ide.”
“Dia pasti punya sepuluh.”
“Dua belas,” koreksi Rayhan. “Dia selalu punya dua belas.”