Kafe di lantai dasar terminal keberangkatan itu belum ramai pukul enam kurang, tetapi meja-meja di sudutnya sudah penuh orang berseragam. Ada yang berkemeja putih dengan strip di bahu, ada yang berbusana biru tua dengan syal kecil di leher, semuanya memegang gelas kopi dan bicara dengan nada rendah orang yang baru bangun terlalu pagi.
Maura berdiri di ambang pintu kafe dengan tas selempang di dada dan blus longgar yang menyembunyikan rahasia kecilnya. Ia hanya perlu satu detik untuk menemukan Rayhan.
Rayhan duduk memunggunginya, kemeja putih rapi, topi terlipat di meja, sedang menekuni selembar kertas berisi angka-angka. Ia terlihat berbeda. Bahunya lebih tegak dan rahangnya serius, seperti laki-laki yang sudah lama menghafal tempatnya di dunia ini. Maura melihat seorang pramugari melintas dan mengangguk hormat padanya, dan Rayhan membalas dengan senyum tipis yang tidak ia kenal.
Ia berjalan mendekat dan berhenti di belakang kursi itu.
“Selamat pagi, Pak Co-pilot.”
Rayhan menegang dan menoleh. Kertasnya jatuh. Kopi di cangkirnya bergoyang. “Ra!”
“Aku salah panggil?”
“Nggak. Maksudku, boleh, silakan. Tapi jangan keras-keras, nanti Filipi dengar.”
“Siapa Filipi?”
“Itu.” Rayhan melirik ke meja sebelah, tempat seorang kru berambut pendek berkacamata bundar sedang mengaduk teh dengan wajah pemeriksa pajak. “Orang yang paling suka menemukan kesalahanku.”
“Dia lihat aku.”
“Dia lihat semuanya.”
Maura duduk di kursi yang digeser Rayhan, mengambil roti dari piringnya tanpa bertanya, dan makan dengan tenang. “Jadi ini idenya Kapten Abid? Sarapan di kafe?”
“Ide nomor empat dari dua belas. Nomor satu sampai tiga dicoret Dokter Delia.”
“Dicoret kenapa?”
“Satunya kokpit. Satunya simulator. Satunya lagi ruang bagasi.”
“Aku nggak tahu kenapa aku kecewa soal yang ketiga.”
Tawa Rayhan belum selesai ketika bayangan tinggi jatuh ke meja mereka. Seorang pria jangkung berumur empat puluhan, rambut tipis disisir ke belakang, tersenyum sambil menyerahkan tangan lebar.
“Akhirnya,” kata Kapten Abid.
Maura menyalaminya. Tangan itu hangat dan kuat. “Kapten, terima kasih sudah menemani Mas Ray.”
“Panggil Abid saja. Atau Kapten kalau mau cari muka.” Ia menarik kursi dan duduk tanpa menunggu dipersilakan. “Saya sudah dengar banyak tentang kamu, Maura, dan yang saya lihat sekarang lebih baik dari semua cerita. Dia pasang fotomu di kokpit, tahu? Di dekat tombol di sebelah kirinya. Tiap kali kami menunggu izin lepas landas, dia melirik foto itu seperti orang mengecek sabuk pengaman.”
“Kapt,” protes Rayhan.
“Jangan dipandangi terus fotonya, tiap hari saya bilang begitu. Tiap hari dia senyum-senyum.” Abid menepuk bahu Rayhan. “Sekarang orangnya ada di sini. Sudah boleh berhenti.”
Maura menunduk menahan wajahnya yang panas. Ia merasa Rayhan menatapnya, dan merasa Rayhan sengaja tidak berkata apa pun.
Dari meja sebelah terdengar dehem pendek. Filipi telah berdiri dengan cangkir teh di tangan dan sepasang mata yang menembus kacamata bundar. Filipi menatap Maura dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan sikap menilai, lalu menatap Rayhan seolah menilai sesuatu yang lain.
“Jadi ini orangnya,” kata Filipi datar.
“Maura,” kata Maura. “Salam kenal.”
“Saya Filipi.” Pandangan itu bergeser kembali pada Rayhan. “Saya kira kamu yang mematahkan hati teman saya.” Jeda yang panjang. “Ternyata kamu cuma lupa.”
Rayhan menegakkan tubuh. “Fi.”
“Itu pujian,” kata Filipi, dan untuk sesaat sudut bibirnya terangkat seperti sedang menahan tawa. “Pujian yang jelek. Jangan salah paham.”
Filipi kembali ke mejanya. Abid terkekeh puas. Maura menatap kepergian Filipi dengan perasaan bahwa ia baru saja dinilai oleh orang yang kebetulan menyukainya dan berusaha keras tidak menunjukkannya.
“Dia selalu begitu?” bisik Maura.
“Sejak aku masuk,” jawab Rayhan. “Dia musuhku. Tapi dia yang pertama menelepon rumah sakit waktu kamu kecelakaan.”
Maura menoleh pada Filipi, yang membelakangi mereka dan sengaja menekuni cangkirnya. Ia menyimpan fakta itu di tempat yang sama dengan lavender.
****
Pintu kafe berderit, dan suara melengking menyebar ke seluruh ruangan seperti lonceng.
“TANTE RARA!”
Seorang anak perempuan kecil berkuncir dua berlari melintasi lantai licin dengan rok mengembang, hampir menabrak troli roti, dan menubruk lutut Maura. Di belakangnya, seorang perempuan berjilbab pastel menjinjing tas bekal dengan wajah malu sekaligus geli.
“Maaf, maaf! Nisa, pelan-pelan, Tante sedang hamil!”
“Mbak Bea,” sapa Rayhan sambil berdiri.
“Ray, maaf ganggu, saya cuma mau antar bekal Abid yang ketinggalan.” Bea tersenyum pada Maura, hangat dan sedikit gemetar, seperti orang yang sedang menahan emosi besar. “Dan ini, Maura, ya? Saya Bea.”
Denisa menengadah dengan mata bulat, memegangi tangan Maura seperti memegang tali balon. “Tante Rara lupa sama Nisa?”
Maura berlutut hati-hati, satu tangan bertumpu pada kursi, hingga wajahnya sejajar dengan anak itu. Ia menatap wajah bundar itu, kuncir miring, tahi lalat kecil di dekat telinga kiri. Ada sesuatu yang bergerak dalam ingatannya, bukan tentang Rayhan, melainkan tentang hari yang jauh lebih sederhana: tiga tangkai mawar, merah, putih, merah muda, dan seorang laki-laki yang menggendong anak kecil di toko yang ramai oleh orang-orang membeli bunga untuk ibu mereka.
“Nisa,” kata Maura pelan. “Namamu Nisa. Hari Ibu, di toko bunga. Papamu beli tiga mawar untuk Mama.”
Denisa melonjak. “Iya! Mawarnya buat Mama!”
Maura menoleh pada Abid, yang berdiri dengan wajah pria yang menunggu momen ini. “Itu Kapten?”
“Itu saya,” kata Abid. “Kamu memberi saya kembalian dua ribu dan bilang, ‘Semoga mama senang.’ Beberapa hari kemudian Rayhan bilang, ‘Kapt, saya kenal pemilik toko itu.’ Saya baru sadar dunia ini sempit sekali.”
Maura tertawa kecil, sambil menyeka sudut mata. “Berarti aku sudah kenal kalian sebelum tahu siapa kalian.”
“Itu namanya jodoh,” kata Bea sambil merangkul Denisa.
“Es krim strawberry!” seru Denisa, menunjuk Maura dengan jari mungil. “Om Yeye janji! Om Yeye bilang nanti, nanti, nanti, sampai Nisa lupa!”
“Nisa nggak lupa,” gumam Rayhan.
“Kapan?” tuntut Denisa.
Maura menatap Bea, Bea mengangguk. “Kamis,” kata Maura. “Hari Kamis. Tante yang traktir.”
****
Sepuluh menit kemudian Abid melirik jam tangannya dan berdiri. Rayhan memakai topi, merapikan lipatan lengan, lalu berhenti di samping kursi Maura dengan kedua tangan di sisi tubuh. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunggu, dengan wajah laki-laki yang sudah belajar bahwa menunggu juga bagian dari bertanya.
Maura berdiri. Ia meraih kerah kemeja Rayhan yang sedikit terlipat di sisi kanan dan merapikannya dengan dua jari, gerakan kecil yang ternyata tidak ia pikirkan sama sekali.
“Kabari kalau landing,” katanya.
“Aku kabari. Janji.”
“Selamat bertugas, Pak Co-pilot.”
Rayhan tersenyum, menahan sesuatu yang lebih besar dari senyum, lalu pergi mengikuti Abid ke lorong staf. Dari meja sebelah Filipi mendongak sekilas, menatap kerah Rayhan yang kini rapi, dan kembali ke tehnya tanpa komentar.
Setelah itu Bea menawarkan menemani Maura ke anjungan pengamat di lantai atas. Mereka naik dengan lift, Denisa digendong Bea, dan berdiri di balik pagar kaca yang menghadap landasan. Matahari baru naik, menyepuh sayap-sayap pesawat dengan cahaya jingga.
“Yang mana pesawat Mas Ray?” tanya Maura.
“Yang itu.” Bea menunjuk pesawat di ujung kiri, putih dengan ekor biru. “Tiga puluh menit lagi.”
Mereka menunggu. Denisa menghitung pesawat yang lewat, bohong di angka tujuh. Ketika mesin itu akhirnya mengaum dan pesawat berekor biru bergerak ke ujung landasan, Maura mencengkeram pagar kaca. Pesawat itu berbelok, berhenti sebentar, lalu meluncur panjang dan terangkat, perut besinya berkilau, menjauh dan menjauh sampai menjadi titik di langit.
Maura menempelkan kening ke kaca.
“Hati-hati,” bisiknya.
Denisa menarik ujung blusnya. “Tante Rara, jangan lupa ya. Kamis. Janji!”
“Janji,” kata Maura, dan menatap langit yang sudah kosong.