Kamis sore itu, sesuai janji, Denisa memesan dua scoop strawberry di atas kerucut wafel, dan sebelum pelayan sempat menyerahkannya, ia sudah mengulurkan kedua tangan seperti orang yang menyambut hadiah paling lama ditunggu.
“Pelan-pelan, Sayang. Duduk dulu,” kata Bea.
Kedai es krim itu berada di sudut jalan dekat taman kota, kecil, berdinding hijau mint, dengan kursi-kursi rotan dan lonceng kuningan di pintu. Maura memilih meja di dekat jendela supaya bisa melihat Denisa yang duduk di kursi tinggi dengan kaki terayun-ayun. Es krim itu meleleh lebih cepat dari yang bisa ia jilat, dan dalam hitungan menit bibir, dagu, dan ujung hidungnya sudah dipenuhi warna merah muda.
“Enak?” tanya Maura.
“Enak banget.” Denisa menjilat jari. “Lebih enak karena Tante Rara yang bayar.”
“Itu jujur sekali.”
“Papa bilang anak harus jujur.”
Maura tertawa dan mengambil tisu, mengusap dagu anak itu pelan-pelan. Denisa memejamkan mata seperti kucing yang dielus. Hangat, pikir Maura, hangat seperti rumah yang pintunya tidak dikunci. Ia belum pernah memelihara anak, atau mungkin sudah tapi tidak ingat, dan ia tidak keberatan mengaku bahwa tangannya terasa canggung sekaligus tahu apa yang dilakukan.
Bea menatapnya dari seberang meja dengan senyum yang tidak sepenuhnya senyum. Ia memesan teh melati dan tidak menyentuhnya.
“Kamu pandai,” katanya.
“Aku cuma lap dagu.”
“Itu sudah separuh dari seluruh pengasuhan.” Bea memutar cangkirnya. “Maura, boleh Mbak cerita sesuatu? Kalau nggak nyaman, bilang saja, Mbak ganti topik.”
Maura menyadari pola kalimat itu, ia sudah mendengarnya dari mama. Ia menarik napas. “Silakan.”
“Waktu kecelakaan itu Rayhan masih di udara. Abid yang duduk di sebelahnya waktu dia menyalakan ponsel dan melihat panggilan tak terjawab, dan Abid yang pertama melihat wajahnya.” Bea berhenti. “Mbak nggak bilang ini supaya kamu merasa bersalah. Mbak mau kamu tahu seberapa besar pria itu mencintaimu, itu saja.”
“Aku tahu dia mencintaiku.”
“Tahu dan lihat itu beda.”
Maura menggeser cangkir teh jahenya sedikit. Dari kursi tingginya Denisa sedang menceritakan sesuatu pada pelayan di balik kaca etalase, serius sekali.
“Abid mengambil alih jadwalnya tiga kali supaya dia bisa menunggu di rumah sakit,” lanjut Bea pelan. “Tiga kali, Maura, dan perusahaan mengizinkannya hanya karena Abid yang meminta. Waktu itu Abid bilang, ‘Jangan paksa dia terbang dalam keadaan begitu. Pesawat nggak peduli dia siapa.’ Dan Abid benar.”
“Dia nggak pernah cerita jadwalnya digantikan.”
“Dia malu.” Bea tersenyum samar. “Pria itu paling takut dianggap merepotkan.”
Maura teringat daftar larangan di saku kemeja Rayhan dan kursi roda di garasi. Semua itu, pikirnya, adalah cara satu orang mengatakan: aku takut sekali.
“Dulu dia sempat tanya ke Abid,” Bea menambahkan, tanpa tekanan, seperti menyebut cuaca, “apa sebaiknya dia pindah ke darat saja. Supaya bisa selalu dekat denganmu. Tapi akhirnya nggak. Dia nggak mau melepas langit.”
Maura mengangguk sekali, menyimpan kalimat itu di tempat yang sama dengan kalimat-kalimat lain yang belum tahu akan dipakai untuk apa. “Dia nggak cerita itu.”
“Memang. Biar itu jadi urusan kalian.” Bea mengeluarkan ponselnya. “Boleh Mbak masukkan kamu ke grup? Grup keluarga kru. Isinya istri-istri, suami-suami, dan pasangan pilot. Ramai, banyak stiker kucing, tapi kalau ada apa-apa di udara, kamu orang pertama yang tahu.”
“Pesan Mas Ray masuk di situ juga?”
“Kalau dia ada pesan, iya. Tapi grup itu lebih buat kami yang menunggu.” Bea mengangkat alis. “Kamu masuk ke dunia itu sekarang, mau nggak mau.”
Maura menyebut nomornya. Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar dan layar menampilkan undangan masuk ke sebuah grup bernama Keluarga Langit. Foto profilnya sebuah pesawat kertas.
Denisa tiba-tiba berseru, “Tante Rara! Es krimnya habis! Tante mau coba?”
Sebelum Maura menjawab, anak itu sudah turun dari kursi tinggi dan berdiri tepat di depan perutnya dengan mata menyipit penuh selidik.
“Di sini ada adik bayi?”
“Siapa yang bilang?” Maura melirik Bea.
“Tadi Mama bilang.” Denisa menepuk perut Maura dua kali dengan telapak yang masih lengket. “Halo, adik. Kalau sudah keluar, Nisa kasih es krim. Tapi jangan yang pedas ya, Nisa nggak suka.”
“Dia belum bisa makan es krim,” kata Maura, terkikik.
“Kalau begitu Nisa tunggu.”
Anak itu kembali ke kursinya, puas, dan Maura baru sadar bahwa ia sedang menahan napas. Tidak ada orang yang pernah bicara pada kehamilannya sehangat itu. Rayhan mungkin, tetapi Rayhan selalu berbisik dan menutup mulut. Ini suara terang di tengah siang.
Sesudahnya Denisa tetap menyodorkan kerucutnya, dan Maura menjilat ujungnya. Rasa manis yang asam dan segar memenuhi mulutnya. Ia tertawa lagi, tetapi di bawah tawa itu ada sesuatu yang berat dan tak berbentuk, seperti batu licin yang tertelan.
****
Menjelang sore Jelita menjemput Maura dengan motor di depan kedai, helm kecil di tangan satu, jaket kulit di tangan lain. Bea melambai dari mobil, Denisa mengirim ciuman jauh dengan wajah masih merah muda.
“Pegangan yang kuat, Kak,” kata Jelita. “Aku jalan pelan. Seperti siput.”
“Seperti siput yang tidak nabrak.”
“Itu siput kelas atas.”
Motor melaju pelan di jalan yang ramai. Maura memeluk pinggang adiknya dan memandangi kendaraan lain melaju lewat, dan sekali, di perempatan, sebuah angkot membunyikan klakson panjang. Tubuhnya menegang. Jelita langsung menepi ke sisi jalan tanpa berkata apa pun, mematikan mesin, dan menunggu sampai tangan Maura berhenti mencengkeram jaketnya.
“Maaf, Jel.”
“Nggak apa-apa.” Jelita membuka kaca helmnya dan menengok. “Kak. Tadi Kakak ngomong apa sama Mbak Bea? Mukanya Kakak sepanjang jalan kayak habis ngelihat hantu yang baik.”
“Hantu yang baik?”
“Iya. Takut tapi nggak jahat.”
Maura menatap deretan toko di seberang. “Jel, waktu Mas Rayhan menunggu di lorong rumah sakit, kamu di mana?”
Jelita terdiam. “Aku di sana juga. Di kursi sebelah. Kakak dirawat, Mas Ray nggak tidur. Aku ngantuk, aku tidur di bahunya, dia diam saja supaya aku nggak bangun.”
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
“Karena Kakak bilang jangan.” Jelita menunduk. “Waktu itu, di Bandung.”
“Aku bilang jangan karena aku sedang marah.” Maura menghela napas. “Sekarang boleh. Cerita nanti, pelan-pelan.”
“Siap, Kak.”
Motor kembali berjalan. Dalam perjalanan pulang Maura menyadari satu hal yang tak enak: ia berutang. Bukan uang, bukan janji. Ia berutang sesuatu pada orang yang menunggunya di lorong dingin itu, dan ia tidak tahu bagaimana cara melunasinya selain satu cara yang belum bisa ia lakukan.
****
Malam itu Rayhan pulang ketika rumah sudah gelap. Maura mendengar mobilnya masuk garasi, langkah di tangga, pintu kamar terbuka pelan. Ia duduk di tepi ranjang dengan lampu tidur menyala dan boneka Sapi di pangkuan.
“Belum tidur?” tanya Rayhan dari ambang pintu.
“Menunggu.”
“Menunggu?”
“Kamu.” Maura memeluk Sapi lebih erat. “Mas, tadi aku ketemu Mbak Bea.”
“Aku tahu. Dia kirim foto Denisa belepotan.”
“Dia cerita soal rumah sakit. Soal jadwalmu yang diganti Kapten Abid.”
Rayhan berhenti di tengah gerakan melepas dasi. Wajahnya berubah, bukan marah, tetapi seperti orang yang menyadari pintu yang selama ini ia tutup dengan hati-hati ternyata sudah dibuka oleh orang lain.
“Mas.” Maura mengangkat wajah. “Aku merasa berutang padamu. Banyak sekali. Dan aku nggak tahu bayar pakai apa selain satu hal.” Ia menelan ludah. “Aku harus ingat.”
Rayhan tidak menjawab. Dasi di tangannya jatuh ke lantai, dan untuk waktu yang lama ia hanya berdiri di sana, di ambang cahaya lampu tidur, tanpa mengatakan apa pun.