Dasi itu masih tergeletak di lantai ketika Rayhan akhirnya bergerak, dan yang keluar dari mulutnya bukan jawaban. “Aku ambilkan air,” katanya, lalu pergi ke dapur. Ia kembali dengan segelas air, duduk di lantai sejarak satu lengan dari Maura, dan menyodorkannya tanpa menyentuh jarinya.
“Kamu boleh ingat kapan pun,” katanya, memilih kata satu per satu seperti orang menyusun batu di atas air. “Atau tidak sama sekali. Aku cuma minta jangan sampai kamu sakit karenanya.” Ia memungut dasi itu dan menggulungnya di telapak tangan. “Selebihnya belum bisa kujawab malam ini. Maaf.”
Maura mengangguk. Sejak malam itu Rayhan tidak pernah lagi menyinggung soal ingatan. Tidak sekali pun. Ia mengantar Maura ke toko, menjemputnya, menaruh sayur di piringnya, dan bicara tentang cuaca dengan kesopanan seseorang yang memegang gelas penuh sambil berjalan di lantai licin. Maura membaca diamnya sebagai izin.
Minggu pagi itu rumah sepi. Mama dan papa pergi ke pengajian, Melati tidur lagi sesudah subuh, dan Rayhan mengantar sesuatu ke bengkel. Maura duduk bersila di lantai kamar, bersandar pada ranjang, dengan ponsel di pangkuan dan kotak kecil dari beledu hijau di sampingnya, yang diselipkan ibu ke dalam tasnya Sabtu kemarin tanpa kata-kata.
Ia menekan tombol putar. Video akad itu berjalan lagi, kamera sedikit goyang. Bapak duduk tegak dengan peci hitam, wajahnya serius tetapi matanya merah. Rayhan di hadapannya dengan jas yang pas di badan, kali ini bukan jas papa, dan tangan mereka berjabat. Suara bapak membaca kalimat itu. Suara Rayhan menjawab dalam satu tarikan napas. Lalu seseorang berseru “Sah!” dan seisi ruangan bergemuruh.
Maura menonton sampai habis, lalu mengulangnya. Lalu membuka kotak beledu.
Di dalamnya, di atas bantalan putih yang sudah menguning, ada rantai kalung tipis dan sebuah cincin emas polos yang di bagian dalamnya terukir dua huruf kecil: R & M. Ia mengambil cincin itu dan memegangnya di antara jempol dan telunjuk. Hangat dari tangannya sendiri. Asing.
Ia memejamkan mata. Ia menutup telinga dari bunyi rumah, dari jam dinding, dari kokok ayam tetangga, dan mencoba menarik sesuatu dari dalam gelap: wangi melati, tangan yang gemetar menggenggam tangannya, kursi plastik putih di bawah tenda. Apa saja. Satu detik saja.
Tidak ada. Hanya warna merah di balik kelopak matanya.
Ia mencoba lagi. Lebih keras. Lalu sekali lagi.
Pelipis kanannya mulai berdenyut. Mula-mula pelan seperti ketukan jari, lalu berdentam seperti palu kecil. Pandangannya berkunang-kunang. Perutnya bergolak, dan keringat dingin turun di punggung. Cincin itu terlepas dari jarinya dan menggelinding ke karpet.
“Maura?”
Ia tidak mendengar pintu dibuka. Rayhan sudah di sana, berlutut di sisinya dengan jaket yang masih berembun, wajahnya pucat. Matanya menyapu ponsel, kotak beledu, cincin di karpet, dan wajah Maura yang kuyu. Dalam satu detik ia mengerti semuanya.
“Berhenti.” Suaranya keras. Terlalu keras, nyaris membentak. “Ra, berhenti. Aku tidak mau kamu sakit demi aku.”
Maura mengerjap. Rasa sakit di pelipisnya belum reda, tetapi sesuatu lain naik dari dadanya, panas dan tajam.
“Demi kamu?”
“Kamu pucat sekali. Kamu mual?” Rayhan meraih ponsel dan mematikannya, gerakannya cepat, tegang. “Ini sudah berapa lama? Kamu nggak boleh begini, Dokter bilang—”
“Mas.” Maura menarik napas. “Ini bukan demi kamu.”
“Ra—”
“Ini bukan demi kamu, ini demi aku!” Suaranya pecah dan terdengar asing di kamar sunyi itu. Ia tidak pernah membentak Rayhan sebelumnya. “Aku yang lupa, Mas. Aku yang hidup dengan lubang di kepala. Kamu pikir aku nggak capek menunggu orang lain memberitahu siapa aku? Aku mau tahu sendiri. Aku mau ingat sendiri. Kenapa semua orang memperlakukan ingatanku seperti barang pecah yang cuma boleh disentuh kalau pakai sarung tangan?”
Hening. Rayhan masih berlutut dengan ponsel di tangan, dadanya naik turun. Maura belum pernah melihat wajahnya sekaku itu. Lalu, sedikit demi sedikit, bahunya menurun.
“Aku tadi berteriak.” Suaranya kembali rendah, hampir hilang. “Aku nggak berhak. Maaf.”
“Kamu takut.”
“Aku takut sekali.” Rayhan menaruh ponsel di karpet dengan tangan gemetar. “Waktu aku buka pintu dan lihat kamu pucat begitu, aku, itu bukan Maura yang sedang berusaha. Itu Maura di rumah sakit.”
Maura menatap tangan Rayhan, jari-jari yang lama ia kenal lewat kemeja dan gagang pintu. Rasa marahnya menyusut menjadi sesuatu yang lebih lelah dan lebih jujur.
“Aku minta maaf juga,” katanya. “Aku membentak. Aku nggak mau begitu.”
“Boleh. Kamu boleh.”
“Boleh membentak?”
“Boleh marah. Asal jujur.” Rayhan mencoba tersenyum, gagal. “Dan aku boleh takut. Asal nggak jadi perintah.”
Pintu terbuka sedikit. Mama berdiri di sana dengan nampan berisi dua cangkir uap tipis, kerudung masih terpasang, jelas baru pulang. Ia menatap pasangan itu di lantai, cincin di karpet, dan wajah anaknya, lalu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya melangkah masuk dan menaruh nampan di lantai di antara mereka.
“Teh jahe,” katanya. “Minum dulu. Bicaranya nanti, setelah hangat.”
“Ma, kami—” mulai Rayhan.
“Mama tahu.” Mama duduk di tepi ranjang, tidak menyentuh siapa pun. “Mama dengar dari tangga. Teh dulu.”
Maura meraih cangkir dengan kedua tangan. Jahe itu pedas, panas, dan menenangkan, mengalir turun dan mengendurkan dentaman di pelipisnya. Rayhan juga minum, matanya tidak lepas dari lantai. Mama memandangi mereka berdua sebentar, lalu bangkit dan keluar tanpa suara, meninggalkan pintu terbuka setengah.
Rayhan memungut cincin dari karpet, menaruhnya kembali di bantalan beledu, dan menutup kotak itu dengan ibu jari, selembut menutup mata anak yang tertidur. Mereka menghabiskan teh tanpa bicara, bahu mereka berjarak satu telapak tangan, sampai dentaman di pelipis Maura benar-benar hilang.
****
Sore harinya mereka duduk di teras belakang, dengan dua kursi rotan yang dihadapkan ke kebun kecil mama. Pohon belimbing wuluh menjatuhkan daun-daun kuning satu per satu. Maura menyelimuti lutut dengan kain batik tipis. Melati, yang kebetulan lewat membawa jemuran, berhenti sebentar, memandang mereka berdua, dan pergi lagi tanpa komentar, yang untuk ukuran Melati adalah prestasi.
“Tadi,” kata Rayhan lebih dulu, memandangi kebun, “waktu aku buka pintu, sebenarnya aku nggak lihat kamu. Aku lihat satu hari yang lain. Kamu di ranjang rumah sakit, nggak bergerak, dan aku berdiri di pintu dengan seragam yang bau bandara. Aku nggak tahu mau pegang apa.”
Maura tidak menjawab. Ia hanya menggeser kursinya sedikit lebih dekat sampai lengan kursi mereka bersentuhan.
“Itu bukan salahmu,” kata Rayhan cepat. “Maksudku, aku nggak cerita biar kamu merasa bersalah. Aku cerita biar kamu tahu kenapa suaraku tadi seperti itu. Bukan karena aku merasa berhak memerintah.”
“Aku tahu.” Maura memutar-mutar ujung kain batik di jarinya. “Mas, aku punya usul. Kita bikin kata.”
“Kata?”
“Kalau aku bilang ‘cukup’, itu artinya aku mau berhenti. Berhenti mencoba mengingat, berhenti bahas, berhenti apa pun. Kamu nggak perlu tanya kenapa. Dan kalau kamu yang takut, kamu bilang ‘sebentar’. Artinya kamu mau napas dulu, bukan mau melarang.”
Rayhan mengulang pelan, seperti mencicipi kata-kata itu. “Cukup. Sebentar.”
“Cukup, sebentar.”
“Aku suka.” Ia tersenyum miring. “Lebih baik dari daftar larangan.”
“Daftar larangan masih ada di kulkas Mama, kan?”
“Dokter Delia bilang jangan dipajang.”
“Tapi Mama mengabaikan Dokter.”
Mereka tertawa, dan tawa itu terasa seperti jendela yang akhirnya dibuka setelah ruangan terlalu lama pengap.
“Aku mau bilang satu hal,” kata Maura pelan. “Aku nggak mau memaksa sampai sakit. Tadi aku salah, aku terlalu keras. Sakit kepala itu tanda berhenti, bukan tanda semangat.”
“Dan aku nggak akan menjadikan setiap benda tes ingatan.” Rayhan mengangguk, pelan. “Aku sadar aku melakukannya. Tiap kali kamu pegang sesuatu, aku menunggu. Menunggu kamu mengenal. Itu menyakitkan buat kamu, ya?”
“Seperti diaudisi.”
“Maaf.”
“Kita atur begini,” kata Maura. “Aku boleh mencoba mengingat, tapi sendiri, sebentar, dan berhenti begitu pelipisku berdenyut. Kamu nggak perlu mengawasi. Kalau aku ingat sesuatu, aku yang bilang. Kalau enggak, kamu nggak usah bertanya.”
“Setuju.” Rayhan menarik napas. “Satu lagi. Kamis ini jadwal USG dua belas minggu. Pukul sepuluh. Kamu mau aku ikut?”
Maura menoleh. Kata “mau” di ujung kalimat itu terdengar seperti pintu yang dibuka selebar lebarnya.
“Mau,” katanya. “Sangat mau.”