“Jangan tegang, Bu Maura. Layarnya bukan ujian.”
Dokter Delia menggeser alat di perut Maura sambil menatap monitor dengan satu alis terangkat. Gelnya dingin, ruangannya remang, dan Maura memandangi langit-langit yang bernoda air berbentuk pulau kecil. Di sisi kanan ranjang, Rayhan duduk di kursi yang sudah ditentukan Dokter Delia sejak pertemuan lalu, dengan punggung tegak dan kedua tangan terlipat di pangkuan, seolah tak berani menyentuh apa pun.
“Nah. Lihat.”
Maura menoleh ke layar. Gambar kelabu itu tidak lagi berupa titik. Ada kepala kecil yang bulat, ada punggung melengkung, ada dua tangan mungil yang bergerak-gerak seperti sedang mencari pegangan. Bayi itu menendang sekali ke kiri, memutar tubuhnya setengah putaran, lalu mengangkat satu lengan.
“Dia melambai,” bisik Rayhan.
“Itu gerakan refleks,” kata Dokter Delia, tetapi ia tersenyum. “Tapi kalau Bapak mau menafsirkannya sebagai lambaian, saya tidak melarang.”
“Halo,” kata Rayhan pada layar, suaranya serak. “Halo, Nak.”
Maura menahan tawa sekaligus tangis. Tangan kirinya terulur ke samping, mencari seperti di klinik sebelumnya, tetapi kali ini Rayhan sudah bergerak lebih dulu. Ia tidak meraih. Ia hanya menggeser tangannya ke tepi ranjang, cukup dekat untuk dijangkau. Maura menjangkaunya sendiri.
“Semua ukuran bagus,” lanjut Dokter Delia sambil mengetik. “Panjangnya sesuai, tulang belakang rapi, jantung empat ruang terbentuk. Minggu ini kehamilan Ibu resmi memasuki trimester kedua. Mual boleh berkurang, nafsu makan boleh naik. Pedas tetap satu sendok.”
“Dokter, tolong ditulis di kertas,” sela Rayhan. “Supaya Maura ingat.”
“Pak Rayhan.”
“Ya, Dokter.”
“Saya tidak menulis di kertas, Pak. Maura punya telinga sendiri, dan ia sudah mendengarnya.”
Maura menggigit bibir. Di sampingnya Rayhan menunduk, bahunya gemetar karena tawa yang ditelan.
Selesai pemeriksaan, Dokter Delia memberi dua cetakan foto hitam putih. Maura memegang satu di tangan kanan dan satu di kiri, memandangi lambaian kecil itu dari dua sudut berbeda. Lalu ia menarik napas panjang dan berkata, sebelum sempat ragu, “Aku mau kabari orang-orang.”
“Orang-orang?”
“Mbak Nadia. Mas Oka. Siapa saja yang sudah tahu aku hamil dan nggak berani bertanya.” Maura menatap foto itu. “Aku sudah cukup menyimpan. Aku mau ini kelihatan.”
Rayhan tersenyum lebar, senyum paling bebas yang pernah Maura lihat darinya. “Kamu mau aku yang kabari?”
“Aku yang kirim ke Jelita. Dia yang menyebarkan. Mas, kamu telepon Papa. Dan Kapten Abid.”
“Siap, istri.”
“Jangan panggil begitu.”
“Siap, Bu Maura.”
“Itu lebih parah.”
****
Siang itu Jelita menerima foto USG dengan jeritan yang membuat semua pelanggan di toko Nadia menoleh. Dalam sepuluh menit foto itu sudah ada di ponsel Nadia dan Mas Oka dan dua teman lama dari komplek yang bahkan tidak diminta. Nadia menelepon Maura dengan suara parau. Mas Oka mengirim stiker kopi bertuliskan SELAMAT.
Di tempat parkir klinik, Rayhan berdiri di sisi mobil dengan ponsel di telinga dan senyum yang tidak bisa disembunyikan. “Papa. Iya. Dia melambai. Beneran. Papa jangan nangis. Papa nangis? Tidak apa-apa. Iya, Maura baik. Ya. Nanti Rayhan ajak makan malam.” Ia diam sebentar. “Iya, Pa. Terima kasih.”
Lalu ia menelepon Abid. “Kapt. Dia melambai.”
Maura sedang membuka pintu mobil ketika ia mendengar tawa Abid yang meledak dari seberang sambungan dan teriakan pelan, “DENISA! Om Yeye punya bayi!” disusul pekik anak kecil di latar belakang.
****
Menjelang sore Jelita mengantar Maura ke toko, dan di ambang pintu Maura berhenti. Meja kerjanya tertutup taplak putih, di atasnya berdiri sebuah kue tart kecil berhiaskan stroberi, dengan lilin satu batang yang belum dinyalakan. Di sebelahnya ada gelas teh jahe yang masih mengepul, dengan stiker kafe Mas Oka di sisi gelas.
“Kalian gila,” kata Maura.
“Sedikit,” kata Nadia sambil menghapus air mata dengan ujung celemek. “Mbak sudah nunggu lama buat bisa ngomong, ‘Selamat, Ra.’ Sekarang boleh, kan?”
“Boleh.”
“Selamat, Ra.” Nadia memeluknya, erat tetapi hati-hati, seperti memeluk gelas kristal. “Selamat banget.”
Dua anak magang berdiri di belakang rak dengan kartu buatan sendiri yang berisi gambar bayi kartun dan tulisan SELAMAT KAK MAURA yang miring-miring. Maura menerima semua itu satu per satu sambil tertawa, sampai Nadia menyodorkan satu lagi, sebuah kartu putih sederhana yang diselipkan di bawah gelas kopi.
“Itu dititip Bagas lewat Mas Oka,” katanya pelan. “Kalau kamu nggak mau baca, buang saja.”
Maura membukanya. Satu kalimat dengan tulisan tangan rapi yang ia kenali dari entah mana.
Semoga kalian bertiga selalu punya tempat pulang yang menunggu.
Ia membacanya sekali. Lalu melipatnya dan menyelipkannya ke saku celemek. Tidak ada getaran, tidak ada nyeri. Hanya rasa hangat yang sederhana, seperti menerima salam dari orang yang pernah lewat dan sudah berjalan jauh.
“Aku simpan,” katanya.
“Bagus,” kata Nadia. “Sekarang tiup lilinnya, sebelum Jelita makan stroberinya duluan.”
“Aku nggak makan!” protes Jelita dengan mulut penuh.
Si kuncir dua mengangkat tangan lagi seperti di kelas. “Kak, namanya siapa? Bayinya.”
“Belum tahu. Dan jenis kelaminnya juga belum kelihatan.”
“Boleh kami usul?”
“Usul apa?”
“Kalau perempuan, Mawar. Kalau laki-laki, Lili.”
“Lili itu nama bunga yang miring,” sahut si laki-laki kurus. “Anak laki-laki jangan dikasih nama miring.”
“Mawar punya duri,” balas Nadia dari kasir. “Anak Maura nggak butuh duri.”
“Cukup,” kata Maura, mengangkat tangan sambil tertawa, dan semua orang di toko itu langsung diam, lalu pecah lagi. Kata yang baru ia pakai di rumah itu ternyata juga ampuh di sini.
****
Malam itu Maura duduk di meja tulis kamar dengan secarik kertas dan pena mama yang terlalu besar untuk tangannya. Rumah sudah sunyi. Rayhan di kamar mandi, air mengalir pelan.
Ia menulis di bagian atas, dengan huruf yang disengaja rapi: Yang kuinginkan dari hidupku sekarang.
Pena itu berhenti. Ia memandangi kalimat itu lama, lalu menuliskan angka satu, dan di sebelahnya, tanpa berpikir, dua kata.
Tempat pulang.
Ia tidak menulis tempat pulang yang mana. Ia sendiri belum tahu.
Pintu kamar mandi terbuka. Maura meletakkan kertas itu di sisi meja, setengah menutupinya dengan buku, dan berdiri untuk mengambil air. Ketika ia kembali, Rayhan sedang berdiri di dekat meja dengan kertas itu di tangannya, tubuhnya tidak bergerak. Dari sudut matanya Maura melihat tulisan di sisi yang menghadap ke atas.
Rayhan membalik kertas itu, memastikan sisi tulisannya menghadap ke bawah, dan menyerahkannya pada Maura dengan dua tangan.
“Ini punyamu,” katanya. “Aku nggak baca. Cuma lihat, itu tulisanmu, dan aku nggak mau membacanya kalau kamu belum menyodorkannya.”
Maura menerimanya. Jemarinya sedikit gemetar. “Mas, tahu nggak? Orang yang membaca diam-diam selalu bilang nggak baca.”
“Kalau begitu percaya saja.” Rayhan tersenyum kecil. “Atau lihat mataku.”
Maura menatap matanya. Mata itu lelah, lembut, dan jujur dengan caranya yang selalu agak menyakitkan. Ia menaruh kertas itu di laci.
“Hari Rabu ulang tahunmu,” kata Rayhan, tiba-tiba, seperti baru ingat. “Ada hadiah.”
“Hadiah apa?”
“Kalau kuberi tahu sekarang, namanya bukan hadiah.”
“Mas, aturan kita.”
“Aturan kita: tidak ada rahasia yang menyakitkan. Ini kejutan.” Rayhan menegakkan badan, mendadak serius. “Tapi kamu boleh bilang tidak mau dikejutkan. Aku akan kasih tahu sekarang juga.”
Maura menimbang, memandangi laci tempat kertasnya tersimpan. Ia tahu ia sedang diberi sesuatu yang sederhana dan langka: kuasa menolak, yang ia pilih untuk tidak dipakai.
“Aku mau dikejutkan,” katanya. “Tapi kalau jelek aku bilang jelek.”
“Rabu. Jam empat sore.” Rayhan mematikan lampu besar dan menyisakan lampu tidur. “Dan nggak akan jelek.”