Maura mengusap air matanya dengan punggung tangan, takut bercak itu merusak halaman, lalu terlambat sadar bahwa kertas itu sudah menyerap sendiri kata sunyi yang basah. Ia menarik napas dan meneruskan membaca. Di rooftop, angin sore membalik sudut halaman tanpa diminta, seolah ikut membantu.
Hari kedua pingitan, tulis Rayhan, masih dengan huruf rapat yang terburu-buru. Mama menyita ponselku dengan alasan “latihan menahan rindu”. Papa pura-pura tidak melihat. Aku sudah mencoba menawar: satu panggilan, satu menit. Ditolak. Aku menawar sepuluh detik. Mama bilang sepuluh detik itu cukup untuk jatuh cinta ulang, jadi tetap tidak boleh. Aku tidak mengerti logikanya, tapi aku sadar aku kalah dari dua orang yang membesarkanku.
Maura tertawa kecil, dan tawa itu berubah jadi hidung tersumbat. Ia mengambil tisu dari saku selendang hijau pucat dan terus membaca.
Hari ketiga. Tengah malam aku diam-diam naik motor ke rumah Maura. Aku hanya mau melihat jendela kamarnya. Aku jongkok di balik pot melati. Bapak keluar membawa dua gelas kopi dan duduk di sebelahku, tidak marah sedikit pun. Itu jauh lebih menakutkan. Beliau bilang, “Kopi dulu, Nak. Rindu itu memang begini, tapi besok pagi kamu tetap pulang.” Aku minum kopinya sampai habis, dan sampai sekarang aku tidak tahu apakah itu hukuman atau restu.
Hari keempat. Kapten Abid meneleponku di telepon rumah, satu-satunya yang diizinkan Mama, hanya untuk bertanya apakah aku sudah makan. Kujawab sudah. Ia bilang, “Bohong. Suaramu seperti orang yang makan angin.” Ia benar. Aku menghabiskan satu piring nasi hanya karena malu pada seorang kapten di ujung kabel. Lalu sisa malamnya aku menghitung jam sampai Minggu, dan jamnya tidak mau berjalan lebih cepat.
Hari kelima: Sapi kupeluk dulu sebelum tidur, supaya baunya sama dengan yang kuberikan padanya. Aku tahu itu konyol. Tapi kalau dia memeluk boneka itu dan merasa aku ada, maka Sapi lebih berguna daripada aku.
Maura menoleh ke arah tangga. Pintu besi itu tertutup rapat, dan di bawahnya, satu lantai di bawah, ada seorang laki-laki yang menunggu tanpa naik. Ia menunduk lagi.
Halaman terakhir ditulis dengan tinta yang lebih tebal, seperti pena ditekan keras-keras.
Malam sebelum akad. Besok dia resmi menjadi Mauraku. Dia adalah Mauraku, Maura hatiku.
Hanya itu. Tidak ada kalimat sesudahnya. Maura membaca satu kalimat itu sampai huruf-hurufnya kabur, lalu menutup buku dan memeluknya di dada. Langit sudah ungu. Ia mengambil ponsel dan mengetik dengan ibu jari yang tidak stabil.
Mas. Aku sudah selesai satu buku. Antar aku pulang ke rumah Mama.
Ia memandangi layar yang menyala di tengah gelap yang makin turun. Dulu, pikirnya, ia juga menunggu seperti ini, di sebuah kamar di rumah ibu, dengan ponsel dirampas dan perasaan bahwa jarak lima kilometer bisa jadi lebih lebar daripada samudra. Ia tidak ingat apa pun dari minggu itu, tetapi dadanya mengingat bentuk kesepiannya.
Balasan datang sebelum ia selesai menarik napas.
Aku di bawah. Pelan-pelan saja turunnya.
Di dalam mobil, Rayhan tidak bertanya apa pun. Ia menyetir dengan kedua tangan di roda kemudi dan mata ke depan, dan baru ketika lampu merah ia berkata, “Kalau mau kujemput dari rooftop, bilang saja.” Maura menjawab, “Aku sanggup jalan,” dan itu seluruh percakapan mereka sampai gerbang rumah.
****
Menjelang tengah malam, Maura masih duduk di sofa ruang tengah rumah mama dengan lampu baca menyala dan buku biru itu terbuka di dadanya. Ia membaca ulang bagian bapak dan kopi. Ia membaca ulang bagian Sapi. Entah kapan, kelopak matanya menyerah.
“Kak! Kak Maura!”
Maura membuka mata dan melihat sebaris langit-langit putih serta wajah Jelita yang terbalik dengan rambut mencuat ke segala arah. Cahaya matahari sudah miring masuk lewat jendela.
“Kakak tidur di sini semalaman?” bisik Jelita. “Mas Ray sampai tiga kali turun lihat, aku yang suruh dia jangan bangunin.”
“Jam berapa sekarang?”
“Enam lewat. Itu apa?” Jelita menunjuk buku di dada Maura dengan dagunya. “Buku harian Mas Ray? Kakak baca? Kakak nangis? Aku boleh lihat?”
“Satu pertanyaan sehari, Jel.”
“Kalau gitu aku pilih yang terakhir.”
“Tidak boleh.”
Melati muncul dari dapur sambil mengunyah roti, sudah berjilbab rapi dan membawa kunci motor. Ia berhenti di ambang pintu, memandang buku itu, memandang Maura, dan tidak berkomentar. Itulah yang membuat Maura berani bertanya.
“Mel.”
“Ya, Kak?”
“Dulu aku seperti apa?”
Roti di tangan Melati berhenti di depan mulutnya. Jelita duduk bersila di karpet, mendadak serius. Melati menaruh rotinya di piring kecil, lalu duduk di sisi sofa dengan tangan terlipat di lutut.
“Cerewet,” katanya. “Kakak itu cerewet banget, apalagi kalau Mas Rayhan mau terbang. Kakak bisa bicara dua puluh menit soal kaus kaki.”
“Kaus kaki?”
“Kaus kaki cadangan, Kak. Biar kakinya nggak dingin di kokpit. Mas Rayhan sampai punya tiga pasang yang disulam huruf M.” Melati mengangkat jari. “Terus ceroboh. Kakak pernah memasukkan kunci motor ke kulkas, terus nyari-nyari sampai nangis, padahal tadi Kakak sendiri yang bilang ‘dingin ya hari ini’.”
Jelita terbahak sampai memegangi perut. “Kulkasnya sampai bunyi kriuk-kriuk,” tambahnya, “karena Kak Maura bolak-balik buka tutup.” Maura mengerutkan hidung. “Itu bohong.”
“Itu fakta, Kak. Aku saksinya. Dan suka memeluk.” Melati menunduk, suaranya melunak. “Kakak peluk siapa saja yang kelihatan sedih. Aku pernah ditinggal pacar, Kakak datang, nggak ngomong apa-apa, cuma peluk. Lama sekali. Sampai aku malu sendiri.”
Maura memandangi buku di pangkuannya. Cerewet, ceroboh, suka memeluk. Tiga kata itu tidak menyalakan apa pun di kepalanya, tetapi mereka menempel seperti stiker di kaca yang sedang berembun.
“Kakak sedih?” tanya Melati hati-hati.
“Bukan.” Maura menggeleng pelan. “Aku cuma kenalan dulu. Kayaknya dia orang yang menyenangkan.”
“Dia memang menyenangkan,” kata Jelita, tanpa cengiran sama sekali untuk sekali itu.
****
Malam itu Rayhan pulang dari penerbangan pulang-pergi dengan kemeja seragam yang sudah lepas dasinya. Ia masuk lewat pintu dapur karena tahu mama sering menunggu di sana, mencuci tangan di wastafel, dan berhenti ketika melihat Maura duduk sendirian di kursi teras belakang, dengan buku biru di pangkuan dan secangkir teh jahe yang sudah dingin.
Ia mengetuk kusen pintu dengan buku jari, dua kali, seperti orang yang bertamu di rumahnya sendiri.
“Duduk, Mas,” kata Maura. “Aku nggak gigit.”
Rayhan duduk di kursi sebelahnya, menyisakan satu kursi kosong di antara mereka. Di kejauhan lampu tetangga berkedip.
“Kemarin aku baca sampai habis,” kata Maura. “Aku sempat ngintip bagian akhirnya dulu, maaf. Yang kopi bareng Bapak itu benar?”
“Kamu boleh ngintip. Itu bukunya kamu.”
“Belum. Baru aku pinjam.”
“Benar.” Suara Rayhan serak. “Sampai sekarang kalau dikasih kopi hitam, aku curiga.”
“Dan Sapi? Betulan kamu peluk dulu?”
“Betulan. Dua hari sebelum pingitan. Aku peluk semalaman sampai Mama melihat dan bilang aku sudah gila.”
Maura tersenyum, lalu senyum itu menghilang pelan-pelan. Ia memutar cangkirnya di tatakan, mencari kata-kata yang tidak tersedia dalam buku mana pun.
“Aku suka buku itu, Mas,” katanya akhirnya. “Aku suka caramu menulis. Lucu, dan sedih sekali, dan jujur. Tapi buku itu cerita tentang aku yang lain, yang aku nggak kenal, ditulis oleh kamu yang waktu itu belum tahu apa yang akan terjadi.”
“Ra—”
“Aku belum selesai.” Maura mengangkat tangan, dan Rayhan langsung diam. “Aku sudah baca satu. Sisanya aku mau dengar dari kamu juga, bukan hanya dari buku. Kamu yang sekarang, yang duduk di sini dan pulang dengan muka lelah, yang tahu semuanya dan masih bertanya dulu sebelum duduk.”
Rayhan memandangnya lama. Ia menarik napas untuk bicara, dan dari matanya Maura tahu kalimat-kalimat yang ia siapkan semuanya runtuh.
“Hari Minggu aku libur,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Kita mulai dari buku kedua?”