Minggu pagi, buku kedua tergeletak di meja teras belakang rumah mama, bersampul cokelat muda dengan sudut yang menggembung oleh tempelan kertas. Rayhan duduk di kursi seberang dengan secangkir kopi yang ia pegang lebih sebagai pegangan daripada minuman. Ia sudah berganti kaus rumah tiga kali sejak subuh, dan Maura tahu karena Jelita melaporkannya dari balik pot anggrek.
“Ini lain,” kata Rayhan sebelum Maura membuka halaman pertama. “Tahun pertama. Isinya receh. Kamu boleh tertawa.”
“Boleh juga kalau aku nggak tertawa?”
“Boleh. Tapi tolong jangan diam saja.”
Maura membuka buku itu dan langsung disambut kertas kuning kecil yang tertempel miring, tintanya sudah pudar. Tulisan bulat-bulat, bukan tulisan Rayhan: Sabuk pengaman. Aku serius. —M. Di bawahnya, dengan huruf rapat Rayhan: Tempelan pertama dari istriku. Di kaca spion, hari ketiga kami menikah.
“Aku yang nulis ini?” Maura mengangkat kertas itu dengan dua jari, takut rontok.
“Kamu. Aku lupa sabuk pengaman, kamu nyetir di sebelahku dan nggak ngomong apa-apa sepanjang jalan, cuma melotot. Besoknya ada kertas ini.” Rayhan tersenyum, sudut matanya berkerut. “Aku ceritakan versi lengkapnya, ya? Kamu menempel itu waktu aku mandi. Waktu aku keluar, kamu duduk di sofa pura-pura membaca majalah terbalik.”
“Terbalik?”
“Judulnya miring semua. Aku tanya kenapa, kamu bilang itu gaya baru.” Rayhan menyesap kopinya yang pasti sudah dingin. “Aku nggak berani ketawa. Takut kamu ngambek, takut kamu nggak ngambek. Jadi aku pasang sabuk pengaman, duduk, dan makan malam dengan sangat tertib.”
“Terus aku bilang apa?”
“Kamu bilang, ‘Bagus. Tiga hari belajar, tiga hari lulus.’ Terus kamu ke dapur, dan aku dengar kamu ketawa sendiri di balik pintu kulkas.”
Dari jendela dapur, Jelita melambai sekali, lalu sengaja memutar badan membelakangi teras, memegang gelas dengan kedua tangan. Bahunya bergetar menahan ingin tahu, tetapi ia tidak melangkah satu inci pun. Batas yang ditetapkan Maura ternyata bekerja.
Maura tertawa, pendek dan kaget, lalu menutup mulut. Rayhan memandangnya dengan wajah orang yang menerima hadiah tidak terduga. Mereka membuka halaman demi halaman. Ada tempelan “Matikan kompor, Mas, KOMPOR”, ada daftar belanja yang bertuliskan sambal sebagai nomor satu sampai nomor lima, ada gambar bebek yang dicoret Rayhan dengan komentar Ini bukan bebek, ini Kapten Abid. Maura tertawa lagi, lebih lepas, dan di sela tawa itu ia menyadari betapa lama sudah sejak ia mendengar suaranya sendiri sekeras ini.
“Mas,” katanya, setelah napasnya tenang. “Aku mau yang berikutnya.”
Rayhan tidak langsung menjawab. Ia menatap tumpukan buku di kotak kayu yang dibawanya turun, menyentuh sampul abu-abu, lalu menyingkirkannya, dan mengambil yang hitam. Buku ketiga. Tipis, tanpa tempelan sama sekali.
“Yang ini bukan receh,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku duduk di mana?”
“Di sini.” Maura menunjuk lantai balkon lewat pintu kaca di belakangnya. “Nanti sore. Jangan bicara. Cukup ada.”
****
Balkon lantai atas rumah mama menghadap taman belakang. Menjelang pukul empat, bayangan jambu air sudah menutupi separuh lantai. Rayhan duduk bersandar pada pagar dengan lutut ditekuk dan mata ke langit, tepat seperti yang diminta, sementara Maura di kursi rotan membuka buku hitam itu pelan-pelan.
Tulisannya lain. Kalimat-kalimat pendek, terputus, kadang hanya satu kata di satu baris.
Mendarat. Ponsel menyala. Dua puluh tujuh panggilan.
Kapten Abid menahan bahuku di koridor bandara. Aku tidak ingat apa yang ia katakan. Aku hanya ingat tangannya gemetar sama seperti tanganku.
Lari. Seragam. Tidak peduli.
Maura. Selang di hidung. Tidak bangun.
Jari Maura mengencang di tepi halaman. Ia membalik.
Hari pertama malam. Lorong rumah sakit dingin. Papa duduk di sebelahku dan tidak bicara. Aku bersyukur untuk itu.
Hari kedua. Dokter bilang tunggu. Aku tidak bisa makan. Mama menaruh sepiring nasi di lantai di sampingku, lalu pergi tanpa bicara. Aku tidak menyentuhnya.
Hari ketiga. Namanya Pak Darto. Sopir taksi yang selalu menjemput Maura kalau Maura terlalu malas bersepeda. Kata polisi, ia tidak sempat sampai rumah sakit. Aku mengantar amplop ke rumah istrinya lewat Papa, karena aku tidak sanggup menatap anak-anaknya.
Maura berhenti di baris itu. Ia membacanya sekali, lalu sekali lagi, lalu tidak lagi, karena huruf-hurufnya sudah terlalu basah untuk dibaca. Nama itu baru. Selama ini ia hanya tahu sopirnya tidak selamat, tanpa wajah, tanpa nama, seperti berita di koran orang lain. Sekarang ia punya nama untuk ditangisi, dan ia sadar ada seseorang yang telah menangisinya lebih dulu, sendirian, di lorong rumah sakit.
Ia menutup buku dan memandang punggung Rayhan. Di kepalanya muncul pertanyaan yang tidak sanggup ia ucapkan: kalau malam-malam seperti itu dilalui laki-laki ini sendirian, bagaimana ia bisa tersenyum di warung bubur Bandung, bagaimana ia bisa menunggu dengan sabar, bagaimana ia bisa bertanya dulu sebelum duduk tanpa satu pun kemarahan yang bocor?
“Mas.”
“Ya.” Rayhan tidak menoleh.
“Kamu yang antar amplopnya?”
“Papa yang antar. Tapi uangnya dari aku.” Suaranya datar, seperti orang membacakan laporan. “Aku ke sana sesudahnya. Sendiri. Nanti kuceritakan semuanya, tapi bukan hari ini.”
“Bukan hari ini,” Maura mengulang. Ia berdiri dan berjalan melintasi lantai balkon, sampai berdiri tepat di depan Rayhan yang masih duduk dengan lutut ditekuk. Ia menunduk. “Boleh aku peluk kamu?”
Rayhan mendongak, dan jakunnya naik turun sekali. “Boleh.”
Maura berlutut di lantai dan memeluknya. Bukan pelukan canggung seperti di rest area, bukan pula pelukan yang dibimbing. Ia melingkarkan lengan di bahu Rayhan, menaruh dagu di puncak kepalanya, dan merasakan tubuh itu gemetar sekali, lalu diam.
“Aku tahu sekarang rasanya kehilangan separuh,” bisiknya. “Ini yang kamu rasakan, ya, waktu aku nggak bangun?”
Rayhan tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menaruh dahinya di bahu Maura, lama, dan kemejanya basah.
****
Di dapur bawah, mama berdiri di depan jendela dengan gelas teh yang tak jadi diminum. Dari sana, lewat sela daun jambu air, ia bisa melihat dua bayangan di balkon yang menyatu menjadi satu siluet di bawah sinar sore. Ia tidak mendengar apa pun, dan ia tidak perlu mendengar. Ia teringat malam ketika Rayhan pulang dari rumah sakit, duduk di meja makan ini, dan menelan nasi dingin sambil menatap piring tanpa melihatnya. Mama saat itu tidak berani menyentuh bahunya. Hari ini, dari kejauhan, ia melihat anaknya diizinkan untuk dipeluk.
Mama mengusap sudut mata dengan punggung tangan. Ia menaruh gelas, menengadah sejenak, dan berdoa dengan bibir yang nyaris tak bergerak. Ya Allah, jangan ambil lagi apa yang baru Engkau kembalikan.
Ia sudah hampir kembali ke kompor ketika tangga berderit. Maura turun sendirian, matanya sembap tetapi langkahnya tenang, dengan buku hitam di dada. Di belakangnya, di balkon, pintu kaca menutup pelan: Rayhan memberi ruang.
“Ma.”
“Ya, Nak?”
“Maura mau membeli sesuatu, tapi belum berani sendirian ke jalan raya. Minggu ini Mama bisa antar aku ke toko alat tulis?”
Mama mengerjap. “Toko alat tulis? Boleh, Senin Mama antar. Mau beli apa?”
“Buku tulis.” Maura menaruh buku hitam itu di meja dapur dengan hati-hati, seolah buku itu bisa terluka. “Yang kosong. Aku mau menulis juga.”