Empat hari Rayhan tidak menyebut buku kuning itu sekali pun, dan Maura menyadari bahwa justru karena itulah ia memikirkannya terus. Pada Senin sore, ketika hujan tipis turun di teras belakang dan Maura duduk dengan secangkir teh jahe di sebelah pot anggrek, Rayhan muncul di ambang pintu dengan kemeja rumah dan tangan kosong. Ia tidak membawa apa-apa, bahkan tidak membawa kopi.
“Boleh aku tanya sekali lagi?” katanya. “Sekali saja. Kamu boleh jawab sama.”
“Tanya.”
“Bukumu. Boleh aku baca sebagian, atau kamu masih mau menyimpannya sendiri?”
Maura mengangkat cangkirnya, menyesap, dan meletakkannya kembali. Empat hari ia menimbang-nimbang, dan jawabannya sudah ada sejak pagi, hanya belum diberi bentuk. Ia masuk ke rumah, naik ke kamar, dan turun lagi membawa buku kuning pucat itu. Di tengahnya ada selembar kertas catatan kecil yang ia selipkan sebagai pembatas.
“Satu halaman,” katanya. “Yang pertama. Jangan buka yang lain.”
“Tidak akan.”
“Aku serius, Mas.”
“Aku juga.” Rayhan menerima buku itu dengan dua tangan, persis seperti malam ketika ia mengembalikan secarik kertas tanpa membacanya, dan duduk di kursi seberang. Ia membuka halaman pertama. Matanya bergerak dari atas ke bawah, melambat di tengah, lalu diam.
Tulisan Maura bulat dan agak miring ke kanan, jauh lebih santai daripada huruf-huruf rapat di buku harian miliknya sendiri. Di baris teratas hanya ada satu kata, Hello., dan di baris terbawah, setelah beberapa kalimat tentang mochi dan kertas baru, ada satu kalimat pendek: Hari ini aku minum kopi. Rasanya seperti pulang.
Ia membaca tanpa suara. Maura melihat jakunnya naik-turun, sekali, dua kali. Di luar, hujan merapikan dirinya jadi gerimis. Ketika Rayhan akhirnya menutup buku itu, matanya merah dan basah, tetapi senyumnya juga ada, tipis dan tidak bisa disembunyikan.
“Terima kasih,” katanya. Ia menyodorkan buku itu kembali, dan tidak meminta apa pun sebagai balasan.
Dari dalam rumah terdengar denting piring dan suara Jelita yang berbisik keras, “Dia baca, dia baca, dia nangis,” disusul bunyi sendok jatuh dan teguran Melati. Rayhan dan Maura saling pandang dan menahan tawa.
“Cuma itu?” tanya Maura. “Nggak mau komentar?”
“Komentarku nggak berguna. Aku cuma mau bilang, kopi itu benar-benar cocok untukmu.” Rayhan mengusap pipi dengan punggung tangan. “Dan kata pulang itu ... aku tidak akan menanyakan pulang yang mana.”
****
Malam harinya, di ruang tengah dengan satu lampu baca yang menyala dan hujan masih berbisik di jendela, Maura menemukan Rayhan membongkar tas ranselnya. Dari dalamnya keluar sebuah buku catatan tebal bersampul kulit hitam, penuh tempelan label warna dan potongan diagram.
“Ini buku terbangku,” katanya. “Bukan buku harian. Isinya angka dan istilah. Kamu mau lihat?”
“Mau.”
Maura duduk di sebelahnya, menyisakan jarak sebesar satu bantal sofa. Halaman-halaman itu berisi coretan yang tidak ia mengerti: panah, lingkaran, huruf kapital yang saling singkat. Rayhan menunjuk satu per satu dengan ujung pena.
“Ini holding. Kalau pesawat mau mendarat tapi landasan belum bisa dipakai, kami berputar di udara dan menunggu. Seperti antre di depan toko, tapi di atas awan.”
“Antre,” ulang Maura pelan.
“Antre.” Rayhan mengangguk.
Maura mengernyit. “Jadi kamu bisa antre berjam-jam di atas kota?”
“Bahan bakar kami selalu dihitung untuk itu. Ada cadangan.” Rayhan mengetuk satu garis tebal. “Jadi jangan bayangkan kami berputar sampai kehabisan. Selalu ada batas, dan batas itu tidak pernah kami dorong.”
“Yang berikutnya go-around, itu waktu pesawat sudah hampir menyentuh landasan, tapi kapten memutuskan naik lagi. Karena ada sesuatu yang tidak beres. Sebuah kendaraan di landasan, angin terlalu kencang. Itu bukan kegagalan. Itu keputusan.”
“Dan ini?” Maura menunjuk satu kata yang digarisbawahi dua kali. “Alternate.”
“Bandara pengganti. Kalau tujuan utama ditutup, kami mengalihkan penerbangan ke bandara lain. Namanya divert.” Rayhan mengusap kertas itu dengan jempol. “Kata Kapten Abid, ‘Kami tidak malu mengalihkan tujuan. Pesawat yang selamat adalah yang hormat pada cuaca.’”
“Kapten Abid sering bicara seperti buku motivasi?”
“Hanya kalau Denisa tidak ada. Kalau ada Denisa, dia bicara seperti badut.”
Maura mengulang kalimat itu di kepalanya, pelan-pelan. Pesawat yang selamat adalah yang hormat pada cuaca. Ia menyukai bunyinya, lalu menyadari bahwa ia sedang memikirkan hal lain.
“Mas.”
“Hm?”
“Apa yang kamu pikirkan waktu cuaca buruk? Di atas sana.”
Rayhan menutup buku itu dan menatap ke jendela yang basah. Ia tidak langsung menjawab, dan Maura menunggu tanpa mendesak.
“Aku bersenandung,” katanya akhirnya. “Pelan, nggak keluar suara, cuma di dalam kepala. Satu lagu. Kesukaanmu.”
“Lagu apa?”
“Kembali Pulang.”
Ia mulai bersenandung, sangat pelan, nyaris tak terdengar di bawah suara hujan. Nadanya sederhana dan sedikit sumbang di bagian naik. Maura menahan napas, karena sesuatu di ujung lidahnya tiba-tiba bergerak, dan sebelum ia sempat berpikir, mulutnya sudah mengikuti reff itu, dua baris, tanpa kata, hanya nada. Nadanya tepat.
Mereka berdua berhenti bersamaan.
“Kamu tahu lagu itu,” kata Rayhan, nyaris tak bersuara.
“Aku tahu nadanya.” Maura menaruh tangan di dada dan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. “Aku nggak tahu dari mana. Tapi aku tahu.”
Rayhan tidak berkata “Ingat?”, tidak mencondongkan badan, tidak bertanya lagi. Ia hanya menunduk, mengambil pena, dan menutup buku terbangnya dengan gerakan sangat hati-hati, seolah suasana itu bisa pecah oleh kertas yang bergeser.
“Itu cukup,” katanya. “Itu sudah lebih dari cukup.”
****
Larut malam, Maura berdiri di balkon dengan selendang hijau pucat di bahu, memandang jalan di bawah yang basah dan sepi. Rayhan datang membawa dua cangkir cokelat hangat dan menaruh satu di pagar balkon di sebelah tangannya, tidak terlalu dekat.
“Mas, aku mau bilang sesuatu.”
“Silakan.”
Maura mengambil cangkirnya, merasakan hangat merambat ke telapak tangan, dan memutuskan bahwa jika ia tidak mengatakannya sekarang, ia tidak akan pernah mengatakannya.
“Aku takut.” Maura menatap lampu jalan yang berkedip. “Bukan sama pesawatnya. Dari tadi kamu cerita holding, go-around, divert, dan aku bisa mengerti semuanya. Yang aku takuti ... ponselnya.”
“Ponsel?”
“Ponsel yang nggak berbunyi.” Suaranya mengecil. “Kamu bilang ponselmu dimatikan kalau kamu terbang, dan kamu mendarat, baru dinyalakan. Antara dua hal itu ada ... kosong. Dan aku nggak tahu isi kosong itu. Aku nggak ingat bagaimana aku menunggu dulu, tapi badanku tahu itu menyakitkan.”
Rayhan memegang cangkirnya erat. “Aku tahu.”
“Kamu memang sudah selalu mengabari kalau landing, dan aku tahu itu janji lama,” kata Maura. “Aku cuma mau menyempurnakannya. Kabari aku lebih dulu dari siapa pun, dan jangan ditunda lebih lama dari yang perlu.”
“Tidak akan.” Jawabannya datang secepat napas. “Roda menyentuh landasan, ponsel menyala, pesan pertama ke kamu. Sebelum telepon Mama, sebelum Kapten Abid, sebelum apa pun.”
“Hanya itu?” tanya Maura. “Nggak ada syarat?”
“Syaratnya cuma satu.” Rayhan menunduk, menatap permukaan cokelat di cangkirnya. “Kamu jangan mengira diam berarti buruk. Kadang pesawat mendarat, dan aku sendiri butuh dua menit untuk bernapas sebelum mengetik.”
“Dua menit boleh.”
“Janji?” tanya Maura.
“Janji.” Rayhan menatapnya. “Dan kalau suatu hari nggak bisa, aku akan bilang sebelumnya kenapa.”
Maura meraih cangkir cokelatnya dan menyesap. “Dua menit aku hitung sendiri,” katanya. “Menit ketiga, aku mulai marah.”
Rayhan tertawa sampai cokelatnya nyaris tumpah, lalu tawanya surut. “Dicatat. Dan kalau sudah mendarat, aku ketik dulu satu kata sebelum apa pun. Sebelum napas pun.”