“Ini yang kiri atau yang kanan?”
“Itu bagian bawah, Mas. Yang ada karetnya.”
“Karetnya di mana?”
“Di pojok. Pojok yang dibalik.”
Rayhan menegakkan badan di samping ranjang apartemen, memegang seprai biru muda kusut yang tampak sudah menyerah pada hidupnya. Sabtu sore, lima hari sesudah janji tentang kabar itu, sinar matahari jatuh miring lewat jendela kamar utama, dan di lantai berserakan tiga kantong belanja dari rumah mama, dua bantal, dan satu guling yang bersandar pada dinding seperti saksi mata. Maura duduk di tepi ranjang dengan kaki bersila dan satu tangan di atas perutnya yang sudah mulai membulat di balik kaus longgar.
“Kamu terbang dengan pesawat dua ratus penumpang,” katanya, “dan kamu nggak bisa memasang seprai.”
“Pesawat ada daftar periksanya.”
“Seprai ada pojoknya.”
“Pojok itu tidak masuk daftar.” Rayhan menarik karet ke pojok terjauh, dan seluruh seprai melompat lepas dari sisi lainnya. Ia menatapnya dengan sedih. “Kamu menang.”
Maura tertawa, lalu turun dari ranjang dan memegang dua sisi seprai, dan mereka memasangnya bersama dengan kikuk. Bukan tangan Maura yang ingat kali ini; ia belajar sambil jalan. Sesekali ujung jarinya dan jari Rayhan bertabrakan di pojok kain, mereka sama-sama berhenti, dan Rayhan menunggu sampai Maura menggerakkan tangannya lebih dulu.
Pagi tadi mama menunggu di teras dengan tas berisi bantal tambahan dan wajah yang jelas-jelas bahagia sekaligus berusaha tidak terlihat bahagia. “Pergilah,” katanya. “Hari Minggu pagi Rayhan harus berangkat, tapi malam ini kalian punya apartemen. Mama setuju. Kamar kedua jangan dibuka, ya.”
“Ma, kami nggak akan.”
“Mama cuma ingatkan.” Mama memeluk Maura, lama. “Dan jaga Rayhan. Dia suka pura-pura nggak lapar.”
Sekarang, di kamar utama yang ia pilih sendiri untuk ditempati, Maura memandangi ranjang yang sudah rapi, dengan dua bantal bersisian dan guling yang akhirnya ia pindahkan ke sisi jendela. Ia belum memutuskan apa pun, tetapi tubuhnya sudah mengetahui jawaban sebelum kepalanya sempat mempertimbangkan.
“Sudah,” kata Rayhan. “Mau makan dulu?”
“Mau. Sambal satu sendok.”
“Satu sendok.” Rayhan mengangkat telunjuk seperti bersumpah. “Sesuai Dokter Delia.”
Dapur apartemen itu sempit tetapi bersih, dengan toples-toples yang disusun rapi dan celemek abu-abu tergantung di paku. Rayhan memasak nasi goreng dengan gaya orang yang sudah belajar dari video, memecah telur terlalu keras sampai cangkangnya ikut masuk. Maura duduk di kursi tinggi dan memberi instruksi seperti kapten kapal. “Api kecil. Kecil, Mas. Itu sudah besar.” “Ini api terkecil.” “Berarti kompornya bohong.” Mereka makan di meja kecil dekat jendela, dan Maura menghitung sendok sambalnya dengan serius, lalu menambah setengah, lalu menatap Rayhan yang berpura-pura tidak melihat.
“Aku nggak lihat apa-apa,” katanya.
“Bagus.”
“Aku hanya lihat istriku mengambil sambal dengan teknik yang sangat canggih.”
“Itu setengah sendok.”
“Setengah sendok yang bisa dihitung sebagai satu.”
Maura tertawa, dan ruang apartemen itu terasa lebih lapang daripada yang ia ingat. Di dinding ruang tengah, foto dermaga itu masih tergantung, dua orang di tepi laut, satu memeluk yang lain dari belakang. Ia memandangnya dari kursi dan, untuk sekali itu, tidak merasa sedang memandangi orang lain.
****
Malam turun dengan lampu-lampu kota yang menyala satu per satu dari jendela lantai tujuh. Sehabis makan dan mencuci piring bersama, Maura sudah masuk kamar lebih dulu, mengganti baju, dan duduk bersandar di kepala ranjang dengan buku kuning di pangkuan yang tidak sedang ia tulis.
Rayhan muncul di ambang pintu. Ia berhenti di sana dengan kaus tidur dan rambut yang masih lembap, lalu berjalan pelan dan berhenti lagi di tepi ranjang sisi kiri. Ia tidak naik. Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuh, seperti penumpang yang menunggu lampu sabuk dimatikan.
Maura memandangnya. Rayhan tidak mengatakan apa pun, tidak bertanya “boleh?”, tidak memasang wajah penuh harap. Ia hanya menunggu, dan menunggu itu sendiri sudah menjadi pertanyaan yang paling jujur yang pernah ia ajukan.
Ia teringat daftar yang pernah ia tulis, Tempat pulang, tulisan nomor satu itu. Ia ingat betapa ia belum tahu tempat pulang yang mana.
Di dalam diri Maura, banyak hal bersahutan. Ada yang takut. Ada yang malu. Ada pula, di bawah semuanya, sesuatu yang hangat dan lebih tua daripada ingatannya, yang tidak peduli apakah ia mengenal laki-laki ini lewat kenangan atau lewat tangan dan hati yang sudah belajar.
Ia mengulurkan tangan, menangkap lengan Rayhan, dan menariknya pelan ke pinggangnya sendiri.
“Aku mau, Mas,” bisiknya. “Aku yang mau.”
Rayhan memejamkan mata sebentar. Ketika ia membukanya lagi, ada sesuatu yang bergetar di sana. “Kalau di tengah jalan kamu ingin berhenti—”
“Aku bilang ‘Cukup’.”
“Dan aku berhenti.”
“Aku tahu.” Maura menatapnya. “Makanya aku mau.”
Maura menjangkau lampu tidur dan mematikannya.
****
Menjelang tengah malam, sebuah klakson panjang meledak dari jalan raya di bawah, tajam dan tanpa ampun, menembus kaca jendela yang tidak tertutup rapat.
Maura membuka mata dalam gelap, napasnya tertahan di tenggorokan. Dadanya mengeras. Telinganya berdenging, dan seluruh tubuhnya sudah akan menggulung diri ketika sebuah tangan hangat menemukan tangannya di bawah selimut dan menggenggamnya, tidak erat, hanya hadir.
“Aku di sini,” bisik Rayhan. “Hitung bersamaku. Satu.”
“Satu,” Maura mengulang, suaranya serak.
“Dua.”
“Dua ... tiga.”
Klakson itu berhenti. Sunyi turun lagi, lembut, dan di kejauhan hanya terdengar mesin kulkas dari ruang tengah. Maura mendapati ia sedang bernapas lagi, pelan, dan tangannya sedang menggenggam balik jari-jari yang menunggunya.
“Maaf,” bisiknya refleks.
“Jangan.”
“Aku nggak takut,” kata Maura, dan baru setelah mengucapkannya ia sadar kalimat itu benar. Ia menoleh dalam gelap, ke arah wajah yang samar-samar tampak oleh cahaya tipis dari tirai. “Aku nggak takut kalau kamu ada.”
Rayhan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan Maura dan menaruhnya sebentar di dadanya, tempat jantungnya berdetak keras dan tidak teratur, lalu melepaskannya kembali.
Subuh datang tanpa diminta. Alarm di ponsel Rayhan berdering lembut pukul empat, dan Maura sudah terjaga sebelum bunyinya selesai. Rayhan berpakaian dalam gelap, menyisir rambut di depan cermin kecil, memasang seragam yang digantung di pintu lemari sejak sore. Ia mengancingkan kemeja dengan jari yang sedikit canggung, kebiasaan yang selalu muncul tiap kali ia akan meninggalkan seseorang. Di kaca lemari, Maura melihat bayangan punggungnya, lebar dan lelah, tegak seperti anak sekolah yang berjanji tidak akan menangis di depan pintu pagar. Ketika ia berbalik, Maura sudah duduk bersandar dengan selendang hijau pucat di bahu.
“Aku nggak sanggup bilang jangan pergi,” kata Rayhan dari ambang pintu.
“Memang jangan bilang.” Maura menggeleng pelan, tersenyum meski matanya basah. “Pergilah.” Ia menarik napas. “Kabari.”
“Begitu roda menyentuh landasan.”
“Dan kalau Mama bertanya aku makan apa?”
“Nasi goreng terenak sedunia, dan sambal satu sendok.”
“Setengah.” Maura mengoreksi. “Satu setengah.”
Rayhan tertawa pendek, menyeka sudut matanya yang lembap, dan mengangguk. Ia mengangkat tangan ke arah pintu, ke arah dinding, ke arah Maura, tidak yakin yang mana. Lalu ia pergi. Pintu apartemen menutup dengan bunyi klik pelan, dan langkahnya menjauh sepanjang koridor sampai lenyap di balik denting lift.
Maura duduk sendirian di kamar yang sunyi, dengan bantal kosong di sebelahnya. Ia menunggu sampai bunyi lift benar-benar hilang. Baru ketika kesunyian menutup rapat, ponselnya bergetar di nakas. Pesan dari Jelita, dikirim pukul empat lewat sepuluh pagi, entah dari mana ia tahu: Kak, aku bawa bubur jam sembilan. Jangan kunci pintunya. Jangan marah. Mama yang suruh.