“Pagi, Nak,” kata Maura pada perutnya, dan suaranya terdengar sangat keras di apartemen yang kosong.
Itu Minggu pagi, tiga jam sesudah pintu menutup di belakang Rayhan. Ia duduk di tepi ranjang, di sisi kiri yang masih berbau sabun Rayhan, dengan kedua telapak tangan di atas kain kaus yang kini terasa sedikit lebih ketat. Tidak ada yang menjawab. Tentu saja tidak. Tetapi kesunyian pagi itu tidak terasa seperti ruangan yang kehilangan penghuni; rasanya seperti ruangan yang sedang menunggu seseorang mengisinya. “Papamu sudah terbang,” lanjutnya pelan. “Dia akan kabari. Kalau nggak, Mama marah, dan kamu boleh ikut marah.”
Ponselnya bergetar di nakas sebelum ia selesai mengucapkannya. Pukul tujuh lewat dua belas menit. Satu pesan masuk dari nomor yang disimpan Maura dengan nama Mas Ray.
Landing. Aman. Dua menit aku bengong dulu baru ngetik, sesuai kesepakatan.
Maura membacanya dua kali dan tertawa sendirian di kamar. Ia mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi: Terima kasih sudah kabari. Menit ketiga tidak jadi marah. Lalu ia menekan kirim, dan merasa dadanya longgar sejak pintu itu menutup.
Pukul sembilan kurang sedikit, pintu yang sengaja tidak dikunci terbuka didorong bahu Jelita. Ia berdiri di ambang dengan rantang bertingkat di kedua tangan dan wajah orang yang siap ditegur.
“Jangan marah,” kata Jelita lebih dulu. “Mama yang suruh. Katanya perempuan hamil nggak boleh sarapan sendirian di hari suaminya terbang.”
Maura mengambil rantang itu dari tangannya, lalu menarik Jelita sekalian ke dalam pelukan singkat. “Aku nggak marah. Buburnya nggak pakai sambal, kan?”
“Sambalnya di botol terpisah. Satu sendok, aku yang ukur.”
Beberapa hari sesudahnya ia sudah kembali ke rumah mama, dan perutnya, yang tadinya hanya terlihat oleh orang yang tahu, mulai menonjol di balik kaus. Hari Kamis, pukul sebelas, mama dan Melati menyeretnya masuk ke butik pakaian ibu hamil di lantai dua sebuah pusat belanja, dengan alasan yang sangat meyakinkan: “Kak, baju lama Kakak sebentar lagi nggak muat, dan kalau Kakak beli sendiri Kakak pasti pilih yang jelek.”
“Itu fitnah,” kata Maura.
“Itu observasi,” balas Melati.
Pegawai butik, seorang perempuan berambut pendek dengan pita ukur melingkar di leher, membawakan enam gaun sekaligus. Maura masuk ke ruang ganti dengan dua di antaranya dan keluar mengenakan gaun terusan biru tua dengan kancing mutiara kecil di kerah. Ia berdiri di depan cermin besar yang dibingkai kayu, dan terhenti. Di pangkal tenggorokannya ada rasa asing yang manis, seperti bertemu seseorang di jalan yang wajahnya akrab tetapi namanya belum ia ingat.
Cermin itu tidak berbohong. Di sana ada perempuan dengan wajah sedikit lebih penuh, lesung pipi yang muncul tanpa diundang, dan lengkung kecil di bawah pinggang yang memantulkan cahaya lampu butik dengan cara yang membuatnya ingin tersenyum sekaligus menangis. Ia menaruh tangan di perut. Pantulannya melakukan hal yang sama.
“Kak, putar,” suruh Melati.
“Putar apa?”
“Putar, Kak! Dasar kuno.” Melati menunjuk dengan tangannya sendiri. “Satu kali. Pelan.”
“Aku bukan mainan pajangan.”
“Kakak pajangan terbaik di sini. Mbak itu juga bilang begitu, ya, Mbak?”
“Betul,” kata pegawai butik tanpa ragu, dan Maura hampir tertawa.
Maura berputar, dan roknya mengembang sedikit lalu mengendap. Mama bertepuk tangan di kursi tunggu dengan mata berkaca-kaca. Si pegawai butik berkata, “Cantik sekali, Bu,” dengan nada profesional yang kebetulan tulus.
“Mama beliin yang itu,” kata mama. “Dan yang abu-abu. Dan yang kuning.”
“Ma, itu terlalu banyak.”
“Mama punya cucu, Mama berhak.”
Pegawai butik membungkus tiga gaun itu dengan kertas tipis berpita, sementara mama menolak sama sekali memberi kesempatan Maura membuka dompet. Mereka masih sibuk berdebat soal warna ketiga ketika ponsel Melati berbunyi, dan ia menjawab dengan satu telinga. “Mas? Ya, di lantai dua. Iya, butik yang tadi aku kirim lokasinya. Tunggu, Mas. Jangan dulu naik! Kak Maura masih ganti.”
“Dia di sini?” tanya Maura.
“Mas Rayhan baru landing pagi tadi, dan dia sudah di lobi,” jawab Melati sambil menahan senyum. “Mau dijemput.”
Maura belum selesai menarik napas ketika Rayhan sudah muncul di ujung lorong, berjalan cepat dengan kemeja seragam yang masih tersangkut di bahu, dan berhenti sepuluh langkah dari pintu butik. Ia melihat Maura. Pandangannya turun dari wajah, ke perut yang menonjol di balik gaun biru, lalu naik lagi, dan wajahnya berubah seperti seseorang yang baru melihat rumah kampung halamannya setelah sepuluh tahun.
“Kamu persis seperti dulu,” katanya.
Maura menangkap sesuatu di nada itu. Bukan pujian saja, melainkan harapan yang terlalu besar, seperti orang menyodorkan gelas penuh dan menunggu isinya meluber. Ia tersenyum tipis. “Terima kasih, Mas.”
Melati dan mama berpura-pura sibuk memilih selendang di rak seberang, dan keduanya mendengar semuanya. Maura tahu, karena bahu mama bergetar sedikit, dan bukan karena menahan tawa.
****
Di dalam mobil, jalan pulang macet di jam makan siang, dan Rayhan berbicara lebih banyak daripada biasanya.
“Waktu pindahan ke apartemen, kamu yang memilih warna dinding. Kamu bilang biru muda, tapi pas dicat jadi kebiruan sekali dan kamu ngambek seharian.” Ia melirik Maura sekilas. “Terus kamu ambil kuas, kamu cat satu sisi lagi jadi putih, dan seluruh rambutmu penuh cat putih. Mama sampai terkejut waktu datang. Kamu masih ingat itu, Ra?” Ia menoleh dengan wajah yang terlalu terang, seperti lampu yang dinyalakan sebelum kamar siap.
“Maaf. Aku nggak ingat.”
“Jangan minta maaf.”
Kalimat itu keluar terlalu cepat. Terlalu cepat sampai Maura menoleh, dan Rayhan sendiri mengerjap seperti baru menyadari. Ia menarik napas, dan mengalihkan pandangan ke jalan.
“Maksudku, ya. Aku nggak apa-apa.” Ia tersenyum, senyum yang terlalu rapi. “Satu lagi, ya. Waktu kita pertama kali—”
“Mas.”
“Hm?”
“Aku mau dengar. Tapi nanti. Sekarang aku mau lihat jalan saja.” Maura menatap kaca depan yang penuh pantulan lampu rem. Ia tidak ingin menyakitinya, dan itu justru yang terasa menyakitkan, bahwa tiap kali ia berkata tidak ingat, ada sesuatu yang kecil dan lembut di wajah Rayhan padam, lalu dinyalakan kembali dengan susah payah.
“Tentu.” Rayhan mengangguk dua kali. “Tentu. Boleh.”
Selama sisa perjalanan mereka diam, dan klakson di jalan sesekali menyela, dan tangan Rayhan di roda kemudi mengencang tiap kali, seolah ia yang takut.
****
Malam itu Maura duduk di meja tulis kamar rumah mama, dengan lampu baca yang menyorot halaman bergaris buku kuningnya. Pena biru bergerak lambat. Ia menulis tentang gaun biru tua dan pegawai yang berkata cantik, tentang mama yang bertepuk tangan, tentang cermin besar berbingkai kayu.
Pintu kamar diketuk dua kali. “Kak, aku bawa pisang goreng,” bisik Jelita dari balik kayu. “Satu boleh? Aku janji nggak baca.”
“Taruh di depan pintu, Jel.”
“Kakak marah?”
“Nggak.” Maura memandang buku kuning di bawah lampu. “Aku lagi nggak tahu aku apa.”
Hening sebentar di sisi lain pintu. Lalu suara piring diletakkan di lantai, dan langkah Jelita menjauh, lebih pelan daripada biasanya.
Maura kembali pada halamannya. Pena menggantung di atas kertas cukup lama sebelum ia menurunkannya lagi.
Mas Rayhan memandangku di butik seperti memandang sesuatu yang lama hilang, tulisnya. Aku ingin jadi sesuatu itu. Aku sungguh ingin. Tapi di mobil dia tanya aku ingat atau tidak, dan wajahnya berharap sekali. Hari ini ia bilang “dulu” lima kali. Aku menghitung dalam hati, dan sesudahnya merasa jahat.
Ia berhenti, membaca ulang, lalu menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya dengan huruf yang lebih kecil.
Aku tidak tahu siapa yang ia tunggu.