“Aku bilang film komedi,” protes Maura, “bukan film ikan.”
“Ini komedi, Kak,” kata Jelita sambil menarik selimut ke dagu. “Ada ikan badut yang nyasar, ada ikan biru yang pelupa. Kakak pasti suka.”
“Kakak dulu suka banget,” sambung Melati dari karpet, tempat ia bersila dengan semangkuk keripik singkong. “Kakak nonton ini empat kali, empat kali pula nangis di bagian yang sama.”
Minggu malam, tiga hari sesudah butik, ruang tengah rumah Mama disulap jadi bioskop dadakan. Lampu dipadamkan, tirai ditutup, bantal ditumpuk di sofa, dan televisi besar menyala dengan gambar laut biru yang bergerak lembut. Papa dan Mama sudah naik ke kamar dengan alasan lelah yang tidak meyakinkan siapa pun. Rayhan tidak ada. Ia berada di bandara sejak sore, bersiap untuk penerbangan malam, dan sudah mengirim pesan singkat lewat ponsel: Selamat nonton. Jangan nangis di bagian ikannya. Aku tahu kamu bakal nangis.
Maura membaca pesan itu dengan hidung berkerut. “Dia tahu juga?”
“Semua orang tahu, Kak,” kata Jelita.
“Satu syarat,” kata Maura. “Kalian dilarang menjelaskan alurnya sebelum kejadian.”
“Siap,” kata Jelita dan Melati serempak, lalu saling menyikut karena keduanya sama-sama menyimpan spoiler di ujung lidah.
Maura menyilangkan tangan dan menatap layar dengan tekad. Dua puluh menit kemudian, di adegan ketika ikan biru kecil kehilangan arah dan bertanya pada setiap makhluk yang lewat, matanya basah. Ia menahan napas, menyeka pipi dengan lengan baju, dan baru sadar ketika Melati berbisik, “Nah, kan.”
“Debu,” kata Maura.
“Debu ikan.”
Ia melempar bantal pada Melati dan mereka berdua tertawa sampai Jelita memencet tombol jeda dengan wajah tersinggung.
“Kak,” kata Melati sesudahnya, sambil mengunyah keripik dan memandang langit-langit, “aku boleh cerita satu hal?”
“Boleh.”
“Kakak dulu pernah ikut lomba tarik tambang di acara kantor Mas Rayhan. Kakak jadi anggota paling kecil, tapi Kakak yang teriak paling keras. Terus tali putus, Kakak jatuh telentang, dan Kakak malah ketawa sambil bilang, ‘Aku menang!’ padahal tim Kakak kalah.”
“Aku menang?” tanya Maura.
“Menang jatuhnya paling indah,” kata Jelita.
“Dan Kakak punya satu kebiasaan lagi,” tambah Melati, kini setengah tertawa setengah tidak. “Tiap pulang kerja, Kakak nyanyi di tangga rumah ibu, keras-keras, pura-pura nggak ada yang dengar. Satu kompleks tahu jadwal Kakak pulang dari suaranya.”
“Aku nyanyi?”
“Fals banget, Kak. Tapi tulus.”
Maura tertawa, tetapi tawanya turun sedikit lebih rendah daripada tadi. Cerita itu lucu. Perempuan di dalamnya terdengar berani dan riang dan sangat hidup. Ia ingin sekali mengenalnya, dan itu masalahnya. Cerita demi cerita terdengar seperti foto yang ditunjukkan orang lain, dan setiap kali dua pasang mata di ruangan itu menyala hangat, Maura bertanya diam-diam apakah mata-mata itu sedang melihatnya atau perempuan lain yang berdiri tepat di belakangnya.
“Kakak kenapa?” Melati menurunkan keripiknya.
“Nggak apa-apa.” Maura menarik selimut. “Lanjutkan filmnya.”
****
Sebelum film selesai, bel pagar berbunyi, dan Jelita meloncat dengan kegembiraan yang mencurigakan.
“Itu pesananku!”
“Pesanan apa?”
“Rahasia!”
Dari balik pagar muncul Mas Oka dengan jaket kafenya, membawa dua kantong kertas besar yang berbau kopi dan mentega. Ia menyerahkannya pada Jelita, mengangguk sopan pada Melati, lalu berhenti saat melihat Maura di ambang pintu ruang tengah dengan selimut menyelimuti bahu.
“Antar pesanan,” katanya sambil tersenyum. “Kafe mau tutup, aku lewat rumah ini, sekalian.”
“Sekalian dari kafe yang jaraknya lima belas menit?” gumam Melati.
“Sekalian.” Mas Oka tidak menoleh. Ia mengeluarkan satu kotak kecil terpisah dari kantong kedua dan menyodorkannya pada Maura. “Itu bukan pesanan. Kue jahe. Tanpa kopi, tanpa gula berlebih. Resep percobaan.”
Maura membuka tutupnya dan mencium aroma rempah yang hangat. “Mas Oka, makasih.”
“Sama-sama, Ra.” Mas Oka memasukkan tangan ke saku jaket. Ia ragu sebentar, lalu berkata pelan, supaya hanya Maura yang dengar, “Kamu dulu ceria banget. Sekarang kamu lebih tenang. Aku suka dua-duanya, serius.”
Maura memandangnya. Tidak ada belas kasihan di mata itu, tidak ada kebutuhan untuk membandingkan, hanya penerimaan yang sederhana seperti kopi hangat. Rasa sesak yang tadi menggantung di dadanya mengendur sedikit.
“Terima kasih,” katanya, dan kali ini ia sungguh-sungguh. “Kamu orang pertama yang bilang begitu tanpa menunggu aku ingat.”
“Kenapa harus menunggu?” Mas Oka mengangkat bahu. “Kopi nggak nunggu orang ingat dulu baru enak.”
Mas Oka mengangguk, melambai pada Jelita dan Melati, dan pergi sebelum ada yang sempat menggodanya lebih jauh.
****
Pukul sebelas malam, ketika film sudah habis dan Jelita dengan Melati tertidur berdampingan di karpet dengan mulut terbuka, ponsel Maura berbunyi. Nama Mas Ray muncul di layar. Ia keluar ke teras dengan langkah berjingkat dan menjawab pelan.
“Hai.”
“Hai.” Suara Rayhan terdengar berlapis bunyi pengumuman dan roda koper. “Aku di ruang tunggu. Mau lima menit lagi masuk. Kamu nangis di bagian ikannya?”
“Aku kena debu.”
“Debu ikan.” Rayhan tertawa. “Tadi gaun-gaun dari butik sudah dicoba lagi di rumah? Mama kirim fotonya ke grup, kamu cantik.”
“Mama kirim ke grup?”
“Mama kirim ke semua orang. Kapten Abid sampai bilang ‘Selamat, Ray, kamu menang lotre.’” Lalu nadanya merendah, hangat. “Ra, aku mau bilang sesuatu sebelum lupa. Aku kangen sekali. Kangen sama Maura yang—”
Pengumuman pesawat bergema memotong kalimatnya, nyaring dan tak terbantahkan: panggilan terakhir untuk penumpang tujuan. “Maaf, Ra, aku harus masuk. Nanti kutelepon. Dah.” Sambungan terputus.
Maura masih memegang ponsel di dekat telinga ketika layar itu padam. Kangen sama Maura yang. Yang apa? Yang dulu? Yang di Bandung? Yang di sini? Ia terpaku di teras dengan angin malam menggigit bahunya.
“Kak?” Melati berdiri di ambang pintu dengan mata setengah terpejam dan selimut menyeret di lantai. “Mas Ray telepon?”
“Dia kangen.”
“Wah. Bagus, dong.”
“Kangen sama Maura yang—” Maura menggeleng. “Putus. Pengumuman pesawat.”
Melati menguap, lalu menatapnya agak lebih lama dari yang diperlukan. “Kak, kalau lagi mikir yang aneh-aneh, mending tidur dulu. Tidur itu bukan solusi, tapi pelan-pelan jadi solusi.”
“Dari siapa?”
“Dari ibuku.” Melati menyeret selimutnya kembali ke dalam.
Di kamar, ia mengeluarkan buku kuning dari laci dan menulis dengan huruf yang makin tegas: Aku bukan hantu dari Maura yang dulu. Aku orang yang sedang hidup, sekarang. Ia menatap kalimat itu lama. Kata-katanya belum siap dibaca siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri.
Ia menutup buku dan menyelipkannya di bawah bantal. Tepat ketika ia berbaring, ponselnya menyala sekali lagi.
Take off. Aku kabari kalau landing. Selamat tidur, Ra.
Maura menatap layar lama sebelum mengetik satu kata, lalu mengirimnya: Hati-hati.