Pesan Take off itu sudah hampir seminggu lewat ketika pesanan Mbak Nadia datang Sabtu pagi dalam dua kardus besar yang diantar si laki-laki kurus dari toko, lengkap dengan catatan di atas kertas kotak-kotak: Dua puluh vas meja untuk pernikahan sore ini. Bunga krisan putih, aster ungu, napas bayi. Kamu bisa kerja dari rumah, Ra, dan jangan lupa duduk! Tanda tangannya satu huruf N yang besar dan miring.
“Mbak Nadia bilang kamu jangan berdiri lama-lama,” kata anak magang itu sambil menyodorkan gunting dan tali rafia. “Kalau Kakak berdiri, saya disuruh laporan.”
“Laporan ke siapa?”
“Ke Mbak Nadia. Dan ke Mas Rayhan. Dua-duanya.”
“Aku punya dua pengawas?”
“Tiga, Kak, kalau Kakak hitung Jelita.”
Maura duduk di kursi rotan teras belakang rumah mama, dengan baskom air di kaki dan batang bunga berserakan di atas koran di pangkuannya. Matahari pagi jatuh lembut lewat sela daun jambu air. Ia memotong ujung batang miring, menyusun krisan putih di tengah, melingkarkan aster ungu, lalu menyelipkan napas bayi seperti taburan debu. Tangannya bekerja tanpa diperintah. Sesekali ia berhenti, menatap hasilnya, dan terkejut karena terlihat bagus.
Vas keenam hampir selesai ketika sesuatu bergerak di dalam perutnya.
Bukan nyeri. Bukan pula mual. Rasanya seperti gelembung kecil yang pecah pelan di balik kulit, atau seperti ikan yang menyentuh jari saat tangan dicelupkan ke dalam kolam. Maura membeku. Gunting berhenti di tengah udara.
Ia menaruh gunting di koran, menaruh tangan kanan di bawah pusat, dan menunggu.
Satu detik. Tiga. Lima. Tidak ada apa-apa, dan ia mulai menyangka dirinya salah rasa, ketika gelembung itu muncul lagi, sedikit lebih tegas, persis di bawah telapaknya.
Napas Maura keluar dalam satu tarikan pendek. “Kamu ... kamu bergerak.”
Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar dan menekan nama Mas Ray. Nada sambung tidak berdering. Hanya suara perempuan otomatis yang sopan: nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Maura menatap layar, lalu tertawa pendek, setengah menangis. Tentu saja. Rayhan sedang di udara, di suatu tempat di atas laut, di dalam kokpit dengan ponsel dimatikan, dan dengan semua yang terjadi di bumi menunggu.
Ia menekan nama lain. “Ma!” teriaknya sebelum nada sambung selesai, padahal mama pasti hanya berada di halaman samping. “Ma, cepat ke sini!”
Terdengar sekop jatuh, langkah tergesa, pintu pagar kecil berderit. Mama muncul dengan sarung tangan berlumur tanah dan wajah pucat. “Ada apa? Sakit? Perutnya? Mama panggil Papa—”
“Nggak, Ma. Dia gerak.”
“Siapa?”
“Bayinya.”
Mama berdiri seperti patung. Lalu ia melemparkan sarung tangannya ke rumput, berlutut di samping kursi rotan dengan lutut yang berderak, dan menaruh kedua telapak tangannya yang kotor di perut Maura tanpa bertanya. Maura tertawa. “Ma, bajunya—”
“Biar kotor. Ssst. Mana?” Mama memejamkan mata. “Mana, mana, mana?”
Mereka menunggu. Sepuluh detik. Dua puluh. Dari dalam rumah terdengar Melati berseru, “Ada apa sih?”, lalu langkahnya mendekat, dan begitu ia mendengar jawaban mama yang bergetar, “Ponakanmu gerak!”, seisi rumah meledak dengan jeritan yang membuat burung-burung di jambu air terbang bubar.
“Aku mau pegang! Aku mau pegang!”
“Pelan, Mel, pelan.”
“Kok nggak ada, Kak?” Mama membuka mata, kecewa seperti anak kecil yang gagal menangkap kupu-kupu. “Barusan ada, kan?”
“Mungkin dia pemalu,” kata Maura, tersenyum meski air matanya sudah menetes. “Dia mau nunggu Papanya.”
****
Sepanjang siang Maura menyelesaikan sisa vas dengan sebelah tangan, karena tangan satunya terus kembali ke perut tanpa ia sadari. Tiap kali ia menunggu, tiap kali tak ada apa-apa. Jelita yang pulang dari toko mengamati dari ambang pintu, lalu berkomentar, “Kakak kayak orang menunggu bel pintu,” dan Maura menjawab bahwa memang begitulah rasanya. Menjelang sore, papa pulang dari bengkel langganan, tempat ia menghabiskan Sabtu dengan mobil tuanya, dan hanya bertanya apakah ia mau teh. Ketika Maura mengangguk, papa pergi ke dapur dan kembali dengan dua gelas, lalu duduk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menunggu bersamanya.
Pukul enam sore, pesan itu masuk. Maura sedang duduk di teras, di kursi yang sama, dengan dua puluh vas yang sudah dikirim dan dengan selimut tipis di pangkuan.
Landing. Aman. Dua menit bengong dulu, sesuai kesepakatan.
Ia membaca pesan itu dan merasa lega yang sama seperti tiap kali, kemudian mengetik: Pulang. Aku di teras. Ada yang mau ketemu.
Satu jam lebih sedikit kemudian, mobil Rayhan masuk ke halaman. Ia keluar dengan seragam kusut, tas pilot di bahu, dan wajah lelah yang berubah waspada begitu melihat Maura duduk menunggu. Ia melangkah cepat, lalu melambat. Ia berhenti satu meter dari kursi.
“Ada apa? Kamu baik-baik saja? Bayinya—”
“Duduk, Mas.”
Rayhan duduk di bangku kecil di depannya, masih memeluk tas. Mata Maura menyapu wajahnya yang pucat dan tegang.
“Tadi pagi,” kata Maura, “dia bergerak. Dua kali. Mama sempat pegang, tapi dia nggak mau. Pemalu.” Ia menarik napas. “Aku nggak tahu apakah dia akan bergerak lagi. Tapi aku mau kamu coba. Boleh kamu taruh tangan di sini?”
Rayhan menatap perut Maura, menatap wajahnya, lalu menatap kedua tangannya sendiri seolah baru menyadari bahwa tangan itu mampu menyentuh sesuatu yang rapuh. Ia meletakkan tas di lantai. Ia menyeka telapaknya di celana, perlahan, lalu mengulurkan tangan yang sedikit gemetar dan berhenti di udara.
“Boleh?” tanyanya, meski Maura sudah meminta.
“Boleh.”
Dari balik jendela dapur, tiga kepala menyembul seperti burung hantu: Mama, Melati, dan Jelita, yang saling dorong supaya dapat tempat terbaik. Papa, yang duduk di kursi sebelah dengan koran, menurunkan korannya sedikit dan berkata kalem tanpa menoleh, “Biarkan mereka. Mereka sudah menunggu sejak pagi.” Maura tertawa, dan Rayhan, yang tidak mendengar, tetap menatap telapak tangannya.
Telapak tangannya mendarat di perut Maura, hangat dan ragu. Hening. Seekor jangkrik berbunyi dari semak. Rayhan bahkan tidak berani menarik napas.
Lalu tepat di bawah ibu jarinya, ada dorongan kecil, tegas dan jelas, seperti ketukan orang yang akhirnya diizinkan masuk.
Rayhan terpekik tanpa suara. Wajahnya runtuh, lalu menyala, lalu runtuh lagi. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya, menetes ke seragam yang kusut, dan ia berbisik dengan suara yang pecah, “Hello, Nak.”
Bayi itu menendang lagi, seolah menjawab. Dari jendela dapur terdengar pekik tertahan, dan Melati berbisik terlalu keras, “Dia nangis! Mas Ray nangis!” disusul bunyi sesuatu yang jatuh dan suara mama, “Ssst, nanti kedengaran.”
“Kami dengar,” kata Maura tanpa menoleh.
“Ya Allah,” gumam Rayhan, setengah tertawa, setengah terisak. “Dia ... kuat banget. Dia nendang kayak kapten.” Ia menatap Maura dengan mata yang berkilau basah. “Dia sudah nggak pemalu, kan? Dia cuma nunggu aku mendarat.”
“Mungkin.”
“Nak.” Rayhan menunduk sedikit ke arah perut itu, seperti ke mikrofon. “Papa mendarat dengan selamat. Maaf telat. Lain kali Papa usahakan lebih cepat.”
Maura menaruh tangannya di atas tangan Rayhan dan merasakan dorongan ketiga merambat ke kedua kulit mereka sekaligus. Ia menatap laki-laki di hadapannya yang menangis tanpa malu, tanpa berusaha menjadi apa pun selain orang yang sedang bahagia, dan sesuatu yang mengeras di dadanya sejak butik pelan-pelan retak.
“Kangen,” bisiknya.
Rayhan mengangkat wajah. Matanya merah, basah, tidak peduli.
“Aku di sini,” katanya.