Jumat sore, hampir seminggu sesudah tendangan pertama itu, Maura membuka lagi buku cokelat muda, kali ini untuk mencari satu resep. Resep itu ada di halaman tiga puluh, ditulis dengan huruf bulat Maura yang dulu, terselip di antara tempelan kuning dan gambar bebek yang dicoret. Nasi goreng kotak biru. Bumbu: bawang merah dua, bawang putih tiga, cabai satu (SATU, Mas!), kecap secukupnya, garam ... Titik-titiknya membuat Maura mengernyit sejak sore.
“Garam secukupnya,” gumamnya pada dapur rumah mama yang kosong. “Cukup menurut siapa?”
Jumat malam, enam hari sebelum Rayhan genap dua puluh sembilan. Papa dan mama pergi ke acara keluarga sampai larut, Melati menginap di rumah Jelita dengan alasan yang terlalu rapi, dan Rayhan akan tiba pukul tujuh dari penerbangan siang. Maura menyusun rencana sederhana: makan malam kecil, menu yang tertulis di buku, dan kejutan berupa dirinya sendiri yang berhasil memasak tanpa membakar apa pun.
Ia memasukkan bawang ke minyak, dan dapur langsung mengepul dengan wangi yang membuat perutnya berkeruyuk senang. Ia menambahkan nasi, kecap, dan satu cabai yang diiris sangat tipis, lalu mengaduk dengan sendok kayu sambil bernyanyi pelan, fals, tanpa sadar. Ia mencicipi satu sendok. Kurang asin. Ia menambah garam. Ia mencicipi lagi. Masih kurang. Ia menambah garam, kali ini lebih banyak, dan dalam kekacauan mengaduk, kecap menetes ke lantai, wajan hampir melompat, dan satu sendok garam terakhir jatuh dari ujung sendok tanpa sempat ia pikirkan.
Ponselnya berbunyi dua kali di sela itu. Pesan pertama dari Jelita: Kak, jangan lupa matikan kompor. Aku nggak mau pulang ke rumah yang terbakar. Pesan kedua dari Melati: Kalau gosong, bilang saja itu gaya Korea. Maura membalas keduanya dengan satu kata, Berisik, dan meletakkan ponsel jauh-jauh dari wajan.
Pukul tujuh kurang lima, ia menatap piring berisi nasi goreng yang warnanya cokelat tua, dengan telur mata sapi di atasnya yang agak gosong di tepi. Dapur seperti medan perang kecil. Ada tiga bawang yang tidak terpakai, satu panci yang terlupa mendidih di kompor belakang, dan secarik kertas catatan yang basah oleh minyak.
Bel pagar berbunyi.
“Masuk, Mas,” teriaknya. “Jangan lihat dapurnya!”
“Aku sudah lihat dari pagar,” balas suara Rayhan dari halaman. “Kelihatan.”
****
Rayhan duduk di teras belakang dengan seragam yang masih rapi dan wajah penuh antisipasi. Maura menaruh sepiring nasi goreng di depannya, satu garpu, dan satu gelas air putih besar yang entah kenapa tampak seperti pertanda.
“Ulang tahun masih enam hari lagi,” kata Maura, “jadi anggap ini uji coba. Kalau enak, aku bikin lagi hari-H. Kalau nggak ...”
“Pasti enak.”
“Cicipi dulu, baru bilang.”
“Aku sudah lihat telurnya. Telurnya hitam di pinggir. Itu pasti enak.”
“Itu gosong, Mas.”
“Gosong yang sengaja.”
Rayhan menyuap satu sendok, mengunyah, dan matanya melebar. Wajahnya bergerak sangat sedikit, tetapi Maura menangkap kejutan itu, seperti menangkap getaran kaca sesaat sebelum retak. Rayhan menelan, meraih air, minum separuh gelas, lalu meletakkannya perlahan.
“Asin?” tanya Maura.
“Tidak.”
“Mas.”
“Sedikit.” Rayhan menyuap lagi. Ia menghabiskan satu sendok, dua sendok, tiga sendok, minum, dan menyuap lagi, dan di antara suapan-suapan itu bahunya mulai bergetar. Awalnya Maura mengira ia menahan tangis. Ternyata ia menahan tawa, dan ketika akhirnya tawa itu pecah, Rayhan harus menaruh garpu supaya tidak tersedak.
“Dulu masakanmu juga begini,” katanya terengah. “Persis. Tiap kali kamu bilang ‘secukupnya’, itu artinya kebanyakan. Aku pernah menghabiskan nasi goreng asin kamu dan minum satu galon dalam semalam. Ini kangen banget.”
Tawanya masih menggantung di udara ketika Maura sadar tangannya sudah mengepal di pangkuan.
“Mas.”
“Hm?” Rayhan masih tersenyum.
“Aku nggak mau jadi lelucon Maura yang dulu.”
Senyum itu runtuh perlahan. Rayhan mengerjap. “Apa?”
“Kamu tertawa karena ini mengingatkanmu pada dia.” Maura menatap piring itu dan bukan wajahnya. “Dan aku nggak bisa ikut tertawa karena aku nggak tahu lucunya di mana. Aku nggak ingat kapan aku bikin yang asin sebelum ini. Aku cuma tahu hari ini aku coba keras, dan kamu menyuap sambil bercerita tentang perempuan lain.”
“Ra, itu kamu.”
“Itu dia.” Maura mengangkat wajah. Suaranya pelan, tetapi cukup tajam untuk membuat Rayhan menegakkan punggung. “Aku tahu itu aku. Aku percaya. Tapi tiap kali kamu bilang ‘dulu’, aku merasa lagi diaudisi untuk peran yang naskahnya nggak dikasih. Kamu menunggu aku jadi dia, dan tiap aku nggak sesuai, aku merasa gagal. Padahal aku nggak sedang gagal. Aku sedang hidup.”
Hening panjang. Jangkrik di semak berbunyi satu-satu. Di dalam rumah, panci yang lupa dimatikan mendesis.
Rayhan menaruh garpunya dengan sangat hati-hati di tepi piring. Ia menatap Maura, dan wajahnya lama-lama terlihat seperti orang yang baru mendengar kabar bahwa ia sudah berjalan di tepi jurang selama berminggu-minggu.
“Aku nggak sadar,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku cuma ...” Rayhan memilih kata dengan susah payah, seperti orang menyusuri lorong gelap yang ia hafal tetapi baru kali ini terasa sempit. “Kalau aku berhenti cerita soal dia, aku takut dia benar-benar hilang. Jadi aku terus bicara, dan aku lupa bahwa orangnya sedang duduk di depanku mendengarkan.”
“Dia nggak hilang,” kata Maura pelan. “Dia belum ke mana-mana. Aku di sini. Cuma aku butuh kamu cerita tentang dia sambil lihat aku, bukan sambil menunggu aku jadi dia.”
Rayhan menatapnya lama. “Aku belum bisa janji aku langsung bisa.”
“Aku nggak minta langsung.”
“Aku betul-betul nggak sadar. Aku cuma ... seneng. Tiap kali kamu mirip dia aku seneng, dan aku langsung bilang.” Ia mengusap wajah dengan dua tangan. “Maaf. Aku salah. Boleh aku perbaiki?”
“Caranya?”
Rayhan berpikir sebentar. “Aku hitung. Mulai sekarang aku hitung tiap kali aku bilang kata itu, dan kamu boleh menegurku. Nggak perlu marah. Cukup angkat satu jari.”
Maura memandang jari telunjuknya sendiri. “Satu jari.”
“Satu jari. Dan kalau aku sudah sepuluh kali sehari, kamu boleh menyuruhku makan nasi goreng ini sampai habis.”
Maura tidak bisa menahan senyum. “Itu hukuman atau hadiah?”
“Tergantung asinnya.”
Tawa mereka pecah bersamaan, kali ini bukan tawa yang melukai siapa pun. Maura bangkit untuk mengambil air minum tambahan dan, di ambang pintu dapur, Rayhan berkata dari belakang, “Dulu—” lalu menutup mulut dengan telapak tangan.
Maura mengangkat satu jari tanpa menoleh.
“Satu,” kata Rayhan, muram dan geli. “Sayangnya aku masih belum paham sepenuhnya kenapa itu begitu penting, Ra. Tapi aku akan menghitungnya.”
“Itu sudah cukup,” kata Maura. “Untuk malam ini.”
Ia mengambil piring nasi goreng asin itu dari meja, menatap sisa separuh yang sudah tidak mungkin dihabiskan, dan menyeringai. “Nah. Sekarang kita masak yang baru. Kamu yang cabai, aku yang garam.”
“Garam itu tugas yang berbahaya.”
“Makanya aku yang pegang. Kamu yang menegur.”
“Dengan satu jari?”
“Dengan satu jari.”