SHINE POV
"Cassie...." Ucap Alkaff memanggil seorang cewek yang gue lihat sedang asik ngobrol dengan cowok disampingnya, posisi duduk Cassie dan cowok itu membelakangi kami berdua.
Tunggu, sepertinya gue familiar dengan postur tubuh cowok di sebelah Cassie, cowok yang udah bikin hati gue sakit banget atas penghianatannya ke gue. Bahkan gue bersumpah untuk nggak mau melihat mukanya lagi seumur hidup gue. Semoga bukan dia!!
Tapi nampaknya Tuhan sedang ingin bermain-main dengan hati gue, karena begitu Cassie dan cowok disampingnya itu menoleh ke arah kami, gue bisa pastikan bahwa itu memang benar-benar Willy. Cowok b******k mantan pacar gue yang terakhir. Cowok yang udah berhasil meremukkan hati gue sekaligus menanamkan kebencian yang berlipat ganda ke nyokap gue.
Tepatnya 6 bulan lalu kejadian itu berlangsung, tadinya gue pikir Willy beda dengan 2 mantan gue yang terdahulu. Yaa...seperti yang pernah gue bilang, cowok gue selalu kepincut sama nyokap gue begitu mereka ketemu dengan nyokap gue. Tapi taunya Willy malah yang paling parah hingga bikin gue males untuk pacaran lagi.
Hubungan gue dan Willy yang makin serius menginjak 8 bulan usia pacaran kami membuat gue akhirnya nekat untuk mengenalkan dia ke nyokap gue, sebelumnya dia emang maksa – maksa gue untuk cepet – cepet dikenalin ke nyokap. Bodohnya gue yang sempet ke-GR-an karena mengira Willy emang bener-bener punya niatan serius ke gue hingga pengen cepet-cepet dikenalin ke orang tua gue.
Nyatanya itu semua cuma modusan Willy, suatu hari gue mergokin dia yang sedang berusaha.....damn!!! gue bahkan jijik mengingat kejadian waktu itu. Gue yang baru aja turun tangga dari kamar gue dilantai 2, dikejutkan dengan pemandangan yang bikin gue marah, sakit, sekaligus sedih.
Willy berusaha untuk mencium nyokap gue!! Di depan mata kepala gue sendiri Willy mendorong nyokap gue ke sudut ruangan di dapur hingga nyokap gue nggak bisa bergerak, dengan kalap dia coba mencium nyokap gue meski nyokap gue terus meronta. Akhirnya perbuatan bejatnya itu berhenti saat nyokap gue nampar dia dengan keras sambil maki-maki dia.
Sementara gue Cuma bisa diem terpaku di tempat gue berdiri sambil menatap nanar kedua orang itu. Tanpa sadar air mata gue udah mulai berjatuhan tanpa gue ijinkan. Gue jijik sama Willy yang tanpa rasa bersalah malah menertawakan gue. Dia bilang ke gue kalo selama ini dia pacarin gue hanya karena dia pengen ngedeketin nyokap gue, yang pernah ketemu sama dia saat nyokap gue ada pertemuan wali di kampus.
Gue bahkan masih inget banget kalimat penghinaan yang dia lontarkan ke gue, "Come on Shine... jangan terlalu naïf lah jadi orang, apa lo bener-bener berpikir kalo gue kecintaan sama lo? Seorang William Anggara cucu salah satu dari 5 orang terkaya di Indonesia, ya nggak mungkin suka sama cewek se 'biasa' elo. Lo nggak worth it lah buat gue, coba aja lo bandingin diri lo sama mama lo yang...." Willy menyeringai nakal memandang nyokap gue sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya " so damn hot ! bahkan buat jadi keset nyokap lo aja elo nggak pantes"
Gue cuma bisa mengepalkan tangan menahan amarah gue yang udah dipuncak ubun-ubun sampai terdengar suara tamparan yang lebih keras dari pada yang pertama tadi.
"JAGA OMONGAN KAMU PRIA b******k!!!KAMU YANG NGGAK PANTES BUAT ANAK SAYA...CEPET PERGI DARI RUMAH SAYA ATAU SAYA LAPORKAN KAMU KE POLISI!!!!" ucap nyokap gue setelah menampar Willy untuk ke dua kalinya.
Tapi tindakan mama gue barusan sama sekali nggak bikin gue terenyuh sedikitpun, yang ada gue malah semakin benci sama dia, karena secara nggak langsung lagi- lagi ini semua gara- gara dia!! Kenapa dia harus secantik ini di saat ibu-ibu lain seusianya udah pada keriput bahkan nggak menarik lagi? kenapa dia harus single parent nggak punya suami yang bikin banyak pria jadi pada berlomba-lomba deketin dia? Dan kesalahan terbesar adalah kenapa harus gue yang jadi anaknya??? Kenapa harus gue yang selalu kena getahnya?? Bahkan susah buat gue nemuin cowok tulus yang bener-bener cinta sama gue, bukan cintanya sama nyokap gue.
Terkadang gue pengen banget punya keluarga senormal temen-temen gue yang lain, orang tua lengkap yang nggak begitu cantik atau tampan tapi tetep berkharisma dan penuh kasih sayang. Keluarga yang hangat dan menyenangkan, saling support satu sama lain, juga saling melindungi. Bukan hidup dengan keluarga berantakan seperti ini yang gue pengen!! Apa gue berlebihan?
Air mata gue nggak berhenti menetes juga, bahkan sebuah isakan kecil lolos dari bibir gue saat mama mencoba merengkuh tubuh kecil gue ke pelukannya. Dengan sigap gue menolak dan berlari masuk kembali ke kamar serta mengunci diri gue didalamnya. Karena kejadian itu pula gue diem-dieman sama mama sampai sebulan, meskipun nggak henti-hentinya mama selalu minta maaf sama gue.
Dan ketika gue ketemu lagi dengan si b******k ini, amarah gue kembali tersulut. Willy terkejut melihat kehadiran gue disini, namun sepertinya dia cukup pinter untuk menyembunyikan keterkejutannya karena beberapa saat kemudian, dia menatap gue dengan seringai yang menakutkan.
"Oh well...surprise banget gue bisa ketemu lo disini Shine, setelah 6 bulan kita nggak pernah ketemu, apa kabar lo??" ucap Willy penuh basa basi
"Nggak usah basa-basi sama gue!" ucap gue dengan nada sedingin mungkin. Gue bener-bener males harus berdekatan dengan cowok b******k ini, gue pengen secepat mungkin pergi dari tempat terkutuk ini sebelum luka lama gue kembali menganga semakin lebar.
"Hahaha...gimana kabar nyokap lo yang seksi itu? Gue kangen sama rasa bibirnya" dia kembali menyeringai, bener-bener jijik gue sama makhluk satu ini.
"Kenapa diem Shine? Ohh ya.....siapa lagi cowok di sebelah lo itu? Cowok baru ? jangan sampe lo ajak ketemu sama nyokap lo Shine, nanti dia kayak cowok lo yang dulu-dulu lagi hahahha"
Tubuh gue menegang mendengar ucapannya, gue harus buruan pergi dari sini sebelum kehilangan kendali atas diri gue sendiri dengan mencabik-cabik mukanya. Gue bahkan nggak peduli lagi atas janji gue untuk memberi penjelasan ke Cassie, mungkin nanti bisa gue jelasin tapi yang penting sekarang gue harus buru-buru pergi dari sini untuk menenangkan pikiran gue. Akhirnya gue langkahkan kaki gue meninggalkan tempat ini hingga Alkaff menahan tangan gue.
"Mau kemana Shine?? Ada kesalah pahaman yang harus kita jelasin ke Cassie!!" ucapnya terdengar panik.
"Nggak ada kesalah pahaman dan penjelasan apapun Al!!" dengan sekali sentakan gue melepaskan tangan gue dari cengkraman Alkaff.
Gue berjalan dengan cepat meninggalkan rumah Cassie, samar gue mendengar kegaduhan dari dalam rumah tapi gue nggak peduli dengan apapun yang terjadi di belakang gue. Gue hanya terus berjalan melewati pagar rumah Cassie menuju ke arah jalan raya dengan penglihatan yang semakin buram karena air mata gue nggak mampu terbendung lagi.
"BERHENTI SHINE!!!! JANGAN COBA-COBA LARI DARI MASALAH!!" Alkaff berteriak ke gue dan dengan sigap menggeret gue untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Gue meronta sekuat tenaga, " Biarin gue pergi Al...gue nggak mau masuk kesana!!!"
"LO MAU NGINGKARIN JANJI LO KE GUE???" Alkaff kembali berteriak dengan marah, sepertinya dia benar-benar dalam emosi tinggi dan gue hanya bisa nangis sambil terus berusaha melepaskan cekalannya.
"Gue nggak bisa jelasin sekarang Al...please....nggak sekarang!!" ucap gue memohon sambil terus menangis.
Alkaff dengan kalap mendorong tubuh gue sampai menabrak badan mobilnya yang terparkir di luar pagar. Dengan mata berkilat penuh amarah dia mencengkeram kedua lengan gue.
"KENAPA SHINE??? KENAPA NGGAK BISA???? LO UDAH JANJI SAMA GUE UNTUK BERESKAN KESALAH PAHAMAN INI!!!" dia terus membentak gue dan tangisan gue semakin kencang.
"ATAU LO LEBIH SUKA KALO KEPURA – PURAAN LO WAKTU ITU JADI NYATA??IYAAA??",
Belum sempat gue mencerna kata-katanya yang penuh amarah, Alkaff dengan beringasnya menciumi bibir gue. Gue terus meronta dan menangis tapi sia-sia karena kekuatan gue nggak ada apa-apanya dibanding Alkaff yang sedang diselimuti emosi.
"Al...lepas...." ucap gue memohon disertai isakan tangis.
Alkaff yang nggak menghiraukan sama sekali tangisan gue malah semakin kalap, dia terus melumat bibir gue dengan kasar, sesekali beralih ke seluruh leher gue hingga kemudian tangannya dengan kasar merobek lengan baju gue. Gue memejamkan mata menahan rasa sakit di sekujur tubuh gue, ciuman pertama gue terenggut dengan paksa seperti ini. Bodohnya gue cuma bisa nangis tanpa bisa melawan karena seluruh kekuatan gue seakan lenyap seiring meluruhnya tubuh gue yang lemah hingga terduduk di aspal jalan.
"Apa ini Shine yang lo mau??" Ucap Alkaff lirih tepat di telinga gue yang lebih terdengar seperti ungkapan terluka.
"b******n LO AL.......BRENGSEK!!!!!" gue dorong tubuhnya dengan kasar ketika gue rasa cengkramannya mulai melemah.
Dia jatuh terduduk tanpa bisa berkata apa-apa, dia tertegun dengan pandangan kosong. Tanpa memperdulikan dia lebih jauh gue segera berlari dari tempat itu dengan sisa – sisa kekuatan gue. Gue hancur, dan gue merasa terhina karena kejadian tadi. Alkaff b******k!!!