SHINE POV
Gue memutuskan untuk pulang kerumah demi menenangkan diri, setidaknya mengurung diri sendirian dikamar lebih baik dari pada mencari ketenangan di luar rumah yang nggak jelas tujuannya. Sesampai di halaman rumah gue melihat Juke putih bertengger manis di garasi rumah. Mobil siapa ya? Selama ini hampir nggak pernah ada yang bertamu ke rumah gue kecuali sahabat-sahabat gue, dan kalaupun itu mereka gue pasti hafal betul mobilnya. Mama juga nggak pernah membawa teman atau rekan bisnisnya ke rumah sejauh gue tinggal bersama dia selama 5 tahunan ini, toh juga dia lebih sering pergi-pergi dari pada stay dirumah.
"Shine kamu udah pulang? Bisa kita ngobrol sebentar?" mama menyambut kedatangan gue dengan pelukannya. Sebenernya gue risih, entah kenapa gue nggak pernah merasa nyaman dengan nyokap gue sendiri, mungkin karena gue udah terbiasa hidup tanpa dia sejak kecil. Dengan kedekatan seperti ini justru gue merasa canggung. Tapi kali ini gue nggak menolak, gue hanya berusaha menjadi anak yang sedikit lebih baik di depannya, karena bagaimanapun juga dia satu-satunya keluarga yang gue punya saat ini.
"Kapan sampe?" tanya gue tanpa menghiraukan pertanyaannya, mama baru pulang dari Jepang setelah seminggu lalu gue tinggalin dia gitu aja sebelum dia berangkat show ke Jepang.
"Tadi pagi, jadi...bisakah kita bicara? Ada hal yang ingin mama sampaikan ke kamu sayang" ucap mama gue dengan hati-hati sambil memperhatikan raut wajah gue.
Sebenernya gue udah males banget untuk ngapa-ngapain, gue butuh istirahat dan menenangkan pikiran gue yang kusut karena perbuatan b***t Alkaff. Tapi melihat wajah memelas wanita di depan gue ini, gue merasa nggak tega.
"Kalo Shine bilang nggak mau apa mama bakalan maksa?" tanya gue sarkastik.
"Please sayang...untuk kali ini aja mama mohon, ada hal penting yang mama mau bicarakan sama kamu!" ucap mama sambil menggenggam tangan gue penuh harap.
"Then....just talk, toh Shine nggak punya pilihan lain selain mendengarkan!" ucap gue yang membuat wajah mama tersenyum cerah seketika.
"Mama mau ngenalin kamu sama seseorang, ayo ikut mama!" dengan raut wajah gembira mama menarik tangan gue dan menuntun langkah gue ke ruang keluarga.
Dari kejauhan gue melihat seorang cowok, sepertinya seumuran sama gue sedang asik nonton TV di sofa favorite gue. Apa dia pemilik juke putih di luar? Kalaupun iya, siapa dia? Ada hubungan apa dia sama mama? Kenapa juga mama mau ngenalin dia ke gue? Jangan bilang kalo gue mau dijodoh-jodohin seperti kebanyakan novel-novel chicklit yang sering gue baca. Oh Hell.....pikiran gue mulai ngelantur kemana-mana.
"Dallas.....kesini!!"
Mama memanggil cowok yang ternyata bernama Dallas itu, dan yang dipanggil pun menoleh ke arah kami sambil menyunggingkan senyum yang luar biasa menawan. Demi Tuhannnn!!!!! Gue melongo lihat senyumnya yang super duper menawan itu. Dan dia yang merasa namanya dipanggil berjalan mendekat ke arah kami berdua. Semakin dia mendekat semakin terpesona pula gue dibuatnya, perawakan tinggi dan berbadan tegap 11-12 sama si Naro, kulit putih bersih dengan wajah tampan. Rahang yang kokoh, mata tajam yang dibingkai sempurna oleh alis tebalnya, hidung mancung serta bibir merah yang penuh menambah keseksiannya. s**t!! Apa tadi gue bilang?? Seksi? Hell yeah.....gue akui dia memang bener-bener seksi sebagai cowok. Nemu dimana sih nyokap gue makhluk se cakep ini??? Seketika kesedihan gue karna Alkaff lenyap tanpa bekas begitu melihat Dallas yang sudah berdiri tepat di depan gue, mata gue menatap d**a bidangnya yang sukses membuat darah gue berdesir entah kenapa. Bukan karena gue m***m, karena emang tinggi gue Cuma sebatas dadanya, apa lagi yang bisa gue lihat dari jarak sedekat ini? Gue nggak mau dong ketauan bengong melihat wajahnya yang super duper ganteng itu, gengsi!! Duh...bahkan dari sini gue udah bisa mencium bau parfumnya yang menghanyutkan.
"Dallas...kenalin, ini Shine anakku satu-satunya, dia masih kuliah semester 4 sekarang!" Ucap mama gue kepada Dallas. Dia sedikit terbelalak mendengar ucapan mama, yah...wajar kok, wajar. Mungkin dia pikir gue ini masih umur 13 tahun, tiap orang baru yang kenal sama gue juga gitu reaksinya begitu tahu umur gue, terima kasih pendek!!
Dallas tersenyum setelah berhasil menguasai ekspresi terkejutnya kemudian mengulurkan tangannya untuk gue jabat. Gue balas tersenyum semanis mungkin sama dia sambil menyambut jabatan tangannya.
"Dan Shine......Dallas ini.....pa...pacar mama!!!" ucap mama gue dengan gugup.
Apaa????? Gue nggak salah denger kan? Coba tadi nyokap gue bilang apa?? Pacar katanya? Si ganteng ini pacar nyokap gue??? Wah......sepertinya gue mulai sinting gara-gara depresi hampir diperkosa Alkaff tadi, bisa-bisanya gue berhalusinasi sampai sebegininya.
"Apa ma?? Dia...apa??" Tanya gue untuk memastikan kembali kalo gue nggak salah denger.
“Pacar Silvia....gue Dallas, dan gue pacar Silvia, nyokap lo!" Ucap Dallas menjawab pertanyaan gue tadi dengan senyumannya yang sialnya bener-bener menawan.
Dengan segera gue sentakkan jabatan tangan Dallas dengan kasar. Oke...gue shock, gue speechless, gue....Argghhhhhh...whatever!!!! Gue bisa gila mendengar kenyataan ini. Seketika rasa kagum dan ketertarikan gue ke Dallas musnah begitu saja dimakan kalimat 'GUE PACAR SILVIA, NYOKAP LO!!'.
Dimana sih otak nyokap gue?? Oke gue tau gue kasar dan nggak seharusnya begini ke nyokap gue. Tapi ini bener-bener keterlaluan!!! Bisa nggak sih dia nyari pacar yang seumuran sama dia, bukan malah sama berondong yang seumuran sama anaknya gini. Eh...tapi gue nggak boleh marah-marah dulu, penampilan kan bisa menipu umur.
"Ma...mama becanda kan??? Mama nggak salah pacaran sama dia? Aku bahkan nggak yakin kalo umur dia udah 30 tahunan!!" tanya gue ke mama sambil bergantian memandang wajah mereka berdua.
"Dallas memang belum berumur 30tahun sayang...dia masih....masih...23tahun, dan kami juga udah memutuskan akan menikah 6bulan lagi!" ucap mama gue dengan hati-hati.
HOLLY s**t!!! Gue nggak tau lagi sumpah serapah macem apa yang mesti gue keluarkan untuk mengungkapkan kekecewaan gue ke nyokap. Dia bilang dia mau nikah?? Jadi cowok super charming di depan gue ini calon bokap tiri gue?? Coba ulang 'CALON BOKAP TIRI GUE?????' dan bahkan umurnya cuma lebih tua 3 tahun dari gue?? Ya Tuhan..... apa nyokap gue bener-bener seorang pedopilia??
"Mama Gila....!!! JANGAN HARAP AKU MERESTUI HUBUNGAN MAMA SAMA DIA, SAMPAI KAPANPUN AKU NGGAK MAU PUNYA PAPA TIRI KAYAK DIA, DAN ELO DALLAS....MENDINGAN LO CARI CEWEK LAIN YANG SEUMURAN UNTUK JADI PACAR LO, APA LO UDAH SAKIT JIWA ? DASAR ODIPUS COMPLEX!!" Ucap gue penuh emosi dan dengan bergantian menunjuk muka mama dan Dallas.
Gue tau gue kurang ajar, tapi akal sehat gue udah kalah sama emosi gue.
PLAAKKK!!!! Dengan emosi mama menampar pipi gue hingga gue rasakan asin di ujung bibir gue, dengan segera gue seka darah yang muncul di sudut bibir gue sambil tersenyum sinis ke mama.
"JAGA UCAPAN KAMU SHINE...JANGAN PERNAH KAMU KURANG AJAR KE MAMA DAN DALLAS, GIMANAPUN JUGA DIA CALON PAPA TIRI KAMU!!!" ucap mama penuh emosi juga.
"Segitu spesialnya ya dia dimata mama? bahkan seumur hidup mama belum pernah nampar Shine sekalipun, udah ngerasa hebat ma?? UDAH NGERASA CUKUPKAH MAMA NGASIH PERHATIAN DAN KASIH SAYANG KE AKU HINGGA MAMA BEGITU MEMBELA DIA DAN NAMPAR ANAK MAMA SENDIRI?? YANG BAHKAN NGGAK PERNAH NGERASAIN KASIH SAYANG MAMA DARI KECIL!!!!" air mata gue mengalir deras tanpa gue minta seiring bentakan- bentakan yang gue lontarkan ke mama.
Hati gue sakit, lebih sakit dari saat Willy menghianati gue, lebih sakit dari saat Alkaff hampir memperkosa gue, bahkan lebih sakit dari kenyataan bahwa nyokap gue udah menelantarkan gue sejak kecil dan lebih memilih menitipkan gue kepada kakek nenek gue. Gue nggak pernah menuntut banyak ke nyokap gue, walaupun sebenarnya gue juga pengen ngerasain dipeluk sama mama gue waktu gue lagi tidur, saling berbagi cerita saat pertama kali gue merasakan cinta monyet di masa remaja gue, atau hal-hal kecil lain seperti yang temen-temen gue rasain bersama ibunya. Gue tau mama berusaha keras memenuhi kebutuhan financial gue supaya gue nggak kekurangan, karena itu dia banting tulang kerja keras sampai jarang ada dirumah. Tapi apa dia nggak ngerti? Gue juga butuh kasih sayang dari dia, bukan cuma uangnya!!!
"Shine....maafin.."
"KALAU MAMA EMANG MAU NIKAH LAGI, CARILAH ORANG YANG SEKIRANYA PANTAS UNTUK AKU PANGGIL PAPA, BUKAN COWOK SAKIT JIWA KAYAK DIA!!!!" ucap gue lagi sebelum mama menyelesaikan kalimat maafnya.
Gue lihat tubuh mama dan Dallas menegang mendengar ucapan gue, Dallas mengepalkan tangannya sambil menyembunyikan raut wajah penuh amarah dengan membuang muka ke arah lain. Mama menatap gue dengan mata berkaca-kaca, sedetik kemudian air mata lolos membasahi pipi mulusnya. Bibirnya bergetar hendak mengucapkan kalimat-kalimat lain, dengan segera gue bergegas meninggalkan mereka berdua., berlari ke arah tangga menuju kamar gue. Sempat gue lihat mama mau mengejar gue namun tangan kekar Dallas segera mencegahnya. Dengan segera gue banting pintu kamar gue dan menguncinya dari dalam, membiarkan diri gue untuk menangis sesenggukan di balik pintu kamar.