Samar suara seorang wanita terdengar saat Sassa memasuki ruang kerja suaminya. Tawa renyah terdengar sedikit nyaring dengan sebuah obrolan kecil yang sesekali terdengar olehnya, kaki Sassa terasa lemas saat mendengar hal tersebut. Langkah kakinya semakin terasa berat dan tak bertenaga, napas berat Sassa seakan mengisi seluruh gendang telinganya, deru debaran jantungnya tak kalah memenuhi Sassa dengan kecemasan yang tak bisa ia hindari. Sassa pun berharap apa yang ia dengar hanya kesalahpahamannya saja. Namun, kakinya masih tak berani melangkah, ia terhenti dengan pikirannya yang sudah penuh akan kabut kelam sebuah dugaan buruk. Sassa ragu untuk bisa menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi di ruang kerja suaminya itu.
"Aku mohon, jangan buat aku membencimu Robin!"
Rintihan hati Sassa beriring doa untuk suami yang sangat ia cintai itu. Hatinya sudah gusar sejak semalam, pesan singkat yang ia lihat dari layar ponsel suaminya sudah memberikan bukti akan perselingkuhan yang dilakukan oleh sang suami. Belum lagi panggilan telepon yang rutin dari riwayat panggilan ponsel Robin semakin membuat Sassa yakin dengan dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh Robin, lalu saat ini Sassa sedang mendengar seorang wanita tengah tertawa mesra di ruang kerja suaminya.
Rasanya tidak mungkin ada suara tawa mesra seperti itu jika memang hanya sebuah pertemuan biasa. Pasti ada sesuatu yang saat ini terjadi di antara mereka. Sassa yakin akan hal tersebut. Apa lagi, dengan perasaan seorang istri yang sudah merasa tidak enak dan terus menaruh curiga. Membuat Sassa semakin tidak tenang dengan apa yang ia dengar tersebut.
"Apa yang akan aku lakukan jika Robin benar-benar selingkuh?”
“Aku sedang mengandung anaknya dan dia tahu akan kehamilanku. Tapi, dia mengkhianati pernikahan ini.”
Pikiran Sassa setengah kalut ia berusaha menyangkal segalanya dan terus berharap agar semua prasangka tersebut tidak nyata. Justru, banyak pertanyaan yang mendadak muncul di dalam benaknya. Membuat hati Sassa terus bergejolak dan tidak pernah tenang.
Sassa Larisa Andita dan Robin Aregisto pernikahan mereka masih terbilang baru. Pernikahan yang berawal dari sokongan dana Robin pada perusahaan keluarga Sassa yang membawa mereka semakin dekat dan akhirnya pernikahan pun terjalin. Setelah menunggu selama satu tahun, kehamilan yang ditunggu itu pun datang. Kabar baik yang seharusnya semakin membuat hubungan rumah tangga mereka semakin hangat.
Sayang, semua hanyalah ilusi semata. Saat Sassa tidak sengaja mendapati petunjuk demi petunjuk dari perselingkuhan sang suami. Sassa pun jadi semakin waspada dan terus mengumpulkan bukti perselingkuhan tersebut.
“Kamu tahu aku hamil, tapi kamu masih bermesraan dengan wanita lain. Kamu benar-benar tega Robin!”
Hati Sassa tentu saja hancur, meski semua bukti terus bermunculan dan rasanya tak lagi bisa dibantah. Robin yang selalu bersikap manis, lembut dan penuh perhatian itu masih membuat Sassa berharap jika semua yang duga hanyalah sebuah salah paham belaka.
Sampailah pada hari ini, saat Sassa hendak membuktikan sendiri kecurigaannya tersebut. Perselingkuhan yang mungkin dilakukan oleh sang suami tercintanya itu. Sassa sengaja mendatangi kantor Robin tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
“Sekarang aku sudah di sini dan aku tidak boleh ragu lagi. Semua harus jelas demi masa depan anakku nantinya.” Hanya tekad itu yang membuat Sassa kini memberanikan dirinya. Ia sudah berpikir dengan matang bila mana semua dugaannya itu benar dan Robin terbukti selingkuh.
Ruangan kerja CEO memang cukup luas, begitu membuka pintunya. Guci tanaman hias menghiasi koridornya. Rak-rak buku dengan bingkai foto kecil juga tertata rapih di sana. Setelah melewati rak hias, ada sebuah ruang tamu. Terdapat meja yang besar dengan sofa yang panjang dan beberapa sofa biasa juga tertata di ruang tersebut. Sengaja dirancang untuk menerima tamu yang ramai jika ada yang hendak menghadap CEO.
Terdapat satu ruangan lagi yang setengah tertutup oleh partisi di ruangan tersebut, yaitu meja kerja Robin. Di sana lah, tempat Gina dan Robin beraksi. Di atas meja kerjanya dalam pangkuan Robin yang masih di jam kerja, mereka bercanda dan tertawa bersama. Sentuhan mesra yang terlihat dari segala gerak-gerik Robin dan Gina. Lengan Robin yang melingkar pada pinggang ramping wanita lain dan dekapan wanita itu yang erat para tubuh kekar Robin. Semua seakan memperjelas apa yang selama ini terus menjadi tanya oleh Sassa dengan segala keresahan di hatinya itu.
Langkah kecil yang gemetar itu kini melangkah pelan dan hati-hati untuk bisa melihat lebih jelas apa yang sedang dilakukan oleh suami tercintanya itu. Sassa takut keberadaannya diketahui oleh suaminya, tapi rasa penasaran dan sakit hatinya terus mendorongnya untuk mencari kebenaran dan keadilan. Sassa pun mengintip dari rak buku yang ada di ruangan tersebut. Mengintip meja kerja suaminya dengan hatinya yang mungkin sudah retak, berkeping-keping, dan tak lagi berwujud.
"Ba-bagaimana mungkin!!"
Sassa terkejut bukan main dengan apa yang ia saksikan di atas meja kerja suaminya itu. Semakin dilihat jelas apa yang sedang mereka lakukan, semua dugaan itu seakan terbukti. Apa yang Robin lakukan dengan wanita itu adalah benar sebuah perselingkuhan. Hati Sassa yang sudah tidak tenang itu saat ini menjerit keras, kala ia melihat suaminya tengah memangku seorang wanita dan bersenda gurau dengannya.
***
Sejak semalam Sassa sudah semakin curiga akan perselingkuhan suaminya. Ia tidak ingin gegabah menuduh suaminya begitu saja. Ia ingin mengumpulkan bukti yang lebih akurat lagi. Sebab, saat ini Sassa saja baru mengetahui tentang kehamilannya. Ia tak ingin rumah tangganya yang semula begitu sempurna hancur begitu saja hanya karena salah paham. Ia ingin menyaksikan sendiri kebenaran tersebut demi masa depan anak yang ada di dalam kandungannya itu.
Satu-satunya cara yang terpikir oleh Sassa adalah untuk mendatangi kantor Robin. Berdalih ingin mengantar bekal makan siang, Sassa memberanikan dirinya untuk datang ke ruang kerja Sassa.
"Ayo, Sassa. Semangat lah!!! apa pun yang terjadi nanti, kamu harus kuat. Demi anakmu dan juga demi dirimu sendiri."
Saat itu tak terhitung berapa kali Sassa menegarkan hatinya. Ia berusaha untuk kuat dan tak ingin terlihat lemah. Sassa akan berusaha tegar dengan apapun yang akan ia hadapi nantinya.
Begitu Sassa sampai di tempat kerja itu ia langsung menuju ruang kerja Robin.
"Apa Robin ada di ruangannya?" tanya Sassa pada salah satu pegawai Robin di sana.
"Ada, pak Robin sedang bersama asistennya di ruangan, tapi ... ..."
Pegawai itu terlihat ragu, ia pun menjelaskan jika sebelumnya Robin sudah berpesan untuk tidak menerima tamu mana pun masuk ke dalam ruangan kerjanya. Lantas, itu tidak membuat Sassa menyerah. Sejak ia mendengar Robin bersama dengan asistennya Gina, ia sudah mulai merasakan firasat yang buruk. Sehingga, ia mulai membujuk agar bisa menemui Robin kala itu.
"Hmmm.. tapi aku, istrinya. Aku mau mengantarkan ini langsung padanya!"
Sassa yang gemulai itu memasang wajah sedihnya, matanya berkaca-kaca seolah penuh rasa kecewa.
“Aduh, kasihan sekali. Tapi, bu Sassa itu istri pak Robin. Pasti tidak masalah membiarkan bu Sassa untuk masuk,” benak sang pegawai tersebut mengingat status Sassa yang merupakan istri sah dari CEO tempatnya bekerja tersebut.
Tidak tega, sang pegawai itu akhirnya membiarkan Sassa untuk masuk ke ruangan CEO tersebut.
"Ah, biar saya sendiri saja! Saya ingin membuat kejutan untuknya."
Sassa dengan sigap menghentikan pegawai yang berniat mengantarkan dirinya tersebut. Berdalih ingin memberikan kejutan, Sassa meminta untuk pergi sendiri ke ruangan CEO tersebut. Percuma saja jika ia pergi dengan pegawai itu, nantinya dia pasti akan mengetuk pintu tersebut sebelum mereka masuk. Sementara tujuan Sassa adalah untuk datang diam-diam dan memergoki apa yang Robin dan asisten pribadinya itu lakukan dibelakangnya.
Untung saja, pegawai itu menyetujui begitu saja permintaan Sassa. Tepat saat Sassa berada di depan pintu kerja Robin, firasat buruk tersebut semakin terasa pekat.
Napas Sassa pun tercekat dengan rintihan hatinya yang meluap. Saat melihat samar Gina berada di atas pangkuan Robin dengan lengannya yang merangkul leher Robin, erat. Sementara Robin sendiri terkekeh kecil dengan segala kebahagiaan di wajahnya. Keduanya bahkan tidak menyadari keberadaan Sassa di sana.
"Robin, ternyata semua ini benar. Kamu benar-benar selingkuh dengannya!"
"Bagaimana ini, apa aku sanggup untuk menahan sakit hati ini?"
Sassa sebelumnya sudah bertekad untuk tidak menangis. Ia harus lebih tegar jika tidak ingin kalah dari Gina, ia ingin melindungi harga dirinya. Sassa harus kuat dan menahan air mata tersebut. Tekad itu begitu besar sebesar rasa sakit hati yang ia rasakan. Jika ia terlihat lemah seakan itu membuat para pelaku perselingkuhan itu menang dan dirinya hanya semakin terlihat menyedihkan. Sassa tidak mau itu terjadi. Bahkan jika memang perlu, ia ingin membalas semuanya dengan anggun dan telak. Tidak terlihat lemah dan penuh air mata atau memohon agar Robin bisa kembali mencintainya, ia tidak ingin melakukan itu.
Sejenak, Sassa sempat berpikir, "apakah itu adalah sosok Robin yang sesungguhnya?"
"Bagaimana mungkin semua ini terjadi padaku saat aku sedang hamil muda!"
Sassa masih menyangkal hal itu, ia tidak menyangka Sassa yang lemah lembut bak malaikat dan penuh dengan perhatian itu mengkhianati cintanya dan kini ia malah terlihat liar dengan wanita lain. Sangat berbeda dengan sosok Robin yang ia kenal selama ini.
Hatinya jelas sudah hancur, tak berbentuk lagi. Oleh sebab itu, Sassa yang tak lagi memiliki hati semakin bertekad. Ia harus bisa membuat kedua orang tersebut hancur. Tekadnya bulat untuk tidak membiarkan Robin menyaksikan kelemahannya.
"Benar, aku tidak boleh terlihat sakit dengan apa yang Robin lakukan. Aku harus terlihat tegar dan tersenyum seperti biasa. Aku harus menahan sakit ini dan bertindak seolah itu bukan apa-apa. Aku tak boleh terlihat rapuh dan patah hati."
Dengan sakit hati yang Sassa sembunyikan kali ini, Sassa mencoba bersikap santai dengan apa yang ia saksikan di ruang kerja tersebut. Ia masih membiarkan kedua orang itu dengan aksi gila mereka yang semakin menjadi-jadi.
Dengan mata kepalanya sendiri Sassa melihat suaminya tengah bermesraan dengan wanita itu. Saling mendekap dan berpadu kasih, meluapkan asmara yang tak pernah ia ketahui dari sosok suaminya. Sisi liar yang baru kali ini ia saksikan dari suami yang biasanya begitu lembut dan penuh kehangatan itu.
"Lagi.. Robin.." Gina bersikap manja dengan napasnya yang masih menderu kencang, napas berat yang terpotong bersama dengan suara paraunya yang kasar.
Robin hanya tertawa kecil ia tidak mendengarkan permintaan Gina untuk melakukan apapun yang diinginkan wanita itu. Robin masih saja bermesraan manja dengan wanita itu tanpa tahu bahwa Sassa saat ini sedang menyaksikan seluruh aksi liar mereka.
"Aku lebih suka ekspresi dari Sassa! Dia menggemaskan setiap kali aku menyentuhnya.”
Robin tiba-tiba mengatakan hal tersebut, yang membuat air muka Gina terlihat kesal sebab ia dibandingkan dengan sang istri sah di saat mereka sedang bermesraan berdua.
"Iiich.. masa kamu bandingkan aku dengan Sassa, sih!" gelagat manja Gina pada Robin dengan kesal yang Robin sambut dengan gelak tawa lebar tanpa beban.
"Jelas dong, Sassa itu gadis yang benar-benar polos. Dia hanya tahu bekerja dan tak pernah berpacaran."
“Itu menyenangkan saat bersama dengannya. Aku seperti bermain dengan boneka yang lugu!”
Ucapan dari Robin berikutnya itu tampaknya sedikit mengurangi rasa kesal dari Gina, setidaknya ia merasa jauh lebih unggul dari pada Sassa yang polos bak boneka tersebut.
Sementara Sassa yang mendengar hal tersebut semakin naik darah. Emosinya meluap dengan cintanya untuk Robin yang kini benar-benar sudah runtuh.
Di sisi yang sama, Robin yang merasa kekesalan Gina itu sedikit berkurang, ia pun terus membujuk mesra Gina. Terus menggodanya dan memuji wanita itu. Saat Robin tengah asik merayu mesra selingkuhannya tersebut, samar-samar ia melihat sosok Sassa di sana.
Aksinya terhenti saat ia berusaha melihat dengan jelas sosok Sassa tersebut. Kala ia memastikan bahwa yang ia lihat itu bukan hanya sekadar dalam pikirannya saja. Sassa sudah berdiri tak jauh dari meja kerjanya menatap ke arah dirinya yang masih mendekap Gina dalam pelukannya yang mesra.
"Kenapa tidak diteruskan?"
"Padahal tadi sedang seru, sampai tidak sadar aku ada di sini!"
Robin semakin terlihat gugup, ia langsung bangun dari meja kerjanya dengan resleting elananya yang bahkan sudah terbuka. Ia mendorong kuat Gina sehingga Gina terjatuh dan terbentur keras.
"Sassa!"
Buru-buru Robin merapihkan pakaiannya dan menghampiri Sassa.
“Sa-sayang!”
Robin kembali memanggil istrinya dengan suara yang sudah mencekik lehernya. Ia gugup bukan main, tangannya seketika gemetar dan tatapan matanya tak bisa berhenti dari sosok istrinya tersebut. Robin mengabaikan Gina yang sudah tersungkur di lantai, ia terus berusaha untuk mendekati istrinya, tanpa peduli apa yang sudah terjadi pada selingkuhannya tersebut.
"Ah.. hmm..."
"Ba-bagaimana bisa kamu ke sini?" Robin bertanya gugup.
"Tentu saja aku ingin menemui suami tercintaku. Aku bawa bekal makan siang, loh.."
Tenang dan tak sedikit pun memperlihatkan kesedihan Sassa menunjukkan bekal makan siang yang ia bawa. Baik Robin maupun Gina menatap Sassa dengan tatapan yang sama. Keduanya heran akan sikap tenang Sassa saat ini, padahal ia baru saja mendapati suaminya selingkuh dan bermesraan dengan mata kepalanya sendiri.
"Ta-tapi, bukankah kamu sedang lemas karena muntah setiap hari?"
"Hmmm.. kamu cemas dengan kehamilanku?" Sassa juga tersenyum lebar. Senyuman penuh arti yang baru pertama kali Robin lihat. Menjadikan rasa gugup semakin mencekik leher Robin.
“Tentu, tentu saja aku cemas dengan anakku.”
Tidak bisa dipungkiri jika Robin benar-benar mencemaskan kehamilan istrinya tersebut. Ia tidak bisa berbohong jika ia juga bahagia saat mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang ayah. Bahkan, hal terbesar yang ia cemaskan kali ini justru kehamilan istrinya. Bila perselingkuhan ini terungkap dan itu berpengaruh pada kondisi Sassa. Robin benar-benar tidak tahu harus apa, jika sesuatu juga terjadi pada kandungan Sassa.
Akan tetapi, apa yang menjadi ungkapan Sassa selanjutnya jauh lebih mengejutkan Robin.
"Memangnya kamu yakin ini anakmu?" ungkap Sassa kemudian yang membuat tanda tanya besar pada Robin.