Lori Arzika Ogima sejak awal menyadari jika istrinya ternyata selingkuh di belakangnya, hanya saja ia membiarkan apa yang sang istri lakukan begitu saja. Banyak hal yang ia pertimbangkan jika ia bercerai dengan sang istri. Termasuk buah hati yang sangat ia cintai, Lori mempertahankan pernikahannya demi sang anak. Ia tidak mau jika anak akan menjadi korban dari keegoisan dirinya. Walau ia juga tidak sungguh-sungguh mencintai istrinya tersebut. Tapi, dengan kehadiran putranya Rian. Ia merasa itu sudah cukup untuk menjalani kehidupannya saat ia sudah memiliki pewaris untuknya kelak.
Hingga tiba-tiba saja, asisten pribadinya Sassa yang datang menawarkan sebuah penawaran yang mengejutkan. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa ia bayangkan sebelumnya.
"Pak, tolong saya.”
“Tolong, selingkuh dengan saya!”
Lori nyaris tersedak saat ia mendengar hal mengejutkan itu dari asisten pribadinya tersebut. Tapi, Sassa tak terlihat goyah. Ia terlihat serius dengan apa yang ia tawarkan.
"Bukankah istri bapak berselingkuh?“
“Bapak juga jadi selingkuhan saya saja!"
Lori menatap Sassa dengan pandangan matanya yang heran. Sudah nyaris lima tahun ia berkerja bersama dengan Sassa di perusahaan ini sebagai asistennya. Selama itu pula Sassa selalu bekerja dengan giat, ia hanya fokus pada pekerjaannya saja dan tak goyah dengan apapun, apa lagi urusan pribadi.
Akan tetapi, sosok Sassa yang tegas dan rasional itu tiba-tiba saja menawarkan hal yang terduga. Apa lagi itu adalah sebuah perselingkuhan.
"Hmmmm.. dari mana kamu tahu istriku berselingkuh?"
Lori sadar selama ini, Sassa sang asisten pribadinya itu sangat mengenali dirinya. Ia bekerja dengan sempurna dan tanpa kesalahan sedikit pun. Sassa mengenali apa saja yang Lori suka dan tidak suka, Sassa tahu cara menempatkan dirinya, Sassa juga tahu apa yang sedang Lori butuhkan tanpa perlu ia menjelaskan panjang lebar. Baru bersama Sassa saja lah, ia bisa bekerja dengan nyaman dan sangat efisien.
"Lantas, sebenarnya sejauh apa yang kamu ketahui?" Lori bertanya-tanya di dalam hatinya, Lori penasaran dengan asisten yang rasanya tak akan menggabungkan urusan pribadi dalam pekerjaan itu.
Saat Lori bertanya tentang perselingkuhan istrinya. Sassa tampak tidak gentar, ia mendekatkan dirinya ke sisi Lori. Wanita yang biasanya tak pernah melewati meja kerja Lori itu, kini berdiri tepat di samping Lori tanpa ragu.
"Saya tahu semuanya, Pak. Mungkin saya tahu lebih banyak dari apa yang Bapak ketahui selama ini!”
Perasaan Lori resah mendengar hal tersebut. Rasanya tak mungkin ada yang disembunyikan oleh istrinya lagi, ia tahu segalanya tentang istrinya tersebut. Perselingkuhan istrinya, pria yang menjadi selingkuhan sang istri, serta segala paksaan yang istrinya dapatkan saat ia harus melahirkan penerus untuk perusahaan yang Lori jalankan. Semua ia ketahui dengan jelas, sebab Lori sendiri juga menikah hanya untuk menemukan penerus tanpa perlu cinta dan ikatan merepotkan lainnya. Sesuatu yang seharusnya sudah saling menguntungkan.
Hanya saja, Lori semakin penasaran ada hal apa lagi yang tidak ia ketahui tentang istrinya tersebut, bahkan bila ada skandal yang muncul tentang istrinya tersebut. Lori pula lah yang menangani hal itu dan membungkam seluruh media lainnya. Apa lagi, perusahaan Lori memang merupakan perusahaan media terbesar dan ter percaya sehingga ia jauh lebih mudah membungkam segala berita miring tentangnya.
“Sungguh, saya tahu sesuatu yang mungkin tidak Bapak ketahui.”
“Saya jamin itu, Pak!”
“Saya tahu semuanya. Tentang Bapak dan juga istri Bapak, bahkan anak Bapak. Saya tahu jauh lebih banyak.”
Lori pun tertawa dan semakin menganggap Sassa menarik dengan segala kepercayaan diri yang Sassa miliki itu. Lori pun kembali mendesak Sassa dengan rasa penasarannya itu.
"Jika kamu tahu semuanya, jadi untuk apa kamu mengajakku berselingkuh?"
"Kamu tahu jika aku tidak suka dengan urusan percintaan yang merepotkan."
“Kamu tahu jika aku sama sekali tidak peduli dengan perselingkuhan istriku, kan?”
Rasa penasaran memang memenuhi hati Lori, ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya tidak ia ketahui setelah sekian lama ia menyadari perselingkuhan yang dilakukan istrinya tersebut. Tetapi, apa yang Sassa lakukan ini termasuk hal yang tidak biasa. Sassa tidak pernah membicarakan urusan pribadi seperti ini. Sehingga, rasa penasaran Lori semakin menjadi-jadi.
"Saya terpaksa selingkuh dan saya yakin Bapak tidak akan menolak saya!"
Belum sempat Lori menyanggah ucapan Sassa, tiba-tiba saja Sassa langsung mengatakan hal yang sangat mengejutkan bahkan bagi Lori sekalipun.
"Bagaimana jika ternyata anak yang menjadi alasan untuk Bapak mempertahankan rumah tangga Bapak itu ternyata bukan anak kandung Bapak?"
"Apa bapak masih tidak tertarik untuk selingkuh dengan saya?"
Lori terdiam begitu mendengar ucapan tersebut, perkataan Sassa masih terdengar tidak masuk akal baginya. Bagaimana mungkin anak yang begitu ia cintai ternyata bukanlah anak kandungnya.
"Bagaimana mungkin dia bukan anakku? Aku yakin dia adalah anakku."
Lori bersikeras dengan pendapatnya. Sedangkan Sassa menegaskan jika apa yang ia katakan adalah hal yang sebenarnya.
"Kalau begitu kita taruhan saja Pak. Bapak pastikan saja apa yang saya katakan. Apakah benar Rian adalah anak kandung bapak dan jika saya benar, Bapak harus menjadi selingkuhan saya. Bagaimana?"
Pandangan mata Sassa terlihat bimbang, ia ragu jika Lori akan menerima tawarannya tersebut. Apa yang Sassa katakan juga pasti sangat berat untuk bisa Lori terima dan ia sangat memahami hal tersebut. Sehingga Sassa memutuskan untuk memberi sedikit ruang bagi Lori untuk memikirkan kembali tawarannya tersebut.
"Hmmm… tampaknya Bapak kebingungan. Bagaimana jika Bapak pastikan dulu ucapan saya. Lalu pertimbangkan kembali penawaran dari saya tadi."
Sassa langsung menyerahkan laporan yang memang seharusnya ia serahkan pada atasannya itu dan dengan menyisakan rasa penasaran bagi Lori, Sassa meninggalkan ruangan kerja itu begitu saja. Meninggalkan Lori yang menatap punggung tegak Sassa yang perlahan tenggelam bersama pintu ruangan yang tertutup.
"A-apa ini mungkin?"
"Sassa serius?"
"Ini bukan candaan, kan?"
Apa yang Sassa lakukan saja membuat Lori bak berada dalam mimpi yang aneh. Kehadiran Sassa yang tak seperti biasa meninggalkan banyak tanya dan misteri bagi Lori. Terlepas dari pada itu, Lori pasti ingin memastikan ucapan dari Sassa tentang anaknya tersebut.
Sejak saat itu, Sassa tak pernah lagi mengungkit tentang penawarannya tersebut. Ajakan selingkuh yang rasanya tak pernah ia ungkapkan, tantangan yang seakan tidak pernah ia sebutkan. Sassa masih bersikap normal, ia bekerja dengan rapih, lembur bersama dengan Lori seperti biasa dan juga menemani Lori makan siang sama seperti kegiatan mereka sebelumnya.
"Sebenarnya dia serius tidak, mengajak aku untuk selingkuh?"
Sebaliknya Lori lah yang malah penasaran setelah mendengar ucapan yang Sassa katakan tersebut. Penawaran dan taruhan yang terus membebani pikiran Lori.
Sedikit rasa mengganjal di hati Lori, akan tawaran aneh tersebut. Namun yang pasti, perkataan Sassa begitu besar mempengaruhi Lori. Sejak ucapan dari Sassa itu, Lori jadi lebih sering memerhatikan anaknya. Memang anak tersebut tidak mirip dengannya secara fisik, tapi sedikit mirip dengan ibunya dan pada awalnya Lori tak pernah ambil pusing akan hal tersebut.
Akan tetapi, apa yang Sassa katakan membuat Lori juga tidak bisa mengabaikan begitu saja fakta tersebut. Sebab anak adalah hal utama dari tujuannya menerima pernikahan politik tersebut. Ia harus punya keturunan yang sah dan tentu saja akan menjadi penerus dari perusahaannya kelak.
"Jika anak itu bukan anakku, artinya dia tak bisa jadi penerusku dan istriku juga membohongiku hanya untuk hak waris tersebut."
Hal yang semakin membuat Lori yakin adalah fakta jika saat ini istrinya saja berselingkuh saat ini membuat Sassa semakin meragukan anak tersebut.
Sudah pasti, di dunia ini mana ada orang yang ingin dibohongi. Begitu pula dengan Lori, apa lagi urusan anak. Sesungguhnya Lori saja sudah tak tahan dengan istrinya itu, ia juga tidak suka dengan banyak hal termasuk perselingkuhan dari istrinya tersebut. Hanya anaknya saja lah yang membuat Lori bertahan dan menutup mata akan kelakuan istrinya. Bahkan tak jarang Lori pula yang mengubur segala skandal yang muncul akibat ulah istrinya itu.
"Jika yang Sassa katakan benar maka aku tidak bisa mengabaikan istriku lagi. Aku harus bertindak dengan benar."
Tekad itu bulat seiring dengan keresahan hati Bian akan status anak kandungnya itu.
"Aku harus mencari tahu kebenarannya."
Penuh dengan rasa penasarannya, Lori pun diam-diam melakukan tes DNA pada anaknya tersebut. Berharap jika kebenaran akan terungkap dengan tes DNA tersebut dan ia bisa menentukan kembali arah hidupnya yang belakangan ini sudah sangat berantakan saat ia mendengar bahwa ada kemungkinan Rian bukanlah anak kandungnya.
Waktu pun berlalu begitu cepat hingga tiba berkas yang sangat membuat Lori penasaran yaitu hasil dari tes DNA antara dirinya dan anaknya.
Lori memutuskan memanggil Sassa, memastikan penawaran Sassa yang sudah membuatnya resah dalam beberapa waktu ini dan kini Sassa pun berdiri tegak di hadapan Lori. Menanti urusan apa yang akan Lori sampaikan padanya sampai harus memanggilnya ke ruang CEO.
"Ada apa Bapak memanggil saya di akhir jam kerja seperti ini?"
Lori pun mempersilakan Sassa duduk dengan dua gelas teh yang sudah ia siapkan untuk percakapan mereka yang mungkin agak sedikit panjang.
"Hmmm... tentang taruhan yang kamu katakan waktu itu, apa masih berlaku?"
Sassa mengangguk dengan pasti, sambil menegaskan jika ia benar-benar serius akan perselingkuhan yang ia inginkan tersebut. Meski ia sedikit heran dengan antusias yang malah muncul dari atasannya itu.
"Kalau begitu boleh aku tahu alasan kamu ingin berselingkuh denganku?"
Sassa tampaknya ragu untuk menjawab, tapi Lori kemudian kembali meyakinkan dengan hasil tes DNA yang kini sudah ada di tangannya. Tinggal membuka dan membaca isi dari surat tersebut saja maka hasil taruhan mereka akan terlihat. Namun, rasa penasaran Lori akan niatan dari Sassa itu, tentu tidak bisa ia pungkiri.
Pasalnya, Lori juga tahu jika Sassa juga sudah memiliki suami. Usia pernikahannya juga masih terbilang baru. Sehingga rasanya tak mungkin Sassa menawarkan hal aneh seperti itu di saat rumah tangganya yang seharusnya sedang hangat-hangatnya.
"Saya hamil, Pak."
Brrrruuuups ....
Lori langsung menyemburkan minuman yang baru saja ia seruput. Lori benar-benar kaget atas pernyataan asistennya itu. Bagaimana mungkin saat ia tengah hamil dengan pria lain dan mengajak selingkuh atasannya sendiri. Sangat mengherankan dan sulit untuk dimengerti.
"Ka-kamu hamil dan kamu mau selingkuh denganku?"
Sassa benar-benar membuatnya terkejut belakangan ini.
"Iya, saya hamil dan suami saya selingkuh. Saya sakit hati dan ingin balas dendam melebihi sakit yang saya rasakan. Saya tak ingin terlihat menyedihkan. Saya tak ingin di buang dengan hina, saya butuh kekuatan, saya butuh seseorang yang membantu saya. Lalu, saya rasa Bapak adalah orang yang tepat."
Mencoba mencerna satu per satu apa yang Sassa katakan, Lori pun mulai sedikit mengerti perasaan yang mungkin saat ini sedang Sassa rasakan. Dari perkataan Sassa saja sudah terdengar penuh keyakinan tak ada satu keraguan pun yang tersirat darinya.
Sebuah pemikiran matang yang mungkin sudah menjadi akhir dari segala hal yang bisa ia lakukan. Apa lagi, Lori yang juga cukup mengerti dan mengenal Sassa dengan baik sangat memahami atas perasaan yang kini mungkin tengah Sassa rasakan.
"Dia, selalu menceritakan suaminya yang baik hati itu. Ia selalu terlihat bahagia dengan pernikahannya dan pria yang selalu saja ia ceritakan itu berselingkuh di saat Sassa sedang hamil?"
Di dalam hati, Lori sendiri geram dengan kisah tersebut. Lori menyadari kebahagiaan Sassa atas penikahannya. Meski berawal dari perjodohan dalam urusan bisnis tapi Sassa yang sangat berhati-hati dengan orang lain itu menaruh kepercayaan pada pria yang selalu bersikap baik di hadapannya. Hingga memutuskan menikah dan menjalani sisa hidup dengan pria tersebut. Kini pria yang selalu ia sanjung itu berkhianat, pasti membuat Sassa sangat menderita.
Nurani Lori pun goyah akan hal tersebut, apa lagi Lori juga kini ingin memastikan kebenaran tentang anak kandungnya itu. Jika memang benar mereka ter khianati maka tak ada ada alasan bagi mereka berdua untuk bekerja sama dalam membalaskan segala sakit yang mereka rasakan.
“Jadi kamu hanya butuh kekuatan dan bantuan dariku?" tanya Lori lagi memastikan.
"Iya, Pak. Saya bersumpah tidak akan membuat Bapak terlibat dengan urusan percintaan yang Bapak anggap merepotkan itu."
"Jika perlu saya juga berjanji tidak akan jatuh cinta pada Bapak. Saya mungkin akan sedikit merepotkan Bapak saat membantu saja. Tapi, saya juga sudah putus asa. Saya sudah tak punya pilihan lain, dan semoga Bapak mau membantu saya."
Mata Sassa terlihat berkaca-kaca, ia menahan tangisnya. Sakit hati yang Sassa rasakan pasti sudah mencapai batasnya. Rasa putus asa mengantarkan Sassa pada Lori. Hingga Lori yang iba itu pun ingin membantu asistennya yang selama ini telah banyak membatunya dan merupakan salah satu orang yang paling Lori percaya di kantornya ini.
"Baiklah, saya setuju. Tapi, aku akan membantumu jika Rian terbukti bukanlah anakku."
"Lagian jika ia bukan anakku, tampaknya aku juga akan membutuhkan dirimu."
Pernikahan Lori sendiri merupakan sebuah pernikahan politik yang pasti akan banyak sangkut paut dengan banyak pihak dan Lori juga ingin menggunakan Sassa sebagai dalih untuk lepas dari istrinya.
"Saya akan melakukan apapun, katakan saja apapun yang harus saya lakukan dan saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya."
Sassa yang sudah putus asa itu tentu tidak akan ragu melakukan apapun demi Lori, selama Lori bersedia membantunya pula.
"Baiklah, aku juga akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk dendammu itu."
Menyepakati hal tersebut, berkas berisi tes DNA itu pun di buka dan hasil dari tes itu benar-benar mengejutkan Lori dan juga Sassa.
"Ba-bagaimana bisa?" teriakan Sassa justru yang paling keras terdengar.
"Ini ... ...." Lori juga ikut berteriak dengan kedua bola matanya yang sudah terbuka lebar.