Selayaknya sebuah kisah novel romantis yang manis, pasangan hangat yang saling mencintai, tatapan tulus dan penuh cinta. Itu adalah apa yang semula Sassa rasakan bersama dengan suami tercintanya itu, ia sama sekali tidak menyangka jika suami yang begitu ia cintai itu berselingkuh di belakangnya bersama dengan sang sekretaris pribadinya sendiri. Wanita yang katanya selalu menemaninya setiap kali mereka dinas di luar kota dan Sassa tak pernah bisa membayangkan apa saja yang telah terjadi selama ini selama mereka beralasan dinas luar kota.
"Apa salahku padamu?"
"Bukankah selama ini kita tidak pernah bertengkar?"
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?"
Ribuan tanya terselubung dalam hati Sassa. Rasanya tak ada yang salah dari hubungan pernikahannya. Sassa dan Robin dekat dengan sendirinya, hubungan yang terjalin dengan malu-malu dan begitu lembut. Kisah yang mengalir begitu saja, sampai tanpa sengaja tawaran pernikahan politik pun terjadi demi perusahaan sang ayah. Tapi, itu semua justru diterima keduanya dengan senang hati dan rumah tangga mereka pun selalu harmonis.
Seorang pria yang selalu menyapa Sassa dengan kelembutan hatinya, pria yang tak pernah sekali pun berkata kasar pada Sassa dan selalu mencurahkan segala perhatian pada Sassa. Ternyata pria yang sebaik itu tak sebaik yang ia bayangkan.
Padahal saat ini adalah fase terbahagia bagi Sassa. Saat ia mengetahui kehamilannya. Bahkan baru pagi itu sebelum berangkat kerja Robin memerhatikan Sassa sepenuh hati, kala Sassa yang kerap muntah dan lemas serta tak sanggup makan apa pun itu menderita dengan kehamilannya. Saat itu pula, Sassa merasakan cinta yang luar biasa dari suaminya. Tetapi, sebuah pengkhianatan tetaplah sebuah pengkhianatan dan tak akan mudah bagi Sassa memaafkan suaminya itu.
"Aku akan membalaskan sakit yang aku rasa sebesar cinta yang aku berikan pula."
Tekad itu lah yang kini membuat Sassa bertahan, ia benar-benar terluka dan sakit hati. Bila mereka berpisah seperti ini, rasanya sungguh tak adil bagi Sassa. Ia ingin sesuatu hal yang akan membuat suaminya menyesal. Ia ingin membuat suaminya merasakan sakit lebih dari apa yang Sassa rasakan.
Hal itu lah, yang mengantarkan Sassa pada atasannya, ia yakin Lori bisa membantunya.
"Tentu, tak ada yang lebih sempurna untuk membantuku membalas dendam selain Pak Lori."
Apa lagi, Sassa yang sudah lama mengikuti Lori sebagai asisten pribadinya sudah mengetahui dengan jelas seluk-beluk keluarga Lori. Terutama satu hal yang sempat tak sengaja Sassa ketahui, yaitu status anaknya tersebut.
Sassa juga sangat mengetahui alasan Lori membiarkan perselingkuhan istrinya itu. Semua karena anak yang ia kira anak kandungnya. Anak yang akan menjadi pewaris dari mega perusahaan ini.
Tidak hanya itu, Sassa juga sangat mengetahui bagaimana besar cinta dan kasih yang tercurah untuk Rian. Ia selalu di manja oleh ayahnya, kakek dan juga neneknya. Hampir tak ada yang tidak bisa di miliki oleh Rian.
Fakta jika Lori bukanlah anak kandung Lori tentu membuat Lori kebingungan setengah mati.
"A-apa yang harus aku lakukan?"
Satu sisi Sassa tak tega melihat atasannya yang tertipu seperti itu oleh istrinya. Lori selalu bersikap baik pada Sassa, pekerjaannya juga tidak terlalu di tuntut dan atasannya itu juga memberikan waktu istirahat yang cukup. Sassa mendapatkan gaji yang besar dan juga kedekatan mereka benar-benar sangat baik. Jujur, Sasas tak tega untuk menyimpan hal itu sendirian mengingat bagaimana besar rasa terima kasih Sassa pada atasannya itu.
Akan tetapi, Sassa juga tak mungkin ikut campur dalam hubungan rumah tangga atasannya. Dia juga tidak memiliki bukti yang kuat akan hal tersebut dan hanya pernah mendengar hal itu sekali secara tidak sengaja. Hingga akhirnya, Sassa memutuskan untuk menyimpan rahasia itu sendiri sampai ia memiliki waktu yang tepat untuk berbicara dengan atasannya.
Siapa sangka Sassa malah mengungkapkan hal itu sekarang. Saat ia juga membutuhkan sesuatu yang bisa membantunya membalaskan segala dendamnya. Di saat ia yang tak memiliki cara lain untuk meringankan sedikit saja luka di hatinya.
"Haruskah aku menjadi wanita jahat karena pengkhianatan suamiku?"
Dalam hati, Sassa sendiri merasa jika apa yang ia lakukan pada atasannya itu seolah memanfaatkan situasi. Ia juga seolah menjadi wanita jahat yang merusak kebahagiaan orang lain. Seperti yang sudah diketahui, Lori sangat menyayangi anak itu, anak yang ia kira adalah anak kandungnya. Lantas, kali ini semua akan terbukti dari hasil tes DNA yang telah Lori lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya.
"Segala ucapanmu akan terbukti dari hasil DNA ini. Aku juga sudah bertekad dalam diriku jika memang Rian bukan anakku aku akan setuju untuk membantumu."
"Baiklah kita lihat bersama hasil dari tes DNA-nya."
Lori pun mulai membuka amplop yang masih tertutup rapat tersebut. Ia menyobek bagian atasnya tanpa ragu dan mulai memasukkan jari-jari tangannya untuk meraih lembaran kertas yang ada di dalam amplop tersebut.
“Tunggu!!”
Masa yang genting itu berhenti akibat teriakan Sassa sambil menggebrak meja. Menarik amplop yang saat itu ada di tangan Lori dan menutup kembali amplop tersebut. “Tu-tunggu dulu, Pak!” katanya sekali lagi.
Sassa pun menatap ke arah Lori dengan bola matanya yang bergetar penuh dengan rasa khawatir yang terlihat jelas.
"Saya tidak siap." Sassa menutup kedua matanya, ia menghela napasnya dengan sangat kasar dan bibirnya komat-kamit dengan suara yang rendah dan samar.
Lori yang menyaksikan itu heran bukan main, padahal dia saja masih merasa santai dan tidak cemas sama sekali. Meski ia sangat mencintaai anaknya, baginya itu adalah hal yang wajar jika seorang ayah mencintai anaknya. Sama sekali ia tidak berpikir jika Rian bukan anak kandungnya. Lalu, bila memang Rian bukan anak kandung Lori, ia juga merasa jika Rian tidaklah bersalah. Artinya kasih sayang yang memang selama ini di berikan untuk Rian bukanlah hal yang sia-sia.
Semakin diperhatikan reaksi dari Sassa jadi semakin terlihat lucu. Tanpa sadar, Lori pun tertawa melihat hal tersebut.
"Kenapa kamu malah lebih tegang dariku?"
Kekeh kecil Lori itu membuat Sassa terbelalak, ia semakin menatap Lori dengan tatapan matanya yang penuh dengan keyakinan. Melihat dengan serius bersama ekspresi Sassa yang baru pertama kali Lori lihat.
"Ta-tapi saya jadi tidak yakin akan hal itu. Saya mendengarnya sekilas, saya sendiri tidak punya bukti apapun akan kebenarannya.”
“Saya menantang Bapak karena terbawa emosi. Saya seperti wanita jahat yang memanfaatkan situsi buruk dari yang Bapak alami."
Nada bicara Sassa semakin melemah, pandangannya sendu dengan genangan air mata yang sudah terlihat akan jatuh membasahi pipinya.
Benar saja, saat air mata itu jatuh membasahi pipi Sassa. Lori pun mulai menyadari segala halnya.
"Mungkin jalan takdir memang seperti ini, sama seperti kamu yang terpaksa meminta bantuanku dan mengungkapkan segalanya. Mungkin aku juga harus mengetahui kenyataan dengan cara seperti ini.“
“Hal itu pula yang membuat aku ingin membantumu sebagai imbalan karena telah membuktikan kenyataan yang sudah istriku sembunyikan. Tentu saja, kita impas mengingat aku juga akan memanfaatkan kamu demi kepentingan lainnya kelak."
Bukan sembarang bicara, Lori juga mengerti akan situasi saat ini. Sassa yang sangat profesional dalam pekerjaannya itu baru kali ini menunjukkan seluruh emosi yang tak pernah Lori lihat meski sudah bertahun-tahun mereka bekerja bersama. Sehingga ia bisa memahami dengan baik badai yang tengah menerjang mereka.
"Jadi, hapus air matamu. Kita sama-sama saling membutuhkan. Aku juga akan memanfaatkan kamu sebanyak kamu memanfaatkan aku."
Ucapan tegas itu membuat Sassa kembali bertekad, ia pun melepas eratnya tangan saat menutup amplop tersebut. Menyerahkan pada Bian untuk membuka isi dari amplop tersebut.
Bola mata Sassa bergetar saat ia melihat apa yang tertera di berkas tersebut. Begitu mereka berdua membaca isi dari hasil tes tersebut adalah sebuah pernyataan kebenaran tentang Rian yang bukanlah anak kandung Lori.
"Ha-ha-ha, ...." Tawa mengisi seluruh ruang kerja tersebut, tubuh Sassa bergetar dan Lori terus terbahak-bahak.
"Dia benar-benar bukan anakku."
Tawa renyah tersebut membuat tubuh Sassa merinding, jelas jika tawa tersebut merupakan tawa yang Lori berikan untuk menertawakan dirinya sendiri. Sebuah kebodohan telah ditipu oleh istri yang bahkan selalu sibuk dengan pria lain.
"Dia menyalahkan aku karena aku sibuk bekerja dan dia membuatku seperti ayah yang kejam karena jarang menghabiskan waktu dengan Rian, tapi apa ini?"
Ungkapan hati itu keluar begitu saja, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Sedangkan Sassa, sangat mengetahui seperti apa sosok Lori yang sebenarnya. Lori memang sibuk bekerja, tapi itu karena Lori memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Ia selalu mengatakan jika para karyawannya sudah sangat bekerja keras dan dia juga harus bekerja keras demi bisa terus menjaga perusahaan tersebut berjalan dengan baik.
"Aku sungguh ingin membuat karyawan di perusahaan kita pulang tepat waktu, jadi aku tak masalah pulang sedikit terlambat demi mereka yang berjuang untuk perusahaanku!"
Pada suatu waktu, Sassa sempat mendengar hal itu saat Sassa mengingatkan Lori untuk tidak pulang terlalu larut. Rasa tanggung jawab yang besar dan kebaikan hati Lori itu pula yang membuat Sassa terkadang menemani sang atasan untuk lembur, dengan dalih jika dikerjakan oleh dua orang pekerjaan akan semakin cepat selesai.
Sassa bahkan yakin jika tidak sekedar demi perusahaan dan karyawannya, Lori terus bekerja keras juga demi mendapatkan keuntungan lebih, pendapatan lebih untuk keluarganya. Lori sadar kebutuhan sang istri yang doyan belanja itu membutuhkan banyak dana. Begitu pula dengan anaknya Rian, Rian butuh banyak biaya untuk pendidikannya, les dan juga segala kebutuhan lainnya. Sassa tahu betul seperti apa perjuangan Lori agar semua berjalan dengan baik, agar ia tidak perlu mencemaskan soal masalah ekonomi kelak bila sesuatu mengancam perusahaannya.
Itu semua karena rasa tanggung jawab Lori yang begitu besar, sebagai seorang suami dan juga sebagai seorang ayah. Walau Lori tahu sebagian besar uang itu juga habis untuk pria lain yang kerap Nia kencani. Saat Lori kini menyadari kenyataan yang telah disembunyikan oleh sang istri, ia baru sadar jika segala apa yang ia pertahankan itu menjadi sia-sia.
"Berapa kali pun dilihat tulisan itu tidak berubah!" desah Sassa yang membangkitkan Lori dari lamunannya.
Di atas meja selembar kertas itu di tatap lekat oleh Lori dan Sassa. Bisa di bilang wajah mereka nyaris menempel pada selembar kertas tersebut. Pandangan mata melekat erat pada selembar kertas yang membuktikan jika Rian bukanlah anak kandung Lori.
"Aku juga tidak percaya jika selama ini Rian bukan anakku!" sambung Lori lagi.
Serempak keduanya menghela napas mereka kasar. Membuat wajah kedua orang yang sedari tadi memandangi lekat di kertas tersebut langsung mengangkat kepalanya.
"Eh!!"
Tanpa di sengaja, kegiatan bersamaan itu membuat mereka saling berhadapan, hanya terhalang meja di antara mereka, tubuh Sassa dan Lori yang saling condong saat menatap kertas tepat di tengah meja tersebut.
Bibir kedua orang itu nyaris bertemu, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain mematung dan saling memandang. Berdua tenggelam dalam pandangan mata yang memiliki pancaran yang sama, yaitu kekecewaan.
Untuk beberapa saat keduanya hanyut dalam pandangan mata tersebut. Hingga Sassa kembali membuka suaranya, "Jadi Pak, kita resmi selingkuh?"
"I-iya."
Lori menarik tubuhnya menjauh dari wajah Sassa yang nyaris tak berjarak tersebut. Ia merapihkan kerah bajunya dengan gugup dan berdeham beberapa kali.
Pertanyaan polos Sassa itu berhasil menyadarkan dirinya yang hampir saja tidak terkendali, sebab debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu dengan cepat dan nyaris meraih bibir indah yang ada di hadapannya.
"Ini pasti karena aku masih tidak menerima kenyataan jika Rian bukanlah anakku!" kata Lori yakin bahwa debaran itu disebabkan oleh perasaan kecewanya dan bukan karena bibir indah Sassa yang ada di depan matanya.
Semua itu ia ungkapkan berulang kali di dalam hatinya, meski yang terlintas di dalam benaknya kala itu malah wajah Sassa yang begitu dekat denganya, bola mata jernih yang menyimpan kesedihan, bibir lembab kemerahan yang terlihat lembut, serta napas hangat Sassa yang berhembus ke wajah Lori. Menggoda Lori untuk meraih wajah mungil tersebut.
Bian menampar pipinya sendiri, untuk menyadarkan dirinya dari pikiran aneh tersebut. Walau di dalam hati ia bertanya-tanya kenapa wajah Sassa terus muncul dalam imajinasinya.
"Tidak!!"
Sassa seketika memegang pergelangan tangan Lori, menghentikan Lori dari menampar pipinya.
"Saya tahu ini kenyataan yang pahit, tapi jangan rusak wajah selingkuhan saya yang tampan ini!"
Lori berpikir ulang, apa yang tengah Sassa khawatirkan sebenarnya. Kisah menyedihkan yang telah disembunyikan sang istri atau malah wajah tampannya. Lalu, ketika Lori menyadari jika wajah tampannya itu lebih penting bagi Sassa dibandingkan kenyataan jika Rian bukanlah anaknya. Entah kenapa sedikit membuat Lori kesal.
"Aku tahu wajahku tampannya luar biasa. Kamu apakah sama sekali tidak memikirkan perasaanku saat mengetahui Rian bukanlah anakku?"
“Kamu mau aku menolongmu?”
"Kamu masih mau kita selingkuh tidak sih?"
Sassa melepaskan genggamannya dari kedua tangan Lori, ia tertunduk sambil menarik-narik ujung baju kemeja Lori. "Maaf Pak, itu juga penting tapi saya tidak rela kalau wajah tampan Bapak rusak hanya karena ini."
Tidak ada respon apapun dari Lori membuat Sassa yakin jika penjelasannya masih tidak memuaskan atasannya itu.
"Itu.. Pak, maksud saya. Tujuan saya saja meminta Bapak menjadi selingkuhan karena saya tidak mau di rendahkan, saya tak sudi terlihat sakit hati di hadapan suami saya.”
“Saya ingin membalasnya dengan menunjukkan kebahagiaan saya dari pada keterpurukan saya."
Perlahan suara Sassa mulai terdengar bulat dan penuh tekad, tak ada keraguan dari setiap kata yang Sassa sampaikan. Ia pun dengan percaya diri menatap ke arah Lori. "Jadi Pak, dari pada Bapak menyakiti diri Bapak. Kita juga balas saja istri Bapak dengan kebahagiaan yang bisa kita tunjukkan padanya."
Lori memahami segala maksud yang Sassa ingin sampaikan. Memang benar jika saat ini suasana terasa begitu menyedihkan dan menyakitkan. Namun, jika terus menunjukkan sakit hati dengan rasa terpuruk. Bisa Lori bayangkan reaksi apa yang di dapatkan oleh selingkuhan dari suami Sassa. Ia mungkin akan menertawakan kemalangan yang terjadi pada Sassa saat ini dengan perutnya yang sedang hamil besar.
Begitu pula dengan diri Lori sendiri, selama ini yang selalu saja menjadi perdebatan bagi rumah tangganya adalah sikap dirinya yang sibuk akan pekerjaan tanpa mau di mengerti oleh sang istri yang paling sering menjadi sumber pertengkaran adalah ucapan saat Lori yang tak bisa memberikan perhatiannya sedikitpun pada istri dan anaknya. Padahal Lori sendiri sadar jika selingkuhan yang kini menjalin hubungan dengan istrinya adalah kekasih dari Nia tepat sesaat sebelum pernikahan mereka di laksanakan yang artinya sejak awal menikah dengan Lori, Nia bisa saja tidak memiliki perasaan apapun untuk Lori.
Kemalangan keduanya itu membuat Lori semakin sadar apa yang Sassa katakan itu adalah benar. Tidak ada kondisi baik bagi mereka berdua. Lori yang ternyata mengetahui anak tersebut bukan anak kandungnya serta Sassa yang sedang hamil dan malah dikhianati oleh suaminya.
"Pak, jadi bagaimana? Kita lanjutkan rencana kita kan?" tanya Sassa kembali memastikan kesepakatan di antara mereka yang sekali lagi memecah lamunan Lori saat itu.
"Jadi dong, ayo kita singkirkan suamimu dan menikah saja denganku!" jawab Lori tegas setelah pertimbangan panjangnya.
"Eh, ...." Sassa melongo heran, ia sebenarnya tidak memikirkan sampai ke arah sana. Bagi Sassa, ia hanya ingin membalaskan segalanya pada sang suami dan membuat suaminya merasakan sakit yang bisa jadi lebih besar dari yang ia rasakan.
"Iya, ayo kita bercerai dengan pasangan kita lalu kita berdua menikah. Bukankah kamu ingin kita menjalin hubungan?"
"Aku akan memanfaatkan kamu begitu juga denganmu. Jadi, ayo singkirkan suami kamu!"
Sassa tergoda untuk menikah dengan Bian, mengingat wajah tampan yang tiba-tiba terngiang olehnya saat melihat kertas hasil tes tadi. Jujur saja, Sassa juga beberapa kali terpesona dengan sosok atasannya itu. Hanya saja, ia menyadari posisinya kala itu dan tak mengambil pusing akan hal tersebut dan selalu menganggap jika atasannya itu bagaikan seorang idola yang indah dilihat, menyenangkan untuk dikhayalkan, namun tidak untuk dimiliki.
"Tidak bisa Pak. Jika saya menikah dengan Bapak nanti saya tidak mau lepas!" kata Sassa sambil mengusap saliva yang menetes di ujung bibirnya.
"Ka-kamu mikir apa?" tanya Lori gugup mendapati Sassa yang mengusap ujung bibirnya.
"Anu, Pak —" jawab Sassa singkat dan menggantung.
Seketika pikiran Lori mengarah ke “anu” yang bisa membuat Sassa mengeluarkan saliva seperti itu. Namun, pikiran polos Lori sama sekali tidak mengerti “anu” seperti apa yang bisa membuat asisten pribadinya yang polos itu terlihat gugup dengan pipinya yang memerah.
"... anu, saya mikir kalau menyingkirkan suami saya secepat itu, untuk apa saya jadi selingkuhan Bapak?”
“Saya ajak Bapak jadi selingkuhan karena kita harus memanas-manasi suami saya dan istri Bapak juga, sampai mereka menyesal dan kita akhrinya bercerai dengan keren." Sassa pun akhirnya hanya berdalih agar isi pikirannya tidak terbaca oleh Lori.
Menelan kembali salivanya, Lori menyesal telah memikirkan hal lain ketika Sassa menyebut kata "anu" yang membuat Lori nyaris lupa jika Sassa memang kerap berpikir matang sebelum ia berbicara dan tak mungkin ada pikiran kotor seperti itu dari Sassa yang polos itu.
"Dia lagi memikirkan rumah tangganya yang kacau, kenapa aku malah menjurus ke arah sana?”
“Tampaknya ada yang tidak beres denganku." Di dalam hati, Lori pun merasa jika sesuatu benar-benar terjadi padanya. Jantungnya yang semula berdebar begitu keras hanya karena berdekatan dengan Sassa, bayangan indah wajah Sassa yang terus muncul setiap Lori menutup mata, dan pikiran kotornya yang harus Lori akui jika otaknya penuh dengan lima, enam, tujuh, delapan adegan serong kiri, serong kanan, berputar dan tumpang-tindih dengan Sassa.
"Tuhan, selamatkan hati dan pikiranku!" benak Lori lagi yang semakin yakin jika efek dari hasil tes DNA itu berpengaruh besar pada kewarasannya saat ini.
"Tampaknya aku seperti ini karena Sassa adalah penyelamatku. Dia yang membongkar kebusukan Nia!" Sekali lagi, Lori meyakinkan dirinya.
"Sassa!” Lori pun mengalihkan pikirannya, ia harus mulai berbicara serius dengan Sassa demi kelancaran rencana mereka.
“Seperti apa caranya selingkuh?" tanya Lori yang sudah mencapai kesimpulannya dan mulai serius menanggapi rencana dendam mereka.
"Nah, itu, Pak. Masalahnya saya juga tidak tahu.”
“Bapak selingkuhan pertama saya, sih!" tegas Sassa yang entah kenapa membuat Lori bangga.
"Baguslah jika aku yang pertama untukmu!" kata Lori dengan senyuman lebar di wajahnya yang polos.