"Eh, bentar ya gue ke toilet" Melky berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Zanta, Lexan, Bram, dan Fasan di kantin. Pria itu melihat Khila yang tangannya ditarik paksa oleh seseorang di kejauhan. Awalnya Melky acuh, tapi sepertinya memang ada yang aneh. Kenapa anak kelas XII narik Khila. Melky sempat kehilangan Khila, ia terus mencari cari keberadaan gadis berkacamata itu.
"Lo gak denger dia bilang apa?! Jawab!" samar samar Melky mendengar suara bentakan dari toilet cewek. Saat akan pergi tak sengaja Melky mendengar dua orang cewek yang baru saja keluar dari toilet.
"kasian juga ya tuh anak dibully."
"Emang ada yang dibully?" langsung saja karna penasaran Melky bertanya kepada cewek tadi.
"Eh, kak Melky" mereka malah menatap Melky kagum.
"Ada gak?"
"Oh, iya kak. Kasian banget, padahal mukanya kayak polos polos gitu"
"Orangnya juga kecil kecil, yakan?" ucap cewek yang satunya. Tanpa merespon kedua orang tadi Melky sudah berlari masuk ke toilet wanita karna dia langsung mengira bahwa khila lah yang dibicarakan.
"Berenti lo semua! b*****t!" suara Melky membuat tatapan semua orang yang awalnya ke Khila telah berpaling ke Melky.
Tentu semua menatap tak percaya melihat Melky yang langsung menerobos kerumunan.
"Khila, kamu gak papa?" Melky memegang kedua pundak Khila, sementara Khila tak menjawab dan hanya bisa menunduk.
"Emang udah gak waras lo semua!" kalimat terakhir yang diucapkan Melky pada orang orang yang hanya bisa diam itu, kemudian menggenggam tangan Khila untuk mengeluarkannya dari sana, tentu setelah mengambil kacamata Khila yang ada di wastafel. Tanpa mengatakan apapun Melky terus menuntun Khila yang masih saja menunduk dan tak melawan menuju taman sekolah tanpa memperdulikan orang orang yang menatapnya.
"Udah ngerasa baikan?" tanya Melky saat ia memastikan Khila sudah tak lagi menangis. Dan Khila hanya mengangguk. Saat ini mereka tengah duduk di bangku taman. "Kok bisa sih? Mereka itu emang gila! Aku mau lapor ke BK." Melky langsung berdiri dengan cepat.
"Jangan Melky!" Khila ikut berdiri dan menahan tangan Melky yang akan melangkahkan kakinya pergi. "Gak papa Melky, aku gak papa"
"Gak papa gimana?! Biarin aja, biar tau rasa mereka"
"Melky.." lagi lagi Khila menahan tangan Melky dan menggelengkan kepala pelan sebagai tanda agar Melky tidak melapor.
"Oke, kali ini aku biarin mereka. Kalau sampai aku liat kejadian kayak tadi lagi..!" Melky mengepalkan tangannya membuat Khila tersenyum tipis. Diam diam Melky ikut tersenyum menyadari Khila yang tersenyum. "Mau aku beliin minuman gak?"
"Enggak Melky, udah bel. Kita masuk kelas aja"
"Oh, yauda deh. Eh, bentar. Khila, pinjam hp kamu bentar" Khila sempat diam, tapi akhirnya ia mengambil hp dari Zanta kemarin di kantong roknya dan memberikannya ke tangan Melky. Terlihat Melky mengutak atik hp Khila, Khila sendiri saja belum sempat mengutak atiknya. "selesai! Nih" Khila bingung, entah apa maksud selesai yang dikatakan Melky.
"Tuh nomor aku, kalo ada apa apa bilang aja. Aku juga udah save nomor kamu"
******
Malam hari di Cafe seperti biasa Zanta's geng bakal ngumpul. Dan di sana udah ada Zanta, Fasan, Lexan dan Bram, hari ini Cinta ga bisa ikut. Mereka tengah menanti nanti kedatangan Melky. Dan tak lama akhirnya Melky muncul dari balik pintu. Melky berjalan ke tempat dimana teman temannya duduk. Tapi ada yang aneh, kenapa semua diam dan hanya menatap Melky intens. Melky yang bingung karna ditatap, duduk perlahan di samping Bram dan ikut menatap semua orang.
"Kenapa lo semua? Lagi kesurupan ya?" Melky semakin bingung, sedangkan yang lain malah menaikkan satu alisnya. "Baru sadar ya kalo gue ganteng"
"Gue denger lo masuk ke toilet cewek?" Zanta mulai bicara dengan tatapan serius.
"Dan lo nyelamatin cewek yang lagi dibully?" kali ini Bram.
"Siapa cewek itu? Tumben lo ikut campur masalah begituan" Lexan menyambung.
"Jangan bilang kalo lo sekalian ngintipin cewek? Kok lo gak ngajak ngajak gue!" ucap Fasan. Mendengar Fasan yang lain jadi ber sweet drop ria. Sedangkan Bram memukul kepala Fasan dengan sendok "b**o lo!"
"Aduh! Sakit b**o!"
"Ahahahhh gila lo semua!!" Melky yang sekarang berdiri dan memukul satu satu kepala temannya dengan sendok. "Kirain pada kenapa! Cepat banget tuh gosip nyebar." dan kembali duduk di kursinya.
"Ya iyalah cepat! Lo kan tau cewek cewek pada suka gosip! Eh, Kok cewek yang lo suka bisa sampe dibully sih!?" Lexan bertanya lagi.
"Gue juga gak tau sih.."
"Hebat! lo jadi pahlawan super nih ceritanya?" Bram mengangkat jempolnya ke arah Melky.
"Pahlawan super ketek lo!"
"Hahahhh Jadi kapan lo mau ngenalin dia sama kita kita? Sumpah gue penasaran gimana orangnya!" ucap Bram lagi.
"Eh, jangan dikenalin. Entar dianya malah jatuh cinta sama ketampanan gue! Dan lo dilupakan deh" Fasan menjawab dengan pedenya.
"Gak usah pedean lu! Kenalin gimana? Gue juga belom bisa ngedeketin dia sepenuhnya."
"Gak mau tau! Kenalin kita sama dia! Haruuuusss" Zanta menggoyang goyangkan kepala Melky.
******
Jam menunjukkan pukul 09.00 malam, Khila yang lagi membaca buku langsung beralih ke Hp nya karna berdering menandakan ada panggilan masuk. Dilihat ke layar ponsel tertulis 'pangeran tampan'. Tentu Khila tak tau siapa pangeran tampan yang menelponnya. Akhirnya mengangkat telponnya "halo?"
"Oh, hai! Lo tau siapa gue?" terdengar di seberang telpon suara laki laki.
Khila melihat lagi ke layar Hp untuk memastikan bahwa yang menelponnya pangeran tampan. "Pangeran tampan?" jawab Khila pelan. Tapi masih bisa didengar dan membuat orang di telpon tertawa.
"Ini gue! Zanta!" akhirnya Khila tau kalau kontak yang bernamakan pangeran tampan itu adalah Kizanta Alvaga.
"Kok lo diam?"
"Hah? Enggak kok kak. Ada apa kak?"
"Eh? Ehmm gak ada sih.. Lo ngapain?"
"Baca buku kak"
Tuutt..tutt.. Tuutt..
"Hah?" Khila melihat layar hp nya dan ternyata Zanta sudah memutuskan sambungan.
***