Part 06 ‘Makasih Zanta’
Waktu begitu cepat berlalu hingga saat ini sudah menunjukkan pukul 05.15 sore, Khila dan Zanta sudah berada di mobil untuk jalan pulang. Akhirnya Zanta membeli kedua sepatu yang tadi sempat dipilih olehnya untuk Khila karna ia suka keduanya saat dipakai oleh Khila. Meskipun Khila sudah menolak sekuat tenaga, tetap saja Zanta terus memaksanya. Yah mau tidak mau Khila menerima.
Zanta juga membeli dua sepatu untuk dirinya sendiri ditemani Khila. Sebelum pulang, mereka sempat makan burger di mall. Tentu Zanta yang lagi lagi memaksanya.
"Ke kanan kak." Kini Wanita itu mengarahkan jalan ke rumahnya.
"Ohya, baju yang gue kasih tadi harus lo pake ya! Pokoknya gue mau liat lo pake tuh baju di pantai."
Khila mengangguk pelan "Makasih kak." tanpa sadar Ia tersenyum.
"Santai, itu hadiah karna lo mau nemenin gue." Zanta memutar musik di mobilnya karna merasa terlalu hening.
Clean bandit- Rockabye
Lagu yang didengarnya saat ini membuat Zanta menggerak gerakkan kepala dan tangannya mengikuti irama, dan Khila yang melihatnya tertawa tanpa disadari Zanta. Sekarang mereka sudah sampai di depan g**g rumah Khila, mobil Zanta tak bisa memasuki g**g dikarenakan jalannya begitu sempit untuk dilewati mobil.
"Jangan lupa lo harus pake semua bajunya di pantai."
"Iyaa kak." Khila tersenyum tipis dan membuka pintu mobil. Tiba-tiba Zanta teringat akan paperbag coklat di kursi belakang.
"Eh, Rakhil! Bentar." Zanta menahan Khila yang baru saja akan turun membuatnya kembali menatap Zanta yang mengambil paperbag coklat di kursi belakang. "Nih, buat Lo" Khila menatap Zanta bingung seakan bertanya-tanya apa itu.
“Ini.. Apa Kak?”
"Buka deh, liat sendiri.” Mendengar intruksi dari Zanta, tanpa membantah Wanita itu mengeluarkan benda kotak dari paperbag tadi. Benda kotak atau lebih tepatnya kotak HP. “kemaren gue baru beli buat adek sepupu gue. Tapi ternyata dia udah beli merek yang sama." Bohong, tentu saja. Karena sebenarnya kemarin lusa, tepatnya hari sabtu Zanta ingin menghampiri Khila yang sedang berjalan melewati koridor lantai dua, tapi wanita lain menghampiri Khila lebih dulu. "Eh,Khila. Kapan lo beli Hp? Susah banget ngehubungin Elo, tau gak? Bu Siska nanyain gue mulu! Kita itu berangkat seminggu lagi! Dan sampe sekarang tinggal Elo yang belom kasih kontak ke Gue." sementara Khila hanya bisa menunduk, membuat Zanta mengurungkan niat menghampirinya dan memilih berjalan pergi.
"Tapi kan kakak bisa jual lagi?" Tentu Khila merasa sangat tidak enak menerima benda mahal yang sampai detik ini belum dimilikinya.
"Lo gak mau? Yaudah buang aja di sono." Zanta mengarahkan dagunya ke arah tong sampah yang berada tak jauh di depan mobilnya.
"Tapi kak.." tentu saja Khila tak habis pikir, bisa bisanya seseorang ingin membuang Hp mahal yang baru dibeli.
"Terserah lo dah mau diapain kek, itu bukan punya gue lagi. Uda ah, gue mau pulang udah mau magrib. Turun." Khila akhirnya menatap mobil Zanta yang baru saja pergi meninggalkannya dengan banyak paperbag di tangannya.
Dibukanya pintu rumah dengan kunci di tangannya, ia tahu kalau ayahnya belum pulang. Sudah jam enam, setelah meletakkan semua paperbag di tempat tidurnya Khila langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Memang, rumahnya kecil. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Khila dan ayahnya tinggal. Ada dua kamar tidur kecil, dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi, dan sebuah ruang tamu di depan dengan satu TV model lama.
Khila sempat tersenyum saat akan memasuki bathroom mengingat wajah tampan Zanta saat tersenyum. Tapi dengan cepat ia segera membuang pikiran itu "jangan bodoh Khila!" rutuknya pada diri sendiri karna mengingat wajah prince tampan sekolahnya.
Khila sudah menyiapkan makan malam untuk ayahnya. Kini mereka tengah duduk di ruang tamu sambil memakan makanannya. Menu makan hari ini ikan sambal dan bayam rebus.
"Yah, tadi.. Khila pergi ke mall." dengan ragu akhirnya Khila cerita setelah melihat ayahnya meneguk air sebagai tanda selesai makan.
"Sama siapa kamu ke mall?"
"Sebenernya.. Khila sampai rumah jam 6 yah.. Tadi ada kakak kelas minta ditemenin ke mall."
"Laki laki?" ayah Khila mengernyitkan dahinya mulai curiga. Khila mengangguk ragu.
"Tapi.. Dia beliin Khila baju, sepatu, sama.. HP juga." Ayah Khila hanya menatapnya "Khila udah nolak kok yah, tapi dia maksa terus. Khila gak bohong, beneran"
Ayahnya tersenyum lembut "Dengar, Khila. Khila udah dewasa kan? Ayah yakin Khila gak pernah bohong sama ayah. Ayah percaya sama Khila, lakukan semua yang Khila mau. Asalkan semua itu masih di jalan yang benar, jangan sampai merusak kepercayaan ayah ini. Lain kali balaslah kebaikan anak itu." jelas ayahnya panjang lebar.
"Ayah.." Khila tersenyum haru dan langsung memeluk ayahnya.
"Satu lagi, kamu harus bisa jaga diri dan jangan pulang terlalu malam!" yang dibalas dengan anggukan antusias oleh Khila dan kembali memeluk ayahnya.
******
Di jam istirahat ini Khila melewati koridor lantai dua menuju tangga ke lantai satu. Tapi saat baru akan melangkahkan kaki menuruni tangga pertama, seseorang menarik tangannya.
"Ikut gue!" dia adalah seorang wanita yang tidak dikenali Khila. Sedangkan Khila hanya menurut tangannya ditarik kuat oleh wanita tadi tanpa melawan. Dia menuntunnya jalan tergesa gesa menuju toilet wanita di ujung koridor.
"Nih dia orangnya" sesampai di toilet, wanita yang menarik tangan Khila tadi dengan kuat menghempaskan tubuh kecil Khila ke depan.Khila semakin takut melihat di sekelilingnya banyak sekali orang yang memandangnya dengan tatapan jijik. Mereka adalah senior kelas XII.
"Oh! Jadi ini orang yang udah jalan sama pangeran gue?!" ucap salah satu wanita.
"Lo ngaca dong! Ngapain lo ngerayu rayu Zanta!"
"Muka jelek begini? Hahahh! Bisa bisanya sok kepedean!" seseorang langsung menjambak Khila yang meringis kesakitan.
"Liat nih! Kacamata apaan ini! Gak pantes banget dipake!" wanita lain mengambil dan melemparnya ke wastafel.
"Lo pake pelet apa? Hah?!" wanita yang lainnya menarik rambut Khila lagi.
"Lo punya mulut gak?"
"Jawab dong!"
"Lo gak denger dia bilang apa?! Jawab!" Khila masih dalam tangisnya.
"Lo kira lo itu siapa!"
"Zanta itu milik gue! " Sekarang semua bergantian ngedorong pundak Khila dengan telunjuknya, ada juga yang terus menoyor noyor kepalanya. Dan Khila masih menunduk takut diiringi air mata yang turun semakin banyak di pipinya.
"Berenti lo semua! b*****t!"
***