Seperti biasa pulang sekolah Khila harus berjalan ke halte bus yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Diam-diam Zanta mengikutinya lagi hari ini dengan mobilnya. Pria itu melihat dari kejauhan Khila yang duduk seorang diri di halte, kemudian matanya beralih pada sebuah paper bag cokelat yang berada di kursi penumpang sebelahnya. Sekali lagi Ia menatap ke arah Khila hingga akhirnya memutuskan untuk melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan halte tempat Khila menunggu bis.
Wanita itu melihat mobil Silver yang berhenti di depannya. Perlahan kaca mobil terbuka, memperlihatkan bahwa Seorang Zanta lah pemilik mobil itu. Spontan Ia berdiri. “Kebetulan Kita ketemu. Mau pulang ya?”. Khila tersenyum kecil kemudian mengangguk untuk menjawab sapaan Zanta.
"Mau ikut gak? Gue anter pulang."
"Gak usah Kak, makasih. Bentar lagi busnya dateng kok." Khila menolak tawaran Zanta dengan senyum di wajahnya, mencoba untuk bersikap ramah.
"Udah, masuk. Sebelum gue marah nih."
"Tapi kak.. "
"Yaelah buruan!" Melihat Khila yang masih diam di tempatnya, Pria itu turun dari mobil. Membuat Khila mengerjap ketika kini Zanta berdiri di hadapannya. “Masuk, Gue anterin pulang. "Udah, ayo!" Zanta menarik tangan Khila dan memasukkan Khila ke mobil dengan paksa, kemudian memutari mobil lagi untuk masuk ke kursi kemudi. Dilihatnya Khila masih menunduk. "Lo.. gak nangis lagi kan?"
Khila langsung mengangkat kepalanya dan menatap Zanta yang duduk di sampingnya. "Enggak Kak." diiringi gelengan cepat Khila.
"Kirain." Zanta mulai menjalankan mobilnya. "Ohya, lo ikut ke pantai kan hari jumat nanti?"
"I.. Iya kak. Ke kiri kak." Khila menunjuk arah jalan ke rumahnya, tapi kenapa Zanta malah terus jalan tanpa mendengar instruksinya. Wanita itu bingung dan melihat ke arah Zanta yang matanya lurus ke depan..
"Gue mau ke mall." Seakan mengerti kebingungan Khila, Zanta menjawab tanpa menatap Wanita itu dan terus fokus pada jalannya.
"Tapi, tadi Kakak bilang mau anterin A-"
"Lo gak mau nemenin Gue?"
"Bu.. Bukan gitu kak." Khila tidak menyadari Zanta tersenyum penuh kemenangan karena dirinya langsung menunduk.
******
Kini Zanta berada di antara banyaknya orang berjalan bersama wanita di sebelahnya, Khila. Pada akhirnya kedua insan itu berakhir di mall. Mereka tampak seperti kakak beradik jika dilihat dari perbedaan tingginya.
"Eh, gue mau beli minuman dulu, haus. Lo mau?" tanya Zanta.
"E.. Enggak kak"
"Yaudah, kalo gitu gue aja." Setelah Zanta mendapatkan minumannya, mereka melanjutkan jalannya menuju tempat baju sambil Zanta yang menyeruput ice coffee di tangannya.
"Eh, Rakhila! Cepetan Lo jalannya! Kita mau ke sana." Zanta mengarahkan tangannya ke Tempat baju dan Khila buru-buru menghampiri Zanta. "Eh.." Dari sudut pandang Orang lain akan Terlihat sangat jelas saat ini Zanta sengaja menumpahkan kopinya ke baju belakang Khila, sedangkan Wanita itu tentu tidak menyadarinya.
"Eh.. Bajuku kotor.. gimana ini.." Tentu Khila sangat terkejut dan benar-benar terlihat khawatir dengan bajunya yang basah. Tangannya mengibas-ngibas punggungnya berusaha mengurangi basahnya, walau sebenarnya Ia tahu tidak akan berpengaruh.
"Sorry gak sengaja. Ayo ikut Gue." Zanta menarik tangan Khila masuk ke tempat baju-baju Wanita. Khila hanya mengikutinya. Pria itu mengambil asal salah satu dress di deretan dress mahal. "Nih, Lo pake." Kemudian menyodorkan sebuah dress selutut tanpa lengan berwarna putih dan sebuah rompi jeans ke depan Khila.
Wanita itu mengerjap bingung menatap Zanta. Pria harus membungkuk untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Khila. "Cepat pake, Lo lupa baju Lo kotor?" Pria itu menjauhkan wajah kembali kemudian mendorong paksa Khila ke ruang ganti.
Hampir 10 menit, akhirnya Wanita berkacamata itu keluar dari ruang ganti dengan baju yang diberi Zanta tadi. Tapi Zanta tidak ada di sana, membuat Khila khawatir dan mencari-cari keberadaan Zanta. Ia menghela nafas lega, saat ditemukannya Zanta berdiri di depan kasir. Kakinya kembali berjalan mendekati Zanta. "Kak Zanta.." Pria itu mematung menatap Khila yang sangat manis mengenakan dress dan rompi denim kebesaran pilihannya.
"Adik anda sangat manis mengenakan baju itu." Penjaga kasir pria menghentikan tatapan Zanta pada Khila dan beralih menatap penjaga kasir itu dengan sinis membuat yang ditatap menunduk takut.
"Semuanya satu juta tujuh ratus sembilan puluh enam ribu empat ratus mas." Zanta menyerahkan creditcard yang ia ambil dari dompetnya kepada kasir.
Meraih 6 paperbag yang diserahkan oleh penjaga kasir itu. Paperbag berisi baju-baju yang sekarang sudah resmi menjadi miliknya. "Nih, buat Lo." Zanta menyodorkan 4 paperbag ke Khila menyisakan 2 paperbag lagi di tangannya.
"Buat Aku?" Khila mengintip isi paperbag tersebut, benar saja berisi baju. “Tapi buat apa Kak? Ini banyak banget.”
"Berisik ah!" Ucap Zanta berlalu pergi menuju ruang ganti.
Jangan tanya bagaimana Zanta bisa tau ukuran baju Khila, Pria itu hanya menerka-nerka dan mengambil ukuran paling kecil yang dirasa akan muat di tubuh kecil Khila. Dan benar saja, baju pertama yang Ia pilih untuk Khila benar.benar pas di tubuhnya.
Setelah mengganti baju sekolahnya dengan celana selutut dan kaos abu abu ngepas yang membuat d**a bidangnya semakin terlihat, sekarang Zanta menuntun Khila menuju tempat sepatu.
"Lo jalan lama amat daritadi!" Pria itu menggenggam tangan Khila berjalan memasuki tempat sepatu karna Khila yang sedari tadi selalu jalan di belakangnya seakan Ia hanya pembantu yang harus mengawasi Zanta.
Lagi lagi mereka ke tempat sepatu wanita lebih dulu. "Yang ini bagus, coba lo pake." Zanta menyodorkan sepatu kets putih ke Khila. "Gue beliin Lo sepatu karna gak cocok kalo Lo pake sepatu sekolah gini, padahal atasnya udah bagus." Baru saja Khila ingin mengatakan sesuatu sudah dipotong oleh Zanta.
"Aku ga masalah kok pake sepatu sekolah Kak.."
"Gue yang masalah. Masa yang jalan sama seorang Zanta penampilannya begini. Udah buruan Lo coba."
***