"Hai, hai, pada kangen sama Gue ya." Fasan yang baru datang langsung duduk di sebelah Melky sambil menaik-turunkan alisnya.
"Dih, pedean Lu." Melky menoyor kepala Fasan dan dibalas dengan cengiran.
"Eh, San. Tadi Adek Gue nanyain Lo." Lexan meminum jus jeruk di depannya.
"Serius Lo? Frani nanyain Gue? Dia bilang apa?" Fasan langsung memasang wajah puppy eyes nya.
"Katanya 'Kak, si Fasan kok makin aneh aja ya? Makin ga waras gitu?'" Lexan meniru gaya bicara cempreng Frani, Adik perempuannya. Membuat Zanta, Melky, Bram, dan Cinta tertawa pecah.
"Makanya, tuh kepala dibenerin kek." Zanta masih dengan tawanya.
"Ke Dokter sana Lo." Bram juga masih dalam tawanya, begitu pula Cinta tak dapat menahan tawa. Sementara Melky yang ada di samping Fasan menepuk-nepuk punggung Fasan kuat sambil tertawa.
"Parah lo semua! Lo juga Lexan, bantuin kek biar Gue bisa deket sama Frani." Fasan mengerutkan wajahnya.
"Ya lo deketin aja sendiri, ngapa jadi Gua." Lexan membalas, dan pada akhirnya perdebatan mereka terus berlanjut. Fasan yang sudah dua tahun ini merasakan Cinta bertepuk sebelah tangan pada Frani yang merupakan Adik Lexan.
******
Sudah menjadi rutinitas sekolah setiap setahun sekali akan diadakan liburan Bersama. Kali ini sudah diputuskan tempat yang akan dikunjungi adalah pantai. Tapi, hanya kelas X dan kelas XI yang akan pergi dalam rangka menambah kekompakan antar siswa. Kelas XII tidak ikut karena disibukkan dengan ujian-ujian yang melanda dengan maksud agar mereka fokus belajar.
Tepat dua minggu lagi waktu kepergian ke pantai. Khila yang sebenarnya di awal sempat bingung, akhirnya mengerti. Semua siswa diwajibkan ikut serta, dan sudah sejak 2 minggu lalu SMA ini sudah membooking hotel untuk mereka. Menghindari agar tidak ada kejadian yang tak memiliki kamar.
Begitu pun dengan Zanta's geng, mereka juga sudah membooking kamar untuk mereka berlima. Tapi, bagaimana dengan Khila? Memang semua biaya sudah ditanggung oleh majikan ayahnya, dan Khila juga sudah memiliki teman sekamar, yaitu Kesya.
Awalnya Khila tidak tahu akan sekamar dengan siapa. Tapi tiba tiba Kesya mengajaknya sekamar. Bukan karena Kesya orang yang dekat dengan Khila, tapi karena wanita bernama Kesya itu juga termasuk orang yang penyendiri. Kesya penyendiri bukan karena Orang-orang menjauhinya, melainkan Kesya sendiri yang tidak mau terlalu dekat dengan seseorang. Dia hanya ingin fokus pada belajarnya untuk terus mendapat peringkat pertama di kelasnya.
Disinilah Khila sekarang, di perpustakaan. Wanita itu melamun memikirkan bagaimana dia bisa berlibur nanti. Ia tak memiliki teman, lalu apa yang akan dilakukannya disana? walaupun berlibur, Kesya pasti tetap akan belajar. Khila terus melamun sampai tak menyadari ada seorang Pria yang sudah duduk di depannya, menatapnya bingung.
Khila tersadar saat Pria itu menyentuh sedikit tangannya dengan jari telunjuk. "Ah, ma.. Maaf kak."
"Maaf?" Pria berkacamata itu masih bingung tidak mengerti.
"Aku bakal pergi Kak." Khila bergegas membereskan peralatan menggambarnya.
"Lah, kenapa pergi? Aku kan baru dateng?" Ucap Pria yang tak lain adalah Melky. "Aku milih meja ini karna liat ada kamu." Khila mengerjap karena kebingungan kini tengah melandanya. Melky terkekeh "Tadi Aku liat Kamu sendirian, jadi Aku samperin biar ada temen." Pria berkulit putih itu menarik tangan Khila yang masih berdiri agar duduk. "Kok kamu sendirian di sini" Lanjut Melky, lagi.
"Kakak juga sendiri." Jawab Khila dalam tunduknya karena menyadari saat ini dirinya sedang berbicara dengan salah satu anggota yang Orang-orang sebut sebagai Zanta’s Geng. Sebelumnya Zanta dan sekarang Melky.
"Iya juga ya." Melky terkekeh pelan. "Panggil aja Melky. Aku ga biasa dipanggil Kakak."
"Tapi.."
"Sebenarnya kita seumuran kok. Aku kecepatan masuk. Ohya, kenalin Aku Melky." Melky mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Wanita di depannya. Sempat ragu, namun perlahan Khila menerima jabat tangan itu.
"Emm.. Aku Khila kak, Rakhila Visyalu"
"Tuh kan manggil kakak lagi!"
"Maaf kak, maksud Aku Mel.. Ky?"
******
"Woy! Ngapain lo senyum-senyum gitu. Merinding Gue." Lexan memukul kepala Melky yang sejak baru datang hanya terus tersenyum tipis.
"Baru-baru ini Lo aneh, tau enggak?" kali ini Fasan yang curiga karena sikap Melky empat hari belakangan berbeda. Ia jadi sering melamun, senyum-senyum sendiri, dan waktu bersama buku kesayangannya tak sedekat sebelumnya.
"Udah ngikut Fasan Lu ya? Jadi gila gini?" dan akhirnya Zanta medapat jitakan gratis yang mendarat di kepala belakangnya dari Fasan.
"Jangan bilang.. Lo lagi jatuh cinta?" mendengar Bram bicara membuat Melky menatapnya tak percaya bagaimana Bram bisa tau. "Dih, Lo beneran lagi falling in love?!" kini Bram tak percaya tebakannya benar. Begitupun yang lain menunggu jawaban Melky. Melky hanya mendelikkan bahunya dan memalingkan wajahnya, dan sepertinya itu sudah cukup menjawab pertanyaan teman-temannya.
"Akhirnya seorang Melky udah ga jatuh cinta sama buku-buku membosankannya." Zanta mengacungkan kedua Ibu jarinya.
"Lo.. Ga lagi suka sama cowok kan?" Sekarang Fasan memasang wajah seriusnya.
"Gila aja Lu! Lu kata gue homo!?" Melky berdiri dan menjitak kepala Fasan. Semua tertawa.
"Gila! Cewek kaya gimana yang udah membuat hati seorang Melky si pencinta buku berpaling?" Lexan mulai penasaran.
"Yaelah, biasa aja Kali! Gue sebenernya juga ga tau sih. Yang pasti dia beneran tipe gue banget. Apalagi waktu gue ngomong sama dia. Yah gue ngerasa ada kesamaan aja. Dia juga lucu, dan polos." jelas Melky, gadis yang ia maksud tak lain adalah Khila.
***