Hujan bukanlah sebuah alasan bagi Khila untuk tidak datang ke sekolah. Langit gelap di pagi hari, genangan air dimana mana, dan air yang terus turun dari awan, Khila tetap pergi ke sekolah dengan payung kuning miliknya. Langkahnya terhenti di jarak yang kurang 10 meter dari gerbang sekolahnya. Melihat mobil-mobil mewah yang masuk ke gerbang sekolah secara bergantian.
"Suatu hari nanti Khila akan membuat Ayah bahagia." Batin Khila yang tersenyum tipis kemudian memasuki gerbang sekolahnya. Wanita itu menoleh saat ada suara hentakan kaki yang berlari ke arahnya. Hingga akhirnya orang yang berlari tadi berhenti di bawah payung yang sama dengan Khila.
"Gue pinjam ya." Orang itu adalah Zanta yang datang dari arah parkiran. Mengambil payung Khila dari tangannya, lalu berlari sendiri seorang diri ke arah gedung sekolah. Khila yang terkejut dengan kejadian yang berlangsung cepat itu, ikut berlari menghindari hujan yang masih turun walau tak begitu deras. Hingga sekarang Wanita itu tiba di gedung sekolah yang sudah pasti keduluan oleh Zanta.
"Nih, thanks ya Ra-khi-la?" Zanta tersenyum setelah membaca name tag di seragam Khila, mengembalikan payung, kemudian pergi mendahului Khila yang mengerjap.
Hari ini karna hujan, Zanta's geng tak datang bersama. Dan bukanlah sebuah kebetulan Zanta melihat Khila membawa payung. Salah satu mobil yang dilihat Khila dari luar gerbang adalah milik Zanta. Dan Zanta yang juga melihat Khila menunggunya masuk di parkiran. Untung saja Wanita itu tak terlalu basah karena jarak dari depan parkiran ke gedung sekolah dekat.
*********
Sudah tiga hari sejak kejadian Zanta merebut payung Khila. Dan seperti biasa Khila menjalani rutinitasnya di sekolah. Ia tak lagi berpapasan dengan Zanta Sang Pangeran sekolah. Tentu saja setiap hari Khila melihat Zanta yang selalu membuat sekolah menjadi heboh karena pesonanya.
Di jam istirahat ini Khila membawa bekal makanannya ke luar kelas, bukan ke perpus, tapi ke atap. Hari ini langit sangat cerah, tak seperti terakhir kali Ia ke atap. Bukannya langsung memakan bekal, Wanita itu terlebih dulu memeriksa ke sekeliling atap untuk memastikan bahwa Ia benar-benar seorang diri di atap saat ini. Khila takut jikalau bertemu dengan sosok Zanta lagi seperti terakhir kali. Seorang Pangeran sekolah yang terakhir kali bertemu dan menyebut namanya.
Setelah yakin tidak ada orang lain disini, Khila duduk di sisi kiri atap seperti sebelumnya. Belum membuka bekalnya, Wanita itu memandang langit cerah di atas. Selang beberapa menit, barulah Khila tersadar ia belum memakan bekalnya. Dengan cepat tangannya membuka kotak bekal yang Ia siapkan sendiri pagi ini, nasi goreng.
"Eh, Lo lagi? Mau ketemu Gua ya?" Khila membelalakkan mata saat baru memasukkan suapan pertama nasi gorengnya karna wajah Zanta yang tiba-tiba muncul tepat di depannya. Spontan Wanita itu berdiri dan menunduk "ma..muaap kak, A..akhu bhakhal pewgi." Khila kesuliatan bicara karena mulutnya yang masih penuh dengan nasi goreng.
Zanta melihat betapa imutnya Khila yang saat ini berada di hadapannya, langsung saja tertawa terbahak-bahak. Membuat Khila yang berniat membereskan bekalnya melihat bingung ke arah Zanta yang sekarang sedang memegangi perutnya sambil sesekali menunjuk wajah Khila.
Seorang Zanta tertawa selain saat bersama para sahabatnya? Dan itu karena gadis pendek di depannya? Tawanya begitu lepas sampai Ia tak menyadari Khila merasa bersalah telah membuatnya menjadi seperti orang gila.
Tawa Zanta mereda melihat Khila yang sedari tadi menunduk. "Lo ngomong sambil makan gitu." Ucap Zanta masih dengan tawa kecilnya. "Lo, kenapa? Liat ke bawah mulu?" Dijawab gelengan pelan oleh Khila. "Kalo ada yang ngomong sama elo, tatap Orangnya." Khila masih tak bergeming dalam tunduknya.
"Yaelah, liat gue." karna tak sabaran Zanta Memegang kedua pundak Khila dan menggoyang pelan. Pria itu terkejut melihat Khila yang bercucuran air mata. "Eh? lo nangis?" Segera Khila menghapus air matanya dan menggeleng lagi.
"Lo kenapa sih? Gue ada ngomong salah ya?" Khila menggeleng cepat.
"Lah, terus kenapa lo nangis?" Zanta semakin bingung.
Khila menunduk lagi sebelum menjawab pelan namun bisa didengar oleh Zanta "Pedas."
"Hah?" Pada akhirnya Zanta kembali tertawa.
"Lo lucu deh, kalo pedas ya minum." Zanta menyodorkan botol minum milik Khila masih dengan tawanya. Kemudian pergi setelah Khila mengambilnya diiringi tawanya. Sebenarnya tujuan Zanta ke atap adalah mengambil Hp nya yang ketinggalan di bangku sisi kanan pintu masuk atap. Sementara Khila hanya menatap kepergian Zanta. Lagi.
*********
Malam hari Zanta mengendarai mobil silvernya di tengah padatnya kota. Hingga akhirnya ia memarkirkan mobil di depan tempat Zanta's geng ngumpul hari ini. Tak perlu lagi mencari keberadaan teman-temannya karena Cafe yang tak begitu ramai.
"Hai hai, Pangeran dating.." Pria itu mengalungkan tangan kanannya ke leher Bram sedangkan tangan kiri ke leher Cinta, duduk di antara Couple Goals sekolah itu.
"Eh, eh, jangan pegang-pegang pacar gue lu." Bram langsung melepaskan tangan Zanta di leher Cinta.
"Apaan lo, Cinta nya juga ga masalah. Yakan, sayang?" Zanta masih saja menggoda Bram, sedangkan Cinta hanya menggeleng melihat tingkah konyol mereka.
"Sayang sayang.. Uda ah! Duduk sana Lo." Bram menerobos tempat Zanta, agar Pangeran sekolah itu tidak duduk di samping Pacarnya.
"Mentang-mentang udah punya pacar Lo." sambung Lexan.
"Salah lo sendiri ga mau cari pacar." Bram tetap tidak mau kalah.
"Alah, berisik Lo! Makan nih." Melky akhirnya menjejalkan 3 daun Selada yang ada di piringnya ke mulut Bram.
"Terbaik deh lo." Zanta menunjukkan jempolnya ke Melky. "Eh, Fasan belom dateng ya?"
"Tuuuhhh." Lexan memajukan dagunya ke arah Fasan yang baru saja memunculkan batang hidungnya. Diikuti Zanta yang memutar kepalanya ke belakang melihat Fasan yang baru memasuki pintu Cafe.
***